PUISI UNTUK CINDERELLA

Chapter 7

Jeonghan membuka matanya dan langsung menjerit, turun dari kasur dan tergesa-gesa dalam bersiap-siap. Ia mengucapkan selamat tinggal pada ayah dan nenek yang sedang sarapan. Sedikit berlari menuju halte bus, Jeonghan memeriksa ponselnya dan menemukan pesan singkat dari Chaeni yang mengatakan akan bermalam di rumah Yuna.

Jeonghan menggerang pelan ketika ingat bahwa ia pulang terlebih dahulu sebelum acara selesai, meninggalkan Chaeni seorang diri. Jeonghan membalas pesan Chaeni dengan satu kata maaf singkat dan menaiki bus jalurnya. Sepanjang perjalanannya ia hanya mendengarkan musik melalui ponselnya.

Sebelum ke kantor, Jeonghan harus singgah di toko roti kesukaan si gembul Jung dan sedikit berlari menuju kantor. Mencari si gembul Jung entah itu di ruangannya, ruang rapat, atau studio. Sial, walau badannya gembul tetap saja Nona Jung susah untuk dilacak.

Oh, hari ini Nona Jung duduk manis di ruangannya. Jeonghan dengan segera memasuki ruangan di helaan napas beratnya. "Nona Jung, aku membawa roti kesukaanmu— OH ASTAGA! Apa yang dilakukan makhluk itu disini?!" mata Jeonghan melotot melihat sosok Minho duduk berhadapan dengan Nona Jung. Tersenyum satu sama lain.

Nona Jung tersenyum dengan dahi mengerut. "Apa maksudmu asisten Yoon? Tuan Choi berbaik hati untuk memperkenalkan diri pada seluruh karyawan karena beliau akan menjadi CEO berikutnya."

Rahang Jeonghan nyaris lepas. Jeonghan menaikkan rahang bawahnya dari memandangi Nona Jung dan Minho secara bergantian. Kuduknya merinding saat Minho tersenyum memandanginya. Setelah meletakkan roti kesukaan Nona Jung, Jeonghan bergegas keluar dari ruangan. Tanpa perintah Minho pergi mengejar dan mensejajarkan langkah dengannya. Jeonghan berbelok, memasuki lift, pintu lift yang nyaris tertutup hampir saja menjepit tangan Minho. Keduanya berdiam di dalam lift sampai Minho buka mulut.

"Kau tau berapa total hutangmu?" Minho menyenggol-nyenggol lengan Jeonghan. "800,000 won." Minho mengeluarkan 8 jarinya. Jeonghan memutar bola matanya. Si bodoh, siapa yang akan percaya dengan harga segitu sedangkan kondisi atap mobil masih baik-baik saja. "Aku tau kau tak akan memiliki uang sebanyak itu dan dengan kata lain kau tidak punya pilihan lain selain menikah denganku," Minho menyenggol-nyenggol lengan Jeonghan yang membuat tubuh kurus lelaki itu limbung. "Lihat!" Minho menunjuk sandal slipper Jeonghan yang sudah bulukan dengan kaos kaki kuning pudar melekat di kakinya. "Kau bahkan tak sanggup membeli sandal baru!" ujarnya girang. Jeonghan melotot. Apa semua mulut orang kaya begini?

Lift mereka berhenti, Jeonghan keluar diikuti dengan Minho dan beberapa tatapan mata heran dari karyawan lainnya. Mereka masuk ke dalam studio pemotretan. Jeonghan mengambil beberapa kostum dan menaruhnya pada Minho agar suara pria satu ini meredup akan tumpukan kostum.

"Jika kau menikah denganku segera maka aku bisa memberikanmu harga diskon namun jika kau menundanya maka setiap hari denda terhitung 0,8% karena aku—" suara Minho menghilang terhalang tumpukan kostum. Walau begitu Choi Minho masih menyuarakan kalimat; menikahlah denganku.

Jeonghan geram dan menghentikan langkahnya. Terjadi tubrukan diantara mereka yang membuat beberapa helai kostum tertidur di lantai. Tangan Jeonghan memangku satu sama lain di dadanya. "Kau sangat tidak laku hingga kau ingin aku untuk menikah denganmu?"

"Aku hanya membantumu." Minho meletakkan kumpulan kostum disembarang tempat. "Aku tau kau tidak akan mampu membayar hutangmu dan disini aku menjadi sebuah solusi mudah tanpa masalah." Minho merentangkan kedua tangannya lebar seolah menerima seluruh energi positif dari bumi.

"Kau adalah bentuk dari masalah itu sendiri! Mobilmu hanya perlu dicuci untuk menghilangkan nodanya tanpa reparasi apapun, siapa yang akan percaya dengan harga 800,000 won itu, bodoh? Dan apa kau sadar bahwa kita berdua lelaki?! Menikah?! Kau dan aku bahkan bukan pasangan!"

Minho melihat penampilannya dari bawah dan mengangguk. "Tentu saja aku sadar dengan wajah tampanku ini. Aku adalah pria sejati yang tak akan pernah menyerah sama sekali." Minho bangga, Jeonghan mengerang bosan dan mulai memunguti kostum tadi. "Hei, Cinderella, dengarkan aku—"

"Namaku bukan Cinderella!"

"Whatever, siapa yang peduli?" kata Minho cuek. "Kau benar, aku dan kau bukan pasangan, bukankah alasan itu cocok untuk kita menikah? Selain itu, harga cuci mobilku memang 800,000 won."

"Oh lihat, kau bukan pangeran tampan tapi pangeran dungu!—"

"Setidaknya aku pangeran,"

Jeonghan melotot agar dapat melanjutkan kalimatnya, Minho diam. "Manusia mana yang mau menikah jika mereka bukan pasangan dan cuci mobil apa dengan harga 800,000 won? Kau mencuci mobilmu dengan air mata naga?!" Jeonghan melenggang pergi bersama kostum di pelukannya.

"Sebenarnya ini adalah air mata duyung."

"Whatever, siapa yang peduli?" balas Jeonghan.

"Hei Cinderella, aku tidak akan menyerah! Ini peringatan untukmu." teriak Minho menarik seluruh pandangan karyawan lain yang menyimpan segudang tanya.

Jeonghan tidak berhenti dan mengangkat tangan kiri dengan jari tengah mengacung di udara. Minho tertawa kecil melihat punggung itu makin menjauh, mulai bekerja menjajakan kostum ke tiap model. Ya, ia akan mendapatkannya. Dia akan mendapatkan Cinderella itu..


NOTE: Hai untuk kalian yang membaca Puisi Untuk Cinderella, saya keepitasasecret dapat kalian panggil 'nim' agar lebih gampang ^^ Ini pertama kalinya nim memposting FF di FFN dan sejujurnya, nim sedikit bingung haha. Nim ingin mengucapkan terimakasih untuk siapapun yang membaca apalagi mereview FF ini Nim memang sengaja membuat FF ini sepenggal-sepenggal agar lebih ringan untuk nim ketik dan karena itu, perlu 1-4 chapter selesai terlebih dahulu agar nim dapat mempostingnya dalam jarak waktu berdekatan. Sekian cuap-cuapnya. TERIMAKASIH BANYAK UNTUK YANG MEREVIEW ^^