Ya ampun .. lagi enggak punya ide. Sumpah! Ohya, diriku juga mau bilang, aku minta maaf banget kalo ada yang kurang. Alur enggak jelas, emang sih .. fic ini masih acakadut. Jadi dipahami aja yah? Aku bermaksud untuk menyampaikan potongan-potongan masa lalu SasuSaku dengan scene terpotong-potong, jadi maaf klo kayak di-skip terus adegannya.

.

Balasan review:

kakikuda: Hehehe .. jangan ngutuk aku dong. Kamu bener, aku enggak begitu bisa manjang-manjangin scene. Makanya, jadinya keliatan kayak di-skip terus ya? (liat atas) Gomen, klo udh baca keseluruhan pasti bakal paham alurnya.

bitterbutter18: syukur deh, klo udah mudeng. Panjangan dikit okelah, 1,634 word cukup enggak? hehe ..

val5930: Aku jadi tersanjung ada yang review kayak gitu .. oke, udah dilanjut.

.

Happy Reading!


~o~o~o~o~o~o~o~

" .. apakah Mama juga mencintai Papa?"

"Tentu, tentu saja ibumu mencintai Papa, itu pasti Sarada .."

"Bagaimana Papa bisa merasakannya? Bukannya Papa bilang Mama sedang pergi?" ".. Bagaimana Papa bisa tau?"

.

.

"Karena .. kami memilikimu .. Sarada .."

.

.

.

"Sasuke-kun! Kau tenang saja, persediaan ASI untuk Sara-chan sudah kusiapkan. Ohya, Jangan beri Sara-chan apapun, kecuali ASI dan MP-ASI, jaga dia baik-baik .. aku mencintaimu Sasuke-kun!"

"Hn, seharusnya aku yang bilang begitu, Sakura .." Pria dengan bayi berusia 11 bulan itu tersenyum tipis pada istrinya (membuat para wanita yang berlalu lalang di bandara terkesima dengan mudahnya—yang padahal tidak ditujukan pada mereka =,=)

"Hei, Sasuke-kun! Katakan jika kau mencintaiku .. hm?" rengek sang istri manja. Mengerjap menatap sang suami imut.

"Hhh .. aku-mencintai-mu .."

Tap

Dan pipi Sakura tak bisa lebih merah lagi ketika kedua ujung jemari Sasuke menyentuh dahi lebarnya. Dia paling suka jika suaminya melakukan itu padanya.

"Aku, sungguh-sungguh mencintaimu Uchiha Sakura, pulanglah dengan selamat untukku," Iris emerald Sakura sukses membulat saat Sasuke mengucapkan itu, tegas, tak ada kata-kata kebohongan disana. Membuat pipinya tambah merona merah, seperti buah kesukaan suaminya.

"T-Tentu .. Sasuke-kun .. gomen, aku akan pulang .. dengan selamat,"Sakura tersenyum. Mencium pipi Sasuke, mencium dahi lebar Sarada, yang sama lebarnya dengan miliknya.

.

.

Tanpa sadar, bahwa itu adalah kali terakhirnya mencium dahi Sarada, kali terakhirnya mencium pipi Sasuke, dan bagi Sasuke. Itu adalah kali terakhirnya mengetuk dahi Sakura, terakhir kalinya mengatakan bahwa dirinya sangat mencintai sang istri.

.

.

Karena Sakura tidak lolos dari sebuah takdir yang menimpanya.

.

Mungkin

.

.

all character are belong Masashi Kishimoto

special dedicated for SasuSaku shippers

UchiHanara Hime-chan present

.

Because, We Have You

3 Februari 2012

'Pesawat dengan nomor penerbangan SS-28023 mengalami kecelakaan akibat kerusakan sistem, evakuasi korban sedang berlangsung, diperkirakan tidak ada ..—'

"YA TUHAN! SAKURA-CHAN!" seruan Itachi membuat seisi kediaman Uchiha tersentak, apalagi setelah mendengarkan berita lebih lanjut, serta segala penjelasan Itachi.

Sasuke membeku.

Tidak, ini TIDAK boleh terjadi! Pesawat itu tidak boleh kecelakaan.

Sakura ada disana! Istrinya ada disana. Di pesawat itu.

"S-Saku .. anakku, dia ada disana .. Di-dia .. hisk, tidak boleh .." tangis Mikoto pecah di pelukan Fugaku. Semua yang ada disana terdiam, Sasuke jatuh terduduk, lantas dengan gemetar berjalan ke kamarnya. Kamar Sakura.

