Kembali denganku .. spesial for Sakura's Birthday!
The gift from UchiHanara Hime-chan
Langsung ke balesan review:
kakikuda : aduuh .. jadi malu .. hehehe .. thanks, ada ide buat humor dan scene baper?
suket alang alang : iya thanks, sarannya .. aku juga mikir gitu kok. Review lagi yah!
bitterbutter18 : maaf .. klo kembali jd pendek lagi .. dan adegan ketemu SasuSaku di unur dulu ya .. [jgn bunuh aku ..]
AryaniCentric : hai! review terus ya! aku sudah baca profilmu, km seorang Sakura-sentris kan? Baca fic terbaruku ttg Sakura! "Bagai Malaikat Tanpa Sayap" #promosi
SasuSakuLovers : baca terus yah? ntar ada penjelasannya
Choseo ssl : udah next, makasih kamus jepangnya .. hehe .. ^_^
devanichi : iya, nnt di chapter2 selanjutnya bakal dijelasin kok. Review trus .. ya!
rerenis18 : udh di next, btw panggil aku Hanara-senpai, or Hime yah? ntar kayak punya kekuatan dong .. hehe ..
Uchiha Cherry 286 : wah .. jd tersanjung, mestilah happy ending, tunggu terus kelanjutannya!
indrichan77 : ke-'rajin'-an aku update tergantung review dr kalian, ditunggu juga review nya!
.
Aku enggak nyangka kalian suka sm fic ini. Sungguh-sangat terimakasih, untuk yang sudah review, pertahankan review terus ya!
all character are belong Masashi Kishimoto
special dedicated for SasuSaku shippers
special chapter : the gift for Sakura's Birthday from UchiHanara Hime
present
.
Because We Have You ch 4
"Halo! Forehead, bagaimana kabarmu? Kudengar mungkin kita akan dipanggil ke ruangan pimpi ..—AH YA AMPUUN! APA-APAN DI BAWAH MATAMU ITU?!" teriak Ino histeris, sahabat pirangnya selama bekerja di rumah sakit ini. Sama-sama perawat.
Sahabat pirangnya itu memang sungguh-sangat menjunjung penampilan, maka jangan heran jika datang-datang Sakura disambut teriakan lebay Ino. Soal penampilannya.
Seperti biasa, rambut yang sekarang panjangnya sudah mencapai pinggul itu diikat tinggi, menyisakan sedikit di kedua belah pipi Sakura. Cantik memang, tapi yang membuat Ino histeris luar biasa adalah kantung di bawah matanya. Menghitam, dia tak bisa tidu semalam, berkali-kali tertidur .. lantas kembali terbangun. Hingga akhirnya dia menyerah, kembali tidur pada pukul 3 dini hari.
"Ah, sudahlah pig! Jadi, apa pekerjaanmu hari ini?" tanya Sakura—tanpa menghiraukan Ino yang dengan lebay-nya membulatkan mata.
"E-eh .. ya .. entahlah" Sakura mendengus.
"Ah, iya! Daripada kita tidak jelas seperti ini, lebih baik kau mencicipi yakiniku buatanku, forehead!" Ino menyengir senang, hei, siapa yang tidak jelas disini?
Dan dua makhluk berkepala pirang-pink itu berjalan menjauh, tepatnya si pirang yang menarik paksa si pink. Begitulah, setiap paginya. Dan ohya! Mungkin kalian sudah bisa menyimpulkan sendiri .. tapi tentu suatu kewajiban seorang penulis untuk memperjelas apa yang ditulisnya, bukan?
Yeah, mungkin seperti yang kalian simpulkan, Sakura sekarang bekerja sebagai perawat di Suna International Hospital. Sebuah rumah sakit elit di kota Suna, yang Sakura tau—dari Ino tentunya—rumah sakit ini milik perusahaan .. emm .. apa yah? Oh. tidak! Sakura lupa! Mungkin lain kali saja dijelaskannya ..
