"Papa,"

"Hn. ada apa Sarada?"

"Sara ingin tau dimana Mama? Kenapa Mama tidak pernah memeluk Sara? Padahal Bolt selalu dipeluk oleh Bibi Hinata,"

Sesaat, pria 24 tahun itu tertegun, hatinya berdenyut. Sakit sekali. Sasuke—pria itu—berusaha tersenyum, tipis. Mengelus surai legam bocah cilik didepannya.

"Mama sedang pergi, dia akan kembali lagi nanti" Jawaban yang sama seperti kemarin-kemarin. Selalu saja itu alasan yang dikeluarkannya, saat putrinya menanyakan hal ini, lagi.

"Benarkah?! Apa aku bisa bertemu dengannya? Apakah mamaku cantik, Pa?" mata hitam bocah perempuan itu berbinar, menggemaskan sekali. Jika saja mata itu berwarna emerald, tentu putrinya akan sangat mirip dengan seseorang.

"Tentu saja, kau tentu pernah melihat fotonya bukan?" Kali ini Sasuke merogoh sebuah foto dari dalam dompetnya, setelah meraih Sarada ke panggukannnya.

Sebuah foto. Seorang wanita tengah memegang permen kapas yang sewarna dengan rambutnya, tersenyum dalam rangkulan pria raven yang tersenyum tipis.

"Papa .."

"Hn?"

"Bolt selalu bilang jika Bibi Hinata mencintai Paman Naruto, kalau begitu .. apakah Mama juga mencintai Papa?" ucap Sarada dengan pose imutnya. Membuat gerakan Sasuke untuk mengusirnya—karena sudah menanyakan hal yang .. ehem .. sensitif bagi seorang bocah—terhenti.

Iris onyx Sasuke menerawang, seperti mengenang sesuatu."Papa?"

"Tentu, tentu saja ibumu mencintai Papa, itu pasti Sarada .."

"Bagaimana Papa bisa merasakannya? Bukannya Papa bilang Mama sedang pergi?" Sarada bertanya lagi, sembari memainkan jari-jarinya, seperti ibunya dulu.

Sasuke menghela napas, bocah ini .. selalu saja ingin tau. Pertanyaan yang sungguh amat kritis untuk seorang bocah berusia 3 tahun sepertinya. Entah dia belajar dari mana.

"Papa .. bagaimana Papa bisa tau?" Sasuke menatap putri kebanggaannya. Tersenyum tipis ..

"Karena .. kami memilikimu .. Sarada .."

.

.

Because, we have you Sarada ..

.

.

all characters are belong to Masashi Kishimoto

special dedicated to SasuSaku shippers

UchiHanara Hime-chan present

.

Because We Have You

Uchiha Sarada. Nama gadis kecil itu, cucu kebanggaan keluarga Uchiha yang lahir di musim semi tiga tahun lalu. Dia gadis yang cantik, mewarisi wajah ibunya. Tapi sepasang mata hitamnya jelas diwarisi dari sang ayah, termasuk warna rambutnya yang legam.

Dia gadis yang kuat, mewarisi kekuatan hati ibunya, tidak suka menangis dihadapan orang lain, tidak suka mengeluh, bahkan hanya untuk mengaduh saat dulu dia berlajar berjalan. Umurnya tahun ini baru akan menginjak empat tahun, tetapi lagaknya sudah seperti dua kali lipat dari umurnya.

Sarada gadis yang dingin dan cuek. Namun semua itu berbanding terbalik jika bersama ayahnya. Dia menjadi bocah yang cerewet, senang bercerita banyak hal. Dia menjadi bocah yang paling manja, senang bertingkah agar mendapat perhatian ayahnya. Dia tiba-tiba menjadi bocah paling manis sedunia, tersenyum lebar sampai kedua matanya menyipit imut. Dia benar-benar gadis kecil ayah.

.

.

Ini hari keenam Sarada mulai sekolah, usianya sudah 5 tahun sekarang. Dan sekolah benar-benar membosankan baginya, membosankan bagi bocah jenius seperti dia tepatnya.

