Itachi hanya memasang poker face andalannya sembari mendengarkan Sasuke memberi alamat rumah sakit. Dan tepat saat Sasuke menyelesaikan telfonnya, saat itu juga Itachi mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan yang sayangnya tidak di gubris sedikitpun oleh Sasuke. Membuat wajah Itachi menatap tak percaya sambil memikirkan jawaban apa yang akan diberikannya jika orang tua gadis itu—

"Siapa namanya, Sasuke?"

"Hinata." jawab Sasuke datar.

argh, apapun yang akan dikatakannya, dia berharap masalah ini tidak berlanjut ke meja hijau.

.

.

"Be Mine"

.

... ~o0o~...

.

Disclaimer© Masashi Kishimoto

This story is belongs to me

.

... ~o0o~...

.

Chapter 2

.

Brak!

Suara debrakan pintu ruang kerja Itachi membuatnya dan sang adik menatap ke arah sumber suara. Seorang pria paruh baya berambut panjang masuk ke dalam ruangan dengan terengah-engah. Itachi dan Sasuke menatap pria itu bersamaan, lalu Itachi segera menghampirinya dan membantunya untuk duduk. Itachi sudah menduga siapa pria itu.

"Ada apa dengan putri saya, Dok? Apa dia baik baik saja?" Ucapnya masih dengan nafas tersengal setelah berlari disepanjang koridor.

Itachi berusaha menenangkan pria didepannya dengan menyuguhkan segelas air mineral. "Untungnya putri Anda tidak mengalami kejadian serius di kepala, Tuan."

"Lalu, bagaimana dengan kecelakaan yang menimpanya? Kudengar Anda lah yang bertanggung jawab unuk memberitahukannya," pria yang diketahui bernama Hizashi itu memasang wajah khawatir sembari melihat putri sulungnya terbaring lemah diatas kasur rumah sakit.

"Erm, untuk itu, saya mendapat kesaksian dari Sasuke," Itachi menunjuk ke arah adik bungsunya yang juga tengah menyaksikan mereka, "dia bilang bahwa putri Anda—maksudku, Hinata, tidak berhati-hati saat menyebrang jalan, Tuan. Sehingga kecelakaan itu tak bisa dihindari."

Sekali lagi, Hizashi memandang ke arah Hinata sendu, "Apa Anda tau siapa yang menabraknya?"

Seketika Itachi merasa amat sangat bersalah mengingat adiknya sendirilah yang membuat Hinata terbujur lemah. Ditambah lagi dengan dirinya yang harus berbohong demi menutupi kesalahan Sasuke. "Erm, untuk itu... Maaf, Tuan. Tapi saya tidak tahu siapa yang menabraknya. Adik saya sendiri yang membawa beliau ke sini."

Hizashi menatap heran, "Adik?"

"Ah, maaf, tapi dia adalah adik saya, Sasuke," ucap Itachi memperkenalkan kembali Sasuke yang kini telah berdiri dan membungkukkan badan.

"Saya yang membawanya kemari, Tuan," ucapnya sopan.

"Kalau begitu kau pasti melihat pelakunya, bukan? Apa kau melihat mobilnya? Berapa platnya? Bagaimana ciri mobilnya? Apa dia tidak berniat untuk bertanggung jawab sedikitpun?" seketika Hizashi menghujani Sasuke dengan berbagai pertanyaan. Dirinya kini sudah berdiri tegak layaknya hendak mengejar pelaku itu dan menghajarnya meminta tanggung jawab atas perbuatannya.

"Maafkan saya, Tuan. Tapi saya tidak begitu jelas melihat plat maupun ciri mobil pelaku. Kejadian itu berlangsung begitu cepat ditambah lagi dengan kerumunan yang menutupi pandangan saya. Tapi, jika ada informasi akan saya sampaikan segera."

Hizashi mendudukkan kembali dirinya dengan kasar. Helaan nafasnya menjadi bunyi satu-satunya diruangan hening itu. Perlahan, tangan kekarnya mulai memijit kening yang sudah keriput sebagai tanda bahwa dirinya tak lagi muda. Hatinya berkecamuk melihat putrinya tak kunjung sadarkan diri. "Bagaimana dengan biayanya? Bahkan aku sudah tidak bekerja lagi. Ya, Tuhan." batinnya.

