BTS – Big Hit Entertainment.

Penulis tidak mengklaim apapun selain jalan cerita.

AU. Sudah janji menghadiri pertandingan penting, Jungkook harus berusaha supaya diijinkan pergi dari rapat senat yang diadakan tiba-tiba. Demi seseorang yang istimewa, tentu. Bukan sekedar teman, apalagi tamu.

.

.


.

.

Pemuda itu memutar-mutar bolpoin di tangannya, mengetuk-ketukkan benda tersebut di atas meja, lalu kembali dimainkan dengan tak nyaman. Bukan, dia bukan menyalahkan kenapa harus ada rapat badan eksekutif mendadak di siang bolong, terutama saat jadwal kuliah sedang sangat kosong. Jungkook paham pentingnya persiapan pihak kampus tiap masa penerimaan mahasiswa baru dimulai dan sebagai anggota tingkat dua sekaligus perwakilan jurusan, pendapatnya jelas diperlukan sebagai bahan pertimbangan. Jungkook bersedia berpartisipasi, sangat, tapi waktunya sedang kurang tepat.

Lututnya bergerak-gerak gelisah, sesekali menggigiti ujung bolpoin, hampir dikunyah. Bagian penutup benda malang itu pecah pada gigitan ketujuh, menimbulkan bunyi retak nyaring yang cukup untuk membuat satu ruangan menoleh.

"Dari tadi bergoyang terus," ketuanya mengurungkan niat membalik lembar laporan, sarkastis, "Ada apa sih?"

"Tak ada apa-apa, hyung. Maaf," Jungkook menggeleng datar, pura-pura memperbaiki letak kancing kemeja, tetap tak menatap ke papan petunjuk. Seniornya menghela napas, mematikan layar presentasi lalu melipat tangan dengan dagu tertunduk menyelidik. Tingkah bingungnya terlalu kentara, siapapun pasti curiga.

"Aku tak suka ada yang tidak serius meski ini hanya pengayaan," suara berat mahasiswa ilmu fisika itu tiba-tiba sudah mampir dekat telinganya. Jungkook nyaris terlonjak, tapi Namjoon lebih cepat menekan bahunya agar tetap stabil, "Kalau tak berniat mendengarkan, lebih baik segera keluar. Tak ada paksaan untuk hadir di pertemuan pertama, apalagi di minggu tenang. Aku sudah mengantisipasi soal banyaknya anggota yang lebih memilih tiduran di rumah."

"Aku mendengarkan, hyung."

"Bohong," Namjoon melipat tangan, "Dari tadi kau terus menerus melihat ponselmu dan tidak menoleh sama sekali. Kusarankan kau keluar, sebelum kutendang pergi. Posisimu bisa diganti."

"Tapi hyung..."

"Pacarnya sedang ikut kejuaraan di kampus lain, Pak Ketua!" mulut ember wakil jurusan seni terbuka tanpa diminta. Badan boleh kecil, tapi nyali sebesar jagat. Cengir jahilnya seolah menantang Jungkook jika Jimin tak gentar dengan perbedaan besar badan dan perbandingan otot mereka, "Guk-Guk ingin pergi menonton, tapi karena tahu-tahu disuruh berkumpul, jadi dia tak bisa fokus mengikuti rapat."

"AKU FOKUS!" sentak Jungkook tak terima, "Dan jangan panggil aku Guk-Guk!"

"Oh, namanya Guk-Guk."

"Lucu ya, anak fakultas mana?"

"Adik Pak Ketua ya? Hidungnya mirip."

"Kita belum hapal nama-nama anggota lho? Kenapa tidak kenalan dulu?"

"Namaku Hoseok, Hoseok de La Hoya."

"Hai, aku Seungcheol. Maaf Pak, boleh ijin pipis?"

"Kunpimook dari fakultas ilmu politik! Cita-cita, jadi presiden!"

"AKU! Aku! Aku! Namaku Mingyu!"

"Namaku Daniel! Kaya dan masih sendiri!"

"Oi, oi! Hentikan!" Namjoon memukul-mukul gulungan kertas ke tepi meja, cukup keras untuk menenangkan seisi ruangan, "Masih persiapan tapi sudah ribut! Penyebutan nama bisa dimulai nanti, jangan saling sambar, ini bukan pasar!"

