.

Gaara mungkin sangat mencintai Sakura, tapi dia tak mau mencintai dalam kebohongan.

Gaara mungkin bisa saja makin menjauhkan Sakura dari jangkauan keluarganya, tapi dia masih punya hati.

Gaara mungkin bisa egois menutupi kenyataan yang ada, tapi dia bukan pengecut yang takut untuk menyampaikan kebenaran.

.

Sekali lagi, dia masih punya hati.

.

.

.

all character belong to Masashi Kishimoto

special dedicated for SasuSaku shippers

Hanara Hime present

.

.

.

Because We Have You ch 9

Ini hari ketiga Sakura tidak masuk kerja. Izin, seperti itulah informasi yang diterima Gaara dari kepala bagian staff. Gaara tentu sangat memahami, setelah apa yang dia katakan beberapa hari lalu, tentu tidak mudah bagi Sakura untuk langsung menerimanya. Terlebih, rekannya itu mengalami kecelakaan yang tragis di masa lalu hingga mengalami amnesia.

Pemuda bersurai merah bata itu ingat betul, saat Sakura yang bangun dari koma nya, hanya menatap kosong langit-langit ruangan dan menatapnya—serta Ino dan Tsunade-sama— dengan tatapan tak jauh beda, dia tidak mengingat apapun, kecuali namanya. Haruno Sakura. Beruntung, wanita itu memiliki kemampuan, hingga tak lama setelah masa pemulihan, Sakura—yang sudah menyesuaikan diri—mendapat kepercayaan dari pimpinan rumah sakit Suna.

Yah, dia juga tidak menduga akan membongkar semuanya saat itu, kebenaran yang telah lama ia simpan seolah membludak keluar saat menyaksikan ekspresi Sakura saat itu. Ekspresi ingin tahu, ekspresi putus asa, eskpresi yang .. entahlah. Terlihat menyakitkan.

Gaara memijat pelipisnya. Ia yakin, dia sudah melakukan hal yang benar, dengan menekan sedikit ego-nya. Satu pemikiran terpancang di otaknya.

'Hei, lantas bagaimana reaksi si Uchiha itu jika mengetahuinya?'

.

.

.


.

.

.

Kondisi Sasuke kacau sejak hari itu. Pekerjaan menjadi pelampiasannya, menenggelamkan diri di balik meja kerjanya, menekuri segala berkas-berkas yang ada. Pekerjaan untuk satu minggu kedepan sudah diselesaikannya.

Dua hari ini bungsu Uchiha itu tidak pulang. Terakhir kali, dia pulang dengan wajah kusut-memprihatinkan, mabuk. Sarada yang saat itu berinisiatif menyambut sang ayah, hanya bisa berkaca-kaca setelah ayahnya—yang dalam kondisi tidak sadar—menepis tangannya kasar, kelewat kasar malah. Sarada terjerembab, bukan seperti ayahnya yang dia kenal. Keributan kecil di kediaman Uchiha tak dapat dihindari.

Kejadian di rumah sakit minggu lalu benar-benar membawa perbedaan di tengah keluarga Uchiha. Walaupun seluruh penghuni kediaman inti Uchiha sudah berusaha menetralkan suasana.

Fugaku yang notabene bersifat acuh, sedikit melunak—ikut merendam suasana, Mikoto dan Itachi—seperti biasa—tersenyum bahkan ketika Sarada tak sengaja menyenggol buku, lalu jatuh beruntun dan menyenggol vas bunga.

Obito, yang mendadak sering berkunjung dan menginap bersama sang istri ikut-ikutan menambahkan lelucon garing, sepertinya dia berniat membuat kediaman Uchiha penuh tawa—tapi itu tidak mungkin, Sarada bahkan menatapnya datar. Sementara, kedua menantu Uchiha, Hana dan Rin berusaha pula membujuk Sarada bila sudah merajuk dan membahas soal 'mama'

Sang kakak, Itachi, yang walaupun terlihat baik-baik saja .. tapi sesungguhnya dia yang paling memikirkan hal ini, memijit pelipisnya lebih dalam, berpikir keras apa yang sebenarnya terjadi. Tak bisa dipungkiri, dia jelas mengkhawatirkan kondisi adiknya. Semakin lama dibiarkan, itu semakin buruk.

