.
.
Terbiasa begadang, Jungkook tak benar-benar tahu apa yang membuatnya merasa sangat lelah serta luar biasa mengantuk hari itu. Padahal jam praktek yang panjang dan langsung disambung dengan shift malam di rumah sakit bukan hal baru untuk Jungkook. Sebagai terapis yang terkenal super aktif, dia terbiasa menerima pasien dengan kondisi prima dan tenaga meluap-luap. Asupan susu pisang favoritnya pun tak pernah berhenti, pengganti doping medis sekaligus cadangan gula praktis yang menyehatkan.
Entahlah, mungkin staminanya sedang menurun atau hanya terlalu capek sampai nyaris terantuk beberapa kali. Lagipula kalau dipikir-pikir, mengurusi rombongan atlet yang melakukan cek-up rutin sejak siang tadi juga bukan tugas ringan kendati dikerjakan bersama Jimin. Begitu sibuknya sampai-sampai dia tak sadar bahwa tak ada satupun pesan atau telepon dari Taehyung. Ponselnya masih tersimpan di saku jas, sunyi dari denting dan panggilan. Jungkook melengos maklum, bisa saja Taehyung langsung tertidur sepulang dari pemotretan. Terpapar kamera sambil berpose berjam-jam juga bukan pekerjaan gampang, menurutnya. Toh Jungkook tidak menuntut ditemani lewat pesan pendek atau diteror dengan posesif tiap menjalani shift malam.
Jam setengah sebelas, Jimin muncul dari balik pintu ruangan seraya terbahak memergoki kondisi juniornya yang mengenaskan. Senior baik hat itu berjingkat-jingkat menenteng nampan berisi susu coklat hangat dan tiga potong pai apel. Jungkook sempat menolak karena itu jatah ransum jaga Jimin, tapi yang bersangkutan malah tertawa dan berkata kalau pacarnya—si dokter bedah nyentrik yang gemar mondar-mandir membawa kepala tengkorak mainan itu, mampir sambil menjinjing sekotak besar pai untuk dibagi-bagi. Sewaktu ditanya kenapa belum pulang meski sudah larut malam, Jungkook cuma berkedik pasrah.
"Sedang tak ingin pulang, hyung," tambahnya. Dan meski ditertawakan lagi, Jimin tak menanyainya lebih jauh dan cekatan mengubah topik pembicaraan. Kantuk Jungkook sedikit mereda karena ditemani makan dan ngobrol.
Napasnya berhembus lega ketika jadwal shift berakhir. Dokter Min sudah bersiaga di depan pintu ruangan, membawa sebatang cokelat yang disodorkan padanya seraya tersenyum samar, lalu bergegas pergi usai menggandeng Jimin yang bersenandung riang. Jungkook pun beringsut menuju mejanya untuk bersiap-siap pulang, suasana semakin hening dan jika sudah dinaungi sepi, maka kantuk serta lelahnya otomatis kembali lagi. Lidahnya bergulir di dalam mulut dengan gamang, ada dorongan mendesak untuk bermalam saja di rumah sakit dan tidur di ranjang pasien, namun belum sempat Jungkook menyanggupi pertimbangannya sendiri, ponsel di saku mendadak bergetar ribut. Dengan pandangan setengah tertutup, pria berambut gelap itu menggeser layar ke atas dan mendekatkan ponsel ke telinga sambil menguap tak sungkan.
"Jam jaganya sudah selesai?"
Sudut-sudut bibir Jungkook reflek tertarik ke atas saat mendengar suara yang ditunggunya sejak tadi. Badannya dijatuhkan ke kursi kerja, meniup poni sebal sambil menjawab penuh nada rendah.
"Baru saja, hyung. Aku mengantuk sekali."
Jungkook bisa mendengar lelakinya terkekeh di seberang, dan itu membuatnya tersenyum makin lebar.
"Sudah mau pulang? Kujemput ya?"
"Lho? Memangnya hyung sedang di luar? Kenapa tidak langsung ke rumah saja? Capek kan?"
