PUISI UNTUK CINDERELLA
Chapter 2
Jeonghan mencoba menutup rapat-rapat kedua telinga ketika dua orang di hadapannya berdebat dan melibatkannya sebagai penonton. Ingin rasanya melerai dan menculatkan masing-masing kesalahan dua belah pihak namun Jeonghan masih membutuhkan pekerjaannya untuk bertahan hidup. Setelah terdengar sebuah hantaman pintu yang kasar, kini Jeonghan harus merelakan dirinya menjadi sasaran lain kemarahan.
"Apa yang kau lakukan disana? Kau seharusnya menyediakan kopi untukku!"
Jeonghan mengangguk, layaknya anjing dan bergegas ke pantry kantor untuk membuatkan segelas kopi, membawa sebungkus roti isi dan terpogoh-pogoh membawa kembali ke ruangan tadi. Wanita yang tadi memerintahkannya kini telah hilang tanpa tau kemana. Jeonghan tak punya pilihan lain selain mencari dengan berlari-lari kecil, menjaga keseimbangan gelas dan menjaganya untuk tetap hangat. Seperempat jam berlalu dan Jeonghan belum menemukannya hingga wanita itu keluar dari sebuah ruangan dengan dua orang mengikutinya sembari menyodorkan materi-materi penting.
"Nona Jung, ini kopimu," Jeonghan berusaha mensejajarkan langkahnya, tersenyum seolah mengatakan bahwa dia tidak lelah sama sekali.
Nona Jung mengambil gelas kopi. Belum sempat bibirnya menyentuh gelas, nona Jung mengembalikan gelasnya pada Jeonghan. "Sudah berapa lama kau bekerja dibawahku dan kau masih senang memberikan kopi dingin padaku? Apa kepalamu benar-benar tidak ada isinya hingga kau terus menjadi seorang pesuruh? Ganti kopi menjijikkan ini." Dan wanita itu melenggang masih dengan dua orang yang menyodorkan materi padanya.
Jeonghan memandangi kopi hitam di tangannya dengan wajah sendu yang kemudian berubah menjadi wajah 'persetan dengan semuanya'. Jeonghan melangkahkan kakinya dengan cepat menuju pantry dan menyedu kopi di dalam sebotol termos. Sepanjang perjalanan mencari si gembul Jung itu, Jeonghan mengocok kasar termos.
"Nona Jung!" panggil Jeonghan sepuluh langkah dari wanita itu. Jeonghan menyerahkan gelas kosong dan menuangkan kopi hangat dari termos. "Ini kopimu dan roti isi favoritmu."
Nona Jung menyeringai. "Kau pintar," ujarnya dan kembali melenggang pergi.
Jeonghan tersenyum lepas membanggakan dirinya sendiri pada dirinya sendiri, ironis. Nona Jung mengambil momen itu dengan meneriaki nama Jeonghan untuk segera mengikutinya kembali ke studio. Di studio yang Jeonghan lakukan adalah berkeliling menjajakan aksesoris tidak hanya untuk Nona Jung melainkan beberapa desainer lainnya, membawa beberapa kostum berat hingga membantu pada model mengenakan kostum mereka. Merapikan kembali kostum dan seluruh perlengkapan lainnya hingga pemotretan selesai. Setelah pemotretan selesai, Jeonghan harus ikut after party demi mengurus si gembul Jung, mengisi gelas kosongnya jika tak ada senior yang mengisi, menyodorkannya makanan serta menepuk-nepuk punggungnya ketika ia muntah. Jeonghan baru benar-benar bisa pulang setelah meletakkan Nona Jung di atas kasur dan menyelimutinya.
Jeonghan yakin semakin lama ia bekerja dibawah Nona Jung, berat badannya akan semakin turun drastis.
Dan pada malam itu, setelah meletakkan kunci mobil Nona Jung, Jeonghan memutuskan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik. Jeonghan mengakui keinginannya pada fashion sangat besar, namun jika harus bekerja seperti baby sitter untuk si gembul Jung maka itu adalah pilihan buruk. Ditambah, gaji yang di dapatnya tak bisa dikatakan cukup untuk kehidupan dan tanggungan lainnya. Dengan demikian ia membeli sebuah majalah berisi lowongan kerja dan tiket lotre. Sekotak susu pisang diseruput, Jeonghan membolak-balikkan halaman demi halaman dan hasilnya mudah di tebak; tak ada yang cocok. Jeonghan tidak bisa dikatakan cocok untuk pekerjaan labor dengan tubuh kurusnya. Ia juga tidak pintar untuk bekerja di bidang pengetahuan.
"Haaaah…" Jeonghan mengeluh panjang. Wajahnya mengadah menatap langit yang kelabu. Perlahan gerimis sendu berjatuhan menyerangnya tanpa aba-aba. "Aish!" Jeonghan buru-buru mengamankan majalahnya di dalam tas dan semua sudah terlambat untuk dirinya sendiri selamat dari guyuran hujan.
Semua mulai membasah; rambut, pakaian, tas dan sepatunya. Jeonghan kembali menghela demi seluruh nasib buruk yang diterimanya untuk hari ini, kemarin dan esok. Jalannya tertatih untuk melangkah, ia tak memiliki gairah untuk hidup sama sekali untuk saat ini. Entah mengapa, air gerimis seolah menyegarkannya untuk saat ini. Aroma menarik yang membuatnya mengambil napas begitu dalam dengan dada membusung. Tanpa ada perintah otak, Jeonghan berteriak. Kuat, kecang dan kemudian meredup di tengah gerimis sendu begitu saja.
Jeonghan tersenyum dalam teriakannya. Sejenak ia merasakan beban di kepalanya meringan tanpa alasan. Dan kembali, momen membanggakan itu direngut. Kini direngut oleh sebuah mobil yang melintas terlalu dekat dengan pinggiran jalan dan menyemprotkan genangan air pada Jeonghan. Sedetik, dua detik, tiga detik Jeonghan seolah sadar dan menanggalkan sepatunya begitu saja.
"YOU FUCKING ASSHOLE!"
Lagi, sedetik, dua detik, tiga detik. "ARGGGHHHH! SEPATUKUUU!"