Ingatan Itachi kembali pada saat hari itu, dimana seorang perawat wanita masuk memeriksa kondisi keponakannya. Wanita yang sangat mencolok, dengan rambut merah muda pendek serta iris emerald yang cerah. Itachi kembali memijit pelipisnya, menghela napas.

Rambut merah muda? Itu jelas langka, sejauh ini dia hanya mengenal adik iparnya yang manis dengan rambut merah muda alaminya, yang jelas turunan gen keluarga Haruno. Adik iparnya yang ceria, yang meluluhkan es di hati si bungsu Uchiha.

.

.

"Oh! Dia kakakmu, Sasuke-kun? Kalau begitu perkenalkan, namaku Haruno Sakura!" —itu saat pertama kali dia bertemu sang adik ipar, Sakura.

" .. arigatou, Itachi-nii, Hana-nee .. aku akan menjadi bagian dari kalian setelah ini!" —itu saat pernikahan Sasuke dan Sakura.

"Gomen, Itachi-nii. Katakan bagaimana rasa masakanku, enak bukan? Hihihi .." —itu saat perayaan hari pernikahannya dengan Hana, Sakura meminta untuk mencicipi masakannya.

"Niichan, bisa tolong antarkan aku belanja? Aku sudah meminta izin pada Hana-nee, kok .. ehe .." —itu saat Sasuke berada di luar negeri, dia bahkan meminta izin pada Hana agar Itachi bisa mengantarnya—walau sebenarnya itu tidak perlu.

".. kyaa! Hana-neesan! Rin-neesan! Sepertinya kita melupakan sup nya, astaga!" —itu saat Itachi mengintip ketiga menantu Uchiha yang sedang bercengkrama—hingga melupakan masakan mereka. Sakura dengan ramabut merah muda nya, sangat mencolok apabila berada di tengah-tengah mereka.

"S-sudah tiga bulan .. semoga bayi ini sehat. Doakan aku, semuanya!" —itu saat Sasuke mengumumkan kehamilan istrinya.

".. Sarada .. namanya Sarada. Uchiha Sarada .. anak kami yang paling kuat hatinya, hadiah paling indah untuk ibunya " —itu saat kelahiran keponakannya, setelah ulang tahun Sakura.

"Aku akan pergi ke Kumo beberapa hari, .. uum .. kurasa .. aku harus meninggalkan Sara-chan disini, .. maafkan aku!" —dan itu saat .. beberapa hari sebelum kecelakaan.

.

.

Ingatan tentang adik iparnya itu muncul bergantian.

Haruno Sakura, ah, tidak Uchiha Sakura. Lagipula, apa yang menjamin si perawat tempo hari adalah Uchiha Sakura? Dia bahkan tidak mengenali seisi ruangan. Yah, Uchiha Sakura sudah meninggal. Bertahun-tahun yang lalu.

Tapi, lantas bagaimana bisa seorang perawat dengan ciri fisik sama persis dengan Sakura, muncul tiba-tiba? Tidak, tidak itu jelas bukan suatu kebetulan. Rambut merah muda serta mata besar beriris emerald cerah, bukan suatu ciri fisik umum. Siapapun yang mengenal Sakura sebelumnya, pasti akan sependapat, bahwa si perawat kemarin sangat identik dengan adik iparnya itu.

.

.

Itachi tersenyum miris.

Jelas sekali, Sasuke merasa kacau. Sangat kacau. Bahkan rasanya, sebagai kakak, dia sangat ingin ikut memikul perasaan kacau Sasuke. Yah, tapi adik kecilnya itu selalu menyimpannya sendiri. Adik kecilnya dulu hanya menangis saat belasan tahun lalu ibunya keguguran dalam proses kelahiran calon adik perempuannya. Dulu, dulu sekali.

