(Revisi)

Title : True Face

Fandom : Naruto

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Pairing : SasuSaku

Rate : M (for safety)

Warning : AU, OOC, typo's, pendeskripsian kurang jelas, tidak menarik, dan pendek.

Don't like don't read!

.

.

.

.

.

~Chap2~

Sweet Cherry and Strawberry Flavor

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Di dalam kamar Sasuke yang hanya berisi pasangan kekasih, Sakura menunduk sambil memelintir ujung frill skirtnya. Sungguh menegangkan ketika dirinya hanya berduaan dengan Sasuke saat ini. Tidak, bukan takut. Sakura hanya merasa gugup.

Beberapa menit lalu Sakura mendapat kabar bahwa lelaki itu telah menyelesaikan syuting drama terbarunya, dan meminta Sakura untuk menemuinya di kediaman Uchiha.

Saat Sasuke berjalan melintasi ruangan untuk mendekati kekasihnya yang hanya duduk terdiam di sofa, ia tidak bisa tidak menikmati kecantikannya.

Terakhir kali ia melihat Sakura adalah ketika mereka berada di dressing room. Mungkin dirinya akan dikutuk oleh Kakeknya, Madara jika mengetahui bahwa cucu kesayangannya ternyata selalu melakukan tindak kekerasan terhadap perempuan. Namun perlu diketahui bahwa Sakura adalah orang yang ia sayangi di dunia ini selain keluarga tercintanya.

Telah terbentuk menjadi seseorang dengan harga diri tinggi, Sasuke yang mana yang sebaiknya ia perlihatkan pada masyarakat umum? Sisi Sasuke yang berkepribadian ramah namun penuh tipu muslihat ataukah dirinya yang kasar namun apa adanya?

Menatap ke sepasang mata hijau itu—Sasuke telah merasakan kekuatan besar akan cinta dan kelembutan hati Sakura. Hanya pada gadis itu ia bisa mengkespresikan dirinya sendiri, yang sebenarnya.

Pertama kali bertemu dengannya, Sakura adalah bintang yang bersinar di balik sifatnya yang selalu apa adanya dan tidak pernah memasang topeng untuk menyembunyikan semua perasaannya—seperti Sasuke. Ia menemukan keluguan yang memukau dalam dirinya, sungguh-sungguh polos hampir tak tersentuh, tidak seperti wanita lain yang hanya berpura-pura terlihat suci demi mendapatkan perhatiannya.

Sakura termasuk perempuan yang sangat jarang ia temui, bahkan tidak pernah, dan ia bersumpah bahwa takkan ada yang bisa menggantikan Sakuranya. Sejujurnya Sakura adalah sebuah hadiah yang dikirim Tuhan untuk ia jaga dan kasihi. Namun mungkin perilaku kasarnya masih seringkali muncul. Sasuke melakukan semua itu karena saking cintanya ia terhadap perempuan merah muda itu.

Pipi Sakura merona saat Sasuke mengambil tempat di sebelahnya tanpa melepaskan pandangannya dari Sakura.

"Akhirnya kita bisa berdua." desah Sasuke sambil melepaskan dasi yang terasa mencekik lehernya. Aktifitas berat yang dijalaninya menyebabkan lengan kemeja Sasuke yang longgar menjadi agak melekat, menunjukkan lengan yang kuat di balik lapisan kain itu.

Tanpa sebab jantungnya semakin berdebar, bahkan ia bisa mendengar gemuruh yang berasal dari sana dengan jelas. Tiba-tiba ia ingin menenggelamkan dirinya ke dalam lubang kala Sasuke tersenyum tipis padanya.

Melihat Sakura yang sedari tadi diam sambil tetap memperhatikannya, Sasuke berinisiatif merencanakan sesuatu yang menurutnya menarik.

Sebuah seringaian tersungging di bibirnya sekilas, "Hei, bisakah kau memberikanku 'itu' seperti yang kau lakukan?"

Sakura mengerutkan keningnya bingung, pasalnya ia tidak paham maksud dari ucapan ambigu pemuda itu. "Maksudmu 'itu' apa?"

"Apa? Bagaimana bisa kau tidak paham maksud ucapanku?" bibirnya melengkung ke atas menyembunyikan senyum gelinya di balik sikapnya yang sedemikian datar kala melihat ekspresi kebingungan Sakura yang menggemaskan. "Seharian ini aku harus syuting drama di bawah terik matahari, dan sekarang, tenggorokanku terasa tidak nyaman karena harus berakting meneriaki bawahan bodoh yang sialnya benar-benar idiot. Jadi cepat berikan aku 'itu' satu!"

