Halo, sudah lama menunggu fanfic ini? Heheeh .. sori yah! telat update, ini chapter lima, dibuat pendek karena khusus untuk memperjelas tentang status hubungan Tsunade-Sakura. Hehe ..
Sebelumnya, indrichan77 dan Uchiha Cherry 286 sudah mereview tentang keganjalan di chap 4 makanya, langsung aku perjelas di chap ini.
Sudah ah, ntar baca Author's note di bawah yah! mau bales review!
indrichan77 : aku suka readers yang cermat bacanya, pertanyaan kayak gini udh aku tunggu-tunggu. Tsunade emang dibuat agak misterius. Dan sekadar ralat, di prolog Saku mau menyusul Tsunade ke Kumo, bukan ikut Tsunade ke Suna. _
kakikuda : it's ok, aku emang rencana bikin humornya ItaObi cm buat penghibur biar kagak tegang bacanya, hahah! requets idemu lewat PM ya! aku terbantu bgt!
bitterbutter18 : wuaaa makasiiih ... terharu deh, itu menginspirasi bgt,
ohshyn76 : gomen klo chap ini pendek lagi, liat atas ya sdh kujelasin.
Nurulita as Lita-san : adegan nyesek dikit2 lah .. biar bacanya agak ngerasa, hehe ..
Uchiha Cherry 286 : kamu cermat banget ya! soal Sasu memang tdk terkejut melihat Tsunade, krn Tsuna tidak ikut dlm pesawat tsb, (lihat balasan indrichan77 n author's note), Tsuna mmg tau klo Saku masih hidup. Nah ini bakal jd konfliknya. Hihihi .. g pp panggil gitu, dan aku suka pembaca yg bisa mencermati isi cerita, pdhl aku pikir g ada yg review kyk gini!
AryaniCentric : tunggu aja deeh .. aku harus nyiapin scene ketemuan yang menguras air mata!
Choseo ssl : iya .. berdoa terus yah!
Buat pe-review yang tak dibalas disana, mungkin aku bingung mau bales apa, tapi sungguh terimakasih ..
Ohya, ada yang bilang adegan terlalu bertele-tele dan spt sinetron. Maaf deh klo gitu, mungkin ini dampak pikiranku lg hawa baper .. hehehe ..
Udah! Happy Reading!
.
UchiHanara Hime-chan present
.
Because, We Have You
Gaara menatap kotak itu sejenak sebelum memasukkannya dalam koper. Tidak, tidak, bukan hanya sejenak, tapi cukup lama .. hingga akhirnya dia membuka kotak itu. Isinya sebuah kalung dengan liontin berlambangkan kipas merah putih, indah sekali. Tapi itu bukan miliknya. Itu milik gadis merah muda yang mengisi hatinya, yah, kalung di tangannya milik Haruno Sakura.
Gaara menatap lekat-lekat kalung indah itu, jika liontin itu dibuka, akan nampak sebuah foto. Foto yang selalu membuat hatinya berdenyut sakit. Seorang wanita tersenyum mengenakan yukata putih bermotif bunga sakura dan obi merah muda sambil memegang kipas, bersama seorang pria dengan hakama biru dongker yang menggendong bocah cilik beryukata merah kebesaran. Sakit sekali.
Dokter tampan bertatto nyentrik itu tau betul soal kalung itu. Bukan hanya sebuah kalung biasa jika dihubungkan oleh Sakura, dan dia telah lama menyimpan kebohongan.
Kalung itu, kalung milik keluarga Uchiha. Dan kalung itu kepunyaan Sakura, itu artinya Sakura adalah seorang Uchiha. Dia tau betul siapa Uchiha itu
Jika Sakura mengingat namanya sebagai seorang Haruno, sedangkan dia memakai kalung ini di kejadian itu, artinya ..
Sakura telah menikah, dengan seseorang dari keluarga Uchiha.
Gaara berharap ini hanyalah analisis hoax miliknya.
.
.
Shizune menatap heran sebelum keluar dari ruangan itu, pasalnya, sang atasan berkali-kali merutuk tidak jelas. Berkata jika dia menyesal sudah menugaskan Sakura ke Konoha. Apa hubungannya coba?
Sementara itu, Tsunade membolak-balikkan berkas-berkas itu, tapi kali ini bukan berkas tentang segala tetek-bengek tentang rumah sakit, semuanya sudah selesai dua jam lalu. Berkas di tangannya itu berisi segalanya tentang seseorang.
