PUISI UNTUK CINDERELLA

Chapter 6

Sebelum tangan Minho dan Key mampu berjabat sebagai bentuk kesepakatan mereka tanpa hitam diatas putih, tangan Minho terjatuh dan matanya terfokus pada sesosok yang berdiri di sisi lain pinggiran ruangan, beberapa puluh meter di belakang Key.

Tanpa aba-aba, Minho melongos meninggalkan Key dengan tangan mengambang di udara.

"Hei!" Key protes namun sayang Minho mendadak tuli. Meninggalkan Key dan menghancurkan angan-angan Key akan harta dari si tua Kyeong.

Minho berdiri di depan sosok yang baru dikenalnya dalam beberapa jam belakangan. Tidak, bukan kenal melainkan hanya tahu dirinya adalah kakak laki-laki dari teman adik sepupunya. Yup, Yoon Jeonghan, berdiri dengan segelas cocktail.

"Hai Cinderella." Sapa Minho namun sayang Jeonghan tidak menerima sapaan murahan tersebut, ia masih berkelut dengan satu masalah dan kedatangan Minho hanya akan menambah masalah. "Kau tau, kau masih berhutang padaku."

Jeonghan memutar kepalanya dan menatap Minho dengan wajah tidak percaya dan seolah tertulis jelas di dahinya 'enyahlah!'.

"Kau merusak atap mobilku dengan sepatumu."

Jeonghan menghela. "Semua terjadi karena kesombonganmu. Seandainya kau mau meminta maaf maka hal ini dapat kita lupakan. Oh, aku lupa kau adalah pangeran sinting yang tidak tau cara meminta maaf."

Minho berkacak pinggang. "Yya, bagaimana hal ini dapat dilupakan begitu mudah jika KAU adalah pelaku dari RUSAKNYA MOBILKU!" Minho menekan. "Kau harus ganti rugi, Cinderella!"

Jeonghan memutar bola matanya. "Aku akan ganti rugi setelah kau meminta maaf dan mengembalikan sepatuku."

"Lucu, untuk membelikan sepatu baru saja kau tidak mampu bagaimana kau bisa mengganti rugi kerusakan atap mobilku yang berjumlah jutaan won?"

"Wah, aku benar-benar membenci manusia sepertimu." Sengah Jeonghan makin tak percaya. Lima menit ketenangannya rusak karena cekcok mulut dengan Minho yang tak akan pernah memiliki arti penting sama sekali.

"Sungguh? Kau membenciku?" Minho terdengar bahagia.

Jeonghan menatap pria itu dari atas hingga bawah. "Ada manusia yang tidak membencimu? Wow." Jeonghan sarkasme.

Minho menutup lingkup gerak Jeonghan dengan menempelkan tangannya pada dinding di belakang Jeonghan. Jangan harap Jeonghan takut, bahkan lelaki itu menaikkan dagunya dengan mata melotot ganas tidak mau kalah.

"Kau tidak perlu mengganti rugi atas atap mobilku jika kau mau menikah denganku."

Satu detik, dua detik. Di detik ketiga, Jeonghan meminum cocktailnya dan menyemburkan tepat di muka Minho. Minho tidak bergerak dan membiarkan wajahnya basah akan percampuran racun murni mulut Jeonghan dan cocktail murahan barusan.

"Aku tidak akan menyerah." Ujar Minho tanpa pikir panjang.

Pertama, Jeonghan membencinya. Kedua, dengan bayaran berupa perbaikan atap mobil, itu lebih murah dari pada 15% pilihan Key tentunya. Ketiga, Jeonghan pilihan tepat untuk tidak akan HAMIL. Terakhir, walau wajahnya terlihat bodoh dan sombong, Minho yakin Paman Kyeong akan lebih percaya jika Jeonghan adalah pilihan hati Minho dari pada Key. Ditambah, Paman Kyeong dan Key kenal satu sama lain. Melibatkan orang-orang yang kenal satu sama lain harus dikurangi untuk penyempurna drama ini. Yup. Sempurna.

"Aku pastikan, kau akan mau menikah denganku."

Satu detik, dua detik. Di detik ketiga Jeonghan kembali meminum cocktailnya. Sebelum isi mulut itu keluar lagi di wajah Minho, tangan Minho bergerak cepat dan menutup mulut Jeonghan. Serta merta Jeonghan menjatuhkan sisa cocktail di gelasnya tepat di kepala Minho. Lagi, Minho tidak bergerak. Membiarkan aliran cocktail itu jatuh membasahi rambutnya. Setidaknya ini lebih baik dari pada yang pertama.

Merasa tumpahan cocktail sudah di titik akhir, Minho menyingkirkan tangannya yang menyekap mulut Jeonghan dan tanpa ba-bi-bu Jeonghan menyemburkan simpanan cocktail di mulutnya tepat di wajah Minho. Sedikit hangat, pikir Minho mulai membersihkan wajah dan rambutnya.

Jeonghan memberikan gelas cocktailnya pada Minho. "Enyah!" ujarnya dan memilih pergi meninggalkan Minho yang tersenyum puas. Ya, pria itu tersenyum sangat puas karena ia akhirnya menemukan pilihan tepatnya. Dan seorang Choi Minho tak akan pernah mencoba melepaskan pilihannya tersebut. Tak akan pernah.

"Oppa!" Yuna memanggil dan tertawa terbahak-bahak di menit berikutnya. Minho terlihat memalukan, sungguh.

"Sunbaenim, kau baik-baik saja?" suara Chaeni bagai harpa di telinga Minho. "Kau basah, aku akan mengambilkan handuk sebentar. Tunggu sebentar." Chaeni lari kecil-kecil mengarah pada pelayan yang terlihat olehnya.

Yuna memangku kedua tangannya. "Kau ditolak? Seorang Choi Minho ditolak! Siapa yang menolakmu? Aku harus berterimakasih pada orang tersebut."

Minho mengibas rambutnya. "Kau akan bertemu dengannya segera sebagai 'calon pengantin'ku."

Yuna menutup mulutnya, berpura-pura terkejut. "Seseorang mau menjadi calon pengantimu? Ckck-, apa kau sangat sangat sangat menginginkannya?"

"Aku sangat sangat sangat menginginkannya." Tekan Minho mantap.

"Sunbaenim," Chaeni datang membawakan handuk kecil yang diberikan oleh pelayan.

Minho mengambil handuk tersebut dan menghapuskan jejak cocktail di sekujur wajahnya.

"Yoon kecil," panggil Minho, telinga Chaeni naik merasa panggilan tersebut untuk dirinya. "Aku ingin bertanya beberapa hal padamu."

"Padaku..?" Chaeni menunjuk diri sendiri dengan tidak percaya.

"Ya, padamu."