Di sana, di box bayi, lihatlah! Sarada mengerjap-ngerjapkan mata hitamnya polos, tak mengucapkan apa-apa, tak menangis. Tapi justru itu .. justru itu yang membuat Sasuke semakin tersayat. Manatap Sarada seperti menatap Sakura, belahan jiwanya.

Sasuke menangis. Pertama kalinya untuk sebuah kematian.

Memang belum ada kabar yang meyakinkan, tapi yang pasti tidak akan ada yang selamat dari kecelakaan maut itu. Tidak mungkin.

.

.

5 Februari 2012

Jasad Sakura ditemukan, dengan surai merah muda bercampur noda darah, tercabut di sana-sini, terjepit diantara potongan-potongan besi pesawat. Hari ini hari pemakamannya, hari dimana hati seorang Sasuke tercabik, sakit sekali.

"Dia bukan .. dia bukan Sakura, aku tau itu!" Sasuke mencengkram rambutnya frustasi. Itachi yang berusaha menenangkannya malah terbalik mendapat bentakan Sasuke, "DIA BUKAN SAKURA! AKU BISA MERASAKANNYA ANIKI!"

"Tidak ada seorang wanita berambut merah muda selain Sakura .. dia .. hisk"

"TAPI, DIA BUKAN ISTRIKU, SAKURA!"

"S-sudahlah Sasuke .. dompet dan kartu identitasnya ditemukan di sakunya .."

"Sasuke .. ikhlaskan .. jika kau mencintai Sakura, maka ihklaskan .. cinta adalah keikhlasan .." ucap Rin, salah seorang iparnya. Istri dari sepupunya, Obito. Semuanya menangis, merasa kehilangan.

Sangat merasa kehilangan seorang Uchiha Sakura. Musim semi milik keluarga Uchiha. Musim semi di hati Sasuke.

"Tinggalkan aku .. semuanya" Anggota keluarga Uchiha yang lain saling memandang, lalu memutuskan untuk meninggalkan Sasuke sendiri, meresapi semuanya.

"Sakura .." panggil Sasuke lirih. Berharap Sakura datang memeluknya dari belakang, menenggelamkan kepala merah mudanya di dalam dada Sasuke. Tapi itu hanya sebuah harapan. Karena Sakura tak mungkin kembali.

"Aku tau kau masih hidup Sakura .. aku bisa merasakannya, detak jantungku selalu saja kuat .. kau bilang, kita memiliki ikatan hati yang kuat, bukan?" Sasuke mencengkram nisan bertuliskan 'Uchiha Sakura' didepannya. Menangis.

.

.

.

.

"Sasuke-kun .. aku ingin bertanya .. kau harus jawab dengan JUJUR! Kau faham?" Sakura menatap suami tampannya. Yang ditatap malah sedang asyik dengan buku ditanggannya, bergumam tidak jelas menjawab istrinya.

"Sasuke-kun!" Buku tebal itu berpindah, sudah berada di tangan Sakura sekarang, lantas Sakura menyembunyikannya di bawah bantal.

Sasuke tau, istrinya sedang ingin bermanja-manja dengannya, maklum saja, istrinya sedang hamil. Hormon-nya mudah berubah cepat. Nampaknya, dia harus ekstra sabar menghadapi Sakura dalam mode hamil.

"Sasuke-kun .. kau mencintaiku?" Sasuke tersentak, tak biasanya istrinya bertanya begitu. Tapi, biarlah .. ingatkan dia satu hal, jika istrinya sedang hamil.

"Aku menikah hanya dengan orang yang kucintai dan yang mencintaiku, Sakura. Masih perlukah kau bertanya seperti itu?" Sakura menyandarkan kepalanya ke bahu kekar Sasuke.

"Benarkah?" Emerald Sakura menatap onyx Sasuke. "Bagaimana jika aku meninggal, saat melahirkan Sarada ,misalnya?" lanjutnya.

"Jangan bilang begitu, aku tak bisa jawab pertanyaanmu. Lalu, kalau aku yang tanya begitu, kau jawab apa?" kata Sasuke mengelus perut Sakura yang mulai membuncit. Sementara Sakura mengerjap bingung. Kenapa malah dia yang ditanya?