Lalu Itachi melihat dengan jelas betapa kacau nya seorang Uchiha Sasuke yang tenang, saat berita kematian istrinya tersiar, saat pemakaman Uchiha Sakura. Itachi bahkan seperti dihadapkan oleh orang yang berbeda kala itu. Dia bahkan seperti bisa melihat betapa tersayatnya hati adiknya. Menatap kosong mayat yang tertutup kain, serta helai rambut merah muda bercampur darah yang sedikit keluar. Adik nya itu bahkan berteriak-teriak bahwa jasad itu bukan istrinya, berkata bahwa istrinya masih hidup.

Itu menyakitkan. Sungguh.

Sampai akhirnya, setelah berbulan-bulan sejak kejadian itu. Uchiha Sasuke bangkit kembali, menjadikan buah hatinya sebagai tompangan hidupnya. Mengurus bayi kecil yang tak lagi memiliki ibu, menyayangi peninggalan istrinya dengan segenap hati.

Itachi menyaksikan semuanya, tidak, bukan hanya Itachi, seluruh keluarga Uchiha menyaksikannya, bagaimana terpuruknya Sasuke sejak kematian Sakura, lantas adik kebanggaannya bangkit, melimpahkan segala kasih sayangnya pada sang buah hati. Satu-satunya yang mengingatkan Sasuke pada istrinya.

Waktu terus berjalan, Uchiha Sarada tumbuh dengan kasih sayang yang besar di tengah keluarga Uchiha.

.

.

Hingga di titik dimana adiknya bisa menerima semua kenyataannya. Kejadian di rumah sakit tempo hari datang. Si perawat itu, perawat berambut merah muda dengan mata besar beriris emerald. Perawat yang tersenyum hangat, mengingatkan semuanya pada seorang Uchiha Sakura. Musim semi keluarga Uchiha. Tapi, siapa sebenarnya perawat itu? Mustahil jika itu memang benar adik iparnya, Sakura. Lalu apakabar jika keluarga Haruno tau?

Ah, sudah menjadi takdir, begitu yang dibilang orang-orang jika sesuatu yang tidak terduga datang.

Takdir. Entah takdir baik atau buruk yang akan menimpa keluarganya setelah ini.

Kamarnya terbuka, Hana membawa secangkir teh hijau. "Ne, Itachi-kun .. kau juga, .. jangan memforsir dirimu .." katanya lembut. Saat ini, membawakan teh untuk suaminya dengan harapan sang suami lebih tenang, mungkin sedikit membantu. Mengingat beberapa masalah akhir-akhir ini. Hana menyibak selimut, menyenderkan kepalanya di bahu Itachi.

"Aa, .. arigatou, Hana." Tangan Itachi terulur, membelai rambut cokelat sang istri. Pikirannya sejenak menjadi tenang. Yah, bagaimana pun istrinya benar. Dia juga tidak boleh terlalu memforsir dirinya. Omong-omong sepertinya sudah semakin larut, Hana sudah terlelap di bahunya, Itachi memposisikan istrinya agar lebih nyaman. Lantas memeluknya setelah sebelumnya mengecup kening sang istri.

.

.

.


.

.

.

"..-chan! Sakura-chan!"

Wanita merah muda itu tergagap, reflek menyentuh wajik di keningnya. "Ah, Tenten-chan .. ohayou!" sapanya. Rekan turunan China nya itu mengambil posisi duduk berhadapan dengan Sakura. Setelah ini pergantian shift, jadi rasanya dia bisa bersantai sejenak.

"Eum, jadi, Sakura-chan? Ada apa denganmu kemarin? Apa terjadi sesuatu?" tanya Tenten, dengan wajah sangat ingin tau, kepo—menurut bahasa Ino.

"Ah, kemarin aku merasa agak tidak enak badan. Rasanya pusing sekali, jadi aku menitip izin lewat Ino-chan kemarin. Begitulah, bukan sesuatu yang serius. Ahaha .." sebuah tawa palsu diselipkannya dia akhir kalimat.

"Aa. Kalian berada di apartemen yang sama, bukan? Itu sebabnya kau sangat mengandalkannya, .. aa, persahabatan kalian manis sekali .." sahut Tenten tersenyum.

