Dirinya bertemu Sakura. Bertemu istrinya, istri tercintanya.

Oh! Ya Tuhan! Sasuke speechless. Tak tau harus berkata apa. Bibirnya mendadak kelu, sinar ketajaman di iris onyx nya tergantikan oleh kepedihan.

Setelah lama tak berjumpa, setelah sekian lamanya dia mulai bisa menerima semua kenyataan pahit-menyakitkan itu, setelah dirinya baru saja akan menutup semuanya. Semua kenyataan pahit itu.

Kenapa baru sekarang?

.

.

all character belong to Masashi Kishimoto

special dedicated for SasuSaku shippers

UchiHanara Hime-chan present

.

Because, We Have You ch 8

"Forehead! Kemana aja sih, seharian ini?" lengkingan suara Ino terdengar begitu dia memasuki ruang perawat. Tak ada yang protes atau peduli, toh, para perawat lain sudah terbiasa oleh suara Ino yang sungguh 'hingar-bingar' itu.

Dan hanya gumaman tak jelas sebagai jawaban Sakura.

Pikiran nya masih berputar-putar, masih bergelut dengan kejadian dikamar salah satu pasien mungilnya. Dirinya tak habis pikir .. bagaimana itu bisa terjadi?

Mendadak wajahnya memerah. Bodoh! Kenapa harus bagian itu yang selalu diingatnya? Tidak, tidak .. kepalanya menggeleng.

"Heeeii! Ada apa sih? Lihat, lihat! Wajahmu merah, kenapa sih?"

Ucapan Ino barusan tak digubrisnya, pikirannya masih terlampau rumit memikirkan hal tadi. Bukan hanya pikirannya sebenarnya, perasaannya pun sama. Seperti ada yang .. aneh.

Ada bagian hatinya yang menginginkan 'perasaan' itu. Entah perasaan apa sebenarnya itu.

Dan entah kenapa kali ini dia terus menerus memikirkan itu.

Padahal biasanya, jika dia sudah tenggelam dalam kesibukannya merawat pasien, semua beban pikiran penatnya hilang begitu saja. Seolah tak ada beban pikiran saja. Tapi kali ini ..

tak biasanya ..

Masalahnya, kali ini tentang hati. Tentang perasaan. Perasaan yang sulit digambarkan. Perasaan yang sulit dilukiskan, sulit dikatakan. Rasanya seperti ..

.. kembalinya sesuatu yang hilang.

Tapi 'sesuatu' apa itu?

Sesuatu

Sesuatu

Sesuatu.

Apaan sih?

Kenapa dia malah tertular Isaribi yang sekarang mendadak nge-fans sama Syahrini? Sampai-sampai rekan sesama perawatnya itu curi-curi waktu hanya untuk mendengar lagu dari artis asal Indonesia itu.

"Sakuraaaaaa!"

Suara nyaring yang satu tahun terakhir akrab ditelinganya terdengar lagi. Kali ini betulan perawat-perawat lain menatap jengkel keduanya, terutama Ino. Dan mendengar panggilan 'hingar-bingar' ala Ino, Sakura menoleh, menatap heran sang sahabat yang sama herannya dengan dia.

Ino menatapnya, sedikit mengerut-ngerutkan alisnya. Tatapan matanya seolah berkata 'ada-apa-sih-dengamu?' dan dibalas dengan tatapan datar Sakura yang bermaksud 'diam-saja-nanti-juga-aku-cerita'

Kedua wanita itu sama-sama menghela napas, sama-sama banyak pikiran.

.

.

.

Naruto yang pertama kali beranjak, tangannya sedikit meremas bahu sang sahabat, bermaksud memberinya kekuatan dan simpati. Tanpa sorot mata kasihan, karena dia tau, seorang Sasuke tak pernah mau dikasihani.

Yang lain membeku, saling pandang dengan satu sorot mata yang sama. Sorot mata kepedihan, yang teramat sangat. Satu-dua helaan napas terdengar berat, nada-nada ketidakpercayaan juga terdengar. Wajah-wajah terluka sangat kentara.

