Terima kasih atas review di chapter sebelumnya :

Tralalasekarang udah dilanjut. Makasih review-nya, ya, Lala.
Nora—maaf#sujud Harus nunggu 5 tahun buat dilanjut. Makasih review-nya, ya, Nora
sandrock—hahaha, gak sampe panjat tebing, kok. Makasih review-nya, Sandrock
Snow―soal Rukia dapat zanpakutou-nya,itu masih lama banget. Makasih review-nya ya, Snow

Terima kasih pula ma yg udah login (sudah sy balas di PM-nya masing-masing): namika ashara | ningKyu | yuki. sharaa | doreendoraemon | Kujo Kasuza | Leomi no Kitsune | mira. cahya. 1


Disclaimer:Bleach milik Tite Kubo

Warning:OOC (tentu); AU ; jumlah chapter yg lumayan banyak; alur lambat; romance gagal

.

A/N: Masih ada yg ingat fiction ini? Terlupakan sampai 5 TAHUN! Gila, fiction semasa SMA sampai saya udah S1, hehe.

.

.

.

.

.

.

.

PART II: Turnamen Musim Panas


Berdiri di tepi tebing, melongok ke dasar jurang berjarak 300 meter, dihadapkan pada rombongan hutan menghampar ganas. Toushiro melempar batu sebesar genggaman, menggelinding di sepanjang dinding tebing, dan tenggelam ditelan jarak. Melirik pada wajah bersalah Ichigo Kurosaki, selaku pengawas tim, beranggotakan Rukia Kuchiki yang kini berstatus hilang. Perlukah ia mempertanyakan ke mana kompetensi Kurosaki sebagai pengawas elite karena insiden ini?

Keledai tidak akan bertransformasi menjadi orang utan dalam empat tahun, heh.

Ichigo berpaling; lirikan Toushiro ada di sana. "Berhenti melihatku seperti itu―"―melihatnya seperti seonggok kotoran.

Si putih mendengus. "Dungu."

Kerah biru langsung direnggut kasar. "Kau sudah tidak sayang lidahmu, ternyata."

Boro-boro peduli, Hitsugaya menambahkan, "Ke mana kau simpan otakmu, Kurosaki? Kau adalah orang pertama yang kukenal sampai mengulangi kecerobohan sebanyak tiga kali. Kau itu lebih dungu dari keledai."

Rekan-rekan mereka menahan napas. Ichigo melakukan kesalahan dua kali di tahun-tahun sebelumnya, tapi kali ini paling parah. Tidak ada yang mau melerai. Siapa juga yang berani menengahi dua singa, yang siap menguliti musuhnya hidup-hidup. Bisa-bisa, pihak ketiga dicincang duluan.

Namun, Mizuiro Kojima adalah makhluk bernyali yang menyimpan rasa takutnya di bokong. "Sudah, sudah, Ichigo, Hitsugaya-kun." Melangkah ringan, maju meredakan persaingan. "Bukankah lebih baik kita utamakan keadaan Kuchiki-san, mencari tahu keberadaannya? Setelah itu, baru kalian bisa berkelahi sesuka hati. Jambak-jambakan rambut sampai botak juga tak masalah, tidak akan ada yang menghentikan." Ia masih sempat ngebanyol, berdiri di tengah dan merangkul pundak mereka.

Toushiro mundur teratur, menyingkirkan lengan sok akrab Mizuiro. Ichigo memalingkan muka saja, dengan wajah masih bersungut-sungut.

"Kojima-kun benar. Kalian berdua berperilaku seperti orang dungu." Hinamori maju, menyiram bensin pada api yang belum padam. Rekan-rekannya menelan ludah, melirik ke sana ke mari, mencari lokasi aman sebelum perang akademi dimulai. "Lebih baik kalian peduli saja pada keadaan junior kesayangan kita. Cemaskan ke mana jejak kaki Rukia-san mengarah."

Ini bukan Hinamori-senpai berhati lembut yang mereka temui di luar kelas; ini adalah Hinamori-senpai bermulut tajam yang mereka temui pada kegiatan debat dalam kelas.

Ichigo tahu Hinamori jengkel dengan sikap kekanak-kanakannya, tapi Toushiro lebih tahu bahwa Hinamori sedang cemburu.

Salah seorang orang pengawas berlari kencang; semua kepala menoleh. Sebelum sempat menghentikan napas ngos-ngosan dan menegakkan badan yang keletihan, laki-laki itu langsung bicara. "Gawat...!"

Empat pengawas mendekat. "Ada apa?" Hinamori yang menyuarakan pertanyaan.

"Seperti yang kita khawatirkan." Ia mengambil satu napas panjang. "Jejak Rukia Kuchiki menuju lokasi terlarang."

Jawaban itu disambut dengan wajah-wajah pucat. Ichigo menyambung, "Itu berarti―"

"Rukia Kuchiki bergerak ke wilayah kerja Onmitsukidou."


# 8 #

.

Dewa Kematian di Benua Kedelapan


Mengalami banyak hal yang bikin trauma, Misato Ochi mulai melihat kehidupan dari kacamata pesimisme. Bahwa tidak ada sesuatu yang lebih penting selain hidup itu sendiri, yang artinya nyawa. Keamanan mulai menjadi tujuan utamanya. Maka, ia yang dulunya Shinigami lapangan, memilih banting organisasi kerja. Paling tidak, jangan yang bersinggungan dengan darah, pedang, apalagi Hollow. Menjadi guru adalah pilihan terbaik; mengurusi anak-anak bawel minta ditonjok, bau kencur, dan labil, setidaknya jauh lebih baik ketimbang bertemu monster raksasa pemakan jiwa.

