Siapa yang nunggu fanfic PHP ini?! Hehehe .. update chapter! 2,567 words tanpa Author's Note.
Evy Bestari Putri : "Pereview pertama chapter 6! Makasih banyak, dan udh dilanjut!"
kokorolove4 : "Wkk .. makasih sarannya, req ide-nya ntar diusahakan ya! Aku sempat bingung sampe kehadiran Gaara kulupakan untuk buat masalah, hehe .."
comet cherry : " Baca chapter dibawah ini ya! Special moments,"
Jamurlumutan434 : "Uname yg unik. Dan .. chapter ini, ada special moment SasuSakuSara loh! #promosi"
mikaeMooo : "Aduuh .. sabar. Chapter ini .. "
talitha uchiha : "Sudah di next, mohon review."
PantatAyam BerjidatLebar : " Hohoho .. iya nih, Saku kyknya trauma gara2 kecelakaan yg menimpa Saku, jadi alay pas tau Sara kecelakaan"
ichi : "Gomen untuk yg itu, ch 6 dan ch 2 sudah di remake, ohon baca ulang. Sekali lagi maaaf .."
indrichan77 : "Takdir memang sulit ditebak ya, indrichan? Hehehe .."
Name rasmala : " Hihi .. iya, chapter ini 2,567 words tanpa A/N."
Buat reviewer yang nggak kebales disini, itu artinya aku bingung mau jawab apa. Yang jelas .. makasih banyaakk
Timeline : 31 Maret [telat]
.
"Katanya mau makan dango ..?"
"Hei .. Sarada,"
"Besok Papa belikan novel yang judulnya Konoha Hiden, mau?"
"Mmm ..."
.
.
Sasuke menyerah, menghadapi putri kecilnya yang sedang dalam keadaan marah bin cuek itu tidak akan selesai-selesai dan akan sulit nantinya.
"Baiklah .. baiklah .. maafkan Papa kalau begitu?" Sarada diam tak menjawab ucapan ayahnya. Hanya menatap buku, entah benar-benar membaca atau tidak.
Dan diluar Obito dan Itachi dengan nistanya tertawa melihat sang adik yang di cuekin. Lihat saja nanti akibat berani menertawakan Uchiha Sasuke.
"Sarada-hime ..?"
"Aku ngantuk, pa. Pengen tidur,"
Doeng.
Huh, otak jenius Uchiha miliknya tentu tau, jika itu juga sebuah 'usiran halus' untuk Sasuke.
.
Poor Sasuke ..
.
.
Hari sudah hampir sore, ketika seorang perawat berwajah turunan oriental masuk untuk memeriksa dan mengganti perban di kepala Sarada.
Sarada juga makin banyak mengeluh, bosan benar dia berada di rumah sakit
Dan menurutnya terbentur-jatuh-berdarah itu hal yang biasa (baginya) hanya dibesar-besarkan oleh keluarganya, terutama oleh ayah dan kedua pamannya yang over protektif itu. Huh,
Tapi, Sarada benar-benar anak yang nekat. Berkali-kali nekat melompat turun dari ranjang rumah sakit. Nenek Mikoto ikutan berkali-kali mengurut dada.
Yang membuat Sarada lebih terkendali, adalah datangnya kakek Kizashi dan nenek Mebuki. Yah, sekarang Sarada jauh lebih diam, sambil mendengarkan dongeng dari sang kakek.
"Hei, hei .. kau membaca ini?" ucap Kizashi pada cucunya, sambil mengangkat novel yang katanya tentang dunia shinobi tadi—Sasuke Shinden dan Shikamaru Hiden.
Sarada mengangguk ragu, sepertinya dia sudah menduga jika reaksi Kizashi akan menggelengkan kepala heran, seperti orang-orang dewasa disini. Tapi tidak, Kizashi tersenyum mengelus kepala Sarada.
"Kau ini .. suka sekali dengan buku ya? Memangnya kau tau apa isinya?" wajah tuanya terkekeh, sambil memasang wajah seolah-olah meragukan Sarada.
"Sara ngerti kok, maksudnya. Pokoknya bagus, kek! Tapi bagusan juga dongengnya kakek!" kata Sarada sambil tersenyum lebar, dan lihatlah Sasuke yang di dekat sana sampai dongkol setengah mati pada mertuanya sendiri. Hhh .. ya ampuun ..
