PUISI UNTUK CINDERELLA
Chapter 14
Malam itu Jeonghan cukup beruntung karena yang menatapinya dengan heran dan penuh tanda tanya hanya supir bus namun ia mengelak untuk memberikan detail dan memilih untuk duduk terpojok. Jeonghan hanya memandangi hura-hura kota ketika melintas, memandangi lampu malam bagai lautan bintang. Ketika jalanan mulai kelam tanpa cahaya ia akan melihat pantulan wajahnya dari kaca bus dan yang dilakukannya hanya tercenung.
Ada luka, namun ia tidak panik.
Ada darah, namun ia tidak histeris.
Ada tangis, namun ia menggubris.
Ia merasa bersalah pada Chaeni yang harus tidak tahu akan apapun dan harus menanggung kebodohannya. Sebagai kakak, Jeonghan mengakui dirinya sangat gagal.
Jeonghan tak memiliki destinasi yang jelas. Ia hanya naik bus karena ia menggunakan kartu penumpang bus tanpa membawa kartu kredit atau bahkan uang untuk membayar klinik. Ia bahkan tidak membawa ponselnya untuk meminta bantuan seseorang. Selain gagal menjadi kakak, Jeonghan merasakan ia sangat gagal menjadi manusia sejati.
Semakin lama bus yang hanya berisi dirinya sendiri itu menelusuri jalanan yang semakin kelam. Jeonghan sadar dengan cepat dan meminta supir untuk menurunkannya di halte berikutnya.
Jeonghan turun.
Seperkian detik ia mengamati, ia kenal tempat ini hanya sebagai tempat lalu ketika ia harus menghantarkan Nona Jung pulang dengan mobilnya dan membuat Jeonghan harus jalan kaki cukup jauh atau terpaksa membuang uang di taksi.
Jeonghan menemukan dirinya terduduk begitu saja di halte sunyi tersebut. Ia ingat satu hal dimana ia dan Minho 'bertemu'. Tak berapa meter dari halte, tempat kejadian perkara dimana ia harus kehilangan satu sepatu dengan bodohnya. Tanpa sadar, Jeonghan tertawa kecil kemudian menahan rasa perih di pelipisnya di menit yang sama.
Seandainya Minho tak menyiramnya dengan genangan air. Seandainya ia tidak melempar sepatunya. Mungkin hubungan mereka hanya menjadi keluarga dari teman baik adik masing-masing. Yah, bukan berarti sejauh ini mereka memiliki hubungan apa-apa. Setidaknya Minho tidak akan 'tergila-gila' untuk mengajaknya menikah..
Menikah..?
"Jika kau menikah dengan Choi Minho, kau tidak hanya menjadi orang kaya."
Jeonghan teringat akan ucapan Nona Jung. Sesegera mungkin ia menghilangkan ucapan itu dari otaknya sebelum ucapan itu berubah menjadi mantra dan menghasut hatinya. Menikah dengan Choi Minho hanya untuk menjadi kaya? Seorang Yoon Jeonghan tak pernah berpikir sehina itu untuk menjadikan seseorang sebagai benteng finansialnya.
Namun.. keluarganya..? Apa yang akan terjadi dengan keluarganya? Apa yang akan terjadi dengan nenek yang sudah bersama rumah itu semenjak masa remajanya? Apa yang akan terjadi pada ayah dengan kondisinya yang tak bisa bekerja begitu keras demi kesehatan? Apa yang akan terjadi pada Chaeni yang masih memiliki beberapa kredit akademi lagi untuk di selesaikan? Apa yang akan terjadi padanya, hidup tanpa ada kemajuan?
Ah, hujan..
Yoon Jeonghan, hidupmu sungguh sial.
Seperti keajaiban, sebuah mobil berhenti tak jauh dari haltenya dan itu adalah mobil Minho. Sang pemiliki mobil keluar namun Jeonghan tak berani melihat wajahnya karena sejenak ia berpikir untuk menerima tawaran Minho. Ia menjadi manusia hina yang ia sendiri tak menyangka akan menjadi salah satunya.
Rangkaian jemari Minho membuka jalur penglihatan pada luka Jeonghan yang tertutup oleh rambutnya. Minho menjatuhkan jaket mahalnya, menutupi kepala Jeonghan serta meraih tangannya. Jeonghan bergelut dengan aroma Minho untuk pertama kalinya ia rasakan dari dekat dan.. hangatnya tangan Minho ketika membimbingnya menuju mobil.
Mereka masuk ke dalam mobil dan mulut Jeonghan tidak tahan untuk tidak bertanya, "Haruskah kita menikah?"
Tak ada jawaban langsung dari Minho yang membuat Jeonghan begitu kecil. Mungkin pria ini sudah mengubah pikirannya. Mungkin pria ini tidak tertarik lagi. Mungkin pria ini sudah menemukan 'calon' yang lebih tepat. Jeonghan makin tidak berani menatap wajah Minho. Ia merasa dirinya adalah manusia terhina yang berpikir untuk menikah dengan Choi Minho demi sejumlah uang.
Jeonghan langsung tertidur ketika dokter selesai menjahit pelipisnya. Hal terakhir yang diingatnya adalah Minho yang mengantarkan dokter ke pintu kamar hotel dan semua berubah menjadi mimpi hitam kelam tak berarti.
Malam berganti. Jeonghan bangun. Matanya membelalak besar melihat langit-langit tinggi dengan ukiran indah nan terkesan mahal. Perlahan ia mendudukkan diri dari posisi tidurnya dan menjajah seisi kamar dengan matanya. Jeonghan berpikir tempat ini adalah surga. Interior yang indah dan mahal dan OH ASTAGA KASUR INI EMPUK SEKALI!
Beberapa menit, surganya menjadi neraka ketika ia harus melihat Minho keluar dari kamar mandi hanya mengenakan underwear dan handuk menggantung di leher untuk mengeringkan rambut yang masih setengah kering.
"What a hell." Ujar Jeonghan kecewa. Ia tak bernapsu melihat pangeran dungu memamerkan badan bagusnya karena Jeonghan sadar ia kurus— tipikal manusia berkerangka lapis kulit.
"Kita akan menikah tiga minggu lagi." Kata Minho sembari menyeduh kopi.
"WHAT THE HELL?!" rahang Jeonghan nyaris lepas.