Dan yang paling terluka adalah Sasuke. Beberapa tatapan kasihan tertuju padanya, wajahnya menunduk. Onyx nya bergulir ke arah ranjang, dimana Sarada, putri kebanggaannya jatuh terlelap, barus saja. Tanpa perlu bersusah-susah memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.

"Sasuke .."

Sebuah suara menyapa indra pendengarannya. Suara dari sosok wanita yang selama ini telah membesarkannya. Uchiha Mikoto. Iris mata serupa yang diturunkan padanya itu menatapnya, teduh dan menenangkan. Ah, benar .. seterpuruknya hidup nya, ibunya akan selalu menjadi penompangnya, akan selalu jadi penyuntik semangatnya. Itulah ibunya.

Wanita paruh baya itu mendekat ke arah Sasuke, lantas menarik kepala sang anak. Yang sekarang jauh lebih tinggi darinya. Memeluknya, membelai punggung tegap Sasuke, menyisir rambut nya dengan jari-jarinya yang kian kurus.

Sasuke sedikit membungkuk, balas memeluk ibunya. Menenggelamkan kepalanya dia perpotongan bahu sang ibu. Pasrah. Dan menangis disana. Menangis, untuk menghapus segala kenangan menyakitkan itu. Sama sekali tanpa suara.

Satu persatu orang yang berada di ruangan itu undur diri, bermaksud memberi ruang untuk Sasuke. Membiarkan Sasuke bersama sang ibu, adalah pilihan terbaik untuknya kali ini.

Matanya menelusuri wajah cantik awet muda sang ibu. Pun dengan tatapan teduh nan menenangkan milik ibunya, yang sedari dulu tak pernah berubah. Mirip, sangat mirip ..

dengan seseorang yang pernah mengisi ruangan spesial hatinya. Sama teduhnya.

Jika iris mata hitam kelam ibunya yang teduh dan menenangkan. Maka emerald itu, teduh dan menyejukkan. Dua wanita paling spesial dalam hidupnya.

"Aku harus .. mencarinya, Ibu .."

Satu tekad telah terpancang kuat dalam hatinya.

Tak peduli perawat merah muda itu adalah Sakura-nya atau bukan, tapi dia harus tau. Harus tau mengenai kebenaran yang sebenarnya tentang Sakura, tentang istrinya.

.

.

.

Gaara tertegun mendengar untaian kalimat yang keluar dari bibir wanita merah muda didepannya. Sosok yang telah membuatnya merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Sesak rasanya mendengar cerita yang dituturkan Sakura. Dia egois, sangat.

Sementara Sakura menatap heran Gaara yang tak kunjung memberikan reaksi. Lantas Sakura memutuskan untuk menepuk pelan tangan mantan dokternya dulu, membuat si empunya sedikit tersentak.

"Ada yang salah dengan ceritaku, Gaara?"

Pemuda Sabaku itu sedikit menelengkan kepalanya, berusaha tak terlihat kikuk didepan Sakura. Walaupun sama saja hasilnya saat mendapati emerald Sakura terus mengikuti gerakannya.

"Tidak, sama sekali tidak. Tapi .. well, kurasa kau tau .. aku tak pernah ahli untuk urusan perasaan dan memberikan pendapat soal itu .. kalaupun iya, mungkin aku hanya bisa menyampaikan pendapat tentang obat .. " diselipkannya tawa hambar di akhir kalimatnya.

Sakura mengangkat bahu. "Entahlah Gaara .. rasanya aneh, .. dan yang penting, dimana Ino?"

Hanya gumaman yang terdengar.

Rencananya, sehabis jam kerja Sakura berniat mengajak Ino mampir di kafe, untuk meminta pendapat darinya. Ino bilang dia akan menyusul setelah urusannya selesai, tapi entah kenapa hampir satu jam dia tak muncul.

Dan muncullah Gaara, pada akhirnya Sakura memutuskan untuk menceritakan masalahnya pada dokter bertatto rekannya dari Suna itu. Berharap akan mendapat solusi yang lebih masuk akal dari pada yang nanti (mungkin) akan ditawarkan Ino.