"Kakek belum beli hadiah, hadiah buat Sarada besok dongeng saja ya?" tanya Kizashi, dan dijawab anggukan ditambah cengiran lebar sang cucu. Membuat wajah seseorang di dekat sana semakin mendung.
.
Malam ini Sarada tidak sendiri, lagi pula keluarganya akan ribut jika dia ditinggal sediri.
Sarada ditemani Bibi Hana dan kedua neneknya. Kakek Fugaku, Papa dan Paman Itachi sudah pulang, entah ada urusan apalah itu. Sedangkan Paman Obito dan Bibi Rin sudah kembali ke rumahnya yang sudah selesai di renovasi. Semoga malam ini menyenangkan ..
.
.
.
are character belong to Masashi Kishimoto
special dedicated for SasuSaku shippers
UchiHanara Hime-chan present
.
Because, We Have You ch 7
"OTANJOUBI OMEDETOU* SARADA-CHAAAN !"
Hmm .. sepertinya, pagi hari yang cerah ini nampaknya dirusak oleh duo keriput yang paling solid—meminjam istilah Sasuke.
Padahal setelah bangun pagi-pagi, Sarada sudah ingin meminta Bibi Hana menemaninya jalan-jalan di sekitar rumah sakit. Tapi nampaknya rencananya itu gagal ya?
Sudahlah, yang penting Sarada sudah agak lebih baik hari ini. Hanya luka-luka kecil yang belum sepenuhnya kering. Sebenarnya sih, bagi Sarada sendiri, dari kemarin dirinya sudah merasa sehat, malahan.
Dan, tentunya hari ini cucu sulung Uchiha berulang tahun, tanggal 31 Maret. Itu berarti umur Sarada sekarang enam tahun, dan bagi Sarada sendiri sudah bukan anak kecil lagi. Tidak perlu bermanja-manja lagi, lagipula Sarada memang idak pernah manja, kok.
"Hn, Omedetou Sarada .."
Tap tap
Dua jari sang ayah mengetuk lembut jidatnya, senyumnya mengembang tipis. Sedangkan Sarada manyun, mengelus jidatnya. Mungkin dia gengsi karena masih marah pada ayahnya ini.
Beberapa keluarga Uchiha lainnya ikut berkumpul. Bergantian mengucapkan selamat pada Sarada, memberikan kado dan hanya ditanggapi dengan senyum tipis dan gumaman terimakasih tidak jelas dari Sarada.
Mungkin ini ulang tahun Sarada yang paling berbeda. Pasalnya, ulang tahunnya kali ini 'diadakan' di rumah sakit. Tidak ada perayaan seperti sebelum-sebelumnya. Dan Sarada tak mempermasalahkan hal itu.
.
.
Dan selain berbeda, ulang tahunmu kali ini akan merubah semuanya, Sarada ..
.
.
Hari ini Sakura mendapat shift pagi bersama Tenten. Jadi dengan tergesa dia menyelesaikan sarapannya, tak mau terlambat.
Untuk kali ini (dan seterusnya) Sakura memtuskan untuk menyapa terlebih dahulu, mengingat sebagian besar para penghuni Konoha Internationla Hospital ini agak canggung padanya.
"Sakura?"
"Ah, dokter Sabaku. Ada yang bisa saya bantu?" kata Sakura setelah melihat si pemanggil. Dia terlihat seperti berusaha menahan cengiran lebar, tetap tersenyum formal.
Si Dokter Sabaku, atau yang tentu kalian kenal—Gaara—mendengus geli. "Jangan bersikap formal padaku, Sakura, seolah kita tidak mengenal saja, dan ini bukan jam kerja, dasar .." Gaara memutar mata.
Sakura berdehem kecil. "Tapi kurasa ini sama saja dokter Sabaku-san, sebentar lagi jam kerja dan ini di rumah sakit," ucapnya, sambil tetap berusaha mempertahankan sikap 'formal'nya.
"Ck, kalau begitu, kau yang seperti ini menyebalkan Sakura,"
Cengiran Sakura terlepas, tertawa kecil. Sedangkan wajah dokter do depannya menghangat.
"Yare yare .. hihi .. baiklah, jaa nee Gaara-kun!"
Gyut
Heeee? Apa-apaan tadi?! Gaara terkaget-kaget dengan pose datarnya.