"Tapi Pak, ini pertemuan awal dan kita perlu saling mengenal supaya bisa menjalin kemitraan berujung kerjasama. Bukankah kesan pertama begitu menggoda?"

"..."

"Namanya Sungjae, Pak. Anak fakultas sastra."

"Tolong diam dulu, korban keramaian ini masih duduk manis dan kalian seenaknya meracau dari tadi," bendahara, pemuda berkulit putih dari jurusan ekonomi yang sepertinya memang irit bicara, melerai perdebatan tak penting para anggotanya dengan satu lirikan tajam, "Aku tak suka bertoleransi, tapi kalau tujuanmu benar-benar seperti yang dikatakan si kecil itu, kurasa tak ada buruknya."

Jimin merengut dibilang kecil, walau ikut manggut-manggut. Yang lain bahkan mengamini.

"Kesempatan tidak datang dua kali, ya kan?"

"Young love, everybody. How sweet, I like that!"

"Bahasa apa itu? Norwegia?"

"Inggris, tolol."

Memotong perselisihan kedua rekannya, kelima jari mungil Jimin melambai mencari perhatian, "Ijinkanlah, Pak Ketua. Kejuaraan bertaraf nasional lho? Pasti makin bersemangat kalau pacar datang mendukung."

"Nanti jadi kebiasaan, absen dengan alasan sepele," sergah Namjoon masih sangsi, "Aku tak mau kalian memberi kelonggaran hanya karena satu anggota memiliki relasi keluarga dengan ketua organisasi."

"Sebelum kau ceramah lebih panjang, kita putuskan pakai suara. Cara paling demokratis dan cepat," kaki si bendahara disilangkan congkak di bawah meja, lengan diangkat malas meski matanya berkilat menikmati, "Yang setuju Guk-Guk per..."

"Namaku Jungkook!"

Min Yoongi tak menggubris, "Yang setuju Guk-Guk pergi, angkat tangan."

"SIAAAAAAAAAAP!"

Namjoon memijat pangkal hidungnya lelah, terlebih setelah menyadari bahwa dari sepenjuru ruangan, hanya dirinya yang menolak mengacungkan lengan. Wajah-wajah sumringah sekian banyak anggota menunjukkan bahwa mereka menyukai atmosfir suasana penuh gosip dibanding menjunjung kedisiplinan, dan Namjoon harus menghadapi fakta jika dirinya akan memimpin gerombolan berisik ini belasan bulan ke depan.

"Sembilan puluh sembilan persen banding satu. Kampusnya jauh?" suara berikutnya menyela setelah menurunkan tangan, dan meringis gembira ketika Jungkook mengangguk polos, "Hari Kamis biasanya tak banyak polisi, mau pakai mobilku? Warna biru tiga baris dari pintu. Bilang saja umurmu dua puluh satu."

"Jung Hoseok!"

"Ayolah, Pak Ketua."

"Sudahlah, turuti saja," sosok lain dari seberang kursi ikut menanggapi, alis meliuk-liuk penuh maksud. Jungkook mengedarkan pandangan ke sekitar, agak segan mengingat mereka sama sekali tak keberatan ditinggal dengan alasan pribadi. Diliriknya Namjoon takut-takut, dan yang bersangkutan membalas dengan dengus singkat.

"Anak muda jaman sekarang," tukasnya, tak menoleh dari lembar laporan, "Jangan lupa tutup pintunya."

Tak menanti sindiran kedua, Jungkook menangkap kunci yang dilempar Hoseok lalu melesat keluar diiringi sorak-sorai. Yang ada di pikirannya hanyalah bagaimana cara menuju tempat parkir di saat pelataran kampus sedang ramai. Banyak mahasiswa berkeliling dan sukar bagi Jungkook untuk menyelinap tanpa menyikut siapapun. Lirik kiri lirik kanan, petugas parkir dan perawat taman sedang tak ada di tempat. Tak mengindahkan peraturan, Jungkook sigap melompati pagar pembatas dengan sekali ayunan. Jas almamaternya dilepas sambil berlari, persetan dengan alat tulis dan pin-pin yang berjatuhan saat dijejalkan ke kursi belakang mobil Hoseok. Ditariknya pegangan pintu dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya merogoh kunci dari saku celana. Lampu depan bekerja, mesin hidup, dan bensin terisi penuh. Jungkook menengadah riang, berdoa supaya Hoseok diberkati umur panjang.

