PUISI UNTUK CINDERELLA
Chapter 10
Jeonghan berjalan gontai dengan setumpuk file yang berisi potongan bahan yang akan dijadikan sample. Kakinya lelah berjalan kesana-kemari. Kepalanya terasa berat kekurangan air mineral. Tubuhnya lesu belum mendapat asupan makanan sejak pagi tadi dan kini hari telah berganti menjadi petang. Jeonghan menjatuhkan tumpukan file tersebut di atas mejanya dan kemudian menjatuhkan diri di atas kursinya. Ia ingin menjerit namun menjerit di kantor bukanlah pilihan bagus.
Perlahan hidungnya seperti mencium aroma lezat. Jeonghan cukup terkejut ketika menemukan sekotak pizza berukuran regular di atas mejanya. Ia melihat kanan-kiri depan-belakang memperkirakan siapa yang lupa mengambil kotak pizzanya dari meja Jeonghan namun dinilai dari sedikitnya sisa karyawan di kantor membuat Jeonghan ragu untuk benar-benar bertanya. Sebelum membuka kotak pizza, Jeonghan menemukan secarik kertas terhimpit di bawah kotak pizza. Jeonghan menarik kertas tersebut.
—Cinderella, aku harap kau tidak melupakan makan siangmu
CMH—
Jeonghan memijat dahinya sejenak sebelum menutup wajahnya dengan telapak tangan dan menjatuhkan wajah ke meja kerjanya. Jeonghan menjerit tanpa aba-aba yang membuat beberapa karyawan mencari-cari sumber suara atau sekedar takut meyakini satu sama lain bahwa suara tersebut bukan suara gaib.
"Sial, sial, sial!" Jeonghan menhentakkan kakinya kesal yang kali ini menjerit di dalam hatinya. "Apa maksud pangeran dungu ini?!" Jeonghan merasa sisi wajahnya terbakar tanpa alasan dan sesuatu dalam dirinya bergerumuh.
Jeonghan melihat kotak pizza masih dengan wajah masih tertempel di meja kerja. Jeonghan membuka kotak pizza dan merasakan pizza yang telah mendingin tersebut. Ia terlalu lelah untuk memanaskan pizza. Pelan-pelan ia kunyah dan kemudian ia bangkit dari kursinya dan membawa pizza itu ke pantry untuk dihangatkan. Jeonghan pecinta makanan hangat dan rasa pizza yang dingin membuatnya kesal tanpa alasan. Huh, siapa sangka ia lelaki yang cukup sensitif?
Jeonghan hanya mampu menghabiskan dua potong pizza karena napsu makannya hilang begitu cepat. Sisanya? Beberapa karyawan yang singgah ke pantry memintanya. Jeonghan kembali ke mejanya dan bergegas untuk segera pulang. Ia cukup lelah dan memerlukan mandi segar dan kasur nyaman. Jeonghan salah mengira jika ia bisa langsung beristirahat seperti yang ia pikirkan.
Sesampainya di rumah, Chaeni langsung berteriak. "Oppa! Kau mendapat kiriman bunga!" ujarnya berputar manis dikelilingi oleh tumpukan bunga tepat tertata setelah pintu masuk.
"Oh God," Jeonghan menurunkan pundak kakunya. "Aku memang menyuruhnya meletakkan bunga ini selain di mejaku tapi bukan berarti dia harus meletakkannya di rumah, 'kan?!" kesal Jeonghan tanpa tujuan yang membuat Chaeni bertanya-tanya melihat Jeonghan yang mulai memunguti rangkaian bunga yang tertata.
"Hei, siapa yang mengirimi bunga? Apa kau baru saja dapat promosi?"