Ia menikmati pekerjaan ini, sangat. Semuanya aman dan terkendali. Hingga panggilan sebagai guru pengawas di praktek lapangan murid tahun pertama menjadi bola besi yang pelan-pelan menghancurkan zona nyamannya.

Dalangnya adalah Ichigo Kurosaki dan Rukia Kuchiki. Dari semua murid, mengapa dua penerus klan terbesar Seireitei yang merusak hari-hari surganya selama 20 tahun? Bila terjadi sesuatu pada adik Byakuya Kuchiki, surat pemecatan pasti akan mangkir ke meja kerjanya. Dan tahu apa yang lebih buruk? Rukia Kuchiki melanggar masuk salah satu dari sepuluh kawasan terlarang di Soul Society.

Wilayah kerja Onmitsukidou.

Ochi merasa mau mati saja. Iya, ia merasa mati lebih baik daripada berhadapan langsung dengan kapten divisi ke-2, Soifon, untuk mempertanggungjawabkan kelalaian salah satu siswinya.

"Jadi, kau guru pengawasnya?"

Ochi mengangguk satu kali, gugup.

"Bagaimana kau menjalankan tugasmu? Muridmu telah mengganggu kerja kami."

Ochi mengangguk lagi, tegang.

"Sebagai pertanggungjawaban, aku akan mengurungnya di markas Onmitsukidou. Kau mengerti?"

Ochi kembali mengangguk, berkali-kali.

Kening Soifon berkerut, mangamati baik-baik si wanita berkacamata. Familiar. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"

Tidak mengangguk, Ochi menggelengkan kepala keras-keras.

Soifon mendesah, mungkin perasaannya saja, dan meminta Ochi keluar. Suara ditelan gentar, sang guru melangkah terseok-seok menuju pintu. Menutupnya pelan, ia langsung menjatuhkan bokong di lantai koridor markas Onmitsukidou. Nyawanya serasa baru berpulang, luar biasa lega si mantan kapten tidak mengenalinya sebagai bekas bawahan berperingkat rendah.

Memandang tangan yang gemetar, Ochi tahu ia bukan guru yang baik. Ia lebih peduli dengan nasib kariernya ketimbang kondisi murid yang dikurung, tanpa memberinya pembelaan. Ia mengusap wajah kaku, ia adalah tikus pengecut.


. . . . .


Soifon heran. Marechiyo Oomaeda suka mengeluh panjang-pendek bila ia menugaskannya menjaga tawanan. Pekerjaan membosankan, katanya. Namun, si pria tambun menerima begitu saja saat diminta mengawasi Rukia Kuchiki.

Apa karena tawanan ini adalah adik kapten divisi ke-6?

Lalu banyak masalah yang mengikuti gara-gara kecerobohan Kuchiki. Soifon mengutuk. Kerja Tim Onmitsukidou atas penyelidikan penculikan Ginrei Kuchiki sepuluh tahun lalu menjadi terusik. ia sudah lama mencium hal yang aneh dengan insiden tersebut; dan di hari ketiga penyelidikan, (secara kebetulan) cucu Ginrei datang mengganggu (meski tanpa sengaja).

Sambil menyelesaikan tumpukan laporan, Soifon menunggu Byakuya. Pria itu pasti akan datang sebentar lagi. Rumor buruk tentang adiknya, tidak akan membuat Kuchiki sulung tinggal diam.

Sementara itu, di bangungan paling timur kawasan markas Onmitsukidou―

Ditemani sepiring dango 25 tusuk, Oomaeda duduk bersila di depan kerangkeng Rukia. Melumat nikmat si kue beras, menatap nona Kuchiki yang bersimpuh di balik jeruji besi. Gadis kecil itu belum menyentuh dango yang diberi baik hati olehnya. Kuchiki diam saja bak boneka setelah menanyakan nasib tawanan wanita yang bersamanya. Oomaeda menjawab kalau wanita itu telah diungsikan ke pusat rehabilitasi (untuk pemberontak Rukongai), dan akan dilepaskan jika memang sudah waktunya.

Meletakkan tusuk bambu bersama kawan-kawannya, si fukutaichou meraih dango berikutnya, menenggelamkan tiga bulatan sekaligus dalam mulut besarnya. Rukia terang-terangan mengernyit jijik. Kenapa dengan si tuan badan besar? Dua mata bulat di antara wajah penuh lemak memandangnya terus-terusan. Bukan tatapan mesum, tapi pandangan mengamati.

Tenggorokan Rukia mendadak kering, ia butuh air. Tapi, Oomaeda telah meluncurkan suaranya, "Jadi, kau, ya, adik Kuchiki-taichou?"

Pertanyaan memastikan saja, Rukia diam.

"Jadi, kau, ya, perempuan dari Inuzuri itu?"

Pertanyaan memastikan yang kedua, Rukia tetap diam.

"Jadi, kau, ya, perempuan yang menarik perhatian Aniki?"

Pertanyaan memastikan yang ketiga, namun menggelitik naluri nona Kuchiki. Aniki? Siapa? Tapi, Rukia masih tetap diam.