Setelah menarik napas sebentar, Sakura berkata. "Aku tak tau kapan kita berpisah oleh kematian Sasuke-kun .. tapi yang aku tau, adalah jika hati kita terhubung .. dalam suatu hubungan batin yang rumit. Kau bisa rasakan jantungku Sasuke-kun?" Sakura lantas menggengam telapak tangan suaminya, mendekatkan ke dadanya.

Deg deg deg

Sasuke bisa merasakan itu, detak jantung Sakura. Entah sadar atau tidak Sasuke berbalik meraih tangan Sakura, menempelkan ke dadanya sendiri.

Deg deg deg

Sakura juga merasakannya, dia tersenyum menatap pria tampan didepannya. "Jika aku pergi sejauh-jauhnya, hingga tempat yang bahkan tak bisa kau sentuh, percayalah! selama detak jantungmu terasa kuat, aku masih hidup Sasuke-kun .. bahkan kalaupun aku mati .. aku akan selalu hidup, di hatimu .." Sakura menatapnya lembut.

"Dan semua perasaanku padamu .. perasaanmu padaku, terikat pada sesuatu hal .. yaitu terikat pada Sarada. Dialah pengikat semua perasaanku .. perasaan kita .. Sasuke-kun .." ucap Sakura sambil tersenyum, senyum yang paling Sasuke sukai. Senyum yang menenangkan. Sasuke bahkan merasa dialah pria yang paling beruntung memiliki seorang Haru—Uchiha Sakura sebagai istrinya.

Istrinya cantik, istrinya hebat, istrinya sempurna. Tak ada yang pantas untuk menggantikan Sakura sebagai istrinya, tak ada yang pantas selain dirinya.

.

.

Benar, Sarada adalah pengikat semua perasaan Sasuke pada Sakura, perasaan Sakura pada Sasuke. Pengikat perasaan keduanya.

.

.

"Kau tau Sakura, detak jantungku masih sama kuatnya seperti dulu .. itu artinya kau masih hidup Sakura .."

.

.

Sakura terbangun dari tidurnya, wajahnya pucat, napasnya menderu. Mimpi buruk mungkin?

Mimpi apa itu? Siapa lelaki tampan beriris onyx itu? Lalu siapa wanita bersurai merah muda tadi? Sakura membekap mulutnya. Berusaha mengontrol pikiran.

Apa maksudnya mimpi tadi? Dan kenapa jantungnya mendadak bedenyut? Siapa orang-orang dalam mimpinya?

Merah muda .. wanita berambut merah muda. Mungkinkah itu dirinya? Jadi dia sudah berkeluarga?

Sakura mencengkram rambutnya sendiri. Uuhh .. Sakura menarik napas, berusaha menjernihkan pikiran yang tadinya sempat tercemari oleh hal-hal yang sungguh tidak baik. Eh?! Salah kata ya?

Siapa sebenarnya dirinya?

Siapa orang-orang dalam mimpinya?

Siapa wanita merah muda dan lelaki onyx itu?

Hanya satu hal yang masih diingat Sakura, hanya satu ..

.

.

Namanya, Haruno Sakura.

.

.

Ini hari Senin, minggu kedua dia masuk sekolah. Sarada melamun lagi, apakah dia bisa bertemu ibunya di sekolah. Secara tiba-tiba? Mungkin dia tak sengaja menabrak seorang wanita merah muda yang membawa belanjaan, lalu setelah melihat dirinya wanita itu berseru lalu menangis, berkata bahwa 'akhirnya aku bertemu anakku' dan segala adegan lebay-abay-babay selanjutnya.

Oh, lupakan. Itu pasti akibat karena kemarin nenek Mikoto memaksanya untuk menemani menonton drama Korea kesukaan sang nenek—Sarada bahkan sampai pening kepalanya karena menurutnya, semua aktornya berwajah sama. Lho?

"Ohayou, Sara-chan! Hei, kau tidak memberikan senyuman pada paman-mu yang tampan ini?" Lamunan Sarada terhenti saat Obito berseru sambil memamerkan cengiran lebarnya pada Sarada. Kali ini tak tanggung-tanggung, maksudnya tak perlu tetap menjaga kharisma Uchiha-nya. Hehehe ..

