PUISI UNTUK CINDERELLA

Chapter 4

"Kau harus menikah."

Kalimat Paman Kyeong terus mengiang-ngiang ditelinganya. Bunyinya tak lagi sama seperti suara mesin kasino, bunyinya seperti mesin rusak yang memekakkan telinga. Minho benci tapi ia harus lebih memahami suara itu untuk mendapatkan maksud yang lebih jelas. Mengapa harus menikah? Bukankah menikah adalah pilihan boros? Mulai dari acara pernikahan hingga yang lainnya. Minho hanya tidak habis pikir, menikah? Apa itu?

"Minho oppa!"

Minho tersentak sejenak dalam kemelut pikirannya. "Apa?" tanyanya kemudian.

"Aku minta pendapatmu tentang gaunku!"

"Ya, bagus." Ujarnya acuh dan sang penanya memberikan wajah jengkel pada Minho. "Yuna, menurutmu apa itu menikah?"

Uhm Yuna menjatuhkan rahangnya ketika seorang Choi Minho bertanya hal konyol barusan. Bukan, pernikahan bukan hal konyol bagi Yuna pribadi namun untuk Minho? Huh, sudah pasti sangat konyol.

"Kau baik-baik saja?" Yuna memastikan kakak sepupunya dalam kondisi sadar ketika bertanya karena ia tak mau membawa orang mabuk ke acara reuni sekolah mereka walau Yuna sendirilah yang memaksa Minho untuk mengangkat pantatnya dari kamar.

"Ya, aku baik-baik saja sampai Paman Kyeong menyuruhku untuk menikah!" protes Minho.

"Kau bisa menolak tawaran—aah.." Yuna baru mengangguk mengerti, paham situasi tanpa penjelasan Minho, ditambah ia tau siapa seorang Choi Minho yang selalu berbicara di level lain jika sudah tentang satu hal, yaitu: UANG.

"Lalu apa menurutmu menikah itu?"

Yuna menyeringit. "Kau ingin aku membantumu?"

Minho menatap gadis 22 tahun itu skeptis. "Membantu? Kau?"

"Setidaknya aku tidak meminta uang dari tiap bantuan yang aku berikan."

"Baiklah, bantu aku." Murahan.

Yuna bertingkah seperti seorang ahli dengan kaki menyilang dan tangan berpangku manis di depan dada. "Kau sadar satu hal? Kau hanya disuruh menikah oleh Paman Kyeong. Kau tidak diperintahkan untuk jatuh cinta, oppa.."

Minho menjentikkan jari. "Kau benar!"

"Pertama kau harus mencari seseorang yang membencimu agar seluruh urusan berjalan lebih gampang. Kedua adalah kau harus mencari seseorang yang siap menikah denganmu dengan bayaran sesuai kesepakatan karena di dunia ini tidak ada yang gratis. Ketiga, pastikan orang tersebut tidak hamil. Terakhir, pastikan orang tersebut memiliki wajah yang pantas untuk disandingkan dengan kasta keluarga kita.. HAHA,"

Minho merasa Yuna begitu jenius setelah memberi 4 syarat 'calon-pengantinnya' tersebut dan tertawa layaknya antagonis di beberapa drama India. Suara tawa Yuna meredam ketika mobil mereka sampai di depan rumah Chaeni untuk menjemput kakak-adik Yoon.

Yuna duduk berpindah posisi agar dapat bersampingan dengan Chaeni dan Jeonghan terpaksa harus duduk di samping pria yang bahkan tak ia kenal. Yuna memperkenalkan Minho yang merupakan senior tertua pada reuni ini pada kakak-adik Yoon mengingat Minho telah lulus terlebih dahulu sebelum Chaeni maupun Jeonghan masuk ke sekolah yang sama.

Perjalanan mereka hanya diisi dengan gelak canda Yuna dan Chaeni yang mengingat nama-nama teman mereka satu per satu serta kejadian-kejadian penting lainnya. Jeonghan masih diam, sejauh ini berhasil menghalau pikiran Chaeni tentang ibu. Minho tentunya diam keras untuk memikirkan kira-kira siapa yang di reunian nantinya memiliki ciri-ciri yang pas sesuai dengan yang disebutkan oleh Yuna?