Terdengar suara gesekan kain dan lantai kayu, Oomaeda bergerak tiba-tiba, merangkak mendekati jeruji, memegang dua batang besi di masing masing jari gemuknya. Spontan, Rukia menarik badan ke belakang, dengan kaki masih bersimpuh di tempat semula. Ia risi, pria tambun ini menjelajahi sekujur badannya dengan pandangan yang naik-turun.

"Jadi, begini ya selera Aniki?"

Aniki, lagi. Rukia mengembalikan postur, menggeser lipatan kaki mundur ke belakang.

"Selera Aniki ternyata tidak bagus."

Perasaan apa ini? Rukia serasa sedang dihina.

"Kau memang manis, tapi badanmu cuma berisi tulang."

Rukia kontan melotot. Cukup sudah. Tidak ada lagi namanya tata-krama. "Apa Anda punya cermin di rumah, Fukutaichou-sama?" Ini namanya ledekan berbahasa sopan. "Lihat badan Anda, orang akan sulit membedakan Anda dengan beruang."

Oomaeda rasanya ingin memasukkan kepalanya ke jeruji. Tersinggung kelas kakap. "Kau mau bilang aku gendut?" Rukia tidak mengatakan itu. "Aku tidak gendut, Kuchiki!" Oh, luar biasa, kita mendapatkan fakta baru. "Dan ini bukan lemak." Oomaeda menampilkan otot lengan di balik shihakushou yang disingsingkan. "Ini otot, otot! Lihat, lihat!" Antusias menunjukkannya pada Rukia yang bermuka bosan. "Kalau kau bukan perempuan yang disukai Aniki, aku sudah menghajarmu sekarang, Bocah Tengil!"

Perhatian Rukia kembali jadi milik Oomaeda. Si letnan takut bukan karena dia adik kapten divisi ke-6, tapi karena ia adalah seseorang disukai Aniki-nya. "Aniki, Aniki, dari tadi Anda menyebut Aniki. Siapa dia?"

Badai kesal Oomaeda berangsur-angsur reda. Kepalanya mundur teratur dari batang jeruji. "Aniki siapa, kau bilang? Ya, dia itu Aniki."

"Tapi, siapa dia?"

"Bukan siapa-siapa. Aniki, ya, Aniki."

Rukia merasa pria ini mau mengajaknya berkelahi. "Maksud saya, siapa—"

"Oomaeda…!"

Kontan saja perdebatan kusir berakhir saat Soifon melangkah masuk. Menjadi prajurit mata-mata terlatih Onmitsukidou, Oomaeda langsung bangkit tegak lurus, seolah tidak ada konfrontasi antara ia dan tahanannya. Berdiri di sisi kerangkeng, menyambut kunjungan atasan. Pun Rukia berupaya membetulkan posisi duduk yang kacau, sebelum dua pasang kaki menghampiri dan berhenti tepat di depan jeruji. Rukia mengangkat wajah, dan perawakan yang menjemputnya selain Soifon-taichou adalah―

"―Nii-sama…?"


. . . . .


"Aku beri saran, Byakuya Kuchiki. Awasi anggota keluargamu baik-baik."

"Tanpa kau bilang, aku paham itu, Soifon-taichou."

Soifon mendengus sambil lalu memandang adiknya, sebelum berjalan meninggalkan si Kuchiki Bersaudara. Rukia bertanya-tanya, apa sebagian besar kapten di Gotei 13 sekaku kakaknya? Lupakan fakta bahwa badan ia dan Soifon sama-sama mungil, Komandan Onmitsukidou sama mengerikannya dengan Nii-sama. Dalam hal aura intimidasi, tentu.

"Rukia."

"I-iya?" Ia berpaling pada Byakuya.

"Pulanglah duluan. Rawat lukamu di kediaman. Aku sudah meminta anggota divisi ke-4 ke sana."

Rukia mau menanyakan, bagaimana dengan Nii-sama sendiri. Namun dari gelagatnya, Byakuya punya perbincangan khusus dengan Soifon-taichou. Persoalan yang tidak semestinya didengar oleh adik yang tidak tahu apa-apa.

"Baik, Nii-sama."

Byakuya sudah mau menyusul Soifon sebelum berbalik pada Rukia yang masih berdiri di tempat. "Satu lagi, sudah ada yang akan menemanimu pulang. Dia menunggumu di luar."

Seseorang melintas di benaknya. "Dia...? ...Siapa?"

Byakuya menatap Rukia. "Keluar saja. Kau akan tahu." Lalu memberi adiknya punggung.

Rukia menunduk, mengiringi kepergian Nii-sama. Tanpa sengaja menoleh pada Oomaeda yang berdiri pongah di ambang pintu, bersedekap dengan tangan gemuk, memberi Rukia pandangan menilai yang masih sama. Tanpa pikir panjang, si nona kecil menjulurkan lidah mengejek, dan langsung melarikan diri meninggalkan si fukutaichou yang mencak-mencak, "Kuhajar kau, Kuchiki! Lihat saja nanti!"

Rukia cengar-cengir. Oomaeda-fukutaichou tidak melihatnya sebagai bangsawan atau adik Byakuya Kuchiki. Namun, memandangnya sebagai seseorang yang penting untuk pria bernama Aniki. Ia menyukai hal itu, karena ia memiliki seseorang yang bisa dijahili tanpa harus takut mencoreng nama klan. Ia serasa dapat teman baru.

