PUISI UNTUK CINDERELLA

Chapter 8

"Aku tidak tau jika kau dan Minho Oppa akrab,"

"Apa? Siapa?" Jeonghan mendadak tuli. Nama itu seperti tidak asing namun seperti memiliki dampak buruk di pikiran Jeonghan sehingga ia lupa-lupa ingat.

"Minho Oppa, kakak sepupu Yuna. Kemarin saat pesta reuni dia bertanya-tanya tentang dirimu."

"Tentangku?!"

"Ya, seperti; dimana kau bekerja, apa pekerjaanmu, berapa nomor ponselmu bahkan juga menanyakan apakah kau memiliki kekasih atau tidak."

"Dan kau…."

"Aku menjawab semuanya."

Jeonghan melempar kulit jeruk yang sedang ia kupas dan tepat mendarat di wajah Chaeni. Sang adik hanya sanggup menyuarakan protes tanpa bisa apa-apa. Sekarang Jeonghan mengerti bagaimana bisa si pangeran dungu itu tahu dimana ia bekerja. Bahkan lebih menyeramkannya lagi ketika kemarin malam kotak masuk Jeonghan dipenuhi oleh pesan; menikahlah denganku— dari pangeran dungu.

"Oh ya," Chaeni menjentikkan jarinya. "Aku baru ingat, aku tidak menemukan ibu dari kemarin. Kemana ibu?"

Jeonghan terhenti sejenak dari kunyahan jeruknya. Mendadak jeruk itu terasa asam yang membuatnya menyelikit. "Ibu? Oh, ibu pergi bersama perkumpulan tetangga untuk berkemah di kaki bukit."

"Sungguh? Mengapa ibu tidak memberitaukan hal itu padaku? Pantas saja aku tidak bisa menghubungi ibu!" Chaeni menggerutu seorang diri dan kemudian moodnya jadi berubah setelah membuka akun media sosialnya dan mulai sibuk mengetik balasan komentar-komentar yang ada. Sesekali Chaeni tertawa.

Jeonghan meninggalkan adiknya untuk menyelami waktunya sendiri. Ia kembali ke kamar dan mendapati ponselnya tak berhenti bergetar sebagai tanda pesan masuk. Jeonghan membuka pesan itu satu per satu. Seluruh pesan itu tertanda oleh satu pengirim dan lagi-lagi isi pesannya sama. 'Menikahlah denganku.'. Jeonghan menyeka rambutnya frustasi dan membuat panggilan pada nomor tersebut. Sebelum suara halo muncul dari seberang sana, Jeonghan menyemprot terlebih dahulu.

"Berhentilah!"

Jeda sejenak, Minho tersenyum tanpa Jeonghan ketahui. "Tidak akan. Seorang pria tak akan pernah menyerah untuk mendapatkan apa yang ia mau."

"Memangnya kau hidup di dunia Shakespeare?"

"Kau tau bahwa dunia Shakespeare adalah fantasi dan aku disini adalah kenyataan berbumbu fantasi." Keduanya tertawa mendengar remah omong kosong Minho yang konyol. "Istirahatlah, kau memiliki pekerjaan esoknya bukan?"

"Ya, aku memerlukan istirahat jika kau bisa berhenti mengirimi pesan menyebalkan itu."

"Baiklah, aku akan mengirimi pesan lagi esok paginya. Selamat malam,"

"Hei—" Jeonghan terdiam memandangi layar ponselnya. Beberapa detik kemudian alisnya memiring. Ada kalimat yang keluar dari mulut Minho terasa manis di telinga secara tiba-tiba. Dan.. pangeran dungu ini mengucapkan selamat malam untuknya? Jeonghan tertawa, ia pasti sudah gila.

YA, pangeran dungu itu benar-benar gila.

Jeonghan lagi-lagi kelepasan rahang ketika esok hari ia menemukan meja kerjanya penuh dengan bunga. Tak satu-dua karyawan melihat, berbisik kemudian memotret entah untuk bahan guyonan atau hinaan. Ingin Jeonghan mencampakkan seluruh bunga tersebut namun hal yang paling membuatnya malu terletak di komputernya, dimana berlembar-lembar kertas post-it tertempel memenuhi layar komputernya dengan tulisan; MENIKAHLAH DENGANKU. Cepat-cepat Jeonghan menanggalkan kertas tersebut ketika melihat Nona Jung melangkah menuju mejanya.