Gadis itu membulatkan bibirnya dengan gaya yang lucu, "Ah... sebentar," lalu mengambil satu kantung plastik berbahan transparan berisi permen obat tenggorokan herbal warna-warni yang berbeda rasa.

Faktanya Sasuke lebih menyukai tomat dan kopi pahit dari makanan manis itu, tapi karena ini Sakura, ia selalu menerima pemberian sang kekasih dan bersikap seakan menyukainya.

"Omong-omong, aku sedang ingin makan yang strawberry."

"Oke," Dengan polos Sakura memberikan permen berbentuk bulat tersebut ke Sasuke yang langsung ditanggapi tatapan sebal pria itu.

"Ha? Apa kau sedang bercanda sekarang?" menangkap kebingungan dari raut Sakura, Sasuke menghela napas panjang gara-gara ketidakpekaan gadisnya. Ia membalikkan badannya menghadap Sakura dan membuka mulutnya, "Lihat, suapi aku!"

"Oh..." Sakura mengerjapkan matanya, merutuki diri sendiri atas kebodohannya. "Tapi aku—"

"Apa kau baru saja ingin bilang tidak? Tapi kau tidak diijinkan untuk menolak permintaanku. Aku baru saja bekerja selama belasan jam, dan kau seharusnya menjaga pacarmu sebaik mungkin." Desak Sasuke.

"Benar juga sih,"

"Kalau begitu cepat suapi aku! Sebelum orang rumah pulang dan waktuku untuk bersantai habis."

"Baiklah!" Sakura bersikeras menutupi wajahnya yang semakin merah. Selanjutnya menyodorkan permen tersebut ke dalam mulut Sasuke.

Alis Sasuke menurun karena Sakura yang terlalu polos. "Eh? Kau mau menyuapi aku dengan tanganmu? Tapi baiklah terserah."

"Mm... kenapa rasanya kurang manis seperti biasanya? Hm... disini ada sesuatu yang salah." Sasuke itu aktor maka berakting adalah kemampuannya, dan sekarang ia sedang mengeluarkan bakatnya untuk mengerjai Sakura. Bola matanya langsung mengarah ke arah perempuan itu. "Hei apa kau punya rasa yang lain?"

Sakura menaikkan kantung plastik dalam pangkuannya, melihat yang tersedia hanya ada rasa cherry, lemon, dan apel.

Sasuke tampak berpikir sejenak, "Yang cherry saja." ia berdeham sekadar menetralkan suaranya yang sekonyong-konyong terdengar sedikit bersemangat. "Ah oke kali ini kau harus memberikannya padaku menggunakan mulutmu."

Mata Sakura sontak membulat. Perintah dan tatapan intimidasi Sasuke membuatnya terkejut sekaligus malu. Sakura menggelengkan kepalanya, pipinya terasa hangat. "Tidak mau. Itu terlalu memalukan,"

"Jika kau tetap keras kepala menolak, maka aku tidak akan makan obat itu hari ini." ancam Sasuke yang disertai tatapan dingin. "Cepatlah! Taruh manisan itu di dalam mulutmu, lalu letakkan permennya ke mulutku melalui milikmu. Paham?"

"Eh? Ta-tapi aku tidak bisa melakukannya."

Lelaki itu menikmati kegugupan Sakura yang langsung mengingatkannya atas hukuman yang ia berikan di dressing room tempo hari. "Tidak, kau pasti bisa melakukannya. Jika kau tidak mau aku akan absen syuting besok. Dan tawaran waktu itu kita batalkan saja."

Sakura langsung mengangkat sebelah tangannya gelagapan, ia tentu tidak mau membebani pekerjaan Sasuke. Tapi Sakura terlalu malu untuk mengakui bahwa ia juga menginginkan Sasuke yang bersikap lembut seperti ini.

Dengan gemetar Sakura meletakkan permen herbal tersebut ke dalam mulutnya. Ia pecinta makanan manis, tapi karena saat ini Sasuke meminta sesuatu yang memalukan, ia hanya bisa menampilkan ekspresi gugup yang mati-matian ia sembunyikan.

Sasuke tersenyum lembut, yang jarang ia perlihatkan.

"Sudah kau makan?"

"Iya," Membuka mulutnya ragu, gadis itu bahkan menutup kedua matanya saking malunya.