Menuruni tangga terburu-buru, Rukia berderap cepat menuju gerbang keluar markas Onmitsukidou. Sempat-sempatnya berambisi bahwa ia harus segera belajar shunpo, yang katanya bisa berpindah tempat dalam sedetik. Jika punya kemampuan itu, ia bisa mengelilingi Seireitei tanpa harus keluar keringat.

"―sudah ada yang akan menemanimu pulang. Dia menunggumu di luar."

Rukia kegirangan. Orang yang mencemaskannya sedari awal praktek lapang sudah menantinya. Orang yang gencar memenuhi perlengkapan prakteknya. Orang yang diam-diam memotivasinya dengan paras dinginnya. Kaki Rukia sudah tiba di tangga terakhir saat sebuah bayangan pelan-pelan bergerak ke ambang gerbang.

Rukia melompat, mengangkat pandangan, dan berseru antusias, "Hitsugaya-sen―!"

"Maaf, harapanmu tidak terkabul, Rukia," Ichigo Kurosaki menyambut, berwajah ringan. "Hanya Ichigo Kurosaki yang ada di sini, tidak ada yang bernama Toushiro Hitsugaya."

Rukia meneguk ludah. "Ichigo…?"

Si jingga menghampiri satu langkah, tidak kecewa meski orang yang dijemput tidak mengharapkan kedatangannya. "Kau harus lebih membiasakan diri dengan keberadaanku. Jika kakakmu mendengar nama asing selain calon suamimu, entah berapa lama kau akan dikurung untuk mendengar ceramah tentang aturan bangsawan yang bikin mati bosan, percayalah." Yah, Ichigo sudah berpengalaman soal itu.

Rukia diam saja, menjauh. Jika ini dalam keadaan biasa, ia mau saja membalas, "Bagaimana denganmu, Ichigo? Menurutmu, apa yang akan dilakukan Nii-sama jika dia mendengar bagaimana kau memuja Hinamori-senpai di hadapan calon istrimu?" Tapi, ia sedang tidak mau beradu mulut. Ia lelah, badannya pegal-pegal. Ia bau tanah dan keringat.

Ichigo tersenyum menang, mengekori Rukia. Bayang pepohonan hari menjelang sore mengiringi wajah-wajah kusut. Si jingga pun tidak mau memperpanjang persoalan tadi, menghilangkan rasa cemasnya pada adik Byakuya adalah tujuan kedatangannya. Rukia memang tangguh; jatuh dari tebing, tanpa patah tulang sudah begitu melegakan.

Tiba-tiba saja, sikap jahilnya kambuh; mengacak rambut hitam meski Rukia langsung menepis.

"Apa yang kau lakukan?! Hentikan, Ichigo!"

Hah, si mungil bad mood. Tapi, tindakan usil itu tidak berhenti walau dibentak berkali-kali.


. . . . .


Dalam pertarungan, kau akan merasakan langsung seberapa pentingnya waktu satu detik. Satu detik terlambat, tebasan pedang musuhmu bisa mengantar kepalamu bertemu tanah. Satu detik terlambat, kau bisa saja bersua dengan mayat orang-orang yang kau lindungi. Satu detik terlambat, kau bisa saja kalah langkah dengan rivalmu dalam menarik hati perempuan pujaan.

Toushiro hanya telat satu sekon saat Kurosaki berada di gerbang, berniat menjemput Rukia Kuchiki.

Bersandar pada tembok bata, Hitsugaya bersila lengan, menanti hingga suara Rukia masuk pada jangkauan dengar. Suara yang ngos-ngosan, tapi ritmenya kuat; cukup membuat Toushiro menganggap kalau gadis itu baik-baik saja. Menghela napas lega, ia menjauh dari interaksi dua orang penerus klan bangsawan.


. . . . .


Bosan tidur-tiduran di futon setelah kepergian pegawai divisi ke-4, Rukia bergerak duduk ke tepi rouka, kaki menyentuh rumput basah. Membuka surat teman-teman sekelas, yang menanyakan tentang kondisi dan mendoakannya cepat sembuh. Ia dilarang dijenguk atas perintah Nii-sama agar ia beristirahat lebih. Ada milik Renji dan Hanatarou, tapi tidak untuk Riruka. Perempuan itu memang gengsi memberikan perhatian berlebihan. Rukia paham itu.

"Rukia."

Hampir saja ia memekik kaget. Terima kasih untuk sopan santun yang mulai diserap respon tubuhnya. Ia sama sekali tidak mendengar derap langkah atau merasakan aura Nii-sama. ...Mengerikan.

Byakuya duduk bertelut. Rukia ikut-ikutan bersimpuh, setelah menempatkan surat-surat di lipatan kakinya. Jantungnya dag-dig-dug, ia sampai bisa mendengarnya. Terpikir ide untuk menarik diri ke belakang, bukankah ia tidak boleh berposisi sejajar dengan Nii-sama? Beliau adalah salah satu kapten Gotei 13 dan ketua Klan Kuchiki, kau tahu.

"Apa kau akrab dengan Toushiro Hitsugaya, Rukia?"

Tapi, Byakuya membuka suara saat ia mau bergerak mundur.

Rukia sudah gugup, dan pertanyaan itu tidak memperbaiki situasi.