"Jeonghan—"

"Ya?" Jeonghan telah duduk manis di kursi kerja dengan tangan berpura-pura tengah menari di keyboard walau layar komputernya hanya berada di deskop utama.

Nona Jung melirik layar komputer Jeonghan terlalu lama yang membuat mata Jeonghan ikut melirik sekilas dan melotot di detik kedua. Jeonghan segera bangkit, menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk menutupi layar komputer yang terpasang wallpaper bertuliskan; MENIKAHLAH DENGANKU dengan gambar cincin. Semua terlambat ketika Nona Jung hanya mampu mengangguk-angguk tanpa Jeonghan tau apa maksudnya. Apa?! APA YANG DIPIKIRKAN OLEH SI GEMBUL INI?!

"Aku akan segera menyiapkan kopi favoritmu," Jeonghan menawarkan diri dengan tersenyum lebar.

Nona Jung menggeleng pelan. "Tidak. Kau tidak perlu membuatkanku kopi lagi." Ujarnya pelan, manis— yang membuat Jeonghan lebih tertekan. "Aku hanya berharap kau menyiapkan material untuk acara selanjutnya." Ucapnya penuh hati-hati. "Tapi itu jika kau tidak sibuk. Kau tau bahwa aku tidak ingin merepotkanmu selama ini, sungguh."

Jeonghan berkedip tak percaya. Perubahan nada bicara Nona Jung seolah menyadarkan Jeonghan dengan keberadaan seseorang di belakangnya. Jeonghan tidak peduli untuk sekedar berbalik, ia tetap fokus pada Nona Jung yang memasang wajah anjing kecil ketakutan.

"Tenang saja, aku akan mencarikan materialnya dan mengantarkan kopi favoritmu ke ruanganmu." Jeonghan memaksaan diri. Nona Jung menggeleng dengan wajah yang sama, gelengan anjing kecil yang ketakutan. "Baiklah, aku hanya akan mencarikan materialnya untukmu." Dan Nona Jung mengangguk masih dengan wajah yang sama. Secepat mungkin kaki gempalnya berjalan cepat meninggalkan posisi.

Jeonghan memutar tubuhnya untuk melihat Minho yang sudah menebar senyum terang sana sini.

"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Jeonghan tanpa basa-basi dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

Minho memainkan alisnya berpura-pura berpikir. "Hmm.. apa yang aku lakukan disini? Entahlah. Tapi aku rasa aku hanya ingin melihat pekerjaan karyawan-karyawanku,"

Kalimat intimidasi Minho berhasil membuat tangan Jeonghan turun perlahan. "Kau bukan pemimpin perusahaan ini," balas Jeonghan takut-takut.

"Oh, tenang Cinderella. Perusahaan ini akan menjadi milikku nantinya. Dan kau tak perlu khawatir karena aku tidak akan memakai kedudukanku untuk membuatmu menikah denganku." Minho meyakinkan Jeonghan, masih dengan senyum terang yang dibalas Jeonghan dengan senyum leceh. "Aku tidak akan memaksamu, tapi aku bisa memaksamu."

"Apa kau tidak punya pekerjaan lainnya?" tanya Jeonghan lelah. "Dan apa-apaan dengan bunga ini? Aku harap kau segera membuang bunga ini dari mejaku."

Minho terlihat syok. "Wow! Jaga mulutmu di depan bunga-bunga ini." Ujarnya sedikit menasehati sembari mengetuk bibir Jeonghan dengan ujung telunjuknya, Jeonghan berkedip kaget tiap ketukan. "Bunga-bunga ini tak layak dibuang, mereka layak untuk dicintai."

"Bunga ini memenuhi meja kerjaku." Protes Jeonghan. "Aku tidak peduli dimana kau meletakkannya tapi aku harap kau segera menyingkirkannya dari mejaku. Aku sibuk. Tidak seperti seseorang yang hanya 'bekerja' melihat karyawan-karyawannya." Sindir Jeonghan. "Maafkan aku 'direktur' Choi tapi aku ingin mejaku bersih sebelum aku kembali."

Jeonghan pergi menuju pantry untuk membuatkan kopi Nona Jung, meninggalkan Minho yang terpaut bibirnya menatapi tiap bunga yang sudah di tatanya di meja Jeonghan. Bibir yang terpaut itu kemudian berubah menjadi senyum licik ketika Minho mengartikan kalimat terakhir Jeonghan.