Dengan seenak jidatnya Sakura menarik pipinya, jelasnya lagi : mencubit pipinya! Olala ..
Gaara mengelus pipi kanannya. Sebagian hatinya menghangat. Sebagian lagi jelas-jelas merutuki jidat lebar Sakura yang tak memikirkan perbuatan seenaknya itu. Astaga ..
Ngomong-ngomong, panggilan yang tadi itu .. Gaara ..-kun? Rasanya geli sekali mendengarnya.
Tapi cocok juga ya? Maka, sepanjang menuju ruangannya dokter yang dikenal kaku itu tersenyum-senyum tidak jelas.
.
.
Setelah menjahili dokter yang sekaligus rekannya dari Suna, Sakura segera mengurusi segala urusan terkait tugasnya.
Tidak ada tugas yang begitu sulit hari ini, hanya mengecek beberapa pasien rawat inap. Setidaknya itu tugasnya hari ini, tepatnya untuk saat ini.
".. semoga cepat sembuh," kata Sakura tersenyum. Dia baru saja memeriksa kondisi salah satu pasien. Satu tugas berkurang.
"Sakura-san!"
"Ya?"
Seorang perawat bertubuh mungil mendekat, dia mengenalnya, kalau tidak salah namanya Yumi. "Apakah .. cucu keluarga Uchiha kecelakaan dan di rawat disini?" ucapnya. Sakura mengernyit dan kemudian seperti tersadar akan sesuatu.
"Oh, ya. Uchiha Sarada yang kau maksudkan itu?" tanya Sakura balik. ".. kalau anak itu yang kau maksud, berarti kabar itu memang benar. Akan akan memeriksanya nanti," Sakura berkata sambil menunjukkan papan berisi segala agenda tugasnya hari ini.
"O-oh .. dan katanya .. ano, ayahnya sangat tampan?"
Mendengar itu, Sakura terang-terangang menepuk jidat. "Ya ampun, Yumi!"
"He-eh, namaku Naomi, Sakura-san .. hihi .."
"Oh! Naomi ya? hehe .. gomen, gomen .." Dengan keki Sakura meggaruk pipinya yang tidak gatal.
.
"Tenten-chan! Arigatou kemarin sudah mau menggantikan tugasku!"
"Douita, Sakura-chan." Tenten tersenyum membalas Sakura. Sambil mulai merapikan tumpukan kertas yang berserakan.
"Ino dimana?" tanya Sakura. Tadi dia memang tidak berangkat bersama Ino, tapi tumben Ino juga tak terlihat sedari tadi. Sejujurnya sahabat pirangnya itu membawa suasana heboh tersendiri bagi Sakura.
"Mungkin sedang dalam tugas. Dan ngomong-ngomong .. apa tugasmu sehabis ini?" ucap Tenten.
"Huh? Tugas ya? Hmm .. melaporkan hasil perkembangan Nyonya Kurenai dan .. Uchiha .. Sarada?" jawab Sakura. Detik berikutnya bola mata Tenten melebar.
"Uchiha? Uchiha Sarada?! YA AMPUN SAKURA-CHAAN .."
"Eh? Kenapa memangnya? kau aneh Tenten-chan" Sakura menatap rekan dekatnya itu. Heran.
"Uchiha itu keluarga terpandang, berpengaruh di Konoha! Dan .. Uchiha Sarada itu cucu dari keluarga Uchiha itu, haiish .. beneran kamu nggak kenal?" tanya Tenten, raut wajahnya menunjukkan ketidak-percayaan.
Sakura menggeleng, sedangkan Tenten menepuk jidat. Ya ampun .. sepertinya lain kali dia harus menyarankan Sakura agar menonton acara gosip di televisi.
"Sudahlah, aku memang tak tahu soal gosip, dan aku pergi dulu!" pamit Sakura. Melengos pergi, tidak Ino tidak pula Tenten, sama-sama kadar gosipnya. Huh,
.
.
Ruangan yang minimalis tapi tertata apik itu ditempati oleh Gaara sekarang. Disana dokter bertatto itu terlihat sedang melamun, tak biasanya dia melamun. Sedangkan di depannya, kertas-kertas berserakan.
Gaara menghela napas lalu mengelus pipi kanannya, tersenyum, dan kemudian menjatuhkan kepalanya ke meja. Gaara bahkan berani bertaruh ini seperti bukan dirinya. Harusnya dia bersikap tenang sambil memeriksa kertas data pasien di depannya. Seharusnya,
Dia sedang jatuh cinta, jatuh cinta pada orang yang salah.