Setidaknya dia sudah menceritakan segalanya pada Ino, sedikit lega rasanya, walau harus di bayar oleh teriakan histeris Ino yang membuat beberapa rekan perawatnya berkerut kesal.

"Sepertinya .." Gaara bergumam lirih, namun tetap dapat tertangkap oleh Sakura, mengingat jarak mereka yang cukup dekat. Semeja, maksudnya.

"Ya?"

"Yeah .. kurasa, kau harus .. mm .. melupakannya, mungkin?" ucapan Gaara terdengar ragu. Membuat Sakura jadi semakin ragu, untuk melupakan perasaan anehnya.

"Dilupakan?" nada suara Sakura penuh tanya.

"Menurutku .. itu salah satu kenangan masa lalumu yang terlupa, kau mengalami amnesia entah sampai kapan—maaf kan aku mengungkit hal ini lagi, .. tapi yang jelas kulihat kau sudah cukup bahagia dengan kehidupanmu sekarang. Apa aku salah?" kata Gaara, berusaha berhati-hati agak Sakura tak tersinggung.

Dan Sakura tau fakta itu, fakta bahwa sebenarnya dirinya mengalami amnesia. Sejak kecelakaan pesawat yang dibicarakan orang-orang, dia mungkin satu-satunya korban yang selamat. Walau harus kehilangan ingatannya.

Boleh jadi Gaara benar, bahwa kehidupannya sudah normal—dimata orang lain.

Hanya hidupnya yang sedikit demi sedikit mulai 'normal' seperti orang lain. Itu saja yang bisa dilihat orang-orang dari luar. Tapi hati dan perasaannya berbeda.

"Kenapa aku harus melupakannya, Gaara? Mungkin seharusnya aku terus berusaha mencari tau, bukan? Setidaknya .. aku harus tau masa lalu ku, setidaknya orang-orang yang menyayangiku di masa lalu .. mengetahui kalau aku masih hidup. Ya, kan?" Sakura menatap lurus ke arah jade Gaara.

"Umm .. kau benar, .. mungkin ada sesuatu yang bisa membantumu," sebelah tangan Gaara merogoh kantong bajunya. Mengeluarkan benda yang membuat alis Sakura mengernyit.

"Untukmu,"

Tanda tanya memenuhi otaknya saat menerima benda itu, "Untukku?"

"Hm, buka."

Iris emeraldnya yang tadi menyipit heran sekarang terbelalak kaget, kembali dia menyipit menatap Gaara. Meminta penjelasan.

Benda yang diserahkan Gaara adalah sebuah liontin dengan lambang kipas merah-putih, rasanya dia pernah melihatnya tapi entah dimana. Dan dia baru saja membuka liontin itu.

Sebuah foto disana yang membuatnya terbelalak kaget.

Foto itu. Seorang wanita berambut merah muda tersenyum mengenakan yukata putih bermotif bunga sakura dan obi merah muda sambil memegang kipas, bersama seorang pria dengan hakama biru dongker yang menggendong bocah cilik beryukata merah kebesaran.

Wanita itu ..

Sangat mirip dengannya, atau memang itu adalah dirinya?

Pria disamping si wanita dengan bayi digendongannya ..

Bukankah wajah itu?!

Wajah tampan yang nampak sayu dan terluka, juga wajah mungil nan polos dengan mata hitam bening yang menatapnya penuh rindu?

Sakura membekap mulutnya, menggeleng-gelengkan kepala tak percaya. Air matanya melesak keluar tanpa sempat dicegah. Di seberang meja, Gaara menatapnya datar. Walau sepertinya ada tatapan lain yang tak bisa dijelaskan.

"Gaara .. bagaimana bisa .."

"Aku menemukannya di lehermu saat itu, tanganmu dalam posisi mencengkram liontin itu. Dari situ aku dapat menyimpulkan, liontin itu sangat berharga untukmu. Mungkin kau bisa mengingat sesuatu .." katanya.

Tangis Sakura kembali pecah. Saat itulah Ino datang. Sangat terlambat.