"Yah, begitulah. Kau benar, Tenten-chan!"

Tentu saja Tenten benar, apalagi, dibandingkan dengan sahabat, Ino bahkan sudah seperti saudara baginya. Sakura terkekeh kecil.

"HOLA! SAKURA-CHAN!"

Seruan lantang-melengking ala Ino itu membuat Sakura kembali tergagap, Tenten serta merta mendelik, teriakan Ino—yang sudah sangat dia hafal—membuatnya terkaget, alhasil bekal sandwich nya terjatuh. Para perawat yang sedang pergantian shift pun menghela napas, rekan mereka dari Suna itu tampaknya memang sangat 'luar biasa'

"Hihihi .. gomen ne, Saku-chan, Tenten-chan!" ujar si pirang, lalu melambaikan sebelah tangannya pada rekan perawat lainnya sambil memasang mimik muka (sok) merasa bersalah. Sakura memutar mata menyaksikan tingkah sahabatnya itu.

"Aaahh .. aku capek sekali hari ini, beruntung kau sudah bisa masuk hari ini, Sakura! Kau bisa bayangkan bagaimana aku kemarin? Menggantikan jadwal jaga mu daan .. oh! aku bahkan tidak memiliki waktu istirahat! Tenaga ku rasanya sudah terkuras untuk pekerjaan hari ini," katanya. Sakura baru mendengar itu, tentu saja dia langsung merasa bersalah, sungguh kasi ..—

Pletak

"Lebay. Itu berlebihan Sakura-chan, dia bahkan tidak sampai menggantikan seperempat tugas mu." tukas Tenten. Ino mengaduh. Itu benar, sih.

"Aa .. baiklah, baiklah. Yah, intinya aku senang kau sudah kembali masuk. Begitulah," Ino mengangkat bahu.

Tenten menggigit potongan sandwich terakhirnya, dia benar-benar tak berniat membagi sandwichnya sedikitpun pada kedua rekannya—Sakura sudah makan, dan Ino pasti akan kalap jika sudah ditawari makanan gratis. "Eum, Sakura-chan, kemarin kau sakit bukan? Apa sekarang benar-benar sudah pulih?" katanya.

Bibir Sakura mengulas senyum, "Tentu saja, hei, jangan lupakan sesuatu! Begini-begini aku kuat! Hehehe .."

Ah, senyum serta tawa yang palsu lagi. Ino menatap itu miris.

".. summinasen, Sakura-san. Chiyo-sama meminta anda ke ruangannya." seorang staff rumah sakit mengiterupsi.

"Baik, aku akan segera kesana. Arigatou." sahut Sakura membungkuk sopan.

Wanita merah muda itu lalu bergegas merapikan penampilannya—supaya lebih sopan, begitu pikirnya. Tenten ikut beranjak, memberesi bekalnya, ikut merapikan diri. Melihat itu, Ino mengernyit "Ne, Tenten-chan? Kenapa beranjak? Kalian meninggalkanku sendiri?" ucapnya, Sakura dan Tenten mendadak merasa pusing melihat ekspresi Ino yang (sok) imut.

"Hm? Kenapa menatapku seperti itu? Aa baiklah .. eonnie saranghae!"

Astaga.

Sakura dan Tenten benar-benar langsung beranjak setelah melihat adegan selanjutnya, yaitu Ino yang kembali berlagak (sok) imut. Sakura tau itu, di ruangan apartemennya, Ino biasa menonton saluran TV luar negeri dan menonton acara-acara K-pop. Akhir-akhir ini pula si pirang sahabatnya suka melakukan hal-hal yang (menurut dia) imut. Ino bilang, orang Korea menyebutnya aegyo.

Entahlah, geli juga rasanya melihat Ino seperti itu. Dan yang jelas, sekarang dia harus mengahadap Chiyo-sama. Langkah nya yang berirama menggema di koridor rumah sakit.

.

.

.


.

.

.

Setelah itu aku menatap kepergian Sakura dan Tenten sambil tersenyum kecil. Lalu senyum kecil itu benar-benar menghilang saat punggung keduanya sudah tak terlihat. Aku menompang daguku, posisi yang menurutku paling nyaman—dan paling kece—untuk berpikir.