Dia ingin memiliki Sakura, wanita berambut merah muda mantan pasiennya dulu. Wanita yang sempurna di matanya. Wanita istimewa baginya.
Tapi dia lelaki yang terlambat.
Ya, Sakura sudah menikah. Dia tau itu, sungguh. Tapi rasanya kali ini Gaara sangat ingin memiliknya. Itu artinya dia egois.
Tapi bisakah sekali saja dia bersikap egois? Menjadi seorang tokoh antagonis kali ini?
Gaara merogoh saku celananya, mengeluarkan sebuah benda.
Lamat-lamat dia menatap kalung berliontin di tangannya. Kalung itu indah, liontinnya bergambar kipas merah-putih, dan jika di buka .. akan nampak sebuah foto. Foto yang selalu membuatnya perih.
Dan masalahnya .. dua orang dalam foto itu ..—
.
.. —dia mengenalnya.
"Sampai kapan ya Sakura? Aku bisa menyimpan kebohongan .. dan apa aku bisa? Apakah aku bisa menyampaikan kebenaran yang sebenarnya?"
Sabaku Gaara sungguth-sangat membenci seorang pengecut, seorang penakut. Dan terlepas dari itu, Gaara tau .. dirinya bahkan termasuk orang yang pengecut, juga penakut. Karena bahkan dia takut menyampaikan sebuah kebenaran.
Maka, hari ini Gaara mulai membenci dirinya sendiri.
Jangan lupakan jika dia mungkin akan menjadi seorang yang egois.
.
.
.
"HALO SARADA-CHAAN! SELAMAT ULANG TAHUN, KAU MASIH INGAT AKU KAN?!"
Seseorang berteriak heboh sambil memasuki kamar rawat inap nya, Sarada tentu sangat ingat dan mengenalnya. Itu Paman Naruto, sahabat Papa yang luar biasa berisiknya. Entah kenapa setiap paman yang dekat dengan Sarada berisik sekali.
Paman Naruto datang bersama Bibi Hinata. Bolt tidak ikut, masih sekolah. Lagipula Sarada juga malas bertemu dengan si rambut pisang itu.
"S-Selamat yah, Sarada-chan .. semoga cepat sembuh .." ucap Bibi Hinata dengan aksen gagap khas-nya.
"Arigatou Hinata-baasan,"
"Hei, hei! Bagaimana jika setelah ini paman Naruto yang tampan ini mentraktirmu ramen Ichiraku, Sarada-chan?!" kata Naruto berapi-api, seperti biasanya.
"Bagaimana?"
Err ..
"Cih, jangan membuat putriku sakit perut karena tawaranmu itu, Dobe." balas Sasuke dengan death glare khas-nya yang tentunya tidak lagi berpengaruh pada Naruto.
"Kau selalu menyebalkan, Teme"
"Hn, memang."
.
Nyonya Kurenai sudah lebih baik keadaannya, dia sudah bercakap-cakap dengan Sakura (yang sambil memeriksa tentunya). Dan yang membuat ke-pede-an Sakura kambuh adalah pujian Nyonya Kurenai. Wanita berambut ikal itu bilang jika Sakura orang yang ramah dan supel.
Alhasil itu membuat Sakura mesam-mesem dan sudah berniat menceritakan, maksudnya pamer pada Ino dan Tenten.
"Hmm .. berarti sehabis ini, Uchiha Sarada?"
Maka begegaslah kaki jenjang berbalut stocking itu menuju kamar rawat Uchiha Sarada. Di ruang VIP tentunya.
.
.
Yang lain sudah pada pulang, tapi kok rasanya tetap saja kamar rawat Sarada ini terasa agak bising ya? Paman Naruto dan Papa entah paling mendiskusikan bisnis bersama yang lainnya disana. Lalu dua paman keriputnya dengan kekocakan mereka.
Sarada bosan, harusnya tadi kakek Kizashi tidak segera cepat-cepat pulang, jadi Sarada bisa mendengarkan dongengnya. Tapi sebagai ganti, kakek sudah memberi Sarada buku baru kok. Katanya untuk menemani Sarada.