"Hei, hei .. kau tidak perlu membuang-buang senyummu yang berharga untuk seorang seperti dia! Huh, seenaknya saja kau bilang dirimu tampan. Sebaiknya kau berkaca dulu-lah! Nih, aku bawakan cermin," kata Itachi sambil bergaya pada keponakan kecil-nya. Dan sambil menyerahkan sebuah cermin hias milik istrinya pada Obito yang terbengong-bengong. Kalau Mikoto tau, sudah pasti dia akan protes jika tau putra sulungnya membawa sebuah cermin untuk berhias ke meja makan, di waktu sarapan.

Sarada terkikik secil, paman-pamannya ini memang kocak. Setidaknya lebih asyik diajak tertawa lepas, dibanding Paman Izuna, misalnya—yang se-tipe dengan ayahnya, dingin.

Sarada memang tinggal di Masion Uchiha, bersama kakek-neneknya serta paman Itachi, (Paman Obito hanya menumpang menunggu rumahnya yang sedang direnovasi .. =,=) dan selebihnya kalian bisa bayangkan sendiri, tentu anggota keluarga Uchiha begitu banyak bukan jika diceritakan satu-persatu?

"Papa belum turun, Nek?" tanya Sarada pada Mikoto. Yang ditanya hanya tersenyum kecil, lalu menjawab "Entahlah, ayahnya mu itu sibuk sekali Sarada-chan, tadi pagi dia bilang harus bersiap-siap ke Suna nanti siang" dan Sarada hanya mengangguk.

Sarada tidak kaget jika neneknya mengatakan bahwa Papa ke Suna nanti siang. Itu sudah biasa, tak perlu berheran-heran dengan hal seperti itu lagi.

"Nah, kalau begitu .. sebaiknya kau habiskan sarapanmu Sarada-chan, lalu pamanmu yang akan mengantar ..—"

"Biar aku yang antar, Ibu" seru Itachi. Bergegas menghabiskan sarapannya, dan pastilah kalian bisa menebak apa yang terjadi setelah ini bukan?

"Eeiitts, tidak, tidak, tidak .. kau tidak boleh diantar oleh si keriput, Sara-chan! sebaiknya kau diantar oleh paman tampan-mu ini .."

"Hoi! Bagaimana kau bisa lupa jika keriputmu itu lebih-sungguh-sangat-menyeramkan? Melingkar-lingkar separuh wajahmu .. Sarada-chan bisa tertular nanti,"

"Huh, lalu apa-apaan rambut gondrong macam wanita itu? Itu menggelikan,"

"Daripada rambut duren menantang langit sepertimu?!"

"Itu bahkan lebih ba ..—"

"Ekhm, kurasa sebaiknya Sarada kuantar saja, itu lebih baik daripada diantar oleh dua pamannya yang sedang dalam kondisi mengkhawatirkan, bagaimana?" ucapan itu sukses membuat dua keriput Uchiha, Itachi dan Obito menoleh. Hampir berseru protes jika bukan yang berkata Fugaku. Sementara Sarada tersenyum.

Jarang-jarang dia diantar oleh sang kakek, rasanya akan geli melihat Shion-sensei dan komplotannya yang diam-diam menanti di gerbang TK, mendadak lemas begitu tau jika yang mengantarnya kali ini seorang kakek-kakek. Hihihi ..

Hei, Sarada! Jangan remehkan pesona seorang Uchiha. Begini-begini .. walaupun sudah seorang kakek. Yang mengantarmu tetaplah Uchiha berkharisma tinggi yang selalu mempesona .. =,=a

.

.

.

To Be Continue

~o~o~o~o~o~o~o~


Author's Note [mohon dibaca]:

HUWAAA .. Aku enggak tau apa yang harus kutulis .. entahlah, mau koment apa sm chapter 3 ini. Ohya, aku sudah sangat update kilat yah? Enggak nyangka baru di publish kmren bisa update hari ini .. hehe .. ini semua berkat review kalian!

Sepertinya aku udh tau mau ngomong apa, kayak yang aku bilang di atas, aku bermaksud menyampaikan potongan-potongan masa lalu SasuSaku lewat beberapa scene yang dipotong, itu juga menggambarkan ingatan Sakura. Mungkin banyak yang ngira fic ini nyeleneh dari sisi realita. Hehe ..

Sejauh ini .. (padahal belum jauh-jauh amat) aku mengucapkan banyak terimakasih pada author's senior, reader's ato bahkan silent reader .. yang mampir buat baca fic ini .. mohon review selalu .. ^_^

.

HanaraHime,

.

#Please your review

#Pembaca yang baik selalu meninggalkan jejak