BTS – Big Hit Entertainment

Penulis tidak mengklaim apapun selain plot cerita

AU. Model Kim Taehyung, bad mood berat dan butuh sesuatu yang sanggup menenangkan hatinya dalam sekejap. Bukan gula-gula, bukan teman wanita. Hanya melaju setengah jam memakai mobilnya ke sebuah tempat di tengah kota.

.

.


.

.

Tak ada hujan tak ada angin apalagi badai, tahu-tahu pemuda itu sudah tiba di depan sebuah gerbang. Turun dari sedan parlente, Taehyung memasukkan kedua tangan ke saku jins trendinya dan membusung congkak. Alisnya berkerut menyatu sementara dahinya tertekuk tujuh. Bibir tertarik turun, hidung mendengus sebal. Beberapa remaja mundur teratur atau menepi sukarela saat tungkai panjangnya meniti jalan masuk melewati plakat nama institut. Logo bola sepak tercetak jelas di dekat ukiran emas, simbol jurusan khusus kategori olahraga. Taehyung terus melangkah, melewati bagian administrasi, mengacuhkan tiap lirikan dan bisik-bisik tiada henti, melaju tanpa menoleh kemanapun hingga berhenti di sebuah lorong berujung buntu. Sudut matanya menangkap sekelompok anak SMA berseragam training yang baru keluar dari sebuah ruangan di sudut kiri dan lipatan kening Taehyung reflek mengkerut. Masih minggu pertama di musim gugur dan angin berhembus cukup dingin, namun kepala pemuda itu nampak berasap sampai ubun-ubunnya nyaris terbakar.

Oke, ini berlebihan. Tapi Taehyung memang sedang kesal.

Tidak, dia tidak sedang mengincar, mengintai, apalagi menghunus dendam pada anak-anak SMA itu. Taehyung tak sudi buang-buang tenaga untuk mengintimidasi sejumlah bocah ingusan yang hanya terluka di pergelangan kaki, lalu beralasan cedera dan sengaja kabur ke ruangan tersebut demi meminta sugesti. Dia punya banyak, banyaaak sekali urusan yang lebih penting daripada mengamati langganan konsultasi hilir mudik keluar masuk. Sudah biasa, teramat sering sampai rasanya bosan. Bau obat terapi pun sudah memantul tak manjur, terjegal benang kusut di benak Taehyung.

Toleh kanan toleh kiri, dihampirinya sebuah bangku panjang tepat berhadapan dengan ruang berdinding pastel itu, menimbang sejenak, kemudian memutuskan untuk bersila di atasnya. Sebelah tangan menumpu paha, sebelah lagi menopang dagu. Persis replika patung anjing penunggu stasiun, bedanya mungkin yang ini berkaki dua dan tampan luar biasa.

Guru dan sejumlah pelatih yang lewat di depannya seperti kelebat buram di mata Taehyung. Bukan akibat rabun atau lupa mengenakan kacamata, tapi dia sedang menajamkan pandangan pada sosok yang tengah memeriksa tungkai pasiennya di seberang sana. Pemuda bertubuh tegap dengan mata sejernih sumber air, terbungkus jaket olahraga dan tampak begitu serius mendengarkan keluh kesah seorang remaja berkepala plontos—mungkin anak baru yang bermasalah dengan pola latihan atau sejenisnya. Sosok itu mengangguk menanggapi, sesekali mengecek tumit pasiennya yang agak mengerang, lalu tergelak sambil menjamin bila kasusnya hanya terkilir biasa. Gigi depan terpampang besar-besar saat tertawa, raut lucu yang mempesona. Biarpun bukan ditujukan untuknya, Taehyung tetap menikmati gestur tersebut tanpa membantah.

Pacarnya, Jeon Jungkook. Fisioterapis sebuah sekolah. Lebih indah dari mawar merah, lebih manis dibanding sorbet mewah. Sesama alumni akademi sepakbola yang memilih jalan berbeda usai lulus dua tahun setelahnya. Yang satu setia mengabdi pada institusi, satu lagi mengalihkan diri pada panggung gemerlap berhias kilau kamera dengan modal perawakan mumpuni. Jungkook tetap sama, rambut hitam jelaga berpotongan pangkas dalam, sementara Taehyung memilih merah darah karena tak menyukai warna legam. Jungkook tumbuh besar dengan perawakan gahar dan lengan terbentuk kekar, kontras dengan Taehyung yang semampai tanpa banyak gumpalan otot maupun lekuk aduhai. Persetan tak dianggap dominan. Dalihnya, kejantanan tak bisa dinilai dari ukuran badan.