Tuan Kang menghentikan mobil setelah memasuki lahan parkir bangunan mewah megah yang akan menjadi panggung malam mereka. Satu per satu dari mereka mulai turun. Girang kebahagian Yuna tidak bisa dipungkiri ketika menghirup dalam-dalam udara malam berselimut lembabnya cuaca. Mata Yuna mengiring hingga alisnya mengerut menemui noda membekas di atas mobil. Yuna memang perfectionist.

"Tuan Kang, ada apa dengan atap mobil ini?"

"Oh, astaga. Maafkan saya nona, saya lupa membersihkan noda kemarin ketika seorang pejalan kaki tiba-tiba melemparkan sepatunya."

"Eo? Pejalan kaki melemparkan sepatunya?" Yuna bergumam heran.

"Pejalan kaki melemparkan sepatunya?" Jeonghan mendengar, berpikir dan kemudian otaknya langsung bekerja memutarkan reka adegan memalukan. Orang gila mana yang akan melemparkan sepatunya kepada mobil? Ya, dia, seorang Yoon Jeonghan.

Jeonghan menatap Minho sinis sedangkan pria yang ditatap hanya tak peduli, menunggu Yuna selesai berbincang dengan Tuan Kang tentang kondisi mobil mereka. Selang beberapa menit perbincangan selesai, Yuna segera menarik tangan Chaeni untuk berlari-lari kecil memasuki hall.

"Tunggu," ujar Jeonghan membuat Minho berhenti. Minho berbalik dan memastikan bahwa Jeonghan tengah memerintahkannya untuk berhenti, menjeda langkah. "Kau berhutang maaf padaku,"

"Apa?" Minho tidak tuli tapi apa ia tidak salah dengar? Maaf? Huh? Siapa yang berhutang maaf? Minho? Seorang Choi Minho? HAHA. Lelaki ini pasti mabuk.

"Ya, kau berhutang maaf padaku." Jeonghan mengadahkan tangan kirinya. "Mana sepatuku?"

"Sepatu..?" Minho perlu mempertipis tinjauan jarak mereka dan menyisakan satu kaki saja. "Sepatu?" Tanya Minho sekali lagi dan Jeonghan mengangguk mantap.

"Benar. S.E.P.A.T.U." Jeonghan mengeja dengan sarkasme.

Minho melengos. "Hah, kau pikir kau seorang Cinderella meminta sepatu dari seorang pangeran?"

"Lalu kau pikir kau seorang pangeran? Haa.. dunia ini memang memiliki standar murahan."

Keduanya saling tatap tajam. Minho sempurna, ia tidak akan pernah merasa bersalah sama sekali dalam hidupnya. Jeonghan memang tidak sempurna, tapi ia tau bagaimana mengeraskan kepalanya untuk menghadapi oh-sang-pangeran-tampan-nan-kaya ini.

"Kau seharusnya mengembalikan sepatuku, sunbaenim."

"Yya, kau seharusnya juga sadar bahwa kau membuat lecet atap mobilku. Kau pikir sepatumu lebih mahal dari atap mobilku? Kau memerlukan uang sekitar—"

"Ey, semua terjadi karena kau menyiramku terlebih dahulu."

"Kau berjalan terlalu dekat dengan jalan umum."

"Aku berjalan tepat di pinggiran jalan."

"Dan aku juga tepat di pinggiran jalan."

"Aish~" keduanya mendecak akan perdebatan singkat tak bermanfaat barusan.

"Apa yang kalian lakukan?" Chaeni datang menengahi adegan mereka.

Keduanya melempar sinis kemudian berjalan dengan memperlebar jarak mereka tanpa menjawab pertanyaan Chaeni. Bahkan ketika melewati Yuna yang menyusul Chaeni pun dihiraukan oleh kedua pria tersebut.

"Apa yang terjadi?" Tanya Yuna tak mengerti.

"Mereka bertengkar."

"Eo? Sejak kapan mereka akrab?"

Dan entah sejak kapan kata 'bertengkar' menjadi tolak ukur sebuah keakraban.