PUISI UNTUK CINDERELLA
Chapter 11
Chaeni kembali kerumah setelah menghabiskan waktu seperempat jam menangis tanpa henti di halte. Ia melihat ayah terduduk di antara bunga-bunga kiriman yang rusak saat ayah mengamuk mengusir dua pria tak dikenal tadi.
"Kenapa tak ada yang bercerita jujur padaku?" tanyanya merasa tertinggal.
"Bagaimana? Bagaimana caranya ayah untuk mengatakan hal yang jujur jika itu membuat ibumu terlihat buruk?"
"Ayah begitu bodoh."
"Benar, ayahmu ini bodoh. Membiarkan keluarganya menjual keluarganya sendiri." Ujar pria tua itu berusaha bangkit. "Kita lebih baik pergi mencari rumah lebih kecil dan memulai segalanya dari awal." Senyum ayah sungguh pahit.
Chaeni kembali menangis. Kali ini menangis layaknya anak berumur 5 tahun dengan wajah berantakan dan mulut terbuka lebar untuk jalur pernapasan dan suara tangisan. "Jika kita keluarga.. me-mengapa kalian harus menyembunyikan h-hal ini dariku?! Mengapa kalian harus menanggung beban ini tanpa memberitahuku?! A-apa aku sama sekali tidak membantu? Aku menyayangi ayah dan oppa tapi mengapa kalian harus menyembunyikan semuanya? Hiks."
Ayah tersenyum dan mengelus kepala Chaeni. "Karena kau satu-satunya tuan putri di rumah ini dan karena kami menyayangimu."
Tangis Chaeni makin menjadi-jadi ketika ayah membawa putrinya masuk ke dalam dekapannya. Suasana yang tengah sendu menjadi rusak ketika aliran nada keluar dari tumpukan bunga. Chaeni mencari-cari sumber suara dan menemukan ponsel Jeonghan berada di dalam tasnya, tertumpuk dengan rangkaian bunga.
PANGERAN DUNGU..?
Chaeni tak memiliki pilihan lain selain menerima panggilan tersebut. "Halo..?" sapanya dengan segukan.
"Yoon kecil?" jawab seberang sana tak yakin bercampur khawatir.
Chaeni menanggalkan ponsel dari layarnya untuk melihat kembali nama kontak yang ada dan tulisan PANGERAN DUNGU benar-benar terpampang jelas. Namun, Yoon kecil? Hanya satu orang yang memanggil Chaeni dengan sebutan itu.
"Su-sunbaenim?"
"Ada apa denganmu? Kenapa kau menangis?"
Chaeni makin segukan. "Sunbaenim, oppa pergi dengan luka sobekan di kepalanya—"
"APA?! Apa yang terjadi? Ah, tidak. Katakan dimana dia sekarang?"
Chaeni menggeleng walau Minho tak dapat melihat. "Aku tidak tahu, tapi oppa mengatakan akan pergi ke klinik terdekat dan tidak mau aku pergi bersamanya—"
"Aku akan mencarinya." Minho memutuskan panggilan.
Pria itu mengambil mantel kasmirnya untuk memerangi dingin malam dan mengambil kunci mobil terdekat. Tuan Kang yang kebetulan melintas menanyakan tujuan Minho namun pria itu hirau dan berlari kecil menuju mobil yang mengeluarkan suara 'beep' diantara seluruh deretan mobil. Tuan Kang tidak menahan namun hanya terheran. Terlebih ketika Paman Kyeong bertanya padanya, sang pelayan hanya sanggup menggeleng tak tahu.
"Untuk pertama kalinya aku melihat seorang Choi Minho tergesa-gesa." Sunggut paman Kyeong setengah terkejut.
Minho yang memacu mobilnya keluar dari lingkup mansion segera memasang navigator daftar klinik terdekat di sekitar rumah keluarga Yoon. Beberapa klinik muncul dan jarak dari posisi Minho kali ini cukup jauh. Tanpa pikir dua kali, Minho menginjak pedal gas penuh di jalur lintas. Mengingat jalan utama dari gang rumah keluarga Yoon paling dekat dengan halte bus, maka kemungkinan besar Jeonghan pergi menaiki bus lebih besar dari pada kereta. Setelah mempersempit lingkup pencarian, Minho mendapati delapan klinik yang memungkinkan Jeonghan datangi.
Tak sedetikpun Minho merendahkan kecepatan mobilnya. Minho akui, ia tak menikmati perjalanan dengan peruh rasa khawatir seperti ini. Apa? Tunggu.
Injakan gas Minho melemah perlahan.
Khawatir? Ia? Seorang Choi Minho 'khawatir' akan sesuatu yang lain selain uang?
Choi Minho, 32 tahun berkaca dengan pantulan kaca depan mobil dari bangku supir dengan roda mobil yang semakin lama semakin memelan dan berhenti kemudian.
Minho mengusap wajahnya dan mengerang perlahan sebelum menghantam rendah kepalanya pada setir. Shit, Choi Minho, ada apa denganmu?
