PUISI UNTUK CINDERELLA
Chapter 5
Pertama, cari seseorang yang membencimu agar seluruh urusan berjalan lebih gampang. Ya, itu benar. Minho mengangguk begitu saja dalam presentasi di otaknya. Jika orang tersebut dan dirinya sama-sama saling membenci maka yang akan mereka lakukan adalah 100% akting murahan belaka. Satu hal yang bagi Minho menjadi masalah. Apa mungkin ada seorang wanita di dunia ini yang tidak akan –seminimalnya— jatuh cinta padanya? Haa.. pesonanya begitu megah, bagaimana mungkin seorang wanita tidak jatuh cinta padanya?
Kedua, cari seseorang yang siap menikah dengan bayaran sesuai kesepakatan. Benar, karena Minho percaya di dunia ini tidak ada satu pun yang berlabel gratis. Ia bukan orang kaya pelit, tenang saja.
Ketiga, pastikan orang tersebut tidak hamil. Heck, ya! Itu benar sekali! Bagaimana mungkin membiarkannya hamil sehingga membuat kemelut sebuah keluarga dengan Minho berperan sebagai kepala keluarga? Apa Minho memiliki father figure? Tentu saja tidak, belum lagi mengurus wanita hamil bukan keahlian Minho. Alat kontrasepsi memang sebuah panutan.
Terakhir, pastikan orang tersebut memiliki wajah yang pantas. Tenang, seorang Choi Minho tak akan mau mempermalukan diri dengan bersanding dengan orang yang tak pantas.
Membuka kancing jasnya agar terlihat lebih kasual, Minho mulai mencerca tiap sudut ruangan untuk mencari sang partner in crimenya. Minho tidak ingat pernah memiliki sahabat masa sekolah namun ia ingat siapa saja yang menjadi teman sekelasnya dan dapat menjadi list potentialnya. Serta merta, pria itu menghampiri, berbincang dan kemudian pergi.
Ugh, tidak. Mereka semua langsung gagal di syarat pertama. Mereka jatuh cinta pada Minho dalam sekejap. Meliuk-liuk gemulai tangan mereka menjajah badan Minho. Minho tau ia sangat tampan dan memiliki jutaan pesona namun jika hal itu terus berlanjut, siapa yang akan membantunya?
"Choi Minho!" sebuah tepukan pundak ringan diterima oleh Minho.
Minho berbalik, menerima sambutan lebar dari seorang kenalannya. "Key! Kau masih hidup?"
"Aku bertahan." Ujar Key bangga.
Kedua darinya sedikit menyingkir dari kerumunan. Di sudut mereka mulai berbasa-basi, menanyakan kabar, keadaan dan sombong akan pekerjaan. Key yang seingat Minho adalah sosok yang hendak menyerah akan hidupnya kini menjadi sesosok yang tak akan menyerahkan hidupnya begitu mudah.
Tanpa ba-bi-bu, Minho bertanya pada Key. "Hey, kau mau menikah denganku?"
Key terdiam. Melihat Minho dari atas hingga bawah. "Atas dasar apa kau mengajakku menikah denganmu? Apa wajahku terlihat seperti wajah orang yang jatuh cinta padamu?" Key membuat ekspresi menjijikkan tepat di wajah Minho.
"Karena itu aku mengajakmu menikah denganku." Minho menjentikkan jari, puas dengan ekspresi menjijikkan Key. Ekspresi percampuran antara aku-ingin-kau-mati dan aku-ingin-kau-lebih-mati-lagi. "Aku memerlukan seseorang yang membenciku untuk menikah denganku."
"Ada manusia yang tidak membencimu? Wow, menakjubkan." Key terkejut. "Wait, what? Kau 'memerlukan'..?" Key mengutip ujung kalimatnya dan Minho mengangguk bangga. "Katakan padaku apa maksudmu!"
"Paman Kyeong menyuruhku untuk menikah."
"Hanya itu..?" Key ragu namun kemudian tersadar begitu saja setelah folder Minho di otaknya terbongkar, menyerakkan segala kelicikan dan pola pikir Minho. "Kau dibayar berapa dengan si tua Kyeong?"
"Seluruh hartanya."
Minuman Key muncrat. Tidak mengenai siapa-siapa memang namun cukup membuat Minho jijik. "Ayo menikah!"
"Apa wajahku terlihat seperti wajah orang yang mau menikah denganmu?" Minho membalas Key dengan memasang wajah menyebalkan nan sombong.
Key menyibak poni rambut. "Kau tidak punya pilihan lain selain aku, Choi Minho-ssi. Aku bersedia menikah denganmu dan bayaranku murah, 70:30."
"90:10"
"80:20"
"90:10"
"85:15! Last call!"
Minho menilai Key dari atas hingga bawah. Benar, Key membencinya; mereka merupakan duo best friend forever yang bersedia menghancurkan satu sama lain namun tetap bersulang bersama di akhir permainan. Bayaran 15 juga tidak begitu banyak. Bagaimanapun juga, Key tak akan pernah bisa hamil. Terakhir, wajah Key tidak begitu buruk karena seingatnya ketika mereka masih duduk di bangku sekolah tidak satu dua orang yang datang pada Key untuk mengungkapkan cinta.
Minho menyodorkan tangannya. "Deal!"
"Deal!"
Kesepakatan terbentuk..?