Nyaris menyerempet gerbang dan berteriak minta maaf pada petugas yang meraung berang, Jungkook memutar setir keluar dari jajaran gedung perkuliahan. Dipacunya dengan kecepatan tinggi, beruntung jalanan siang tak sepadat pagi. Mata pemuda itu mengintai spion berkali-kali, berharap tak ada yang mengejar akibat mengemudi terlalu kencang, atau dipergoki polisi patroli karena tak sempat memasang sabuk pengaman.

Tepat di lampu merah pertama yang dia temui, Jungkook menggerung pelan sambil menarik paksa sabuk di sisi bahunya karena tak mau celaka sebelum sempat sampai tujuan. Tempat dimana seharusnya dia datangi sejak tadi pagi, kalau saja pengumuman rapat tidak berdering saat Jungkook bersiap pergi. Matanya terbuka selebar samudra walau kenyataannya Jungkook tak tidur semalaman. Kekasihnya mengirim pesan tentang rasa gugup menjelang pertandingan. Kalau sudah begitu, siapa yang sanggup enak-enak tidur? batin Jungkook. Menjejak gas semakin dalam.

Bulir keringat mulai mengalir turun. Cuaca memang terik, tapi tidak sepanas kepala Jungkook. Arloji di tangannya dilirik dengan mulut komat-kamit, berharap waktu berhenti kecuali laju mobil yang dikendarai. Diputarnya setir dengan paksa melewati tikungan sampai mobil yang tak terlalu besar itu oleng ke kiri, ban mendecit bagai tikus. Tinggal dua belokan lagi dan dia harus tetap bergegas. Kalau tidak, pasti ada yang akan kecewa dan Jungkook tentu merasa bersalah.

Tapi gangguan itu selalu ada.

Pemuda itu berjengit kencang di turunan terakhir. Nyawanya serasa melayang sebuah tatkala seorang nenek melintas beberapa meter di depan mobil. Diinjaknya rem sekuat tenaga. Bunyi nyaring aspal tergesek membahana memecah hening, namun nenek itu sama sekali tak terganggu dan tetap berjalan lambat sambil menggandeng sesuatu yang tak terlihat dari kursi kemudi. Jalanan sepi, sebab lintasan hanya tersedia untuk satu arah dan tak ada mobil lewat selain miliknya. Jari pemuda itu bergerak gusar di atas setir, bibir bawah digigit kuat. Gamang.

Detik berikutnya Jungkook sudah berada di tengah jalanan, menggendong sang nenek yang ternyata tuli serta hendak mengantar cucu ke taman bermain di seberang. Mujur, anak kecil itu sadar jika penolongnya tak punya banyak waktu dan segera mengekor terburu-buru sambil menggenggam ujung kemeja Jungkook, juga berpaling ke kanan kiri untuk berjaga dari lalu lintas. Keduanya berucap terima kasih saat pemuda tersebut kembali melesat ke dalam mobil. Jungkook mengelus dada agak lama, tersenyum kecil walau makin dikejar waktu.

Jungkook yakin dirinya betul-betul terlambat saat menghentikan mobil dan menyadari bahwa tak ada lagi jalan masuk menuju gedung kejuaraan. Celah sedikit, mustahil berharap parkir. Tak ada cara selain turun dan jalan kaki. Kerumunan pengunjung yang berdesakan beserta mahasiswa yang berbaur diantara mereka menambah penyesalan. Kalau saja bisa datang lebih awal, mungkin saat ini Jungkook sudah duduk tenang dan melihat-lihat suasana. Tapi nasi sudah menjadi bubur, yang harus dilakukannya sekarang adalah berpikir bagaimana caranya masuk.