"Hei, forehead! Bagaimana? Enak-kan?" tanya Ino bergaya. Tersenyum lebar, sepertinya gadis pirang itu sudah melupakan penampilan 'berbeda' Sakura yang membuatnya menjerit tadi.
"Yeah, Ino-pig, ini enak sekali. Kurasa kau patut membuat restoran," sahut Sakura tulus, sambil kembali memakan yakiniku miliknya, eh, maksudnya yakiniku bagiannya (karena bukan dia yang membuat yakiniku itu .. jadi yakiniku itu kan, bukan miliknya ..)
"Hohoho .. sepertinya kau harus mencicipi masakan lain yang lebih enak," Ino membusungkan dada.
"Kalau begitu, sepertinya kau harus mengajariku, Ino-pig!" balas Sakura, yakiniku bagiannya sudah tinggal sedikit.
"Baiklah .. baiklah .. kau bisa belajar dari ibuku .. itu sebenarnya, ehem .. buatan ibuku .. hehe .." kata Ino dengan wajah tanpa-dosa-nya
"HEH?! Kalau begitu insting-ku benar, pig! Orang sepertimu benar-benar tidak bisa memasak, dasar! Lalu apa-apaan kau bilang ini buatanmu, huh!" ujar Sakura, mengerucut sebal. Bagaimana dia tidak sebal? Dia bahkan sempat menahan iri pada Ino yang bahkan lebih bisa memasak yakiniku yang lezat seperti ini .. dan eh, ternyata itu buatan ibunya. Dasar ..
Lupakan soal tadi dan Ino yang ber-cengenges ria. Asisten dokter Tsunade—kepala pimpinan rumah sakit—Shizune, tergopoh-gopoh menghampiri mereka.
"Oh, ya ampun! Sakura, Ino! kalian dipanggil ke ruang pimpinan, mungkin kalian akan diberi tugas, sekarang cepatlah!" ucap wanita berambut hitam pendek itu, tak lupa dengan seekor babi imut—jika itu bisa dibilang imut— di pelukannya (di hari pertama bekerja, Sakura bahkan sempat heran melihat pemandangan 'babi-berbaju-berkalung-di-rumah-sakit, sungguh mengherankan bukan?)
"Baik, baik .. Shizune-senpai, kami akan segera kesana," Sakura membungkukkan badannya sedikit. Shizune tersenyum simpul, lalu berpamitan.
"Nah, ayo forehead, siapa tau kita ditugaskan ke Kiri yang banyak pantai indah itu .. hehehe .." ujar Ino menggoyang-goyangkan lengan Sakura. "Aaahh .. kapan ya, aku bisa kesana? Itu pasti akan saangat menye—ADAW"
Sakura melotot pada Ino, memberi tatapan peringatan. Mereka sudah di depan ruang pimpinan, dan harus menjaga sikap jika ingin jabatan mereka selamat.
Ino cepat tanggap. Membekap mulut sendiri, mengacungkan dua jari lentiknya.
Tok tok ..
"Masuk!"
Sakura dan Ino melangkah masuk, di dalam sudah ada Gaara ternyata, pemuda merah itu tersenyum pada mereka. Tsunade mempersilahkan keduanya duduk.
"Nah, kalian sudah lengkap, jadi begini .. aku akan menugaskan kalian bertiga ke Konoha, disana kalian akan di tempatkan di salah satu rumah sakit di sana, yang juga di bawah pimpinan Uchiha Corp, bisa dibilang disana kekurangan banyak tenaga medis. Jadi, kurasa, dengan mengirim dokter handal seperti Gaara dan dua perawat elit seperti kalian sudak cukup," Tsunade tersenyum, jarang-jarang pimpinan rumah sakit itu tersenyum.
"Kalian berangkat besok lusa, hari ini kalian bisa lanjutkan tugas kalian, dan ah! ya, Sakura, berkas laporanmu belum lengkap." Sakura mengangguk singkat.
"Kalian boleh keluar,"
.
.
.
Siapa aku?
