PUISI UNTUK CINDERELLA
Chapter 12
Tidak sedikit orang berkata pada Minho jika kebahagian tidak di dapat dari sebuah material atau yang biasa ditanda kutipkan sebagai uang. Awalnya Minho tidak mengerti, bahkan hingga malam itu Minho masih tidak mengerti.
Kembali pada titik nol dimana obsesi terbesar seorang Choi Minho adalah uang. Saat Paman Kyeong mengatakan wasiatnya tersebut, Choi Minho adalah bidak yang akan menyalurkan diri paling depan. Sempat ia ingin bertanya mengapa Paman Kyeong hanya menawarkan wasiat itu padanya sedangkan keponakannya cukup banyak. Bagi Minho, berbagi tak masalah selama ia tidak rugi. Namun pertanyaan terbesar itu tertutup hingga saat ini karena Minho terlalu malas mendengar alasan klise Paman Kyeong.
Untuk menunjukkan kegencarannya dalam memenuhi syarat dari Paman Kyeong, ia bahkan menjatuhkan martabatnya dengan mengajak Key untuk menikah dengannya. Bayangkan seberapa rendah seorang Choi Minho di depan uang.
Key bukan pilihan buruk. Key dan Paman Kyeong saling mengenal satu sama lain. Key bahkan memiliki panggilan manis(?) untuk Paman Kyeong yaitu si tua Kyeong. Dan Paman Kyeong memiliki panggilan manis(?) untuk Key yaitu si mulut besi karatan. Namun Minho berpikir dua kali disela perbincangan mereka malam itu. Minho hanya tak mampu membayangkan hidupnya harus dipenuhi oleh Key selama beberapa bulan atau bahkan tahun berikutnya. Bukan, bukan dalam pandangan gila hanya saja aneh rasanya jika ia harus bangun tidur dan menemukan Key tidur satu kasurnya dalam kurun waktu panjang. Waw, menyeramkan.
Seorang Yoon Jeonghan tak pernah terlintas di benaknya untuk menjalin kerja sama. Lupakan masalah 'bayaran' yang mungkin lebih murah, Jeonghan yang tengah berdiri menyendiri itu terlihat bagai sebuah taruhan bagi Minho. Taruhan besar yang sungguh atraktif. Ia bisa menang atau ia bisa menang namun dengan jangka waktu lama. Intinya tetap sama; Minho bisa menang.
Mungkinkah ini maksud Paman Kyeong dalam 'tidak menemukan tujuan dalam hidup lagi'? Beliau sudah kehabisan kartu untuk dijadikan bahan taruhan dan membiarkan Minho memainkan kartu-kartu yang selama ini selalu ia simpan. Ia sadar akan langkah yang diambilnya ketika mendekati Jeonghan dan memasang taruhan pada dirinya sendiri. Ia bertaruh seorang bernama Yoon Jeonghan ini akan segera menikah dengannya atas alasan apapun, ia tak peduli. Taruhannya sedikit meleset karena melupakan karakteristik keras kepala yang dimiliki lelaki pendek beberapa inci darinya tersebut. Secara terang-terangan, Jeonghan tidak menghantam Minho dengan kepalan tangannya, terlebih Jeonghan ikut bermain menjawab segala ketidak-masuk akalan ajakan Minho.
Apa-apaan lelaki ini? Ia keras kepala namun memiliki tali ulur yang membuat Minho bergerak bagai boneka tali yang harus mengikuti ide hitam tak terlihat di kepalanya. Apa ia sadar dengan keras kepalanya dan tarik ulur tingkahnya makin membuat Minho geram untuk menang akan taruhan itu sendiri? Taruhannya pada Jeonghan semakin menarik. Sungguh menarik. Minho bersedia menjadi boneka tali Jeonghan. Menggoda tiap kesempatan yang ada agar Jeonghan senang dengan permainannya sendiri. Entah permainan siapa ini, tak ada yang tahu.
"Kau tau bahwa dunia Shakespeare adalah fantasi dan aku disini adalah kenyataan berbumbu fantasi."
Jeonghan tertawa kecil yang diikuti dengan tawa kikuk Minho tanpa getaran aneh. Sempat ada jeda dari obrolan mereka malam itu namun Minho membuat segala ketara dengan kalimat selanjutnya yang keluar tiba-tiba dari mulut sang pangeran.
"Istirahatlah, kau memiliki pekerjaan esoknya bukan?"
Tak berapa lama obrolan mereka terhenti dengan ucapan selamat malam dari Minho. Pria itu terhenyak dan memegangi ujung bibirnya. Mengapa kalimat itu bisa keluar dari mulutnya? Bukan, bukan kalimat selama malam. Melainkan kalimat fantasi Shakespeare. Entah mengapa jika kalimat itu keluar dari mulut Minho seolah ada yang aneh. Memangnya seorang Choi Minho pecinta literatur klasik?