Jika disana para lelaki sedang berkumpul, maka Sarada kali ini ditemani Bibi Hinata dan Bibi Rin, sesekali Bibi Hana dan nenek Mikoto ikut menimpali.
.
Tok tok tok
"Masuk,"
Dan ketika pintu kamar terbuka lebar, menampilkan seseorang yang mengetuk pintu, semua kegiatan berhenti total.
Mematung seketika. Hening, hening yang menegangkan.
Seorang wanita berseragam perawat, bersurai merah muda yang diikat. Tersenyum pada mereka yang disana. Semua bahkan hampir lupa caranya bernapas.
"Konnichiwa, saya akan memeriksa .. umm .. nona Sarada sebelum nanti diperbolehkan pulang,"
Suara merdu yang khas. Yang telah lama tak terdengar. Masih sama seperti dulu, lembut dan menenangkan.
".. benar kan? Aku sudah bertemu dengan Mama, dan Mama ada disini .." ucap Sarada memecah keheningan, suaranya bergetar menahan perasaan senang yang membuncah. Gadis kecil itu rasanya ingin menangis.
Akhirnya di bertemu Mama.
"Y-Ya tuhan .. dia .. Sakura? Menantuku?"
"Dia mirip sekali dengan .. Sakura-chan, ttebayo!"
"Saku .. ra .."
Sakura menoleh sebentar dan menyunggingkan senyum sopan. Dan berpaling menatap Sarada yang berseri.
"Mama!"
"E-eh?! Emm .. sudahlah, aku akan melepas perbanmu sebelum nanti kau pulang," Sakura tersenyum, gadis kecil di depannya sungguh menggemaskan. Entah kenapa rasanya dia sayang sekali pada gadis cilik Uchiha ini.
Tak dihiraukannya lagi gumaman-gumaman di belakangnya. Toh, dia juga tidak tau jelas maksud gumaman itu. Mungkin saja, keluarga Uchiha terkesan padanya ..
Maka dengan cekatan dia melepas perban dan memberikan antiseptic lalu menulis laporan.
Sakura baru saja akan pergi ketika sebuah tangan kecil menariknya.
"Ah, ya ada apa Sarada?" tanya nya lembut. Dia bisa melihat air yang menggenangi manik jelaga di depannya. Sakura mengernyit, tidak mengerti apa kesalahannya hingga bocah ini seperti ingin menangis.
"Mama, hisk .."
"E-eh! A-aku bukan ibumu, Sarada. Dan .. kenapa kau menangis?" Sakura menatap bingung Sarada. Jauh dari lubuk hatinya, sungguh, dia benar-benar tak tega melihat gadis kecil—yang bahkan baru dia kenal—menangis.
"Bukan .. ibuku?" tangis Sarada pecah, cairan bening menghiasi pipi tembemnya. Tersendat-sendat dia berkata.
"G-gomen, hisk .. Bibi .. kukira kau ibuku, karena Bibi punya rambut yang sama dengan Mama, punya warana yang sama dengan Mama. Tapi ternyata .. hisk, bukan ya. Sara dari dulu ingin bertemu sama Mama. Tapi Mama selalu pergi. Sara ingin dicium dan dipeluk Mama, hisk. Tapi selalu tidak bisa,"
"Apakah .. apakah boleh, Sara memeluk Bibi? Sekali ini saja,"
Sarada menghapus kasar air matanya. Menunduk menunggu reaksi wanita di depannya.
Sedangkan Sakura mematung, otaknya yang tergolong jenius mulai menyimpulkan. Jadi, karena itu? Karena dirinya mirip dengan ibunya Sarada? Tapi Sakura pun tak dapat mengelak, ada naluri keibuan sebagai wanita yang mengusiknya. Maka, dibelainya surai legam bocah itu. Dia pokoknya tak peduli dengan tatapan keluarga Uchiha.
Sarada balas memeluk pinggang Sakura, memeluknya erat sekali. Berkali-kali berbisik 'aku sayang Mama' membuat Sakura makin terenyuh.
Mikoto, Hana, Hinata dan Rin menangis tergugu melihat adegan itu. Para pria mematung. Dan disisi lain Sarada tersenyum. Meski masih sesegukan. Menatap Sakura dengan sendu.
"Bibi .. hari ini hari ulang tahunku, bisakah .. bisakah Bibi memberi ucapan selamat padaku?"