Tak butuh waktu lama bagi Sakura untuk merasakan lidah Sasuke yang mengambil alih permen cherry tersebut dari mulutnya. Namun pria itu tidak melakukan apa-apa lagi, perlahan Sakura membuka matanya, mendapati Sasuke tengah mengulum manisan cherry itu dengan ekspresi datar.

Akan tetapi Sakura terheran-heran kala pria itu melempar obat herbal itu ke dalam tong sampah setelah melipatnya dengan selembar tisu.

"Kenapa kau membuangnya?"

"Karena yang kuinginkan adalah ini..."

Tanpa basa-basi Sasuke segera menangkup wajah Sakura, sebelum gadis itu sempat mengeluarkan pekikan kaget Sasuke sudah membungkam bibirnya menggunakan miliknya.

Gerakan itu hanya hisapan lembut, dan Sasuke melepaskannya setelah beberapa detik.

"Manis... lagi!" Gumamnya perlahan, senyumnya kian melebar kala melihat wajah Sakura seperti kepiting rebus. "Mukamu semerah buah apel. Haruskah aku memberikanmu hadiah atas kerja kerasmu?"

"Tidak perlu." Sakura memprotes, melambaikan tangan tanda menolak.

Suara tawa Sasuke yang lembut dan menggoda mengejutkan Sakura, terutama ketika pria itu meraih bahunya dan merengkuh Sakura dalam dekapan yang hangat. "Aku akan membuat bahumu nyaman." Sakura bisa merasakan dagu Sasuke yang menyentuh kulit pundak kirinya, karena ia mengenakan blus sabrina.

Gadis merah muda itu menahan senyum tersipunya yang terlihat manis. Sasuke terkekeh pelan saat Sakura menenggelamkan wajahnya di lekukan leher pria itu.

"Hei apa yang kau ingin aku lakukan untukmu?"

Sakura menggelengkan kepala, "Tidak usah. Aku sudah nyaman karena kau memelukku seperti ini." embusan napasnya yang hangat menerpa telinga Sasuke, yang tanpa ia sadari justru membuat pria itu membeku dengan wajah merona.

Untuk beberapa saat lamanya mereka terdiam, menikmati kehangatan tubuh masing-masing.

"Kau sudah puas hanya dengan aku memelukmu seperti ini? Jantungmu berdetak sangat kencang, tapi... ini belum cukup. Aku ingin membuat detakan jantungmu lebih cepat."

Sasuke menjauhkan dirinya, Sakura merasakan sengatan hangat kala Sasuke meletakkan tangannya di bahu putih Sakura, ia memandanginya lekat-lekat. "Kali ini, aku akan membiarkanmu meminta apapun dariku."

Namun Sakura hanya memiringkan kepalanya, kedutan di keningnya semakin mempercantik Sakura. "Maksudmu aku bisa meminta apapun? Hmm... apa boleh aku minta cherry pie?"

Bola mata jernih Sakura yang membulat berbinar-binar membuat Sasuke berpikir untuk mengurung gadis itu dan takkan pernah membiarkan lelaki lain melihatnya.

Pemuda itu berdeham sekadar menetralkan dadanya yang tiba-tiba berdebar kencang tanpa sebab. "Kau diijinkan minta apapun dariku, tapi bukan dalam bentuk seperti itu."

"Aku tidak paham maksudmu, Sasuke."

Sasuke menghela napasnya berat, "Aku akan tetap bersikap lembut padamu. Karena suasana hatiku sedang bagus biarkan aku yang memutuskan. Oh angkat tanganmu,"

Sakura spontan menuruti Sasuke, namun pria itu malah berdiri dan keluar kamar.

Tak berselang lama Sasuke kembali dengan tali tambang di tangannya.

"U-untuk apa tali itu?" Sebuah pikiran yang mengerikan tiba-tiba terlintas di kepala Sakura entah dari mana. "Apakah kau ingin membunuhku?" pekiknya saat Sasuke mulai menarik sikutnya agar berdiri di hadapannya.

Pada detik berikutnya, Sakura bahkan lebih tercengang dengan apa yang baru saja ia katakan.

"Membunuhmu?" Sasuke mengerutkan keningnya heran. Selanjutnya semburan tawa pria itu bergema di ruangan persegi panjang yang didominasi warna abu dan putih tersebut. "Astaga Sakura! Aku tidak mungkin berbuat jahat pada pacarku sendiri."

Sakura memandang Sasuke dengan tatapan aneh, sebab ia tahu betul apa yang dilakukan Sasuke terhadapnya selama ini termasuk kekerasan. Tapi ia diam saja, bisa runyam bila Sasuke mendengar isi hatinya.