Tsunade memijit keningnya, mencubit-cubit dagunya, berpikir keras. Iris madunya menerawang, sekarang tangannya menyangga kepala.
Kalian mau tau berkas apa itu? Yeah, seperti yang akhir-akhir ini kita bahas, berkas itu tentang Sakura.
Sakura.
Kepala pimpinan rumah sakit itu menghela napas panjang saat mengingat nama .. ehem, mantan murid kesayangannya. Wanita pirang awet muda itu mengusap wajahnya, lalu berdecak. Terlihat sekali wajah cantik-awet-muda-nya menyesali sesuatu. Dan dia kembali menenggelamkan diri membaca berkas itu.
Wanita itu menatap nanar, hatinya penuh oleh rasa bersalah yang membuncah. Rasa penyesalan, dan sekian banya rasa menyesakkan di hatinya.
Satu hal yang membuatnya tersiksa sedemikiannya, dia .. menyimpan suatu kebohongan.
Kebohongan yang besar, seharusnya dia berkata jujur. Berkata yang sebenarnya, bukannya malah menembunyikannya. Dia sungguh menyesal.
Dan dia merasa seperti orang jahat sekarang, membiarkan murid kesayangannya kebingungan mencari jati diri.
Seharusnya dulu dia tak perlu meminta Sakura menyusulnya ke Kumo hanya untuk mendampinginya rapat, supaya wanita cantik merah muda itu tak perlu mengalami kejadian naas itu, dan hilang ingatan. Tsunade meremas rambutnya, resah.
Tapi .. ah! Bagaimana dia bisa lupa? Penugasan Sakura ke Konoha, akan menyingkap sebuah tabir. Memperjelas yang sebenarnya.
.
.
Siang ini Ino datang ke apartemennya, untuk membantunya beberes tentunya untuk menyiapkan segalanya tentang penugasan mereka ke Konoha.
"Forehead! kau ini, bawa barang-barang yang benar-benar penting saja! daripada membuang-buang ruangan kopermu!" ujar Ino saat melihat hasil koper tatanan Sakura barang yang dirasa penting—menurut Sakura sendiri—dimasukkannya, tak peduli itu masuk akal atau tidak.
Alhasil, sebuah teflon yang baru saja Sakura beli kemarin, ikut di masukkan. Serius, deh!
Ino menggeleng-gelengkan kepala pirangnya, mengeluarkan barang-barang 'luar biasa' itu, mulai memilah baju-baju dan barang yang perlu dibawa. Lantas Ino melotot melihat Sakura yang hanya berdiri mengawasi seenak jidatnya.
"Ya ampuun .. daripada kau seperti itu, lebih baik kau buatkan makanan atau apa-lah untukku .. seperti berlagak bos, saja .." semprot Ino. Sakura mendengus, beranjak menuju kitchen set.
Setelah meracik beberapa bahan-bahan makanan, sesekali berteriak menjawab Ino yang bertanya letak barang-barang. Tak berapa lama sup krim tomat buatannya jadi. Ino sudah selesai dari tadi, menunggu di meja makan sambil memainkan ponselnya, tersenyum-senyum tak jelas.
"Ah, foreheaaad .. ya ampuun .. bahkan aku tak percaya ini! Sai-kun mengajakku kencan!" ujar Ino menjerit-jerit. Sakura menatapnya heran. Tak ambil pusing, dia kembali menata sup tomatnya.
"EEHH? TOMAT? Bukannya kau benci tomat?! Lalu kenapa ..—"
"Aku lagi kepingin."
Ino tak berkomentar lagi, hanya membulatkan mulutnya ber-oh tanpa suara. Dan, kegiatan selanjutnya, makan.
"Apa besok kita berangkat bersama?" tanya Sakura.
"Ya, tentu saja. Dan jangan bangun telat besok!" tanggap Ino, menyendokkan sesuap sup ke mulutnya. Sementara Sakura mendengus, memang siapa yang biasanya bangun telat?
.
.
Gaara mengela napas menatap dua koper di tangannya, sama-sama beratnya. Dan itu harus dibawanya sepanjang perjalanan, sebagai bentuk hukuman.
Ya! Gaara datang terlambat lima belas menit dari jadwal janjian mereka, entah mengurusi apalah itu. Sakura, dan terlebih Ino, tak mau tau. Maka tak segan-segan lagi, hukuman yang diterimanya : membawakan dua koper seberat gajah milik dua gadis itu.