"Tidak juga, kamu pasti lebih capek. Tunggu di sana, sebentar lagi aku sampai."
Sambungan diputus. Jungkook melorot di kursinya, menguap lagi, hendak beranjak ketika pesan Taehyung muncul di pemberitahuan.
Sepuluh menit, Jungkook-ah. Jangan tidur dulu.
Mengangguk meski tak mungkin dilihat, Jungkook beringsut meraih tas serta berganti luaran. Jas praktek tersampir di lengan, tas tergamit di ketiak, lalu buru-buru menyeret langkah memutar lewat lorong samping agar tak menabrak perawat yang hilir mudik membawa infus dan brankar.
Taehyung benar-benar muncul sepuluh menit kemudian, membukakan pintu dan menyetir sangat halus, seolah kuatir akan mengusik kekasihnya yang tergolek tak berdaya di sandaran penumpang. Buku jari Taehyung terulur ke samping selagi lengan lainnya mengendalikan kemudi, menyentuh pipi Jungkook dengan hati-hati dan membuat pria itu menoleh ke arahnya dengan tatap lemah.
"Hyung..."
"Hmmm?"
"Aku boleh menginap di rumahmu?"
"Pertanyaan macam apa itu?" Taehyung tergelak memamerkan tawa perseginya yang menawan, "Kau bahkan boleh keluar-masuk sesukamu meski aku tak ada di rumah, Jungkook-ah. Lagipula kakakku baru akan pulang minggu depan, cuma ada Yeontan, Chopa, dan pelayan. Walau aku yakin bocah-bocah itu juga sudah mendengkur di kandang masing-masing."
"Besok aku libur, akan kuajak main."
Taehyung mengangguk-angguk, mengintai kaca spion lalu menyalakan lampu sein, "Kalau begitu kita batal ke apartemenmu ya? Langsung putar ke rumahku?"
"Mmm, mm."
Persis seperti yang dikatakan Taehyung, rumah besar itu sungguh lengang dan sunyi. Hanya ada satu-dua pelayan yang merapikan gorden atau memasukkan barang ke dapur, Jungkook tak cukup fokus memperhatikan akibat terlalu mengantuk. Taehyung sampai harus memegangi pinggangnya supaya tidak tersandung sewaktu mereka meniti tangga ke lantai dua. Keputusannya menginap di rumah keluarga Kim sebenarnya cukup masuk akal karena selain jarak yang lebih dekat dengan rumah sakit, kasur Taehyung juga sangat, sangat, sangat empuk. Tanpa basa-basi apalagi berucap permisi, Jungkook sigap melempar tubuhnya ke tempat tidur berukuran tiga kali miliknya tersebut. Kaki selonjor, wajah dibenamkan ke dalam bantal dan langsung meringkuk memeluk guling besar yang menanti di sebelah.
Melihat pemandangan indah itu, Taehyung menggeleng-gelengkan kepala gemas lalu mendekati kekasihnya yang kian membulat diantara gundukan guling. Menumpu diri di satu lengan, disibaknya anak rambut Jungkook untuk mendaratkan kecupan di kening pria itu, "Tidak mandi dulu?"
"Uh..."
"Kamu sendiri yang bilang harus mandi sebelum tidur."
Yang disindir kini mengerang protes dan menggerutu tak jelas dari balik bantal. Taehyung hanya mampu tersenyum lembut ketika Jungkook menegakkan badan dengan malas dan justru menyandarkan kepalanya di perut Taehyung.
"Mandikan," gumamnya, meremas kemeja hitam yang dikenakan sang tuan rumah.
Tak bisa memilih antara heran atau malah senang mendapati Jungkook yang mendadak manja, Taehyung menyelipkan lengan di bawah ketiak Jungkook lalu perlahan menariknya agar berdiri. Tangan Jungkook ditaruh melingkari leher selagi lengan lain mendekap pinggul. Kedua tungkai Jungkook sontak mengait otomatis di pinggang Taehyung saat pria itu menggendongnya menjauh dari tempat tidur.
"Berat?"
"Yep," cengir Taehyung jahil, "Tapi cintaku lebih berat lagi."
