PUISI UNTUK CINDERELLA

Chapter 15

"What a hell."

"Kita akan menikah tiga minggu lagi,"

"WHAT THE HELL?!"

Minho meninggalkan kopi yang tengah ia seduh. Pria itu menaiki ranjang secara perlahan dan memanjati tubuh Jeonghan begitu saja. Jeonghan kembali pada posisi sebelumnya, tertidur. Minho berada di atas Jeonghan dan Jeonghan berada di bawah Minho.

"Aku akan meludahimu." Ujar Jeonghan dengan mulut siap sedia.

"Aku akan menciummu."

Jeonghan segera melindungi bibirnya dengan telapak tangan. Jeonghan bahkan sengaja menyaring pernapasannya karena sabun hotel murahan(?) yang melekat di badan Minho tercium begitu mewah di tubuh yang sedikit-sedikit tertumpahkan air rambut yang belum mengering. Jeonghan melarikan pandangan, ia tak mengerti mengapa Minho harus menempelkan bagian tubuh bawah mereka dan kaki pria ini menggelitik jemari kaki Jeonghan.

"Kita akan menikah tiga minggu lagi," Minho mulai topik. "Semakin cepat kita menikah, maka itu akan semakin bagus. Kau dan aku bertemu di salah satu drama musikal dan kemudian kita semakin akrab karena kita menyukai aktor musikal yang sama lalu—"

"Seriously?!" Jeonghan mencegat lanjutan skenario Minho.

"Ya, aku tau beberapa aktor musikal di Seoul bahkan mereka mengenalku."

Jeonghan memutar bola matanya, frustasi. "Seriously, haruskah kita membicarakan hal seperti itu dengan posisi seperti ini?!"

Minho memandangi posisi mereka. Sedetik kemudian senyum beringas tertarik di ujung bibirnya. "Kenapa? Kau tidak tahan melihat badan seksiku?"

Jeonghan memuncratkan bulir-bulir liurnya tepat di depan wajah Minho bagai senapan tertara perang. Minho mengelak –merutuk akan serangan dadakan Jeonghan, bangkit dan meloloskan tubuh Jeonghan yang sedari tadi dihimpitnya. Jeonghan membentuk jarak dari ujung ke ujung.

"Wah, aku benar-benar membencimu." Minho geleng-geleng kepala melihat Jeonghan yang memeluk bantal untuk pertahanan diri.

"Hah! Sama." Jawab Jeonghan tanpa ditanya.

Keduanya dalam ubun-ubun kadar kebencian masing-masing. Minho tak mengerti setan, ah coret, malaikat mana yang menghampiri pikirannya dan membuat hatinya tersentuh tadi malam untuk lelaki keras kepala ini. Ia bahkan mengkhawatirkan kondisi lelaki keras kepala ini! Demi Uranus, Choi Minho sudah gila.

Minho mengambil napas panjang dan menggesturkan tangannya untuk menenangkan diri. Minho mulai bicara lagi. "Seperti yang aku katakan tadi, kita akan menikah tiga minggu lagi dan kita bertemu di pementasan drama musikal lalu kita akrab karena menyukai aktor drama musikal yang sama."

Mata Jeonghan menyipit. "Aku tidak mengerti mengapa kau mengatakan hal mustahil seperti itu,"

"Apa? Pementasan drama musikal adalah hal paling berkelas yang bisa dilakukan oleh orang bermuka standar kebawah sepertimu." Minho tersenyum lebar.

Jeonghan menghembuskan napasnya keras, sedikit kesal dengan fakta ironis yang keluar dari mulut Minho. "Apa yang membuatmu berpikir bahwa kita –kau dan aku akan menikah dalam waktu tiga minggu lagi?"

"Kau ingin kita menikah dalam seminggu lagi juga bukan masalah."

"BUKAN ITU MAKSUD PERTANYAANKU!" Jeonghan geram.

Minho tertawa puas. Lepas dari tawanya, Minho memperlihatkan sekumpulan kertas pada Jeonghan yang entah dikeluarkannya dari mana. "Hm? Apa ini? Oh, ini surat kepemilikan rumah.." ujar Minho dengan nada seperti guru taman bermain yang membuat para murid kecil bertanya-tanya lebih dalam.

Telinga Jeonghan naik. Matanya terpaku pada sekumpulan kertas yang dikenalnya begitu dekat. Jeonghan merangkak cepat mendekati Minho untuk merebut kertas tersebut. Surat kepemilikan itu berada di tangan Jeonghan dan membuat mata Jeonghan menjajah tiap tulisan yang terangkai di dalamnya. Jeonghan tersenyum pelan-pelan. Minho hanya memandangi lelaki itu. Lelaki yang kini tanpa sadar berposisi menduduki pangkuannya itu.

Minho menurunkan ujung kertas itu sedikit agar wajahnya dan Jeonghan saling bertatap satu sama lain.

"Kita akan menikah dua minggu lagi." Dan sebuah kecupan kilat mengenai batang hidung Jeonghan secara sempurna. Serangan dadakan itu seperti singgahan nyamuk biasa yang membuat Jeonghan setengah sadar dengan apa yang ia rasakan.

"Yya! Tunggu! Kau bilang kita akan menikah tiga minggu lagi! Yya!" Jeonghan meneriaki Minho yang menghilang dari bilik ruangan.

Cih, apa pria dungu itu tidak pandai menghitung?!


HIATUS TILL JULY ^^ I'll be busy for work and other stuff.

WAIT FOR NEXT UPDATE PLEASE, THANK YOU