Mengalihkan perhatian dari pasiennya ke buku catatan, Jungkook tak bisa menahan matanya untuk berpendar keluar jendela. Mafela tebal warna putih dipadu kaus leher tinggi dan celana panjang menjadikan pemuda yang sedang bersemedi di bangku depan itu terlihat begitu mencolok sampai tak bisa diabaikan. Sepengetahuan Jungkook, Taehyung tak pernah bisa diam terlalu lama jika datang ke akademi. Entah itu menyusuri selasar mengamati junior-juniornya, sibuk menelusuri ponsel sembari menyesap minuman di kantin, atau yang seringkali terjadi—berseru ribut menyuruh Jungkook segera menyelesaikan pekerjaan demi berangkat kencan. Kadang Jungkook ingin mengusir pemuda itu agar tak memancing keributan, yang disahut jumawa oleh Taehyung berdasar pedoman bila para alumni bebas keluar masuk. Cukup menunjukkan bekas kartu pelajar seraya memindai sidik jari, pemiliknya bisa berkeliling dengan leluasa layaknya seorang siswa.

Namun berbeda dengan biasanya, kali ini Taehyung hanya memandang tanpa bersuara, pun bergeming meski banyak orang lewat di depan matanya.

Jungkook berkedik acuh, mencoba kembali serius menanggapi pasien sembari melontarkan saran yang perlu dilakukan. Toh meski berusaha tak terusik, batinnya tetap bertanya-tanya mengapa Taehyung tiba-tiba berada di sana. Tak ada janji makan di luar atau permintaan bertemu selesai jam praktek. Taehyung juga tidak menghubunginya sebelum berkunjung dan Jungkook sudah berkali-kali memberitahu bahwa urusan asmara tak boleh dibawa ke ranah pekerjaan. Jadi karena apa?

Hampir dua puluh menit berlalu dan Taehyung masih belum beranjak dari tempatnya, pun tak bereaksi meski Jungkook berjalan keluar ruangan untuk mengantar pasien, tak merespon saat yang bersangkutan mengucapkan selamat jalan, juga tetap terpaku walau Jungkook sengaja melambaikan tangan agak lama.

Tiga gestur terlaksana secara wajar tanpa gerutuan Taehyung, dan kejadian langka tersebut memaksa Jungkook mengerenyit bingung. Tumben. Pacarnya itu kenapa sih?

Diperhatikannya Taehyung sambil berdiri keheranan di kisi pintu, memilih tak segera masuk ruangan karena penasaran. Kepala Jungkook miring ke kanan, mencoba menebak meski tingkahnya mengundang tatap heran dari sejumlah siswa yang berlalu lalang. Bagaimana tidak? Seorang terapis dan sesosok tamu nyentrik sedang bertatap-tatapan tanpa suara. Pemandangan unik yang tak biasa, namun tidak ada yang cukup berani untuk menyela.

Tergelitik rasa ingin tahu, Jungkook akhirnya menyerah.

"Hyung?"

Entah volume suaranya yang terlalu pelan atau lawan bicaranya yang pura-pura tuli, sapaan tersebut gagal menggoyahkan posisi Taehyung yang hanya berkedip polos, menatap lurus, berkedip sekilas, kemudian mengulang gerakan pertama. Terus berulang.

"Hyung!" panggil Jungkook lagi, lebih keras, "TAETAE-HYUNG!"

Hening.

Gemas, Jungkook memutuskan meninggalkan posnya dan turun melintasi taman mini menuju petak dimana Taehyung berdiam. Sepasang lengannya terjulur meraih pundak, tercenung memeriksa kondisi, memastikan tak ada bekas terbentur atau memar di pelipis sebagai sinyal hantaman benda tumpul, kemudian beralih memegang kedua pipi pemuda itu. Hati-hati.

Dipaksanya menengadah supaya pandangan mereka bertemu. Dagu Taehyung yang tadinya tertopang punggung tangan sontak terlepas dari tumpuan, lengan lainnya ikut tergolek di permukaan bangku. Mata tajamnya mengerjap sesaat. Satu, dua, tiga kali. Sukses membuat Jungkook berdecak khawatir, "KIM TAEHYUNG!"