Sudut matanya menangkap beberapa mahasiswa yang sedang sibuk mengangkut kotak dan kardus besar di sisi kanan gedung. Dengan dahi terlipat, Jungkook menggiring langkah, menghampiri penuh harap. Sopan, pemuda itu bertanya pada salah satu diantara mereka, tentang apakah dirinya diperbolehkan memasuki pintu yang ternyata khusus untuk panitia ransum. Tangan terkatup di depan dahi seraya memasang wajah cemas dan sorot memelas. Entah karena mengenalnya atau terdorong rasa iba, mereka membiarkan Jungkook menyusup masuk diiringi ujaran terima kasih bertubi-tubi.

Paham bila lantai bawah yang padat akan membuat penglihatannya terhalang, Jungkook tak buang waktu untuk menapaki tangga dan meraba pegangan pagar lantai dua. Pekik dan seru-seruan memenuhi udara, teriakan berkoar memekakkan telinga. Pendengaran Jungkook berdentum sejenak, lantas berubah sunyi begitu suara wasit menyeruak keriuhan. Memanfaatkan tubuh besar, Jungkook menyelinap lihai diantara bahu-bahu penonton, kemudian berhenti saat dadanya terhalang besi pagar.

Kini matanya bisa melihat jelas. Kedua kaki kokoh berdiri di tengah tribun penonton berjarak lurus ke arena pertandingan, tempat dua peserta saling memasang kuda-kuda. Sabuk hitam terikat di masing-masing pinggang, pelindung terpasang rapat di kepala dan dada. Jungkook mengatur napas, antara tersengal bercampur tegang. Telapak tangan berkeringat dingin, bulu kuduk meremang asing.

Sosok itu sedang berjuang di sana. Harga diri, kemampuan, dan beban wakil terakhir. Warna merah mendominasi seragam, punggung bersemat inisial nama.

Jungkook mendesis begitu aba-aba dimulai. Kelebat ayunan kaki lawan terarah pada pelipis dan jantungnya nyaris jatuh ke perut saat sosok tersebut terpelanting ke samping, terhuyung sekilas sebelum berhasil menegakkan tubuh sambil mendengus. Posisi peserta bertukar, sehingga Jungkook bisa melihat mimik tegas pemuda berambut kecoklatan yang kali ini sigap mengacungkan kepal tinju di depan dada. Perban putih membalut erat dari ujung jari ke pergelangan, alis tebal menyatu, tungkai bergerak maju mundur, berusaha mengambil strategi.

Tangan Jungkook memelintir besi pembatas. Gusar. Empat kali siku bertabrakan dan seruan lantang dari kedua peserta membuat kepalanya berdenyut-denyut. Ingin rasanya menjambak rambut pemuda di bawah sana dan menamparnya supaya berkonsentrasi penuh. Jungkook tak ingin melihat tubuh itu terhantam tanpa perlawanan.

Sang jagoan terhuyung lagi. Tendangan barusan hampir mengenai rahang jika lengan kanan tak segera melindungi. Tampak kesal, kepalanya disentak ke belakang dan butiran keringat terlempar jengah. Bibirnya tampak menggumamkan sesuatu. Sejenis mantra, semacam ajimat. Mencoba agar otaknya sanggup berpikir jernih dan aliran darah mengalir lebih lancar. Dia butuh ketenangan, butuh dorongan. Tapi yang ditunggu belum juga da—

"TAETAE!"

Pekik kencang memecah arena. Ribuan pasang mata spontan menoleh ke arah yang sama, tak terkecuali wasit dan dua pemain yang tengah bertarung di lantai bawah.

"MENANGKAN PIALANYA ATAU AKU TAK MAU LAGI BERKENCAN DENGANMU!" teriak Jungkook sekuat tenaga. Badan condong melewati pagar dan kepala maju disertai napas yang makin tersengal. Wajah merah, lelah bercampur amarah. Hanya itu yang sanggup diserukan, sebelum bisik-bisik rendah menjalar bak petasan ke seluruh gedung pertandingan. Berawal dari tribun atas, sejurus kemudian penonton pondasi turut berkicau.

"Kencan katanya?"

"Dia memanggil senior Taehyung dengan nama kecil lho?"

"Jadi dia pacar senior Taehyung?"

"Pacarnya Taehyung datang!"

"Potret! Potret! Ini berita!"

"Kamera! Mana kamera?!"

