PUISI UNTUK CINDERELLA

Chapter 17

"Hei, Cinderella, aku ingin—" Minho terpaksa menghentikan kalimatnya ketika melihat seluruh sisi ruang tidur tak memiliki hawa keberadaan Jeonghan. Ia menghela ketika melihat troli makanan beberapa jam yang lalu masuk ke kamar mereka sudah kehilangan isinya. Padahal itu untuk porsi dua orang. Bahkan tidak meninggalkan jejak 'siapa pencurinya'. Jeonghan sudah dapat dipastikan, kabur.

Minho duduk di sofa terdekat dengan balkoni sembari memandangi kasur yang dipakai Jeonghan untuk tidur kemarin malam. Secara tiba-tiba reka ulang kejadian kemarin malam menghanyutkan Minho dalam pikiran kosong. Setelah ia menelpon Tuan Kang untuk mendapatkan informasi yang dia inginkan, ia menelpon Key untuk menyiapkannya uang sebesar 55 juta won.

"KAU GILA?!" Key berteriak di ujung telpon mereka. "Bagaimana bisa aku menyiapkan uang 55 juta won malam ini?!"

"Hah, iya aku gila. Karena itu aku ingin kau menyiapkan 55 juta won dan aku akan membayarnya langsung besok. Aku akan menunggumu dan mengirim lokasiku."

"Yya! Choi Min—" panggilan terputus.

Minho tau menyediakan uang 55 juta won saat malam hari tanpa persiapan adalah hal yang berat. Namun ia tau hanya Key satu-satu orang yang memiliki brangkas uang dan hanya Key satu-satunya orang yang bisa ia biarkan berkecambung dalam masalah ini. Karena itu, di malam itu pula Minho penuh harap agar Key muncul membawakan uang yang ia pinta.

Cukup lama ia menunggu hingga lepas hitungannya di dua jam pertama. Minho menggetuk-ngetuk stir mobilnya tanpa sadar dan seseorang membuka pintu samping supir. Seseorang tersebut adalah Key dengan dua koper.

"Fuck you," Key kesal namun Minho tidak memiliki waktu untuk peduli. Ia segera membawa mobil itu bergerak pergi menuju ke sebuah tempat. Key bahkan tidak ingin bertanya karena baginya Minho sudah gila dan kesalnya belum berkurang hingga keduanya memilih diam begitu panjang di perjalanan.

Mereka menepi disebuah gedung di daerah pertokoan. Keduanya keluar dan yang membawa koper adalah Key. Memasuki gedung adalah hal yang mudah walau tiap sisi banyak pasang mata sangar memandangi mereka. Tak ada dari keduanya yang peduli. Key tidak takut, apa lagi Minho.

Sampai di depan pintu yang di prediksikan sebagai tempat negosiasi berjalan, Minho masuk dan membuat ruangan yang tadinya berisik akan bantingan kasar meja menjadi hening safari. Minho duduk di sebuah sofa yang membuat seluruh penghuni ruangan terheran-heran.

"Aku ingin membayar." Ujarnya santai.

"Membayar?" seorang pria terlihat heran dengan cerutu yang menyangkut di mulutnya. "Aku tidak ingat seseorang berkelas sepertimu berhutang disini."

"Rumah di Mia-dong. Seorang wanita melelangkannya padamu, bukan?"

Pria itu mencoba mengingat-ingat. "Ahh.. Rumah itu. Ya, ya, ya. Dua anak buahku tadi kesana untuk memberi peringatan kecil." Ujarnya menunjuk dua orang yang berada di sisi kiri sofa yang tengah di duduki Minho.

Minho mendengus. "Peringatan kecil..?" sindirnya dan memandangi dua orang yang berdiri sombong tersebut. "55 juta won, bukan?" Minho menggerakkan kepalanya dan Key pun menaruh dua koper tersebut di atas meja. Minho membuka koper dan memperlihatkan lembaran uang di dalamnya. Sebelum pria tersebut merasakan sentuhan tumpukan uang itu, Minho menutup cepat kopernya. "Satu pertanyaan." Ucapnya dan kemudian memandangi kembali dua pesuruh. "Siapa di antara kalian berdua yang membuatnya terluka?"

Pria itu tentu tak mengerti. Wajahnya penuh tanda tanya pada kedua pesuruhnya.

"Kenapa?" seorang menjawab dengan sebuah pertanyaan.

"Ternyata kau.." Minho berdiri dari duduknya dan mengayunkan koper berisi uang tepat mengenai wajah pesuruh tersebut dan membuatnya terpental sekitar 2 meter. Belum sempat ada yang bergerak untuk memberi bantuan atau perlawanan, kaki Minho sudah terlebih dahulu mendarat di dagu perusuh tersebut. "Kau baru saja melukai pengantinku." Ujarnya dengan hawa menghitam dan raut wajah yang jauh dari ramah. "Ini peringatan kecil untukmu." Dan tekanan di kaki Minho membuat pesuruh itu merenggang.

"Yya, berhentilah." Key tiba-tiba angkat suara. "Tempat ini busuk, aku tidak bisa membuang waktuku begitu lama di tempat busuk ini." Mulut karat besi Key muncul. Ia berpaling pada pria yang sedari tadi bertukar obrolan dengan Minho. "Cepat sediakan dokumen pentingnya!"

Pria itu tersadar dan segera menyuruh pesuruhnya yang lain untuk mengambilkan dokumen-dokumen yang diperlukan. Key menyerobot dokumen tersebut dan melihat-lihatnya sejenak sebelum meneriaki Minho kembali.

"Yya! Cepat! Kau sudah mengganggu tidur nyenyakku, antar aku kembali pulang!" Key memilih keluar ruangan pertama.

Minho melepaskan kakinya dari dagu pesuruh dan mengikuti Key dari belakang tanpa menoreh kembali. Beberapa detik ruangan hanya dipenuhi oleh suara batuk pesuruh yang merasa rahangnya nyaris berpindah posisi. Ia menyeka hidungnya yang mengaliri darah segar dan merasa tulang hidungnya patah.

"Sialan!" ia merutuk.

"Kau melukai pengantinnya? Kau melukai seorang wanita?" tanya sang bos terperinci.

"Tidak. Aku hanya tanpa sengaja melukai anak pertama, lelaki."

Mendadak ruangan hening. Dahi masing-masing mereka mengerut.

"Itu.. pengantinnya..?"

Dan hal itu dibiarkan menjadi misteri pada malam itu.