Sarada menatap sekeliling, Papa sudah berjanji menjemputnya tepat waktu, tapi sampai saat ini ayahnya belum datang. Terlambat. Seperti kemarin-kemarin lagi. Dia berdiri menatap luar gerbang taman kanak-kanaknya dalam diam, sesekali gadis cilik Uchiha itu menatap teman-temannya yang dijemput ibu mereka. Mereka tertawa, berlari, diomeli ibu mereka. Pemandangan yang selalu membuatnya iri. Kapan dia dijemput ibu seperti mereka? Huufft ..

Dia tak tau dimana ibunya, hanya tau wajahnya, itu pun lewat foto yang sering ditunjukkan ayahnya setiap kali dia bertanya. Papa bilang, Mama sedang pergi, selalu begitu. Sarada jadi kesal, dia tau Papa berbohong.

Papa selalu pergi pagi harinya, setelah mengantar Sarada. Lalu pulang menjelang makan malam, kadang, jika Sarada ingin bertemu Papa dia hanya perlu meminta Paman Yamato untuk mengantarnya ke kantor Papa. Papa setiap hari selalu pergi, tetapi Papa selalu pulang, tapi kenapa Mama tidak pernah pulang?

"Sarada-chan belum pulang?" kepala kecilnya reflek menoleh ke sumber suara. Shion-sensei, salah satu gurunya di TK. Menatapnya ramah. "Belum"

"Mau sensei antar?"

Sepertinya kalian sudah tau apa jawaban Sarada, karena tepat saat itu sebuah Bugatti Veyron keluaran terbaru berhenti tak jauh di dekat mereka.

Laki-laki raven bertubuh tinggi tegap keluar dari mobil itu, disusul seorang berambut jabrik. Menatap tanpa ekspresi.

"Saradan-chan! Keponakanku tersayang!" seorang pria dewasa berambut jabrik tiba-tiba memeluknya. Buru-buru dia melepaskan pelukan maut dari pamannya, Uchiha Obito. Lantas menoleh pria raven yang tersenyum tipis dibelakang mereka—yang sedari tadi mengernyit menonton adegan paman-keponakan. Itu ayahnya, Uchiha Sasuke.

"Papa? Kenapa Papa yang jemput?"

"Kenapa? Bukannya ini hari keenam Sarada sekolah, apa salahnya Papa jemput Sarada?" Sasuke berjongkok di depan putrinya, mengusap lembut kepala Sarada. Biasanya Sarada akan tersenyum jika Sasuke melakukan itu padanya, tapi tidak untuk kali ini. Sarada iri. Sarada iri pada Bolt yang selalu dijemput Bibi Hinata, atau Chouchou yang dijemput Bibi Karui.

Sarada ingin dijemput Mama, bukan Papa.

"Hei, Sara-chan! Nenek bilang dia akan masak sup tomat kesukaanmu, ayo pulang!" ujar sang paman sembari nyengir lebar dengan tetap wibawa tentunya—dan itu sukses membuat Shion dan komplotannya tersipu.

"Papa, ayo pulang" Sasuke menghela napas ketika tangan mungil putrinya menariknya. Dia tau betul arti tatapan putri kecilnya. Dia sangat tau, dan dia merasakan hal yang sama.

.

.

"Halo, Sara-chan! Mau bibi temani membaca?" seorang wanita berambut cokelat panjang menatapnya tersenyum, yang hanya dibalas senyum tipis terpaksa dari Sarada. Bibinya, Uchiha Hana. Istri dari paman Itachi.

"Bagaimana sekolahmu tadi? coba ceritakan pada bibi .." kata Hana. Sarada tau bibinya bermaksud baik, membuka obrolan setelah sedari tadi suasana canggung. Sarada menghela napas.

"Merepotkan" Sarada mendengus, tapi akhirnya melanjutkan "Bibi .. seperti apa .. Mama?" tanpa melepaskan pandangannya dari frame foto.