"Cheesy."
Taehyung mendudukkan kekasihnya di permukaan wastafel, bersisian dengan deret botol sabun, krim cukur, dan sederet parfum mewah. Jungkook duduk diam selagi menunggu bathtub terisi dengan air panas, kakinya bergerak-gerak menggelantung beberapa senti dari lantai, jari mengetuk-ketuk sisi cermin besar di sebelah. Taehyung mendekat lagi usai memilih lipatan kain handuk warna biru muda, lalu mulai melucuti pakaian Jungkook yang reflek menggeliat begitu celana dalamnya ditarik lepas, bergidik sebab pantat telanjangnya bersentuhan langsung dengan marmer yang dingin. Menatap lekat, Taehyung lantas merapat memeluk pinggul sintalnya serta tersenyum penuh arti. Jungkook balas memegangi bahu pria itu dan merengut lucu, "Apa?"
"Tidak..." Taehyung berucap singkat, "Cuma sedang berpikir, pacarku ternyata manis sekali ya?"
Komentarnya disambut jentikan di dagu. Tapi Taehyung hanya meringis, memiringkan kepalanya sejenak lalu memagut bibir Jungkook dengan sayang. Dia senang jika Jungkook bersikap manja padanya seperti ini, imut dan terlalu menggemaskan, tidak terlihat seperti pria dewasa yang selalu serius meladeni pasiennya dengan rahang kokoh dan tatap tajam yang mengintimidasi.
Dibopongnya Jungkook ke bathtub dan dengan hati-hati mengatur posisi duduk dalam genangan air yang sedikit mengeluarkan asap. Jungkook spontan mengerang tertahan begitu kulitnya tersentuh air panas yang sudah dicampur ekstrak lavender, ketegangan ototnya seolah mengendur dan rasa lelahnya memudar bersama penat yang lenyap entah kemana. Rileks, Jungkook menengadah memandang langit-langit, menyangga kepalanya di sisi bak, menikmati aroma bunga yang menguar memenuhi udara.
"Lho? Jungkook-ah?" sergah Taehyung yang datang membawa handuk beserta setelan piyama bersih, mengernyit karena memergoki Jungkook tak bergerak dari posisi awal, "Sayang? Hei, jangan tidur di sini."
"Tidak kok," jawab Jungkook lirih, patuh saat Taehyung membantunya berdiri dan menyampirkan handuk ke sekeliling pinggul. Pria itu bahkan membantunya memasang piyama bermotif kepala beruang yang sedikit longgar di bagian pundak, lantas menggendong Jungkook menuju kamarnya bak anak koala.
Begitu Jungkook sudah mengambil posisi super nyaman di hamparan selimut, Taehyung beralih mengambil remote dan merendahkan frekuensi penerangan di kamar tersebut, sekaligus mengatur suhu udara karena baik dirinya maupun Jungkook kurang menyukai ruangan yang terlalu dingin.
"Hyung," panggil Jungkook pelan ketika menyadari sisi kanannya tak berpenghuni, "Di sini saja."
"Hm?"
"Sini..." Jungkook berbisik lagi, bergeming setengah tengkurap dengan mata tertutup sempurna. Sebenarnya Taehyung ingin membiarkan dirinya menguasai kamar tersebut sendiri karena toh—dia tidak begitu mengantuk dan berniat mandi setelahnya, lalu tidur di sofa supaya tidak mengganggu. Tapi ajakan dengan nada imut dan penuh tuntutan itu sangat sukar untuk ditolak. Jadi Taehyung beranjak mengunci pintu, menanggalkan kemejanya serta menyusul Jungkook naik ke tempat tidur. Ditumpuknya dua bantal penyangga kepala, melebarkan selimut, kemudian berbaring miring dengan lengan mendarat di pinggang ramping Jungkook. Ditariknya pria itu mendekat hingga yang bersangkutan kian beringsut, menyusupkan muka di dadanya, kemudian langsung terlelap begitu Taehyung mengecup pipi dan pelipisnya.
"Selamat tidur, Jungkook-ah."
.
.
.