Entahlah apa yang ada di pikiranku sekarang, aku bahkan tak bisa mem-bahasa-kannya. Ada sesuatu dalam diriku yang berbeda. Sangat berbeda. Aku menatap manis kotak di tanganku, hadiah ulang tahun dari Gaara.
Jadi aku berulang tahun hari ini? Tanggal 28 Maret?
Setidaknya Gaara bilang begitu, dia bilang dia tau dari dokumen-dokumen yang terselamatkan dari kecelakaan itu. Yeah, kecelakaan itu. Sudahlah .. aku tak mau membahasnya.
Saat itu aku bangun di ranjang rumah sakit, aku merasa terlahir kembali. Menatap kosong ruangan itu.
Ini dimana? Kenapa aku disini? Siapa orang itu? Siapa aku?
Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepalaku sejak itu, kehidupanku mulai normal satu tahun kemudian. Gaara, dokter yang bertanggung jawab terhadapku menyarankan aku untuk bekerja di rumah sakit ini. Menjadi seorang perawat.
Kehidupanku memang normal, seperti orang-orang lainnya. Tapi perasaan ku tidak begitu, ada rasa sesak disini. Rasanya menyakitkan.
Akhirnya kubuka kado dari Gaara.
Sebuah diary, putih dengan sampul timbul bunga-bunga sakura. Ini indah. Dan secarik surat.
.
'Tulislah segala kejadian menyenangkan disini, agar kau tersenyum saat membacanya esok hari. Dan jangan kau tulis kejadian menyakitkan, Sakura. Karena itu hanya akan membuatmu menangis ketika membacanya esok hari.'
.
Gaara benar. Sakura tersenyum, perasaannya lebih baik sekarang.
Baguslah, kalau begitu tinggal membereskan berkas-berkas yang diminta Tsunade-sama.
.
.
.
Kemarin, pagi-pagi buta dia sudah harus berangkat ke kantor, bersiap-siap, lalu berangkat ke Suna. Sasuke menggerutu, seharusnya kemarin pagi dia mengantar putri kecilnya dulu. Ini minggu kedua putri kecilnya sekolah.
Setelah kemarin rapat dengan koleganya, dan mengurus berbagai bisnis cabang Uchiha Corp. Akhirnya ini agenda terakhirnya di Suna, sekretarisnya bilang begitu.
Hari ini agenda Sasuke adalah mengunjungi salah satu rumah sakit milik Uchiha Corp di Suna. Yang tak lain dan tak bukan adalah Suna International Hospital. Pimpinan rumah sakit itu akan melaporkan perkembangan rumah sakit, begitu menurut sekretarisnya.
Tsunade, pimpinan rumah sakit itu melaporkan segala perkembangan rumah sakit yang hanya dijawab oleh gumaman-gumaman singkat dari Sasuke.
"Kurasa itu saja Uchiha-san, jika ada perkembangan lagi akan saya laporkan. Dan, ah, ya! Tiga anggota medis sudah saya tugaskan untuk membantu rumah sakit Konoha, saya rasa seorang dokter handal dengan dua perawat khusus sudah cukup,"
"Hn, siapa saja?"
"Dokter Gaara, beserta dua orang perawat yaitu .. Yamanaka Ino dan ..—"
"Summinasen, Uchiha-sama, maafkan saya. Hyuuga Neji mengadakan rapat dadakan, setengah jam dari sekarang, saya harap Uchiha-sama segera bersiap-siap,"
"Ck, kuso! Baiklah, terimakasih atas kerjasamanya, Tsunade-san."
"Dengan senang hati, Uchiha-san"
Sasuke undur diri, keluar dari ruangan itu. Selang beberapa detik ekor matanya menangkap warna merah dan merah muda, entah kenapa hatinya merasa panas .. eh, tunggu! Merah muda?
Sasuke kembali menengok ke arah itu, tak ada siapa-siapa. Jangan-jangan dia hanya berhalusinasi? Ini pasti efek pekerjaan-pekerjaan yang menumpuk. Dasar.