Dan Jeonghan tertawa. Apa menurutnya itu aneh? Atau memang kalimatnya lucu? Atau.. seorang Choi Minho-lah yang tengah ia tertawakan?
Minho menggigit-gigit ujung kuku ibu jarinya perlahan. Sejurus kemudian, pria itu berdiri –mencari secarik kertas dan sebuah pena. Minho mulai menggores kertas polos. Mengukir hari beserta tanggal..
Hari dan tanggal dimana ia merasakan seseorang menaruh telinganya di daun pintu hatinya dan tertawa perlahan sebelum mengetuk daun pintu tersebut. Hari dan tanggal dimana ia sendiri menghancurkan taruhannya dan menggantikan taruhan tersebut dengan tujuan hidup yang baru.
Seorang Choi Minho ingin melihat tawa seorang Yoon Jeonghan.
Ini gila, sungguh. Tawa Jeonghan sama dengan kebanyakan tawa lelaki seusianya atau lebih muda darinya namun mengapa tawa itu membuatnya tertarik untuk mengintip di balik daun pintu hatinya? Minho tak ingin terburu-buru membuka pintu hatinya namun ia mendapati hatinya tergesa-gesa ketika mendengar berita dari Chaeni. Tergesa-gesa seolah dirinya terperangkap dan harus segera melakukan sesuatu. Sesuatu yang ia tak tau apa namun harus dilakukan..
Gerimis tiba tanpa diundang di malam itu dan Minho masih memandangi wajahnya dari kaca depan mobil. Lagi-lagi Minho menggigit ujung kuku ibu jarinya. Minho mulai menjalankan lagi mobilnya, memutar balik. Ia memilih untuk pergi. Ia sadar akan posisinya dan jatuh semakin dalam bukan pilihan yang baik. Ya, ia harus pergi.
Untuk kedua kalinya Minho menepikan mobilnya secara perlahan dan menatapi satu halte bus yang diberi penerangan cukup. Minho menangkap sesosok lelaki duduk memeluk diri sendiri untuk memerangi kedinginan. Segera tangannya mencoba membuka pintu mobil tapi terhenti begitu cepat ketika ia ingat akan pilihannya untuk pergi, untuk tidak terjatuh dan tidak membukakan pintu hatinya pada seorang keras kepala seperti Yoon Jeonghan.
Persetan, ia tak bisa. Ia tak bisa menahan kenyataan bahwa seseorang yang ingin ia lihat tawanya kini tengah membiru kedinginan dengan lapisan pakaian tipis dan aliran darah mengering di pelipis.
Hujan semakin semangat turun, Minho keluar dari mobil dan lari menghampiri tubuh Jeonghan yang seperti membatu –duduk terdiam di halte bus. Kedatangan Minho tak membuat Jeonghan bergerak sekedar melihat. Ia terlalu kedinginan namun tak basah. Minho tak bisa menghentikan tangannya ketika jemarinya menyingkirkan rangkaian rambut yang menutupi luka Jeonghan. Luka itu tak separah yang Minho bayangkan, syukurlah.
Tanpa berkata-kata, Minho membuka jaket kasmirnya untuk Jeonghan pakai sebagai pelindung dari air hujan malam. Minho menarik tangan Jeonghan, terasa akan ringannya langkah itu melangkah seolah tak memiliki nyawa sama sekali. Dibawa pergi oleh malaikat pencabut nyawapun ia akan ikut.
Mereka telah berada di mobil. Minho belum menyalakan mesin mobil. Jeonghan masih diam, menyesuaikan suhu tubuh. Minho menyalakan mesin mobil untuk segera menghidupkan penghangat. Hening mereka pecah saat bibir Jeonghan bergerak mengeluarkan satu kalimat.
"Haruskah kita menikah?"
Gerakan Minho berhenti sejenak. Tak hanya geraknya, segala sensor di tubuhnya seolah mati sedetik yang membuat jantungnya mendenyut sakit secara tiba-tiba. Minho tahu arah pembicaraan ini. Wajahnya berpaling melihat Jeonghan namun lelaki itu seolah menyatukan wajahnya dengan kaca jendela mobil, enggan berpaling. Ah.. Choi Minho, memang sudah seharusnya kau pergi.
Pria itu menyingkirkan rasa sakitnya, ia bertanya pada navigator lokasi hotel terdekat dan menyuruh Siri untuk menyambungkan panggilan pada Tuan Kang.
"Halo, tuan muda."
"Bawakan aku seorang dokter untuk menjahit luka dan dua pakaian ganti. Aku akan mengirimkan alamat hotel tempatku menginap malam ini."
"Do— baiklah." Tuan Kang memutuskan panggilan dengan sebuah helaan napas tak percaya.
"Kita akan membicarakan hal itu nantinya," ujar Minho pada Jeonghan yang memperdalam hening perjalanan mereka.