Aku bukannya tidak tau apa yang terjadi padanya selama tiga hari terakhir. Setelah dia tiba-tiba memintaku langsung mengantarnya pulang, aku meminta penjelasan dari Gaara. Gaara menceritakan semuanya, tentang kebenaran yang selama ini dia sembunyikan. Aku menyuruh Sakura membersihkan diri—barangkali itu membantunya. Setelah itu tanpa aba-aba dia menangis, keras sekali. Terduduk sambil memeluk pinggangku dan meracau. Itu pemandangang yang menyakitkan. Aku mengerti perasaannya, iris azure ku melirik ke nakas. Kalung berliontin kipas merah-putih itu sangat indah.

Menyaksikan kembali tawa dan senyum palsu Sakura tadi .. hatiku bahkan merasa sesak—lebay, tapi itulah sesungguhnya.

Hei, aku tidak akan lupa bagaimana aku bertemu Sakura. Tidak akan

.

.

.

Saat itu, aku masih menjadi perawat junior yang baru saja dipekerjakan di rumah sakit ini. Tentu saja, dengan kemampuanku sebagai perawat profesional—ehem—aku mendapat rekomendasi dari Tsunade-sama. Sebagai junior, aku tentu berusaha meningkatkan kinerjaku. Mengerjakan shift tepat waktu, memasang wajah ramah, tersenyum dan membantu apapun. Begitulah, sepertinya normal-normal saja, sampai setelah kecelakaan maut bertahun-tahun silam itu terjadi.

Kecelakaan pesawat. Badan pesawat hancur. Evakuasi korban sempat mengalami jalan buntu. Aku dan rekan-rekan perawat turun ke lapangan atas perintah langsung dari Tsunade-sama, dan menyaksikan langsung semuanya dari dalam tenda darurat. Mayat-mayat yang terselamatkan—dapat ditemukan—, sebagian besar tubuhnya sudah hancur. Lantas diotopsi, untuk dipulangkan pada keluarganya. Azure milikku menatapnya jerih, itu pemandangan yang menyakitkan.

Lalu mataku tertumbuk pada sesuatu.

'Uchiha Sakura'

Di antara belasan peti mati beserta identitas korban yang berhasil dievakuasi, itu menarik perhatianku. Tentu saja, aku ingat perkataan Tsunade-sama saat dia menugaskanku secara pribadi. Mata cokelat hazel wanita paruh baya itu basah, jejak-jejak airmata terlihat jelas.

'Uchiha Sakura .. pastikan .. tolong pastikan .. dia masih hidup,'

Mengingat itu, aku semakin menatap peti mati pertuliskan 'Uchiha Sakura' dengan jerih. Entah bagaimana mataku basah. Aku harus melanjutkan pekerjaanku.

".. psst .. kau tau? Menantu keluarga Uchiha menjadi korban dalam kecelakaan ini, .. tubuhnya bahkan hancur. Identitasnya pasti tidak akan diketahui jika bukan karena rambut merah muda yang mencolok itu dan kartu identitas di saku bagian paha kanannya, karena tim otopsi pun menyerah."

" .. ah, pasti turunan keluarga Haruno di Konoha, .. lalu bagaimana bisa tim otopsi menyerah secepat itu?"

" .. kondisinya menggenaskan, tim evakuasi bahkan mengaku seperti menggotong gumpalan daging, tubuhnya nyaris tak terbentuk dan tercampur dengan potongan-potongan mayat lainnya, .."

" .. astaga itu sang— !"

"Summinasen, senior! Apakah menggunjingkan kondisi korban adalah suatu kebolehan dalam kode etik keperawatan?"

Savage.

Kedua perawat senior itu menatapku lantas pergi, acuh tak acuh. Rasakan! Telingaku sudah panas sedari tadi.

Setelah itu aku berusaha fokus kembali pada tugasku. Hingga akhirnya Tsunade-sama turun langsung, ikut membantu kelangsungan evakuasi korban. Tampaknya kecelakaan saat itu sangat berpengaruh. Aku bisa melihat segala kehebohan lewat media sosialnya.