Dan dia meminta Ino mengantarkannya pulang.

.

Gaara mungkin sangat mencintai Sakura, tapi dia tak mau mencintai dalam kebohongan.

Gaara mungkin bisa saja makin menjauhkan Sakura dari jangkauan keluarganya, tapi dia masih punya hati.

Gaara mungkin bisa egois menutupi kenyataan yang ada, tapi dia bukan pengecut yang takut untuk menyampaikan kebenaran.

.

Sekali lagi, dia masih punya hati.

.

.

.

To Be Continued

.


Chiaaats : Astaga! Emang Hana beneran manis koook ... hehehe ... makasih review nyaaa .. udh lanjut! Review lg yaa

thalitahuchiha :Halo! Baper kah? Tapi kenapa aku malah jd bingung untuk mempertemukan SasuSaku? Atau malah kagak usah ditemuin aja kali ya? /ditampokin bareng2/

indrichan77 : Indri-chaaan .. kangen sama review penyemangat kamuuu ... dirimu reviewer sejati dr chap 1 kemareen .. hiks, /peluk-peluk Indri/

dindra510 : Udh update niih .. telat pake banget, dan sangat tidak memuaskan! Boleh kritik dan sarannya, Din? #ehHanasokakrabbangetsih

asuka : Hontou ni arigatou Asuka-san! Selamat menikmati chap 8!

Shafirameliana : YA AMPUN KAMU REVIEW! MAKASIH MAKASIIH! *sy juga jebol capslocknya, tp udh bener sekarang* makasih bangeet pujiannya! Aku sampe terbang nih bacanyaaa .. emang sih, Sakura tega bgt nih ninggalin anak suaminya, ih Jahat! (Sakura : Lah, kan naskah situ yg buat knp aku disalahin?) Hah .. aku seneng pake banget dpt review kyk gini .. makasiiiih .. banget, review selalu yaaa

TheLimitedEdition : Ayo, ayoo .. udh dilanjut kok .. baca sampe selesaai yaaaa ...

Rhin-chan Eonnie : Haaai Rhin-chaaaan! Astaga!Ada yang nge-fans akuuuuu ... makasih lho yaaa /tebar bunga/ (Rhin : siapa jg nge-fans authornya, sy cm suka fic nya kok) hehehe .. udh lanjuuut .. km kyknya tau aja cara buat nyenengin orang ya? Makasiiih banyaak udh dilanjut n dibalas ..

rivaille- sama : Udaaaaah dinext! Moga sukaaa .. review please!

AmmaAyden : Iya, nih .. di chap 8 moga lega ya? Gaara nggak jahat2 bgt kok .. jd kesian diiaaa .. /peluk Gaara/ moga dpt jodoh yg baik ya Ra .. (Gaara : apaan seh, author bikin rese aja)

rin : Maaf, maaf .. kagak bisa cepet2! Hiks, pdhl pengennya cepet n panjang niiih .. maaf kan akuuuu

.


Author Note :

Halo reader .. sudah lama menunggu-kah? Semoga kalian masih ingat jalan cerita fic ini dan g perlu untuk baca ulang dr chap 1 krn saking lamanya fic ini update. Hehehe ..

Maafkan aku yang udh ninggalin fic ini lama bgt ya? Terakhir pas April lalu ..tiga bulan berarti ya? File dokumen BWHY sampe chap 10 di Ms Word ilang niih .. g sengaja kehapus abang saya .. hiks, udh dihapus permanen ternyata. G bisa dipulihkan di recycle bin .. hiks,

Chapter yang ini dikiiit banget ya? Mau aku panjangin tp kok kebelet update pengen nyapa reader ..

Semoga kalian masih mau mereview yaaa .. please banget .. mau kasih ide saya terima deeeh .. dimuncul-munculin kok ntar .. hehehe ..

And .. special thanks for kakikuda .. makasih buat saran2 nya .. so, bisa dibilang .. mulai chap 8 ini .. ada unsur-unsur collab dengan kakikuda-chan! hehehe..

.

HanaraHime

06 August

pk 11.23 AM