"Uchiha-sama!"
"Ck, baiklah."
.
.
.
Bagaimana jika adegan rapat Sasuke kita lewati? Tentu sangat membosankan jika kita membaca sebuah rapat panas yang membahas tentang perusahaaan bukan? Sasuke yang mengalaminya saja sudah panas, cepat-cepat ingin pulang.
Setelah rapat mendadak dengan kolega dan juga kawan lamanya itu, Hyuuga Neji. Dia langsung meminta, maksudnya, memerintahkan sekretarisnya untuk mengosongkan semua jadwalnya setelah ini. Langsung dengan kecepatan tinggi, dia melaju ke Konoha.
Di mobil, dia membuka smartphone keluaran terbaru-nya. Dan yang pertama kali di tangkap oleh iris onyx-nya adalah ..
Biiipp .. biip ..
28 Maret : Sakura's Birthday
Deg
Hari ini tanggal 28 Maret, hari ulang tahun istrinya, hari ulang tahun Sakura. Itu artinya tahun ini umur Sakura menginjak dua puluh lima. Ya tuhan .. rasanya sesak sekali ..
Biasanya, seminggu sebelum hari ultah Sakura, dia sudah menyiapkan kado. Bersama ayah ibunya, Itachi, dan Hana. Jika terpaksa, seminggu itu Sakura akan di 'ungsi'kan ke kediaman Uchiha lainnya. Agar, kejutan untuk wanita merah muda itu tidak ketahuan. Ia ingat sekali, wajah merona istrinya saat dia mencium bibir sang istri di hadapan keluarga Uchiha.
Cantik, ah, istri merah mudanya tentu selalu cantik.
Sasuke memejamkan mata, berusaha untuk mengusir ingatan itu, yang membuatnya semakin sesak saja. Tapi, yang ada malah ingatannya yang menjadi-jadi.
"Sasuke-sama, anda ingin ke kantor terlebih dahulu atau ..—" sopir brewok-an itu bertanya.
"Langsung ke kediaman Uchiha,"
"Ha'i"
Apa kabar Sarada? Putri kecilnya? Ah, ngomong-ngomong .. sebentar lagi juga ulang tahun Sarada, tanggal 31 Maret, hanya selisih dua hari dengan ulang tahun Sakura.
Ah, Sakura lagi ..
Hidupnya memang tak bisa lepas dari bayang-bayang istrinya.
.
.
"PAPA! Okaerinasai!" seru Sarada, detik berikutnya gadis kecilnya sudah memeluknya manja, Sasuke benar-benar suka sifat Sarada yang seperti ini. Seperti Sakura-nya, bukan dingin nan angkuh yang menurun darinya—Sasuke sadar akan hal itu.
"Papa .. ayo, ayo, semua sudah berkumpul. Tadi, kita semua membuat kue ulang tahun untuk Mama, hari ini ulang tahun Mama. Mungkin Mama akan pulang jika dibuatkan kue .." ucap Sarada polos.
Sasuke mengernyit. "Kalian membuat kue? bersama paman-paman keriput?" Sarada mengangguk, huh, jadi begitu .. mereka tak mengajak-ajak ya ..
"Hoi, aku dengar itu Sasu-chan! Ingat satu hal Sasuke! Keriputku ini bukan sembarang keriput, ini langka asal kau tau, mentang-mentang banyak dibilang tampan, terus lupa diri .." omelan Itachi terdengar.
"Sasuke .. cepat, semua sudah berkumpul."
"Hn"
.
.
"Enak, pa?" mata turunan Sasuke itu mengerjap. Sasuke menggangguk, tesenyum tipis. Dan Sarada tertawa senang.
"Tentu saja ini enak, Sara-chan! Sampai-sampai, paman tampan-mu ini takjub denganmu yang pintar memasak," sahut Obito. Mengulum senyum, siapapun tau jika itu hanya gurauan untuk menyenangkan hati bocah cilik Uchiha itu.