Dada Jungkook bergerak naik turun tergesa, tak peduli akan seribut apa sekelililingnya. Garis bibir Taehyung tersungging perlahan, terangkat semakin tinggi, dan akhirnya senyum itu keluar tanpa canggung. Senyum lebar menyentuh tulang pipi yang selalu dilihat Jungkook tiap Taehyung merasa puas, satu pertanda bila Taehyung sudah mendapatkan apa yang diinginkan. Dan begitu melihatnya, Jungkook sontak menghela napas lega. Kehadirannya memompa tenaga Taehyung hingga ke pucuk kepala, dan dia bisa berhenti mengumpat ke segala arah.

Jungkook menepi saat sejumlah mahasiswa mengalihkan pandang ke arahnya, mengibaskan tangan, dan menyaksikan pemuda itu berjuang dari kejauhan.

.


.

"Sakit! Sakit! Sakit! Sakit!"

Taehyung merintih sambil terus menggerutu sewaktu buntalan kapas alkohol menyeka sudut bibir. Meski dalihnya pengobatan, tetap harus melewati proses perih bercampur ngilu sebelum benar-benar sembuh dan Taehyung tidak suka. Ditepisnya lengan milik seseorang yang hendak membalur obat merah dan tampak kesal mendengar pemuda itu merengek super dramatis.

"Diam sebentar dong, hyung. Kamu bukan anak kecil lagi."

"Tapi sakit kan, Guk-ah? Adududuh..." Taehyung pura-pura merengut dan wajahnya berubah membesar seperti ikan kembung diserang nelayan. Jungkook terkikik, lalu meneruskan kegiatannya mengganti perban di jari-jari dan pergelangan tangan Taehyung. Kepalanya menunduk dengan serius, memastikan perban itu terikat rapat seperti semula. Taehyung urung bersikap usil, sorotnya melunak menikmati hadiah utama yang diperoleh bahkan sebelum memenangkan pertandingan. Memandangi wajah Jungkook dari sudut seperti ini merupakan pembunuh nyeri yang lebih ampuh dari obat apapun. Pipi bulatnya, hidung mancungnya, mata besarnya, juga bulu matanya. Taehyung bisa kejang kalau terlalu lama melihat. Silau. Tak kuat.

Digesernya posisi duduk agak ke samping karena Jungkook menunduk terlalu dalam, masih memeriksa kalau-kalau ada jari yang terkilir atau sejenisnya. Engkel kakinya sudah dibebat lebih awal akibat keseleo ringan saat mendaratkan tendangan. Cedera bisa diurus belakangan, elak Taehyung sekenanya tanpa memperdulikan ancaman ditoyor telunjuk, yang penting menang dulu.

"Maaf, aku terlambat," Jungkook menyela lamunan, "Ada rapat mendadak pagi tadi."

"Ini kan sedang minggu tenang."

"Namjoon-hyung mengadakan pertemuan untuk sosialisasi anggota, aku tak berani mangkir," adu Jungkook, mendesah panjang, "Justru senior-senior lain yang mendorongku pergi setelah Jimin-hyung membocorkan berita kalau pacarku ikut kejuaraan. Aku bahkan dipinjami mobil milik senior Hoseok, jadi bisa menyusul kemari lebih cepat."

"Kakakmu tidak marah?"

"Tidak tahu. Kesal, mungkin? Tapi kurasa tak ada masalah," celetuk Jungkook, mengangkat muka, "Namjoon-hyung hanya kurang senang karena aku mengabaikan kalimatnya. Sungkan sih, tapi aku lebih tak enak lagi padamu karena sudah janji mau datang jauh-jauh hari. Maaf ya, hyung."

Taehyung urung berkomentar, bagaimana mau marah kalau Jungkook sudah menggunakan nada seperti itu? Dengan suara lucu yang selalu merdu dan tatapan yang—sumpah, skala manisnya mengalahkan sakarin. Lagipula Taehyung tak bisa menuntut banyak, sebagai mahasiswa super aktif, Jungkook selalu dibutuhkan banyak organisasi dan berbagai perkumpulan. Bisa tiba di sela-sela final saja sudah merupakan keberuntungan.