"Eh, Gaara! berapa lama lagi kita akan sampai ke .. Konoha?" ujar Ino, memberengut.
"Berhentilah bertanya, Ino!"
"Hah, sudahlah! lihat saja nanti, aku akan belanja SEPUAS-PUASNYA!, lalu, ohya! aku juga akan berdoa jika semoga pemuda-pemuda Konoha itu tampan .. bukan seperti dokter merah ini!" Ino melirik sinis Gaara yang hanya menghela napas.
Lihatlah! mereka bahkan tidak nampak seperti hubungan dokter-perawat. Melainkan malah seperti seorang teman lama, ya? Mengherankan.
"Hei, kau kenapa forehead? Kau biasanya cerewet," kata Ino, menaikkan sebelah alisnya. Gaara ikut menoleh.
"He-eh, aku? Oh, tidak apa-apa, dan tak biasanya juga kau khawatir padaku?" sahut Sakura. Ino melengos, mencibir.
Bohong. Itu pasti. Sakura buru-buru mengalihkan pandangannya dari kedua rekan kerjanya, agak menunduk. Ino kembali sibuk mengoceh. Dan Gaara ..
.
.
Sampai kapan .. sampai kapan aku harus menyimpan kebohongan ini, Sakura? Rasanya .. menyakitkan ..
.
.
Dengan jemputan yang telah dikirimkan pihak rumah sakit, mereka menuju ke Konoha International Hospital. Dan mereka jadi agak kikuk sendiri deh, pakai acara jemput-jemput segala, lagaknya sudah macam orang besar saja.
"Selamat datang, disini. Kalian bertiga pastilah tim yang dikirimkan dari Suna, bukan?" ucap sang pimpinan, Chiyo-sama.
Perempuan yang sebenarnya sudah tua, tapi masih memiliki semangat yang luar biasa, menyambut mereka dengan ramah. Membuat bayangan Ino tentang kepala rumah sakit yang garang langsung sirna.
"Ah, coba perkenalkan diri kalian, aku sudah lupa nama-nama siapa yang ditugaskan kesini .." katanya dengan kekehan khas Chiyo.
"Dokter Gaara, Sabaku Gaara. Mohon bantuannya, Chiyo-sama."
"Dan kami perawat yang ditugaskan bersama dokter Gaara, dia Yamanaka Ino dan saya .. Haruno Sakura, mo—"
"Sakura?" wajah tua Chiyo nampak terkejut, tak ditutup-tutupi. Sakura mengernyit heran. "Ini tidak mungkin .. bukannya .."
"Ada apa Chiyo-sama?"
Seperti tersadar akan sesuatu Chiyo angkat bicara. "Sudahlah, itu tak penting, jadi bagaimana kabar temanku? Tsunade? Apa dia baik-baik saja?"
Sekadar basa-basi biasa, karena setelah itu mereka bertiga pamit, berjalan-jalan sekitar rumah sakit. Lalu pulang, ke apatemen yang sudah disiapkan sedari awal. Hari pertama bekerja dimulai besok.
Besok akan menjadi hari istimewa bagi Sakura. Semoga saja,
.
.
"Halo .. Sarada-chan! Hmm .. bukannya besok hari ulang tahunmu? Jadi .. bagaimana jika kita pergi membeli hadiah?" ucap Itachi pada keponakan kecilnya itu. Wajah imut Sarada tampak berpikir.
"SARA-CHAAAN .. Ayo, kita jalan-jalan!" seorang pria satunya menyusul dengan hebohnya.
"Heeeehh .. tidak, Sarada-chan sudah akan pergi bersamaku," kali ini yang menyerobot menjawab adalah Itachi, sambil mendelik tajam ke arah Obito, yang walaupun tak berdampak apa-apa pada orang itu.
"Kemarin Sarada minta jalan-jalan ke taman .. dan aku sudah berjanji menemaninya jalan-jalan .." Obito tetap ngotot, mengabaikan tatapan protes Sarada. Siapa pula yang minta pergi ke taman? Paman Obito ada-ada saja, sekarang malah Paman Itachi yang menatap minta penjelasan.
Sarada menggandeng kedua tangan para pamannya itu. "Sara ingin dua-duanya, ke taman sambil beli hadiah," ucapnya, yang langsung membuat paman-paman 'luar biasa'-nya girang.