.

.

"Ino-san! Tsunade-sama memanggilmu!"

Ya, sekitar tiga minggu setelah itu, aku kembali dipanggil Tsunade-sama untuk menghadap. Rasa-rasanya banyak hal yang terjadi padaku, kurasa banyak pula senior yang iri padaku, karena aku banyak diberi kepercayaan oleh Tsunade-sama. Kurasa aku cukup terkenal. Itulah aku, ehehe ..

Sampai di ruang pimpinan, kupikir Tsunade-sama akan menugaskanku suatu hal. Tapi saat itu beliau langsung memintaku untuk mengikutinya. Kami tiba di ruang perawatan VIP, tidak, kurasa lebih tinggi. VVIP mungkin. Sepanjang koridor rumah sakit, aku yakin rekan-rekan perawatku merasa iri. Sepertinya aku naik pangkat, haha!

Kepedeanku saat itu, tidak berlangsung lama. Aku baru menyesalinya, bagaimana aku yang sata itu tidak bisa peka melihat wajah Tsunade-sama yang mengeras sepanjang perjalanan.

Pintu terbuka, disana terbaring sesosok wanita. Wajahnya pucat, belalai-belalai infus dimana-mana, tangan dan kakinya patah. Perban melilit hampir sekujur tubuhnya. Kulit nya pucat. Mata cekungnya terpejam. Rambut merah muda menyembul keluar di lipatan perban.

Tunggu, merah muda?

Aku baru mencerna semuanya saat itu. Saat itu aku membeku, menunduk dalam, dan menunggu Tsunade-sama menjelaskan sesuatu.

".. ah, Yamanaka Ino. Kau tentu tau siapa yang berbaring disana? Ah, tidak. Tidak perlu kau jawab, kau sudah tau. Dia muridku, dia pernah berguru padaku. Aku sungguh menyayanginya, kau tau? Dia Uchiha Sakura, yang sudah diberitakan meninggal tepat setelah kecelakaan. Tim evakuasi ku menemukannya agak jauh dari lokasi kejadian, entah apa keajaiban yang membuatnya selamat, tapi dia ditemukan mengenakan parasut darurat. Sebagian tubuhnya tertimpa badan pesawat. Dia masih hidup .."

Dan disaat tegang seperti itu, aku masih sempat-sempatnya bertanya, "S-summinasen, Tsunade-sama .. lalu .. jasad yang dibawa keluarga Uchiha?"

Ups, aku baru menyadari kebodohanku satu detik setelahnya.

".. jasad itu .. bukan milik Sakura. Dari data penerbangan pesawat yang kudapatkan, .. sepertinya .. jasad itu, milik Hirawaki Tayuya dari Oto. Seperti yang kau pikirkan, pemerintah bahkan tidak menangani kecelakaan itu dengan serius. Tapi sebelumnya, aku sudah mencocokkan DNA nya. Positif, bahwa dia memang Uchiha Sakura. Jasad yang dibawa keluarga Uchiha kemungkinan adalah satu dari banyak jasad yang tidak sempat diotopsi dengan baik .."

Aku menggigit bibir.

Tsunade-sama menghela napas, " .. banyak hal besar yang diabaikan dalam tragedi kecelakaan waktu itu. Sementara ini, aku akan mempercayakan dia padamu serta Dokter Sabaku, keluarga Uchiha pasti akan shock jika langusng mengetahui hal ini. Jadi, biarkan hal ini menjadi rahasia. Aku tau, ada banyak pertanyaan yang akan kau ajukan, tapi tidak semua pertanyaan dapat terjawab secara realistis. Ada yang tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat, Ino. Astaga, bagaimana pula aku harus menjelaskan ini .."

Aku mengangguk takzim, menerima tugas itu. Itu suatu kehormatan. Aku akan mengerjakannya dengan sempurna.