Alih-alih menjawab, Taehyung justru menyunggingkan sudut bibirnya ke atas dan mendadak tersenyum.

"Hyung baik-baik saja?" tanya Jungkook khawatir, disibaknya anak rambut pemuda itu seraya meraba kening, lalu turun menyeka leher, "Jangan-jangan demam? Tapi tidak panas kok."

Telapak tangannya menyentuh tengkuk Taehyung, memastikan tak ada yang salah. Bibirnya mengerucut mendapati segalanya masih dalam kondisi normal termasuk suhu badan, namun seringai Taehyung belum juga hilang. Baru setelah pegangan Jungkook merenggang longgar dan pemiliknya mengambil sedikit jarak, Taehyung beringsut dari posisi semula. Kaki panjangnya diluruskan sembari menggeliat disertai erangan sebelum akhirnya menegakkan tubuh menjajari Jungkook. Sorot jahilnya kembali berkilat.

Membeku tak mengerti, Jungkook hanya mampu tercenung sewaktu Taehyung melepas kain tebalnya untuk dililitkan melingkari leher Jungkook. Kashmir putih nan lembut dan hangat menyelimuti pemuda itu dari tulang bahu hingga telinga, tapi pertanyaan tentang sikap tak wajar Taehyung masih membuatnya melempar tatap curiga. Apalagi setelahnya Taehyung hanya nyengir kuda dan berbalik pergi tanpa permisi.

Seenak jidat.

"Tunggu! Hyung! Oi! Dengarkan aku!" seru Jungkook nyaring, sigap mengejar serta menarik sebelah lengan pemuda itu sekencangnya, "KUBILANG TUNGGU!"

Terseret, yang dipanggil malah melongo tanpa dosa, "Ya?"

"Kupukul muka bodohmu itu," tepis Jungkook sebal, "Jangan seenaknya kabur begitu dong! Jawab dulu kenapa hyung bersikap aneh sejak tadi."

"Aneh?" bola mata Taehyung bergeser lamban seperti sedang mencerna, "Aaa, maksudnya kenapa aku duduk di depan ruanganmu?"

Jungkook mengiyakan.

"Apa aku mengganggu?"

"Bukan itu masalahnya!" bentak Jungkook tak sabar, ingin menjambak rambut merah itu agar jera, "Biasanya hyung tak ambil pusing menyerobot masuk, menyapaku, lalu menunggu di kantin atau halaman. Tapi yang barusan tidak. Hyung sama sekali tidak bicara dan tidak merespon. Hampir saja kuadukan ke bagian keamanan karena mirip gejala kerasukan."

Mengamati perubahan air muka pacarnya dengan tertarik, Taehyung balas terbahak. Rendah dan renyah, persis tawa yang muncul setiap Jungkook mengucapkan sesuatu yang menurutnya lucu.

"Bukan apa-apa, hanya ingin mendinginkan kepala," selorohnya, lugas, "Model magang yang dikenalkan agensiku berlaku menyebalkan di pemotretan tadi dan aku tak mau pulang marah-marah."

"Mendinginkan kepala—dengan datang ke akademi sepakbola?" selidik Jungkook tak paham. Namun di luar dugaan, Taehyung mengangguk seolah kalimatnya adalah pernyataan terbaik sejagat raya. Telapak tangannya yang besar mendarat di bahu Jungkook dan pucuk hidungnya menusuk pipi tembam pemuda itu dengan sayang.

"Emosiku reda begitu melihatmu," bisiknya, terdengar tenang bercampur lega, "Balik dulu ya, nanti kujemput seperti biasa."

Sebuah kecupan tersemat di bibir Jungkook dan pelakunya pun berjalan pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan sang kekasih yang menghela napas panjang di tengah koridor, jari meraba bibir dengan senyum tersungging pasrah. Lengan lainnya menggerut mafela yang dilingkarkan Taehyung sejenak tadi. Tak senyaman dekapan, tapi cukup hangat sebagai pengganti pelukan.

Panggilan formal di sisi kiri dan kanannya membuat Jungkook berpaling dan menemukan tiga orang siswa mengitarinya dengan tatap penasaran.

"Yang barusan itu siapa, hyung?" salah satunya menuding lorong tempat Taehyung berjalan keluar, "Pasien terapi?"

"Ah, bukan, dia..." gumam Jungkook, tertawa kecil, "Aromaterapiku."

.

.


.

.