"Baiklah .. kalau begitu .. hei! Itachi, kau siapkan mobil!" seru Obito, disambut Itachi yang mendelik padanya entah untuk keberapa kalinya.
"Nggak, Sara pokoknya enggak mau naik mobil," rengek Sarada. "Sara bilang kan, jalan-jalan, jadi enggak usah pake mobil. Mau jalan biasa,"
Seperti di hipnotis saja, Itachi dan Obito langsung mengangguk. Hah, rengekan permintaan Sarada bagai perintah saja bagi keduanya itu.
.
Maka, jadilah mereka berjalan santai sore ini.
Udara sore ini benar-benar sejuk, cocok untuk berjalan-jalan seperti yang dilakukan oleh tiga orang Uchiha ini.
Tapi yang membuat Itachi dan Obito gerah luar biasa adalah lirikan heran bercampur menjijikan dan bisikan-bisikan (yang kelewat keras) orang lain tentang mereka yang diduga sepasang gay dan anaknya.
Demi keriput masing-masing mereka! Sampai-sampai Itachi mengeraskan panggilan keponakan terhadap Sarada, dan Obito yang juga sengaja membuat dan mengeraskan pertengkaran dengan Itachi.
Dan Sarada mengambil jarak aman di depan mereka, seolah tak mengenal dua orang 'luar biasa' itu. Sungguh jahat kau Sarada ..
Di taman kota nan indah itu, Sarada duduk termenung, menatap kosong lalu lalang sekitar. Itachi dan Obito berada agak menjauh darinya, tadi Sarada meminta mereka membiarkannya menyendiri.
"Mama," Sarada bergumam lirih.
Harusnya saat ini disampingnya ada Mama, lihat, seperti anak di bangku sebelah. Sedang disuapi ibunya, sesekali sang ibu mengomel karena makannya yang belepotan.
Sarada tak keberatan kok, dimarahi Mama, di omeli Mama.
Asalkan Sarada bisa memeluk Mama setiap hari. Asalkan Sarada bisa memberi Mama kecupan di pipi. Asalkan ..
"Sarada-chan! Ayo, kita beli hadiahnya, Sarada-chan mau apa?" kata Itachi, berjongkok menyesuaikan tinggi Sarada.
Wajah Sarada kembali datar. Setelah sebelumnya bergalau-galau ria.
"Sara ingin beli minum dulu, paman. Belinya nanti saja," balasnya. Itachi pasrah, kalau begini, itu artinya sama saja hanya menuruti rencana jalan-jalan Obito. Huh, tapi ..
"Baiklah, ayo, ayo!"
Obito menyusul setelahnya, Sarada buru-buru melangkah lebih cepat, mengambil posisi di depan keduanya. Tentu kalian tau sebabnya bukan?
.
.
.
Clek
Pintu apartemennya sudah terkunci. Sekarang tinggal menuju ke .. KoMart? Semoga Ino tidak telat datang, tadi mereka sudah berjanji akan bertemu di toko serba ada itu.
Untungnya letak apartemennya sungguh strategis, jadi tak perlu lama berjalan kaki menuju KoMart, dan benar saja. Jaraknya dekat sekali.
Itu Ino, melambaikan tangannya ke arah Sakura.
Langkahnya sudah dekat dan semakin dekat, dan saat itu dia mendengar teriakan yang cukup nyaring.
"MAMA!"
Ckkiit ..
BRAK
"SARADA-CHAAN !"
To Be Continued
Author's note : [PLEASE BACA!]
Langsung aku perjelas,
Jadi, sebelum kecelakaan, Sakura adalah murid kesayangan Tsunade, belum bisa dikatakan perawat atau dokter. Saat kecelakaan, Tsunade meminta Sakura menyusulnya ke Kumo, jd Tsunade lebih dulu berangkat, tdk bersama Saku. Jadi, jgn kaget klo Tsunade tidak apa2, dan Sasu tdk kaget.
Tsunade juga sudah tau identitas Sakura, untuk yang ini akan dijelaskan di chap depan.
Itu saja, maaf kalo nyeleneh dr sisi realita, maaf bgt. Mungkin benar, author-nya yang salah nyimpulin.
Aku akui fic ini ancur, tapi tolooong dengan sangat untuk tetap review, aku butuh review untuk chap depaaaan ... pleaseee banget,
HanaraHime
4 April 17.14pm
#Please your review