"Jangan modus kau, Obito! Merayu dengan rayuan murahanmu itu tidak akan meluluhkan hati Sara-chan, dia itu keponakan cantik dari Uchiha Itachi, ya, kan, Sara-chan?" ucap Itachi tak terima. Sarada memandang kedua pamannya datar, lalu kembali tersenyum manis pada Sasuke dan merangkulnya.
"Aku putri Papa dan Mama, kok."
Sarada tersenyum menggemaskan, bergelayut manja dengan sang ayah. Sasuke menyeringai dengan dua keriput itu, membiarkan Sarada menaiki punggungnya. (Mikoto sudah menahan omelan tentang 'jangan-bersikap'seperti-itu' agar tak mengganggu episode ayah-anak itu.)
"Hei, Itachi, Obito. Sebaiknya segera beri Sarada sepupu, agar kalian tak memperebutkan putriku ini. Kurasa kalian kekurangan kasih-sayang seorang anak." kata Sasuke menyeringai. Itachi dan Obito melotot serempak, seenaknya saja bocah pantat ayam ini bilang begitu.
"Ekhm, kali ini aku setuju denganmu Sasuke, masa' cucuku hanya Sarada? Lalu giliran kalian mana?" kali ini Fugaku yang bicara, membuat Hana dan Rin, kedua ipar berambut cokelat itu merona.
"Haaiissh .. kalian ini, aneh-aneh saja, bicarakan itu diluar meja makan," semua bergidik, melihat aura hitam menguar di sekeliling Mikoto.
"A-Ah! Ya, Eh, Sara-chan, sebentar lagi ualng tahunmu bukan? tanggal 31 Maret?" Hana mengeluarkan suara. Rin mulai membantu Mikoto membereskan meja, sambil ikut mendengarkan.
"Kau, betul, Hana-hime. Jadi, kau ingin hadiah apa keponakanku?" tanya Itachi, agak menirukan gaya bicara tokoh Sangkuni di Mahabharata. Lho? Kok ngelantur siih?
Sasuke mengangguk, "Kau ingin apa Sarada?"
Sarada tersenyum, menatap semua orang di ruangan itu.
"Aku ingin .. bertemu .."
.
.
" .. Mama"
Deg
"Eh! Ya ampuun .." Rin tersentak sampai-sampai piring yang dibawa hampir terjatuh.
Permintaaan sederhana dari gadis cilik itu benar-benar membuat semuanya tersentak. Senyap. Semua tak berani berkata-kata.
"Aku ingin itu, Papa .. itu hadiah yang spesial .." rengek Sarada, menatap Sasuke yang membeku di tempatnya. Apapun akan diturutinya asal tidak hal itu. Mana mungkin itu terjadi?
.
.
.
Mungkin saja bukan? Tak ada hal yang tak mungkin untuk dilakukan oleh tuhan. Tahun ini, akan menjadi ulang tahun terindah bagi Sarada.
Musim semi telah kembali.
.
.
.
To be continue
~o~o~o~o~o~o~o~o~o~
Author's Note :
YA AMPUUUUN .. kembali ke mode pendek. Pendek bgt sih, ceritanya? Udh nyuri-nyuri waktu buat garap chapter ini, sengaja di update waktu tgl 28 Maret, chapter ini dibuat waktu ultah Sakura. Heheh ..
Adegan ketemu SasuSaku di undur dulu ya .. jgn bunuh author ..
Aku enggak nyangka, ternyata ngepas bgt yah? Timeline-nya? Yang mau aku bilang .. beberapa chapter ke depan .. akan fokus ke Sakura's POV.
Ohya, waktu aku baca2 review .. aku senyum2 sendiri, Thanks ya! yg udh review. Ohya! Jgn panggil 'thor' dong! ntar kayak diriku punya kekuatan heheh .. panggil Hanara-senpai or Hime-senpai .. pokoknya panggil Hanara or Hime. Suffix-nya tambahin sendiri! Hihihi ..
.
REVIEW LAGI! PLEASEE ..
.
HanaraHime
28 March pk 21.09