Ludah ditelan, membersihkan kerongkongan, mempersiapkan kata-kata efektif dan efisien, tapi tetap terdengar sopan. "Tidak juga, Nii-sama. Kami hanya punya hubungan mentor dan murid seperti yang Nii-sama tugaskan pada Hitsugaya-senpai."

Sedetik, Rukia hampir membekap mulut. Kakaknya hanya meminta jawaban "Ya" atau "Tidak". Tidak seharusnya ia memberikan penjelasan tidak penting.

Tanpa ia tahu bahwa kakaknya sempat menyesal memberi pertanyaan tersebut. Jawaban apa yang Byakuya harapkan tentang mentor yang ia tugaskan langsung meningkatkan nilai rapor Rukia? Tidak. Penunjukan Toushiro Hitsugaya bukan murni darinya, tapi kapten divisi ke-5, Sousuke Aizen.

Aizen-taichou adalah salah satu dari segelintir orang yang mendapatkan hormat Byakuya. Pria berkacamata itu adalah orang perhatian dan peka, memberikan solusi saat mendapati rekan-rekannya mendapat masalah. Tanpa sempat bertanya, di mana Aizen mendapat info tentang nilai buruk Rukia di akademi, Byakuya mengiyakan saran Aizen soal mentor, dan mempertemukannya dengan Toushiro Hitsugaya.

Tampang Hitsugaya persis dengan julukannya, si jenius. Anak itu punya sikap tenang, dan tipe pengambil keputusan dengan kepala dingin. Wajar jika Byakuya akan menyenangi watak Hitsugaya, tapi ia tidak menyukai si putih. Bocah itu punya sikap kurang ajar lebih parah dari Ichigo Kurosaki; ia punya firasat soal itu

Tapi, ia tetap menerima bantuan Aizen-taichou. Kapten itu jauh lebih jeli darinya, dan buktinya kerja Hitsugaya sebagai mentor Rukia memberi hasil yang cukup memuaskan.

"Begitu," Byakuya mengenyahkan perasaan tidak nyaman itu jauh-jauh. Lalu bangkit berdiri, menunduk pada adiknya yang menengadah, dan mengumandangkan pesan, "Tidurlah sekarang juga. Jaga kesehatanmu, ujian tinggal tiga hari lagi."

Rukia melambung. "I-iya, Nii-sama." Meletakkan kepala bertemu lantai kayu, mengiringi kepergian Byakuya yang ditelan belokan koridor. Menggigit bibir, ia senang dengan perhatian kakaknya.


. . . . .


Riruka menggigit karet biru di saat tangan sibuk mengikat setengah bagian rambut panjangnya. Mengerling Rukia yang bersimpuh depan meja, membalurkan salep pada bekas luka karena insiden kemarin; si nona judes lalu menyelesaikan kepangan rambut yang satunya. Bertolak pinggang, melebarkan kaki, mengangkat dagu; Riruka berpose sebagai ratu penguasa di hadapan cermin setinggi badan. Postur yang bertolak belakang dengan kimono berdesain anggun, corak bunga sakura berlatar putih.

Rukia merapikan lengan pakaian, berdiri, dan menyapu lurus sekujur kimono, takut-takut kusut. Sebelum meraih saleb di meja, yang terlebih dulu direnggut tangan Riruka.

Bersama muka cuek, Dokugamine mengamati cawan obat sebesar kepalan tangan, membaui, mengernyit; sebelum Rukia meraihnya ke pelukan. Barang berharga, ya. "Apa yang kau lakukan?"

Riruka mengangkat satu alis, bersila lengan. "Obat apa itu?"

Rukia bergerak ke laci lemari paling bawah. "Hanya obat untuk memar. Aku terluka saat praktek lapang kemarin, jika kau lupa." Apa perlu juga disinggung tiadanya perhatian Riruka lewat surat?

"...Di mana kau mendapatkannya?"

Dari baunya, itu salep dari tanaman herbal arnica, dan harganya mahal karena langka.

Menutup laci setelah menyelipkan obat pada lipatan pakaian. Berbalik, melayangkan raut heran yang kentara. "Dari seseorang. Memangnya kenapa?"

Dokugamine penasaran soal itu, karena luka lebam atau memar yang dialami oleh beberapa teman di praktek kemarin hanya diatasi dengan tumbukan daun peterseli. Begitulah cara pengobatan Unit Kesehatan Kerja Lapang, sedangkan salep arnica hanya bisa kau dapatkan dari―

Ah! Riruka tahu sekarang. "Maaf," mengibaskan tangan malas, "aku lupa kalau kau adik Kuchiki-taichou. Obat itu pasti dari Unohana-taichou. Aah, enaknya berasal dari keluarga Shinigami, obat berkualitas pun gampang didapat."

Rukia tersenyum saja, tidak perlu bilang kalau obat itu dari Hitsugaya-senpai.

Pintu terbuka, ada tetangga kamar meloloskan kepala di sela, meminta dua orang itu untuk segera keluar. Rukia langsung antusias menggaet lengan Riruka yang risi, tapi tidak ditepis juga. Menutup pintu, berjalan di lorong asrama bersama rombongan siswi lain, menuju pada keramaian festival musim panas di halaman asrama.

Riruka mengamati penampilan Rukia, yang kelewat biasa. "Apa kau yakin tidak ingin kembali ke kamar untuk berdandan atau ganti baju sebelum bertemu Kurosaki-senpai?"

"Tidak."

