PUISI UNTUK CINDERELLA

Chapter 3

"Aku pulang," Jeonghan memasuki rumahnya dan mendengar suara langkah terburu Chaeni, sang adik.

Chaeni terkejut. "Oppa, kau.. basah?"

"Aku tidak memiliki uang untuk naik taksi dan sudah terlalu larut untuk bus. Kenapa kau belum tidur?"

"Aku baru saja ingin tidur namun aku mendengarkan suaramu. Kau baik-baik saja? Kau basah dan.. dimana sepatumu?"

Jeonghan mengeluh (lagi) jika harus mengingat dengan apa yang terjadi dengan kondisi sepatunya. "Aku kehilangannya di jalan," tanpa perintah, otaknya memutar reka ulang bagaimana ia dengan bodohnya melempar sebelah sepatunya pada sebuah mobil dan membiarkan sepatu itu mendarat tepat di atap mobil. Dengan ironis, Jeonghan berjalan kaki dibawah gerimis dengan hanya beralaskan kaos kaki murahan.

Chaeni hanya mengangguk dengan wajah seolah berkata 'apa kau bodoh?' yang tentu saja dibalas Jeonghan dengan wajah 'ya, aku bodoh, puas?'.

"Tidurlah, apa kau besok tidak memiliki kelas?"

Chaeni mengangguk. "Besok aku akan bertemu dengan Uhm Yuna. Kau ingat? Teman semasa sekolahku dulu."

"Ah, anak kaya itu? Bukankah dia pindah ke Autralia beberapa tahun lalu?"

"Oppa, jangan katakan padaku bahwa kau tidak ingat!"

Kepala Jeonghan memiring. "Apa?"

"Besok adalah reuni sekolah besar-besaran. Beberapa minggu yang lalu kau mengatakan akan pergi juga, karena itu Yuna dan aku sudah sepakat untuk kita bertiga pergi bersama.."

Mulut Jeonghan perlahan menganga selama penjelasan Chaeni. Menghindari omelan Chaeni yang beruntun, Jeonghan menyembunyikan diri di dalam kamar mandi. Ia membasuh diri sembari mengingat. Apa ia pernah berjanji demikian? Ah, yaa, ia baru saja ingat tentang janji itu bahwa ia akan menghadiri reuni besar sekolah yang meliputi sekitar 10 tahun angkatan. Ia tak mengerti seberapa gila orang yang membuat acara tersebut karena jika ia tidak salah ingat, acara reunian ini dilaksanakan disebuah ball room. Jeonghan menerima ajakan tersebut karena Chaeni memaksanya untuk ikut. Terlebih Jeonghan sudah meminta hari libur untuk tanggal yang sama (karena paksaan Chaeni tentunya).

Jeonghan memutuskan untuk ikut, toh, hanya datang menemani Chaeni tak akan merubah apapun. Ini tak seperti ia memiliki teman untuk dibagi cerita kehidupan atau apapun. Ia bahkan sudah cukup lupa dengan siapa saja yang berkecimpung di masa remajanya dulu.

Jeonghan keluar dari kamar mandi setelah selesai berpikir dan membersihkan diri. Tubuhnya singgah sejenak ke dapur untuk meminum susu malam favoritnya.

"Jeonghan,"

Sedikit terkejut, Jeonghan tak menyangka menemukan ibunya belum tidur.

"Chaeni sudah tidur?"

Jeonghan mengangguk ragu namun mendengar kesunyian rumah mereka, itu artinya Chaeni sudah benar-benar nyenyak di alam mimpi. "Bagaimana dengan ayah dan nenek? Apa mereka sudah tidur? Mengapa ibu belum—"

"Selamat malam, nak."

Hening.

Jeonghan baru mengangguk setelah sang ibu memutar langkahnya untuk pergi dari dapur. Jeonghan tak yakin apa yang terjadi namun sesuatu seperti seolah terjadi dan kenyataan baru berbicara ketika paginya, ayah menemukan sepucuk surat dari ibu yang mengatakan kepergian untuk selamanya dari keluarga mungil mereka.

Nenek yang tak mengerti apa-apa terus bertanya keberadaan ibu untuk menyuapinya makanan. Ayah terlalu terpukul mengetahui wanita pengisi hatinya pergi tanpa sebuah alasan. Satu tamparan seperti tiba lagi ketika Jeonghan menemukan selipan baru yang menyebutkan bahwa ibu terpaksa menjual rumah mereka tanpa persetujuan siapa pun. Rumah yang menjadi teman masa kecil nenek yang juga ikut bercerita dalam perkembangan ibu dan kehadiran keluarga mungil mereka. Rumah yang berulang kali direnovasi namun tetap memiliki stuktur sama agar nenek tidak bersusah payah mengingat posisi masing-masing ruangan. Rumah yang menjadi satu-satunya pusat pusaka terbaik untuk menampung kehangatan mereka.

Jeonghan melipat kembali surat itu dan membiarkan kepalanya berjalan jernih atau setidaknya membiarkan napasnya mengalir sempurna. Sesak. Ini semua sangat menyesakkan. Semua berlalu begitu cepat. Ia akui bahwa dirinya senang mengeluh untuk segala nasib buruk yang diterimanya namun apa yang diterimanya hari ini lebih dari nasib buruk, ini petaka. Sebuah petaka ketika ia mengolah dan mengetahui bahwa kemarin malam adalah salam perpisahan ibu yang terakhir untuknya.

Jeonghan butuh menangis namun air mata itu seolah kembali masuk ke dalam mata ketika suara Chaeni menggema memanggilnya.

"Oppa, apa kau melihat kemana ibu? Aku perlu meminta uang tambahan untuk pelunasan gaunku nanti malam, hehe."

Jeonghan segera mengeluarkan dompetnya. "Pakailah."

"Sungguh?! Woaaah, terimakasih!" dan Chaeni keluar dari rumah tanpa menyadari situasi. Sekilas Jeonghan dapat melihat Yuna yang menyambut adiknya penuh kehangatan setelah seperkian lama tak dipertemukan. Yuna menjemput Chaeni untuk mengambil gaun..

Nenek menarik ujung baju Jeonghan untuk menanyakan keberadaan putrinya namun ayah cepat tanggap, mengatakan pada nenek bahwa putrinya tak lagi ada di rumah ini. Bahwa putrinya pergi meninggalkan apa yang disebut sebagai keluarga. Dan ayah mengatakannya sembari memeluk nenek, penuh tangis.

Jeonghan ikut menangis begitu saja.

Tak hanya mereka yang kehilangan sesosok wanita yang dicintai, ia juga. Ia juga berhak menangis membiarkan rasa sakit itu mengiris pelan walau tak memudar.