Sasuke mengikat kedua pergelangan Sakura menggunakan tali tambang dengan ekspresi tenang, sedangkan Sakura hanya bisa pasrah karena genggaman kekasihnya terlalu erat. "Ini lebih menarik dan mendebarkan, bukan?" Namun Sakura tak bicara sepatah katapun.

Begitu tangan Sakura selesai terikat, dengan sorot matanya yang menggelap ia menatap Sakura. "Selesai. Dengan diikat begini membuat jantungmu lebih berdebar 'kan?"

Sakura berusaha melepaskan tali yang memenjarakan kedua tangannya. Namun Sasuke segera menghentikannya, "Hei lihat! Jika kau seperti itu terus talinya akan merobek kulitmu. Bukankah itu sakit?"

Sakura mencebikkan bibirnya lucu, "Tentu saja sakit. Lagipula kenapa aku harus diikat seperti tahanan saja?"

"Ahaha! Tapi kau suka saat aku melakukannya untukmu. Hm? Jangan-jangan kau suka saat aku mengikatmu seperti ini?"

Gadis itu menggelengkan kepalanya cepat.

Sasuke mendelik namun detik berikutnya seringaian jahil terpampang di wajah tampannya. "Oh? Aku salah? Tapi wajahmu merah padam. Heh… bagaimana kalau kau bicara jujur? Contohnya, kau ingin aku untuk menjadi lebih lembut atau ingin aku menyakitimu lebih banyak…? Ah, aku tahu… Kalau begitu apa yang kau inginkan? Jika kau tidak mengatakan apa-apa maka aku akan melakukan apa pun yang kuinginkan."

"Tidak. Aku tidak suka," sergah Sakura menaikkan nada suaranya.

Mata Sasuke menyipit membentuk garis peringatan. "Bohong. Kau sebenarnya menyukainya saat aku melakukan ini," pria itu meletakkan tangan di pinggang Sakura dan memeluk tubuh mungil perempuan itu posesif.

Wajahnya menghadap sisi kepala Sakura, Sasuke mulai meniup telinga kiri gadis itu. "Aku tahu kau hanya pura-pura menolakku,"

Sakura merinding, merasa tak kuasa untuk mengelak. "I-itu tidak benar."

Sambil menjauhkan kepalanya, Sasuke menjepit rambut yang menghalangi paras manis Sakura dengan jarinya yang panjang dan tertawa pelan. "Kau tahu aku suka semua yang ada pada dirimu. Keningmu, matamu, pipimu, dan bibirmu..." secara bergantian Sasuke mencium masing-masing bagian itu. "Kau milikku, tak boleh ada yang merebutmu dariku." Sasuke menatap sungguh-sungguh ke dalam matanya.

"Sasuke," desah Sakura penuh kegembiraan.

Jantung Sakura berdebar-debar saat Sasuke mempersempit jarak di antara mereka berdua, memberondong bibir Sakura dengan lumatan lembut.

Namun suara ketukan pintu menghentikan mereka.

"Sial!," desis Sasuke dengan nada merasa terganggu di dalam suaranya yang berat.

Sakura seketika melepaskan diri dari pelukan Sasuke dan berdiri di belakang punggung kekasihnya yang lebar.

Tak jauh dari tempat itu, Sasuke menghela napas panjang.

Sasuke berdeham, "Siapa?"

"Sasuke-kun, Kakashi menelepon ke rumah, katanya ponselmu tidak aktif. Dia memintamu untuk ke kantor agensi secepatnya."

Itu suara Mikoto.

"Baiklah aku akan kesana nanti."

"Akan Ibu sampaikan."

Tak lama kemudian, suara langkah kaki Ibunya perlahan menjauh.

Sasuke menghela napas gusar, ia berbalik dan menatap Sakura dengan pandangan menyesal. "Sepertinya aku harus pergi sekarang, padahal aku masih ingin melakukan itu bersamamu. Hey, bagaimana kalau aku membatalkan rencana dan kau menginap disini sampai besok?"

Gagasan yang kedengarannya tidak terlalu buruk, hanya saja Sakura pikir itu akan menjadi masalah. Maka meskipun berat hati dia memutuskan untuk menolak.

"Yang benar saja, kita sudah lama tidak berduaan seperti ini dan hanya diberikan waktu kurang dari dua jam?" ujar Sasuke penuh kejengkelan. "Jika syuting film itu sudah selesai kita bisa melanjutkan yang tadi." imbuhnya dengan lambaian tangan yang tak sabar.