Riruka masih lanjut, "Kalau penampilanmu begini, Kurosaki-senpai akan menyesal menjadikanmu calon istrinya."

Tidak butuh satu detik untuk Rukia menjawab, "Baguslah, kalau begitu."

Riruka melongo, geleng-geleng kepala, yakin ada sekrup otak Rukia yang hilang.

Menuruni tangga, dan tiba pada anak tangga terakhir, cahaya gemerlap festival menyusup lewat jendela, ber-kolar-kilir. Dengungan keriuhan menembus tembok, dan semakin tampak nyata saat pintu ganda terbuka untuk disambut keramaian festival akademi yang selalu dilangsungkan satu hari sebelum ujian musim panas diadakan.

Riruka menghirup aroma pesta kuat-kuat. Ia mencintai festival, karena banyak hal yang disukainya yang cuma bisa ditemukan saat pesta rakyat ini diadakan. Hanabi, salah satunya.

Rukia tersenyum senang pada punggung Dokugamine yang bersemangat. Ia pikir Riruka benci keramaian, tapi sepertinya pengecualian pada yang satu ini.

Aura familiar mendadak menyambar. Kaki berbalut sandal pelan-pelan berhenti, berdiri diam di antara arus siswa-siswi yang mondar-mandir. Menenangkan detak jantung sekeras pukulan gendang, ia perlahan memutar tumit, dan berpaling ke belakang. Pohon keyaki raksasa di depan asrama, berumur hampir 800 tahun, berdiri sendirian, tersisih dari hiruk-pikuk dan kebisingan festival. Di antara lalu-lalang pengunjung, didapati satu sosok bersandar di batang tuanya, memandang sang nona Kuchiki lamat-lamat dari kejauhan.

Kini, jantung itu sudah mau mendobrak sangkar rusuk. Rukia tidak pernah bersua dengan si mentor setelah insiden Onmitsukidou. Itu dua hari yang lalu. Dari Ichigo, diketahui kalau Hitsugaya tidak muncul saat rapat terakhir para pengawas praktek lapang, dan tidak menampakkan batang hidungnya keesokan harinya.

Menarik napas panjang-panjang, memaksimalkan kinerja hidung dan mulut, ia mengalirkan udara penuh-penuh pada rongga dada yang kelewat sesak. Menggamit lengan kiri dengan tangan kanannya, buku-buku memutih, Rukia ... rindu. Ia sangat merindukannya.

Tapi ... secepat pemandangan itu datang, secepat pula itu pergi. Toushiro Hitsugaya menghilang entah ke mana, menyisakan jejak sepi dan pahit yang membusuk di relung Rukia.

Tepukan di pundak, Riruka di sampingnya, bertanya ada apa. Tersentak, menggeleng kaku sambil mengembuskan napas berat, yang ditahannya entah berapa lama.

Ditarik masuk menyusuri kedalaman festival bersama perasaan gelisah yang ganjil. Rukia menengadah pada langit, ia tidak suka pada bulan purnama malam ini.


. . . . .


Bayangan itu bergerak di antara bayang-bayang rimbun pohon di bawah bulan purnama raksasa. Kaki bersendal jerami bergemerisik menginjak dedaunan kering berserakan. Angin malam mendesau rendah, berbisik mistis di tengah hutan pusat Kota Seireitei. Menghela napas pendek, ia berhenti, disambut senyum lebar Ichimaru yang sendirian di tengah malam.

"Kau terlambat, Hitsugaya-han."

"Kau yang terlalu cepat, Ichimaru."

Gin tidak mengendurkan senyum rubah, melempar selembar mantel hitam yang sedari tadi dibawanya. Toushiro menangkap dan memakai lantas tanpa tunggu. Memasang kerudung menutupi rambut putih lebatnya, Ichimaru sudah menunggu dengan seragam yang sama. Menarik Shinzou dalam bentuk katana, menancapkan ke tengah udara. Pintu gerbang bernama senkaimon mewujud tepat di depan mereka. Cahaya dangai menghampar jelas di daratan gelap berdedaunan kering. Menarik satu napas tegas, Toushiro mengikuti Ichimaru menuju Dunia Manusia.

Aizen dan Tousen menyambut mereka setiba di sana. Berdiri wibawa di atap gedung tinggi, berseragam mantel hitam persis sama, mengamati rombongan murid Akademi Shinou tahun ke-2 dan ke-3 yang sedang menjalankan misi praktek lapang, berhadapan langsung dengan Hollow.


. . . . .


Yuzu bermuka cemberut, Karin nyengir senang. Di saat Yuzu tidak berhasil menangkap ikan satu pun dengan jaring kertas, si gadis tomboi berhasil menangkap tujuh ekor.

"Karin-chan curang!" si coklat ngambek, berlari menuju kakaknya yang berdiri nganggur di bawah pohon. Karin ditinggal, menggaruk kepalanya tidak paham.

Bersandar malas tidak ada kerjaan, Ichigo rasanya ingin pulang saja. Sendirian di tengah festival jelas bukan pemandangan keren bagi laki-laki sepopuler dirinya. Tapi, beginilah nasib biarpun sudah dilirik berkali-kali oleh siswi seangkatan atau adik kelas sejak ia menginjakkan kaki. Nonkrong bersama Keigo dan Mizuiro juga bukan pilihan, karena bersama mereka sama saja dengan kegiatan mengumbar gombal dan menghabiskan isi kantung mentraktir teman-teman cewek agar dipuja-puji.