Hana tersenyum, menatap Sarada penuh keibuan "Ibumu cantik, rambutnya berwarna merah muda, unik sekali. Banyak orang yang bilang kalau rambutnya palsu, atau sengaja mengecat rambutnya .." Hana tertawa, Sarada ikut tersenyum tipis

"Ibumu orangnya baik dan ramah, bahkan kakek Fugaku bisa tertawa jika bersamanya" kali ini Sarada tertawa kecil, membayangkan wajah tua-awet-muda nan dingin milik kakeknya tertawa lepas. "Masakan Sakura-chan adalah favorit kami semua, selalu saja enak ..—"

"POKOKNYA! Orang yang pernah mengenal Sakura-chan, akan menyesal jika tak mencicipi masakannya!" sebuah suara melanjutkan, disusul munculnya laki-laki berkucir lengkap dengan cengiran khas-nya. Hana mengusap rambut legam keponakannya, lantas tersenyum pada sang suami di ambang pintu.

"Ne, Sara-chan. Ka pasti bosan dirumah, hm? Mau bertemu Papa?"

Dan mendengar itu, Sarada tersenyum. Mengangguk. Bersama Papa jauh lebih baik daripada menghabiskan minggu di rumah.

.

.

"Hei! Hei, hei! ITACHI! Mau kau bawa kemana keponakanku tersayang itu?!" ujar Obito dengan suara ala radio rusak miliknya. Paman jabrik Sarada yang satu ini .. nampaknya memang sudah agak luntur sifat ke-'Uchiha'-annya.

"Aku cuma mau pergi menemui Papa, dengan paman Itachi .." ucap Sarada, lalu kembali menggandeng tangan Itachi.

"Hei! Hei, baiklah .. jaga Sara-chan, Hoi! ITACHI!" Selanjutnya hanyalah teriakan-teriakan protektif tidak jelas Obito yang hanyaa kan membuat kisah ini bertele-tele dan jadi tidak bermutu. Eh?

.

.

.

Suna International Hospital

"Bagaimana pekerjaanmu hari ini? Apakah menyenangkan?" tanya seorang pemuda berambut merah di sebuah koridor rumah sakit Suna

"Emm .. yeah, lumayan .. setidaknya aku sedikit berguna disini .." wanita bersurai merah muda menoleh, menatap pemuda disampingnya. "Tapi rasanya aku ingin kembali ke kota asalku, menggali ingatanku kembali .. Gaara .."

"Hm, aku mengerti, kalau begitu, berjuanglah! Aku mendukungmu, Sakura!" pemuda yang dipanggil Gaara itu tersenyum lembut, membuat pipi wanita yang dipanggil Sakura merona. "Sepertinya aku harus pergi, selamat tinggal!"

Kini tinggal dia sendiri di bangku taman rumah sakit. Merenung, mengingat sepanjang yang dia bisa. Hanya itu, setiap harinya.

Dia merasa terlahir kembali, seperti kembali menjadi seorang bayi, tak ingat apa-apa. Sama sekali.

Ingin rasanya dia menyalahkan tuhan, memprotes takdir konyolnya. Sakura menghela napas, entah ke berapa kalinya dia menghela napas. Atau mungkin, si penulis yang terlalu banyak menuliskan kata 'menghela napas'? Hehe ..

Sakura ingin tau siapa sebenarnya dirinya, siapa keluarganya, apapun tentang dirinya. Yang mungkin bisa membantunya menggali segala ingatannya.

.

.

.

Siapa sebenarnya dirinya?

.

.

.

To Be Continue


Autho's Note:

KYAAA .. haduuh .. fic ancur, pendek pake bingiiit .. (yang panjang malah author's note-nya) kagak bisa ngebahasain yang ada di pikiran dengan bener .. kayak ada yang masih ganjel-ganjel .. gitu, makanya readers kudu review yah? Hohoho .. aku nyadar kok, dengan segala kerendahan hati, fic ini masih jauh dari kata sempurna. Makanya diriku mau nge-PDKT-in biar deket sama sempurna .. #ehe ..

Yang masih merasa bingung sama jalan cerita fic ini .. ditunggu aja deh, chapter depannya. Moga penjelasan di chapter berikutnya nggak nyeleneh di otak. Hehehe .. klo masih puyeng, bisa tanyain lewat review ato PM (ni author gaya amat) hihi ..

With Love,

HanaraHime

.

.

#Please your review

#pembaca yang baik selalu meninggalkan jejak ^_^