PUISI UNTUK CINDERELLA

Chapter 9

Nona Jung mendengar sebuah ketukan pintu dari luar ruangannya dan mempersilahkan sang pengetuk untuk masuk. Jeonghan masuk dengan segelas kopi favorit Nona Jung.

"Kopi?" tanya Jeonghan dengan senyum lebar.

Nona Jung langsung meloncat dari kursinya. "Oh, Tuhan demi Uranus mengapa kau membuatkanku segelas kopi?!" histerisnya.

Jeonghan menghampiri Nona Jung sebelum wanita itu mengusirnya kembali ke meja kerjanya. "Karena aku tahu kau tak akan bisa bekerja tanpa segelas kopi pagi," Jeonghan mengeluarkan jurus puppy-eyes sembari mengulurkan kopi.

Nona Jung terlena dengan aroma kopi buatan Jeonghan dan nyaris menjatuhkan bibirnya di pinggiran gelas. Segera sadar, Nona Jung menatap tajam antara kopi dan Jeonghan. "Kau seharusnya berada di mejamu. Aku tidak ingin berurusan dengan.. calon suamimu.." Nona Jung mengecilkan suara di akhir kalimat.

Jeonghan memutar bola matanya. "Ugh, dia bukan calon suamiku dan tak akan pernah menjadi calon suamiku!" Jeonghan mengangkat tangan kanannya seolah bersumpah. Lagi-lagi Jeonghan mengeluarkan puppy-eyesnya untuk membujuk wanita ujung 30 tahun itu mengambil kopi buatannya. "Aku berjanji tidak akan pernah membawa masalah padamu karena itu aku mohon biarkan aku tetap bekerja padamu. Aku menyukaimu. Pretty please..?"

Nona Jung menyenggol Jeonghan untuk menutupi rasa sipu malunya, Nona Jung mengambil kopi dari tangan Jeonghan. "Kau baru saja menyatakan perasaan pada wanita size plus-plus yang nyaris berkepala empat," ujarnya mencubit lembut pipi Jeonghan yang bagi lelaki kurus itu cukup membuat rona di pipinya makin memerah parah.

Jeonghan mengelus tulang pipinya yang baru saja berciuman kasar dengan cincin besar Nona Jung. "Tapi aku benar-benar menyukaimu. Kau benar-benar memberikan pelajaran terbaik selama aku bekerja disini." Jeonghan jujur. "Walau terkadang melelahkan dan kau menyebalkan," Jeonghan jujur, di dalam hatinya.

"Baiklah, baiklah, baiklah. Aku juga menyukaimu." Ujar Nona Jung sudah merasa cukup dengan pujian-pujian dan lontaran rasa suka Jeonghan padanya. "Dan pegang janjimu untuk tidak membawa masalah padaku akibat calon suamimu,"

Lagi, Jeonghan memutar bola matanya. "Dia bukan calon suamiku, ralat, dia tidak akan pernah menjadi siapa-siapa di dalam hidupku." Tekannya.

"Tapi bagaimanapun kalian akan tetap menikah, bukan?" Nona Jung berkata tanpa peduli, menyeruput kopinya membiarkan Jeonghan tidak habis pikir dengan kalimat barusan. "Itu yang dikatakan oleh direktur Choi padaku."

"Maaf, apa aku ketinggalan informasi penting karena seingatku perusahaan ini milik direktur Shim,"

"Direktur Shim akan mentahtakan seluruh jabatannya pada Choi Minho, keponakannya."

"Aku yakin direktur Shim tidak hanya memiliki Choi Minho sebagai calon pemegang tahtanya."

Nona Jung memainkan telunjuknya ke kanan-kiri. "Hanya Choi Minho yang memiliki potensi sebagai pemegang tahtanya. Kau tau bahwa direktur Shim memiliki beberapa perusahaan pembuat emas putih dan juga mengurus export dan import, bukan? Jika kau menikah dengan Choi Minho, kau tidak hanya menjadi orang kaya. Melainkan orang super kaya karena Choi Minho juga memiliki banyak investasi hidup."

Jeonghan berpikir panjang untuk jumlah uang yang mengalir saat bisikan-bisikan Nona Jung terdengar begitu menggiurkan. Ya, bayangkan seberapa kayanya seorang Choi Minho jika sampai mendapatkan seluruh tahta dan harta direktur Shim? Rasa-rasanya Jeonghan bisa membeli puluhan—tidak ratusan truk berisi strawberi, bahkan lebih.