Lengan kimono ditarik, ada Yuzu yang bermuka memelas di sana. "Onii-chan...! Bisa minta uangnya lagi?"

Yah, ia lupa kalau menemani adiknya pun beresiko menghabiskan tabungan. Pasrah saja menyerahkan sekantung uang receh, si coklat langsung menyergap dan berlari gembira menuju lapak ikan koi. "Yuzu...! Jangan dihabiskan!" Tapi, adiknya pura-pura tidak dengar.

Selesai Yuzu, Karin muncul.

"Maaf, Karin, Yuzu sudah mengambil semua uangku."

"Tenang saja, Ichi-nii." Karin memampangkan sekantung uang, yang kelewat banyak untuk anak seumurannya. Jumlah jajan si kembar selalu dibatasi oleh ibunya.

"Oi, Karin―!"

"Ada anak bodoh yang ingin membeli ikan yang habis kutangkap. Jadi kujual saja."

Bukankah sama saja kalau uang itu milik Ichigo?

Bersandar di batang pohon, berdampingan dengan Ichi-nii, Karin meledek terang-terangan, "Ichi-nii menyedihkan sekali. Keren-keren begini, kok, sendirian. Kau seperti jomblo ngenes. Tidak bakal laku sampai tua. Ingat umur, Ichi-nii."

Urat syaraf Ichigo menonjol keras. "Diam, Karin. Itu bukan urusanmu."

Tapi, mulut si hitam masih berceloteh. "Ichi-nii punya calon istri, tapi tidak dimanfaatkan untuk kencan. Aku jadi kasihan pada Momo-chan."

Semenjak insiden di tebing, hubungannya dengan Momo seperti sesuatu yang mustahil untuk diperbaiki lagi. Yah, Ichigo tahu semenjak menyetujui pertunangan dengan Rukia, hubungan mereka memang sudah di titik nadir. Tapi paling tidak, ia ingin tetap bersahabat dengan Momo, karena ... ia butuh berada di dekat Momo, butuh mendengar suaranya, melihat matanya. Tapi, gadis bercepol itu betul-betul menghindarinya.

"Diamlah. Ini bukan urusan anak kecil."

"Yah, aku tahu. Tanda-tanda menjadi dewasa adalah egois dan serakah. Oyaji dan Kaa-san yang egois menjodohkan Ichi-nii tanpa mempedulikan perasaan Ichi-nii. Ichi-nii yang serakah, setuju menikahi Rukia-chan, tapi tidak mau melepaskan Momo-chan. Kalau begitu, aku bersyukur masih menjadi anak kecil."

Ichigo cengar-cengir kering. Perasaan menyebalkan apa ini? "Oi, Karin...!"

"Aku pergi."

Ceramah Karin berakhir anti-klimaks. "Eh, mau ke mana?"

"Mencari Toushiro-nii. Aku tidak mau dianggap jomblo ngenes. Cukup Ichi-nii saja."

Ingatkan Ichigo untuk memberitahu Oyaji kalau Karin membutuhkan pelajaran tata krama ketimbang dirinya. Mulut anak itu perlu diajari bagaimana berkelakuan pada kakak yang selalu memberinya tambahan uang jajan. Juga, perlu diberitahu tentang cara memilih calon suami yang baik.

"Sial...!"

Toushiro Hitsugaya jelas tidak masuk dalam pilihan.


. . . . .


"Tidak pernah sekalipun aku merasa akan sangat berterima kasih pada Kisuke Urahara." Aizen bukanlah Mayuri Kurotsuchi, memamerkan kebencian di atas rivalitas pada Urahara. Kurotsuchi lebih memilih mati ketimbang memuji kejeniusan bekas kaptennya yang melegenda. "Urahara telah memberi kita kenang-kenangan manis sebelum meninggalkan Soul Society."

Gin masih mengingat malam berhujan saat Urahara memergoki penelitian terlarang mereka di Rukongai. Mengenakan mantel hitam, Kisuke tanpa ragu menyerang Aizen-taichou dari belakang, berniat menghabisinya sekali tebas. Namun yang menyambut adalah, dentingan pedang; jangan remehkan kemampuan deteksi bahaya kapten divisi ke-5. Karena kala itu, mata normal Gin membuktikan Aizen bertarung dengan udara kosong.

"Aku masih berpikir kalau malam itu Aizen-taichou bertarung dengan hantu."

"Tidak ada hantu di Soul Society, Ichimaru," Tousen mengoreksi.

Senyum rubah Gin seakan mau membelah wajahnya. "Kau tidak menyenangkan diajak bercanda, Tousen-san." Berpaling pada sosok paling kecil di sisi kanan. "Bukan begitu, Hitsugaya-han?"

"Tidak ada komentar."

Gin langsung murung, paham kalau ia dikelilingi orang-orang yang tidak bisa diajak ngebanyol.

Aizen tersenyum pasti. "Karena Gin masih ragu dengan kemampuan salah satu masterpiece Kisuke Urahara, bagaimana jika kau turun membuktikan kemampuan mantel hitam ini, Toushiro-kun?"

Gin mau bilang kalau ia tidak pernah meragukan karya si ilmuwan jenius, tapi Toushiro mengisi udara dengan suara, "Apa yang kau ingin aku lakukan?" Si putih melirik Aizen yang berdiri di sisi paling berlawanan.