Sakura menganggukkan kepalanya lemah, sementara Sasuke melepaskan lilitan yang mengikat tangannya. Begitu mendapati kulit pergelangan Sakura memerah raut wajah pria itu berubah terkejut, "Kau terluka. Aku tidak sengaja mengikatnya terlalu keras. Maaf ya,"

Sungguh. Itu adalah kalimat permintaan maaf yang sebenarnya cukup mencengangkan bagi Sakura.

Sakura mengusap kulit putihnya yang sedikit sobek, tapi dengan gesit pemuda itu meraih dan mendekatkan tangan Sakura ke bibirnya, menciumi luka yang diakibatkan oleh kesalahannya sendiri.

Dengan mata tertutup Sakura menggigit bibir bawahnya agar tidak mengeluarkan rintihan. Rasa perih dikulit tangannya perlahan-lahan mereda, namun tidak sepenuhnya menghilang.

Sasuke mendekatkan dirinya ke tubuh Sakura, bersiap mendekap gadis itu dalam pelukannya yang sedemikian hangat dan nyaman. Sementara itu, embusan angin yang membingkai jendela membelai mereka dan menyelimuti mereka, menghujani keduanya dengan cahaya sore.

"Sasuke-kun, apakah kau masih belum bersiap-siap?"

Di atas pundaknya lelaki itu mengeluarkan decakan, dengan enggan melepaskan diri. "Baiklah, setidaknya berikan aku waktu untuk mengatakan selamat tinggal." suara Sasuke yang rendah berisi kedongkolan.

Sakura menarik ujung kemeja Sasuke, menundukkan kepalanya yang merona dengan malu-malu.

Sasuke menaikkan sebelah alisnya melihat tingkah Sakura. "Hm? Ada apa?" sebuah senyum terbentuk di bibir tipisnya. "Kau merasa kesepian? Tidak apa-apa, kita akan melanjutkannya setelah urusan pekerjaanku selesai. Bahkan aku bisa berduaan denganmu selama yang kau mau." Sasuke mengelus kepala Sakura penuh kasih sayang.

"Baiklah kalau begitu," jawab Sakura pasrah.

"Nah," Sakura dapat mendengar kegembiraan dari intonasi suara Sasuke. "Itu tidak terlalu sulit bukan?"

Sakura mendongakkan wajahnya sedikit dan ia bisa melihat tatapan menenangkan pria itu. "Tapi jangan lupa menghubungiku selama yang kau inginkan." seketika wajahnya merona dan dengan canggung ia menutup mulutnya yang sudah lancang mengeluarkan kata-kata memalukan.

Sakura memintanya dengan suara lirih yang menggemaskan.

Senyuman Sasuke semakin mengembang. "Apapun untukmu Saki." kemudian ia menghirup napas panjang, sudah waktunya untuk pergi. "Aku harus pergi sekarang. Jangan lupa menonton dramaku, aku akan berusaha menunjukkan yang terbaik." mengacak-acak surai merah muda gadis itu dengan gemas.

"Aku tahu," pekik Sakura agak kesal, menolak hanyut pada senyumannya yang hangat. Tapi Sakura sangat lega mendengar itu.

"Kalau begitu, sampai jumpa." pamit Sasuke seraya beranjak menjauh dan keluar dari kamar.

"Mmm.. sampai jumpa."

Dia pergi lagi. Akan tetapi kali ini akhirnya Sakura tak bisa untuk tidak tersenyum saat melihatnya pergi.

Sakura memang tidak sepenuhnya setuju akan sikap kasar Sasuke terhadapnya, tapi mengingat semua hal, termasuk lelaki yang terkadang pura-pura bersikap baik di depan pacarnya sendiri lalu berakhir selingkuh diam-diam, ia mengakui bahwa seorang perempuan bisa bernasib lebih buruk daripada dirinya.

To be continued...

A/N :

Saya tahu beberapa reader pasti merasa kecewa karena fict ini saya rombak ulang dan mulai up dari chapter dua. Maka dari itu saya minta maaf sekali T_T

Sebelumnya saya udh pernah bilang ini, alasan saya merevisi adalah karena ada beberapa yang blg kalo TF ada adegan maksa, tidak nyambung, dan lain2

Karena itulah, dimulai dari sini, cerita akan fokus ke hubungan SasuSaku, gak akan ada karakter selain mereka(hanya disebut sementara tapi tidak akan ditulis keberadaan mereka) seperti contoh Mikoto di atas itu.

Jadi gitu, udah jelas ya. Jangan lupa baca sampai ending XD

By,

Karen