Jeonghan sadar kemudian. "Aku tidak akan menikah dengannya!"

"Ey, kau harus menikah dengannya! Kau bahkan tidak sadar dengan kondisimu yang bahkan tidak bisa membeli sepatu baru. Lihat! Lihat kakimu yang hanya beralaskan sandal butut dengan kaos kaki luntur itu!" tunjuk Nona Jung pada kaki Jeonghan yang berusaha di tutupinya namun percuma. "Kau pikir seseorang yang bekerja di ladang fashion akan mengenakan hal seperti itu?"

Nona Jung telah kembali menjadi dirinya yang awal. Jeonghan merasa harus keluar dari ruangan tersebut sebelum dirinya menyesal telah memuji si gembul ini dengan kalimat-kalimat kagumnya, parahnya; Jeonghan memohon untuk tidak dibuang oleh si gembul ini.

"Aku harus kembali bekerja," alasan Jeonghan dan keluar dari ruangan Nona Jung.

"Jeonghan," panggil Nona Jung, menghambat Jeonghan sejenak. "Jangan lupa kopiku selanjutnya." Ujarnya dan Jeonghan hanya tersenyum dengan anggukan halus.

Jeonghan kembali ke mejanya dan menemukan mejanya bersih dari bunga dan radiasi kehadiran Minho di sekitarnya; nol. Sebelum memulai kembali pekerjaannya, Jeonghan mendapati ponselnya bordering untuk pesan pertama masuk pada hari ini dan bibir yang tadi tersenyum langsung berubah menjadi kesal ketika melihat nama kontak Minho muncul, yaitu; PANGERAN DUNGU.

—Cinderella, aku sudah menyingkirkan seluruh bunga kecuali serangkai White Ditanny untuk penyemangatmu. Apa kau punya waktu untuk makan siang bersama?—

Jeonghan mendengus sombong dan segera membalas tanpa perasaan pesan singkat tersebut.

—Aku sibuk—

Mungkin Nona Jung dapat di bodohi oleh Choi Minho namun Jeonghan mengerti bagaimana dunia ini bergerak. Sebut Jeonghan sebagai otak drama namun hal ini tak mungkin untuk tidak terjadi.

Untuk apa direktur Shim menjatuhkan segala harta dan tahtanya pada Choi Minho tanpa bersyarat? Direktur Shim memiliki banyak keponakan jika dirinya harus dengan suka rela memberikan seluruh harta dan tahta. Beliau memiliki Uhm Yuna bahkan Uhm Yuna memiliki dua orang kakak laki-laki (seingat Jeonghan jika Chaeni tidak salah sebut). Belum lagi keponakan-keponakan gelap atau bahkan anak gelapnya (yang hanya ada di pikiran Jeonghan). Direktur Shim bahkan bisa membagi para keponakan atau siapa pun itu— satu per satu harta dan tahtanya. Sayang sekali, kemungkinan besar semuanya menolak karena harta tersebut bersyarat. Ya, bersyarat dan syarat itu bisa ditebak oleh Jeonghan sendiri tanpa harus berpikir keras. Syaratnya adalah M.E.N.I.K.A.H! Tentu saja ini skenario di kepala Jeonghan namun Jeonghan dapat memastikan 95% ini adalah kenyataannya.

Jeonghan menekan tombol spasi pada keyboardnya dengan kasar bersamaan dengan sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya untuk kedua kalinya. Tanpa ia sadari, ia terbawa emosi setelah mengetahui maksud Pangeran Dungu itu untuk mengajaknya menikah. Tunggu, mengapa ia emosi? Ini tidak seperti ia akan menerima tawaran tersebut. JEONGHAN TIDAK KESAL, SUNGGUH!

Jeonghan membuka ponselnya dan menemukan pesan masuk baru, dari Pangeran Dungu.

—Baiklah, tapi jangan sampai melupakan makan siangmu—

Jeonghan sedikit melepar ponselnya tanpa ada niat membalas pesan singkat tersebut. Ia menyisir rambutnya dengan jemari dan memijat sejenak kepalanya.

TIDAK, IA TIDAK KESAL SAMA SEKALI, SUNGGUH!