Alisnya menukik saat pemuda itu perlahan menggenggam siku dan menekan satu titik paling riskan. Kencang. Sukses membuat Taehyung tersentak kaget, "SAKIT! GUK-AH!"

Jungkook berdecak sengaja, "Ini hukuman karena hyung suka main-main. Kenapa tak serius bertanding sejak awal? Malah membiarkan lawan dapat angka terus-menerus. Mau sok keren? Mau mati muda?"

"Ow, ow, hentikan!" jengit Taehyung mencoba menangkis, kekuatan Jungkook menyebar rata hingga ke jarinya dan hal itu cukup menakutkan. Entah mengapa pemuda tersebut menolak ikut klub olahraga, "Aku cuma berniat sedikit pamer, jadi kutunggu sebentar sampai kau datang. Tapi ternyata wakil dari kampus Changwon itu boleh juga. Marganya pun sama denganmu, apa ini yang namanya kebetulan?"

"Jangan mengalihkan topik," delik Jungkook sebal, mata besarnya menyipit, "Kalau misalnya aku tak datang, hyung mau menyerah begitu saja?"

"Oh, tentu tidak," dada Taehyung membusung sombong, intonasi penuh kepercayaan diri, "Ini masalah takdir, tapi aku yakin akan menang karena kemampuanku di atas rata-rata, benar tidak?"

"Belagu sekali ya?"

"Biar."

Meringis pasrah, Jungkook memukul pelan lengan atas Taehyung yang terkekeh menanggapi. Meski kerap sesumbar, harus diakui kekasihnya termasuk disiplin untuk ukuran pemuda berusia dua puluh tahun. Tadinya dia sangsi sewaktu Taehyung berniat belajar Taekwondo usai ditolak Jungkook menjelang kelulusan SMA. Beralasan ingin lebih kuat supaya mampu mengalahkan pujaan hati suatu hari nanti. Tak menyangka bila pemuda itu justru menggeluti beladiri hingga detik ini, bahkan sangat rajin mengikuti kompetisi meski pernyataan cintanya sudah diterima.

Dan Taehyung tetaplah Taehyung, manusia keras kepala yang tak mengenal kata menyerah sebelum tujuannya tercapai. Sekali bicara, dia pasti akan melakukannya.

"Guk-ah, sadar tidak? Suaramu tadi benar-benar keras lho?" cengir Taehyung, memamerkan deretan gigi-gigi putih yang berbaris rapat, "Sekarang semua orang jadi tahu kalau aku sudah punya gandengan."

Giliran Jungkook yang merengut tersinggung, "Kenapa? Hyung malu terpergok bersamaku?"

"Bukan kok, sama sekali bukan. Lagipula, siapa yang malu?" Taehyung beranjak menggaruk hidung yang ditempeli plester, mukanya memerah, "Aku cuma kuatir teman dan lawan-lawanku akan menggodamu kalau kalian berpapasan di tengah jalan, soalnya pacarku manis sekali."

Tiba-tiba dipuji begitu, Jungkook sontak kehilangan selera untuk berkilah. Sebagai gantinya, dicubitnya pipi tebal Taehyung dan menarik-narik kulit pemuda itu sambil menahan gemas. Senyum Jungkook mengembang setelah yang bersangkutan protes wajahnya melar.

"Aku serius, Guk-ah! Anak-anak dari Seongnam dan Daejeon terkenal sebagai perayu ulung! Memangnya aku tak boleh cemas? Menunggu anggukan darimu saja butuh waktu lebih dari setahun. Masa disuruh bersaing lagi?"

"Jangan berlebihan, hyung. Aku tidak suka meladeni gombalan orang."

"Kan siapa tahu."

Keduanya terdiam beberapa saat. Taehyung menyibak poni rambut dengan hidung kembang kempis. Meski lebih tua, perangai dan sifatnya yang enggan mengalah masih tak berubah.

"Kalau memang itu terjadi, aku akan bilang pada mereka," Jungkook mendekatkan wajahnya menghampiri Taehyung. Telapak tangan terjulur menangkup rahang, mengadu hidung keduanya, lalu berbisik perlahan dengan suara rendah, "...kalau aku sudah punya pacar paling tampan sedunia."