Sarada kembali memohon. Oha, ya tuhan .. Sakura rasanya ingin menangis. Serta merta dia mengangguk, membelai surai hitam Sarada.
"Tentu. Kalau begitu, selamat ulang tahun Sarada-chan .. semoga sehat selalu," Sakura tersenyum lembut. Betapa dia rasanya menyayangi bocah dihadapannya!
"Arigatou .. hontou ni arigatou .. Mama .."
Ya ampun. Sakura bahkan tak berkutik saat dipanggil Mama, ada bagian dari hatinya yang menginginkan panggilan itu. Maka sekali lagi dia tersenyum.
.
Ia tak mempercayai pengelihatannya, rasanya mimpi!
Uchiha Sakura. Musim seminya-nya ada di ruangan ini! Sakura-nya disini dan tengah memeluk Sarada. Ingin rasanya Sasuke bergabung dalam lingkaran kecil itu, tersenyum bersama, menyaksikan Sarada yang luar biasa senangnya. Karena telah bertemu ibunya, walau Sasuke tak tau pasti.
Ia ingin bergabung memeluk 'Sakura'-nya. Tapi rasanya kakinya kaku, lidahnya kelu. Ia ingin ..
.. menangis.
Ya, menangis seperti yang lain. Menatap tak percaya seperti yang lain. Tapi .. ada yang mengganjal disini, di hati Sasuke.
Bagaimana perasaan kalian, jika orang yang sangat kalian sayangi—tidak, cintai—dikabarkan meninggal dengan tragisnya, lalu setelah bertahun-tahun secara tak terduga, orang itu ada di depan kalian. Jadi seperti itulah perasaan Sasuke..
Semua memang sudah selesai, Sakura hendak berbalik pulang setelah sebelumnya mengecup kening Sarada.
Tapi Sasuke tak tahan lagi .. ada rasa sesak yang harus di luapkan. Maka,
Srreeet
Grep
.
Iris emerald Sakura membelalak. Nampaknya bukan hanya Sakura yang terbelalak, mungkin seisi ruangan VIP itu terbelalak. Sakura ada dalam pelukan seseorang.
"Sa .. kura,"
Belum habis rasa kagetnya, bahunya terasa basah. Orang ini pasti menangis.
Dan sebenarnya ini ada apa?! Kenapa semuanya, terutama Sarada dan .. err .. orang ini menangis? Memangnya apa sih, salahnya, coba? Sampai mereka bersedih?
Tak berselang lama, orang itu mengangkat wajahnya, tidak ada bekas tangisan di wajah .. emm .. tampannya. Atau mungkin memang orang ini tidak menangis ya? Tapi Sakura merasakan bahunya basah, kok.
Orang itu mengangkat dagunya sedikit, membuat Sakura memerah.
"Saku .. ra, Aishiteru."
Dan setelahnya, sebuah benda kenyal menyentuh bibirnya. Hanya sekilas, tapi tindakan itu membuatnya tak tenang berhari-hari ini.
"Maaf, namaku memang Sakura. Tapi aku tak mengenal anda, Uchiha-san. Saya harus kembali," katanya.
Lalu meninggalkan seorang yang terpatung disana. Lagi-lagi dengan sorot mata penuh luka.
.
.
Kau ingin tau apa salahmu, Sakura? Kesalahan yang bahkan kau tak menyadarinya.
.
.
To Be Continued
Author's Note : [Baca]
Chapter paling panjang dan membanggakan untuk seorang author gaje sepertiku. Untuk menetralisir ke-gaje-an chapter ini, langsung aja :
Pada ch 6 Hinata sudah di remake. Begitupun ch 2. Jadi tidak ada yg perlu bingung lagi, dan aku minta maaf untuk itu.
Gaara sudah mengenal Sasuke. (Tunggu chap depan)
Disini TL-nya 31 Maret. Ultah Sarada .. btw, bener kan Sarada 31 Maret? Soalnya ada sumber yg bilang klo tgl 2 Des. Tp gak papa lah klo tg l 2 Des, kan jd sm kyk author .. hehe ..
Ohya, besok2 belakangan aku bkl sibuk, jd nggak bisa update kilat. Aplgi ide lg kering nih! Jadi, yg mau saran ato request ide, PM selalu tersedia .. ^_^
Read, Review and Request
.
Sign,
Hanara Hime
.
5 Mei 2017
pk 11.43