"Nggh..."

Lenguhan pelan terdengar dan sukses membuat tiga pria didalamnya menoleh serentak. Hizashi segera mengahmpiri putrinya untuk melihat keadaannya lebih dekat.

"Kau sudah sadar, nak?" raut khawatir begitu kentara diwajah pria berambut panjang itu.

Hinata mengerjap beberapa kali berusaha menyesuaikan matanya dengan cahaya lampu yang menyilaukan. "Dimana aku? Tou-san? Apa yang terjadi?"

"Kau dirumah sakit, nak. Apa tubuhmu baik-baik saja? Apa ada bagian tubuhmu yang sakit?"

"Kurasa tid—ah!" tepat saat Hinata berusaha mendudukkan dirinya, entah kenapa kaki kanannya terasa begitu sakit hingga rasanya tak sanggup untuk digerakkan.

Buru-buru Itachi dan Sasuke menghampiri Hinata. "Kau tidak apa-apa?" Tanya Itachi khawatir.

"A-aku tidak tahu, tapi—rasanya kaki kananku sangat sakit untuk digerakkan," Hinata meringis kesakitan.

"Kau tunggu apa lagi dok?! Cepat periksa dia!" Hizashi berseru panik.

Secepat kilat Itachi mengambil beberapa peralatan kedokterannya dan memeriksa Hinata dengan penuh hati-hati. "Kurasa kita harus melakukan rontgen, Tuan."

"Lakukan apapun, tolong putriku, dokter!"

Dengan telaten Itachi mendorong kasur dimana Hinata terbaring dan membawanya ke sebuah ruangan yang memiliki alat untuk melakukan rontgen pada kakinya.

"Kumohon tunggu sebentar, Tuan. Biar saya yang memeriksanya," Ucap Itachi.

Sementara Itachi memeriksa keadaan Hinata, Hizashi maupun Sasuke sama sekali tak ada yang bersuara. Hizashi sibuk dengan pemikirannya sendiri, bagaimana dia harus membayar semua ini? Apa yang terjadi dengan kaki putri sulungnya? Siapa pelaku yang tidak bertanggung jawab itu? Argh! Hizashi meremas rambutnya frustasi. Sementara Sasuke hanya duduk diam tanpa berani mengeluarkan sepatah katapun.

Tak lama Itachi muncul dari dalam ruangan dan membawa kembali Hinata ke ruang kerjanya. Hizashi yang mengikuti mereka hanya bisa menggenggam erat kedua tangan putrinya yang dingin. Wajah cantik putrinya tampak pucat menahan sakit yang dirasakannya.

"Jadi..." Hiashi membuka percakapan tepat setelah mereka sampai ke ruangan sebelumnya, "apa yang terjadi pada kaki anakku, Dok?"

Itachi menghirup nafas dalam kemudian menghelanya pelan. Ditatapnya Sasuke dan Hiashi bergantian.

"Maaf, Tuan. Tapi, sepertinya putri anda mengalami patah tulang yang cukup serius dibagian tulang kering. Dan kemungkinan terburuknya—"

Baik Hiashi maupun Sasuke, keduanya tidak ada yang berbicara. Hening sesaat setelah Itachi menjeda perkataannya, kemudian,

"—putri anda bisa saja mengalami kelumpuhan."

"APA?!"

.

TBC~

.

HORA horaa~

*Oof*

Readers: "Baru juga muncul woe! Udah ngela nafas! Harusnya tuh kita yang lelah nungguin cerita lu, Thor! Udah gajelas, gapasti lagi!"

/author pengsan /plak

Ha'i ha'i~! Sebelumnya author minta maaf yang seeeeebesar-besarnya karna udah buat kalian nungguin cerita gaje nan laknad ini /huhuhu T.T

Yosh~! Akhirnya chapter 2 bisa author upload setelah berabad-abad bersarang di file lapuk milik author sendiri UwU

Kutauinimemangtidaksepertiyangkalianinginkan~! T.T maapkan author (2)/dilempar kejurang (3)

Mind to RnR?