Mata coklat di balik kacamata menetapkan target di bawah sana. Lima siswa akademi bekerja sama mencegat Hollow, terdesak, sebelum Yagami-fukutaichou ikut serta membantu para murid.

"Bunuh Teru Yagami (palsu) sekarang juga!"


. . . . .


"Apa ini?"

Ichigo menggosok rambut belakangnya, canggung. "Kau pikir apa? Jimat, tentu saja."

Terima kasih untuk mulut pedas Karin, ia bisa ingat titipan ibunya untuk Rukia yang hampir ia lupa.

Rukia mengangkat kepala, menatap Ichigo yang berpaling pandang, dan mengabaikan kikikan Riruka yang berdiri tak jauh dari sana. "Untuk apa?"

Kuchiki bisa melihat tonjolan urat kesal, dan dalam hati menghitung 1-2-3. "Apa kau tidak bisa menerimanya saja, dan jangan berpikir macam-macam?!" Ichigo meledak, ah, temperamen anak ini setipis benang.

Rukia meraihnya. "Maaf, hanya," manatap jimat perlindungan lekat-lekat, "aku tidak pernah punya hal seperti ini."

Kekesalan itu reda, berganti rasa ingin tahu. "O-oh ... itu pemberian ibuku, omong-omong."

Rukia memandangnya, seolah jawaban Ichigo tidak bisa lebih jelas lagi. "Aku tahu." Lalu menyisipkan di antara selipan kimono. "Tolong sampaikan terima kasihku pada beliau."

Ichigo mengangguk saja.

Diam.

Rukia mengangkat alis, mau segera angkat kaki, sebentar lagi hanabi, dan ia tidak mau ketinggalan. Tapi, si kepala jingga menatapnya kuat-kuat, seakan mau membolongi kepalanya dengan sepasang mata tajamnya. Ia melirik pada Riruka, mau meminta tolong, tapi perempuan itu menghilang entah ke mana. Rukia mengutuk.

Ia kembali pada Kurosaki. "A-aku harus―"

Ledakan membombardir, bersamaan kembang api yang memenuhi kegelapan. Seruan riang menggema di sepenjuru festival, menyambut puncak malam perayaan. Riruka berdiri di tepi sungai, cahaya penuh warna menyala berbinar-binar di wajah sedih dan rindunya. Renji dan Hanatarou duduk menyantap dango. Karin dan Yuzu yang kembali akur, berselonjor di rumput puncak bukit di belakang akademi. Hinamori bersandar pada bingkai jendela, sinar hanabi memantul di matanya yang hampa. Ichigo dan Rukia berdiri memandang langit bercorak indah yang menghampar hampir tanpa jeda.

Hitamnya cakrawala berhiaskan gemerlap bunga langit, dan―bulan purnama yang menggantung sendu.


. . . . .


Gin tidak pernah suka bulan purnama. Awal mimpi buruknya terjadi saat bulan sedang bulat sempurna. Hal itu berlangsung berkali-kali layaknya kutukan, menciptakan seekor monster berwujud Ichimaru-taichou, kapten divisi ke-3.

Kutukan itu tidak berhenti, masih berlangsung hingga saat ini walaupun bukan miliknya.

Teru Kagami (palsu) terkunci di dinding oleh bakudou seperti kelinci pincang yang malang. Anjing pemburu sudah dilepaskan dari kandang, dan siap melaksanan perintah tuannya.

Mantel dibuka. Toushiro memampangkan wajahnya di hadapan sang mangsa. Kagami berhak tahu siapa Dewa Kematian yang menjemputnya di detik-detik akhir hidupnya. Setidaknya, itu sedikit imbalan yang bisa didapatkan seorang bidak.

Tapi, pria itu berwajah tenang, dan menatapnya tanpa ragu.

Pun pedang meluncur tanpa ragu, menghunus tajam tepat di pusat jantung. Terbatuk satu kali, warna hilang dari sorot matanya, dan rona lenyap dari paras wajahnya. Pedang dicabut luwes, kepala Kagami menekuk jatuh pada bumi.

Satu pion disingkirkan oleh pion lainnya, yang berdiri sepi bersama pedang berlumur darah.

Gin tidak pernah suka bulan purnama. Awal mimpi buruknya terjadi saat bulan sedang bulat sempurna. Jadi ia penasaran, apakah Toushiro Hitsugaya pun akan membenci bulan purnama dan menjadi monster seperti dirinya?


To be continued...


- Bleach 532. Everything But the Rain, op. 5 (The White Noise)

- Gin beraksen Kyoto, jadi memanggil Toushiro dengan "Hitsugaya-han" sama saja dengan "Hitsugaya-san". Saya baru tahu, jadi saya akan mengedit chapter sebelumnya bila ada waktu.

.

.

.

.

.

A/N

Alasan kenapa saya seperti menelantakan fic ini adalah karena ide buntu gara-gara saya berhenti baca manga-nya. Jadi setelah saya berhasil menamatkan manga-nya hingga volume 74, saya banjir ide, jadi memutuskan melanjutkan fiction ini lagi.

Anehnya, Part favorit saya di arc terakhir adalah keakraban Byakuya dan Toushiro. Ah, senangnya calon adik ipar dan kakak ipar ini akur#ditendang

Update ke-2 di 2019. Terima kasih sudah membaca.

06 Januari 2019