Belum sempat Jeonghan menjawab pertanyaan itu, pintu mereka di ketuk dengan sangat tak ramah. Chaeni berlari masuk untuk memanggil ayah dan membawa nenek bersembunyi sembari mengintip. Semakin lama Jeonghan menunda, semakin keras ketukan tersebut seolah hendak menanggalkan pintu rumah. Dua pria dengan kacamata hitam di malam hari ini mengejutkan keluarga mungil mereka. Tanpa basa-basi memperkenalkan diri, pria itu langsung menyodorkan copyan dokumen yang Jeonghan lihat dengan kilas dan menemukan bilangan uang dengan nilai tinggi. Jeonghan seolah dipaksa naik ke daratan ketika ia menikmati tenggelam untuk melupakan masalah utamanya; mereka sekeluarga akan kehilangan rumah ini.
Salah satu pria itu sempat mengintip di balik pintu masuk yang berserakan rangkaian bunga. Ia mendengus sombong. "Seseorang baru mendapatkan promosi pekerjaan? Baguslah. Dengan begitu harga segini bisa kau bayarkan? Cicilan pertama sebesar 5,000,000 won dengan bunga 2% perbulannya."
Isi kepala Jeonghan kacau mendadak. Bahkan ia tak mampu berkata-kata ketika ayah mengambil dokumen di tangannya yang berisi tanda tangan ibu dengan jumlah bilangan uang sebesar 55,000,000 won. Ayah mengusap wajahnya. Di belakang Chaeni bertanya-tanya apa yang terjadi namun keduanya tak ada yang menyahut. Pria tersebut perlu mengeluarkan sumpah serapah untuk menarik perhatian Jeonghan dan ayah.
Dengan kasar pria tersebut menarik dokumen dari tangan ayah dan memukul-mukuli kepala ayah dengan dokumen tersebut. "Wanita memang menyeramkan. Mereka bahkan rela menjual keluarga mereka untuk bisa bertahan hidup sendiri. Bukankah itu menyeramkan? Tapi pria tua bodoh sepertimu lebih menyeramkan karena tidak mampu menyelamatkan keluargamu sendiri, bodoh!"
Jeonghan menahan tangan pria yang telah keterlaluan menampar-nampar wajah ayahnya. Ia berkata mantap. "Aku akan membayarnya. Beri aku waktu 3 hari dan aku akan membayarnya."
Pria itu sempat tertawa. "Dengan apa? Ginjalmu? Bahkan organ dalam tubuhmu tak akan berguna apa-apa." Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Jeonghan namun dengan limbung tubuh kurusnya, dahi Jeonghan terkena selot besi pintu rumah dan membuka luka berupa sobekan sepanjang seinchi.
Chaeni menjerit ketika melihat tetesan darah keluar. Ayah berontak tidak terima. Seluruh barang yang terdekat dengan pria itu campakkan ke arah dua pria berkacamata hitam. Perlahan dua pria tersebut mengundurkan diri tanpa perlawanan berarti. Chaeni buru-buru menghampiri Jeonghan dan panik dengan isakan tangis. Ia tak tahu harus melakukan apa. Haruskah ia membersihkan luka terlebih dahulu? Namun darah yang mengalir membuat Chaeni takut untuk menyentuh. Jeonghan bahkan harus menutup mata kirinya agar tidak kemasukan aliran cairan merah tersebut. Haruskah ia memanggil ambulans? Namun mereka tidak memiliki uang sama sekali. Ia harus bagaimana? HARUS BAGAIMANA?!
"Aku akan ke klinik sebentar." Jeonghan segera bangkit dari jatuhnya.
"Aku ikut." Chaeni membantu Jeonghan berdiri namun sang kakak menepisnya.
"Aku akan pergi sendiri."
"Apa? Apa kau gila?! Yya! Yoon Jeonghan!" Chaeni mengejar Jeonghan di sela-sela gang rumah tanpa luput meneriaki sang kakak. Entah mengapa hari ini langkah kaki Jeonghan terasa begitu besar oleh Chaeni dan lelaki itu telah lebih dahulu masuk ke dalam bus sebelum Chaeni mampu sampai di halte.
"YYA YOON JEONGHAN, KAU GILAAA?!" dan Chaeni tertinggal sendiri menangis di halte.
