PUISI UNTUK CINDERELLA

Chapter 13

Jeonghan mendapatkan bius lokal setelah lukanya di bersihkan dan kemudian tiga jahitan terbentuk. Jeonghan dipersilahkan untuk beristirahat setelah mendapati perizinan dari dokter. Minho mendengarkan laporan dokter sebelum ia keluar dari kamar hotel mereka. Jeonghan baik-baik saja. Ia hanya kedinginan dan perlu suhu hangat yang pas. Darah yang keluar juga tidak bisa dibilang begitu banyak namun Jeonghan harus beristirahat sekitar dua hari sebelum kembali ke aktivitas biasanya. Lima hari kemudian jahitan tersebut dapat dibuka. Minho hanya mengangguk ditiap info yang diberikan dan menghantarkan dokter ke pintu kamar.

Minho mendudukkan diri di tepi ranjang berukuran queen size. Ia meredupkan cahaya lampu tidur di nightstand. Ia juga memperbaiki bantal dan selimut Jeonghan. Tak lupa ia menyingkirkan rangkaian rambut Jeonghan agar tak mengenai jahitan basah di pelipis kirinya. Dokter tak memberikan perban untuk malam ini karena menurutnya itu tak perlu. Setelah memastikan bahwa Jeonghan mendapatkan tidur nyamannya, Minho bangkit dan menggapai ponsel yang tergeletak manis di meja. Minho menghubungi ponsel Jeonghan.

"Sunbaenim!" seru Chaeni begitu terkejut menerima panggilan dari Minho lagi. "Kau menemukan oppa?"

"Hm," jawab Minho lembut. "Ia sedang tidur saat ini. Aku juga sudah meminta seorang dokter untuk membersihkan lukanya. Ia baik-baik saja."

Terdengar helaan napas lega begitu panjang dari seberang sana. "Syukurlah. Syukurlah." Ujar Chaeni yang kembali memulai tangisan kecilnya. "Aku sangat khawatir. Terimakasih sunbaenim. Terimakasih."

Minho hanya menepis rasa terimakasih tersebut dengan senyum rendah. Kembali Minho mendudukkan diri di tepi ranjang dengan ponsel masih mencium telinganya. "Yoon kecil..,"

"Ya?"

"Katakan padaku apa yang terjadi?"

Chaeni ragu untuk menceritakan. Ini masalah keluarga, haruskah seorang Minho tahu? Minho telah membantu mereka dengan merawat si kabur Jeonghan dengan kata lain, ya, Minho pantas tahu. Chaeni menarik napas dalam sebelum bercerita. Seperempat jam berlalu dipenuhi oleh seluruh kelengkapan cerita dari Chaeni.

"Baiklah. Aku mengerti." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Minho tanpa bertanya detail apapun. Ia memutuskan panggilan dengan Chaeni dan mulai mengusap kasar wajahnya hingga menyisir rambutnya dengan sela jemari.

Jeonghan memiliki masalahnya sendiri dan disini Minho berlari menawarkan tawaran menikah padanya seolah itu hal-mudah-untuk-dipikirkan namun kenyataan menampar Minho menyakitkan; Jeonghan tak memikirkan sama sekali tawaran Minho. Pria itu tersadar satu hal selagi ia tertawa miris untuk dirinya sendiri. Ia tidak bermain dengan siapa-siapa. Ia hanya bermain dengan dirinya sendiri. Sejauh dirinya menggoda Jeonghan sejauh itu pula ia sadar (lagi) bahwa bukan Jeonghanlah yang keras kepala, melainkan dirinya sendiri.

Minho terlihat sebagai tokoh egois dalam sebuah drama klise yang baru menyadari kesalahannya. Bahkan melihat wajah Jeonghan ia pun seperti tak mampu.

Minho bangkit dari duduknya dan kembali menyambungkan panggilan pada Tuan Kang.

"Halo, tuan muda."

"Tuan Kang, aku ingin kau mencari sesuatu untukku secara detail. Dan aku memerlukan hal tersebut malam ini juga."

"Baik,"

Minho meninggalkan kamar hotel malam itu juga.