Tak diberi kesempatan menjawab, Taehyung sudah sibuk membalas pagutan bibir Jungkook yang meremas rambut tengkuknya sedikit bernapsu. Mengecup berulang kali, melampiaskan banyak hal yang ditahan sedari tadi. Bingung, panik, kuatir, dan lega berbaur menjadi satu di kepalanya. Tak setiap hari mereka mengumbar peluk mesra atau bertingkah seperti dunia milik berdua, namun kali ini Taehyung tak peduli. Entah bagaimana cuaca di langit kini, mobil siapa yang tengah mereka tempati, juga berapa kali ponselnya bergetar di sisi medali. Semuanya terlupakan oleh sebuah ciuman, harga yang pantas untuk membayar usahanya membawa lari Jungkook dari kerumunan yang mengajaknya berpesta selepas acara.

Jari-jari Taehyung merengkuh leher Jungkook, hendak meraup bibirnya lebih rakus sebelum sadar akan sesuatu. Matanya terbuka, lumatan terlepas dan tubuhnya sigap menjauh disertai napas terengah. Jungkook memandang keheranan, diusapnya bibir bawah Taehyung yang lembap dengan bingung, "Ada apa, hyung?"

Merah total, Taehyung tertawa kecut seperti orang bodoh—atau kenyataannya dia memang bodoh. Bola matanya berpendar bimbang, sementara lengannya menurunkan tangan Jungkook dari permukaan bibir. Digenggamnya erat-erat sembari berujar lirih.

"Aku belum sikat gigi dan berkumur selesai bertanding," tukasnya, cengir persegi terpampang segan, "Mulutku pasti bau sekali, ya?"

Terperangah tak percaya, Jungkook spontan terbahak-bahak sampai harus membekap muka agar suaranya tak terdengar keluar mobil. Taehyung mendengus mencapit hidungnya agar berhenti tertawa lalu mendekat untuk mengecup kening Jungkook yang masih terpingkal memegangi perut.

"Ya ampun, hyung. Kita sedang berciuman dan kau masih memikirkan hal seperti itu?" tampik Jungkook takjub. Pun tak menolak sewaktu dirinya dipeluk seraya beringsut menyandarkan kepala di dada Taehyung. Lengan melingkari pinggang, menikmati aroma keringat dan parfum maskulin samar yang menguar dari lekukan leher. Dicoleknya sekilas pucuk dagu Taehyung yang mengangkat salah satu alis dengan penasaran.

"Traktir aku makan malam."

"Kakakmu akan membunuhku kalau tahu adiknya tak pulang sore ini."

"Bisa kutelepon," balas Jungkook menjamin, "Lagipula aku harus memberi tanda terima kasih pada tiap senior di rapat minggu depan. Sepertinya mereka tak akan melepaskanku begitu saja tanpa bercerita, ditambah sogokan balas budi karena pacarku berhasil jadi juara."

"Donat?"

"Pizza, selusin."

"Baiklah, akan kubelikan," Taehyung merapatkan dekapan sembari membenamkan kepala di helaian rambut Jungkook yang wangi. Mulutnya terkatup membentuk garis, "Akan kusetir mobilnya ke rumah senior Hoseok, lalu kita pulang naik taksi. Bilang pada kakakmu supaya tak melemparku pakai sepatu."

"Mau menginap tidak?"

"Dengan resiko dimutilasi?"

Jungkook tertawa lebih keras, membiarkan Taehyung mengeluarkan semua umpatan tentang kelakuan kakaknya yang tak pernah berlaku cukup ramah pada siapapun yang mengencani adiknya. Jungkook tak menyela apalagi membantah, hanya terkekeh maklum sembari menyusuri permukaan perban di selusur pergelangan dengan lembut. Diamatinya Taehyung dari bawah dan merutuk pelan karena pemuda itu terlihat begitu tampan.

"Selamat atas pertandingannya, hyung," bisik Jungkook, tenggelam diantara kerah seragam, "Aku sayang padamu."

"Seberapa sayang?"

"Sayang sekali."

"Lebih dari kentang goreng dan bakpau babi?"

Jungkook mencibir sengit dan Taehyung balas mengecup keningnya sekali lagi.

.

.


.

.