Sejak saat itu, jadwal kerja ku hanyalah mondar-mandir dari ruang perawat dan ruangan milik Uchiha Sakura. Kurasa hanya Tsunade-sama, Dokter Sabaku—yang kemudian kupanggil Gaara— dan aku yang mengetahui siapa di balik ruang VVIP nomor empat, karena papan informasi pasien di depan kamar itu hanya bertuliskan 'Sakura'. Nama itu termasuk nama yang umum digunakan, tidak ada yang menyangka bahwa Uchiha Sakura-lah yang ada dibaliknya.

Hari-hari menemani Sakura yang saat itu masih belum sadar dari koma nya berjalan sangat lambat. Aku dan Gaara hampir setiap hari mendiskusikan keadaannya, memastikan gizi yang dibutuhkan tubuh tetap tersalurkan melalui infus. Kemajuan sedikit pun sudah menjadi suatu kelegaan bagi kami.

Berbulan-bulan, kondisi Sakura sudah normal. Kaki dan tangannya sudah pulih, luka-luka besar bahkan sudah menutup. Tapi dia belum juga sadar, wajahnya masih pucat, bibirnya pucat dan kering, rambut—yang harus kuakui sangat indah—miliknya sudah tumbuh normal, menutupi pitak di bagian kepala akibat benturan keras.

Menjelang akhir tahun, bulan Desember, sore hari. Aku ingat sekali. Waktu itu adalah jadwalku mengganti infus, dan saat aku membuka pintu, satu-satunya penhuni kamar VVIP nomor empat itu menoleh, dan menatapku sayu. Aku membeku di dekat pintu, entah apa yang kurasakan, tapi air mata mengalir di pipiku. Tentu saja, lega dan bahagia, kira-kira seperti itulah perasaanku saat itu.

" A-ah, .. s-selamat sore Uchiha-san .." kalimat itu itu terlontar begitu saja. Bodohnya aku! Aku menimang-nimang bagaimana respon yang akan kudapat dengan cemas. Astaga! Seharusnya aku menekan tombol panggilan dokter!

Tatapannya kosong, bibir itu bergerak kaku, suaranya serak. ".. Uc-Uchi .. ha-san?"

Tidak perlu berpikir dua kali, menilik gelagat Sakura yang kebingungan, aku langsung memencet bel panggilan. Gaara datang dengan tergesa-gesa, selanjutnya Tsunade-sama dengan air matanya. Kelegaan terpancar dari kedua wajah mereka.

Tapi kelegaan itu tidak berlangsung lama. Menyaksikan tatapan kosong Sakura, Tsunade-sama dengan instingnya, dia tahu. Aku menunduk dalam-dalam.

Sakura kehilangan ingatannya.

Segalanya menjadi rumit sekarang.

.

.

.

To Be Continued

.


Author's Note :

Halo, reader kesayangan Hana. Ups, malu juga diriku ini udh nelantarin fic ini T^T .. #liatkalender #wauw2019

Yah, Hepi nu yer readers! #telat Maafkeun, i'm sorry, summinasen, mianhae, nyuwun pangapura dan sebagainya u/ ungkapin rasa bersalahku inii! udh hampir 2 tahun inii omaygat aku jahat bgt, oke. Aku bahkan sampe terharu pas buka ffn lagi, ngeliat review2 dr kalian semua bener2 bikin aku tambah semangat. Thanks! (◜௰◝) .. i purple you!

And then, chapter ini khusus menceritakan bagaimana hubungan 'persaudaraan' Ino sm Sakuraaah .. eaea .. oia, jgn lupakan sebesar apa sayangnya Itachi sm Sasu. Owwwhh, .. nangis ni inget Uchiha bersaudara hwhw

Uum .. jadi? Gimana chapter ini? Ada saran u/ chapter depan? Review, please? ಥ‿ಥ .. thankyou!

.

Spesial Thanks for :

indrichan77, talithauchiha, Emeraald US, dindra510, shinny, rin, Guest (1), Guest (2), zarachan, misaharux, Guest (3)sitinaya, namizake natsuki, Cherry Lilyana1, luhputusetia.p, shatake, sasux, nayaraRZ22, cherry blossomQ, Rin, kirei, natsuki suzu, Guest (4)

.


.

With Love,

Hanara Hime

06 January

14.59 PM