PUISI UNTUK CINDERELLA
Chapter 18
Jeonghan kabur. Saat Minho menerima panggilan dari ponselnya, pria 32 tahun itu mengatakan ingin menemui temannya sebentar dan menyuruh Jeonghan untuk melanjutkan istirahatnya. Ketika mendengarkan dentuman halus pintu yang tertutup, Jeonghan segera menuruni kasur empuk dan berjalan cepat sembari melihat-lihat situasi. Merasa aman, ia mengambil pakaiannya yang tertumpuk di tepi sofa dan berlari untuk kabur.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Jeonghan refleks jongkok dan merangkak mencari tempat persembunyian. Hentakan heels ringan berbunyi. Mata Jeonghan sedikit mengintip, menemukan dua pelayan hotel. Satu adalah seorang wanita bersetelan rapi dan satu lagi pria dengan setelan serba putih.
"Tuan Choi?" panggil pelayan wanita sembari melihat sekeliling. Pelayan tersebut cukup terkejut ketika menemukan pucuk kepala Jeonghan berserta matanya yang memandang ganas troli makanan yang dibawa oleh pelayan pria. "Tuan Choi, sarapan anda. Silahkan."
Jeonghan bangkit dari persembunyiannya dan memasang wajah sombong seolah ia adalah Tuan Choi tersebut. Dengan alis yang dipaksa tegas, Jeonghan mengangguk. "Ya, kalian bisa meninggalkannya disana." Dan pelayan tersebut pergi meninggalkan Jeonghan.
Sekali lagi Jeonghan mendengarkan dentuman halus pintu yang ditutup dan segera ia bergegas membuka penutup makanan. Hidungnnya mengembang besar untuk menghirup segala aroma yang menggiurkan. Menatap makanan yang terhidangkan, Jeonghan sedikit kecewa.
"Hotel mahal seperti ini hanya menyediakan sarapan sedikit seperti ini? Ckck-, sangat tidak profesional." Ujar Jeonghan sambil memainkan sendok. Sedetik makanan itu mendekap mulutnya, Jeonghan meleleh dan menerkam segala yang tersedia. "Ugh, aku terlihat begitu miskin memakan makanan ini." Ia mengatakan untuk dirinya sendiri, ironis memang.
Tidak terlalu lama berleha-leha, Jeonghan bergegas menghabiskan seluruh jamuan yang ada kemudian berlari keluar kamar untuk pergi meninggalkan jejak. Ia bahkan memeluk erat-erat dokumen yang diberikan oleh Minho, seolah takut hilang lenyap dipelukanya sendiri.
Jeonghan tak tau apa yang terjadi pada hidupnya. Semua berlangsung begitu cepat. Ia seperti pemeran utama sebuah drama yang memiliki kisah klasik ketika bertemu dengan seorang pria kaya. Tau akan Minho yang menutupi seluruh hutangnya tanpa dipinta membuat Jeonghan berpikir, 'mungkin ia adalah orang baik.' Oh ya, di setiap drama semua pemeran adalah orang baik namun satu kejadian membuat mereka berubah menjadi monster. Berpikir akan pernikahan tiga minggu lagi terdengar gila. Ah, bukan. Tapi memang gila.
Berhubung pernikahan ini hanyalah rekayasa, Jeonghan merasa Minho sudah memiliki tiap-tiap rencana secara matang dan Jeonghan hanya perlu berlaga; ia akan menjadi aktor utama.
Mencoba melupakan serta membayangkan rencana-rencana gila Minho, Jeonghan menghapuskan pikirannya. Ia telah sampai di ujung gang rumah, melihat Chaeni yang berjongkok di depan jalan gang rumah sambil memainkan pijakannya. Sosok Jeonghan tertangkap oleh penglihatan Chaeni yang membuat gadis itu lekas berdiri. Air mata gadis itu keluar, lagi.
"YYA! APA YANG KAU LAKUKAN?! AKU KHAWATIR PADAMU!" ia meronta namun jatuh juga dalam pelukan Jeonghan. "Oppa, jangan pergi.. jangan pergi begitu saja.."
Jeonghan mengelus uraian rambut Chaeni. "Aku berjanji. Maafkan aku.."
"Heol? Apa ini?" tanya Chaeni melepas sejenak pelukannya, menemukan sebelah tangan Jeonghan tak mau melepaskan setumpuk berkas yang ia tak tau apa tapi terlihat begitu penting.
"Ah ini.." Jeonghan menyerahkan berkas tersebut pada Chaeni. "Berikan pada Ayah. Itu adalah surat-surat kepemilikan rumah. Katakan pada Ayah untuk menyimpannya baik-baik."
Mata Chaeni membulat. "Bagaimana bisa kau mendapatkannya?"
"Aku membayar uang mukanya dan memberi jaminan."
"Jaminan apa? Kau bahkan tidak memiliki apa-apa."
"Aish, sudah berikan saja kepada Ayah. Kenapa kau begitu cerewet!"
"Ha! Baiklah!" Chaeni memutar bola matanya. "Kau bau, lebih baik kau mandi."
Jeonghan mencium aroma tubuhnya. Tidak begitu bau tapi tingkah Chaeni yang menutup hidungnya sembari berkipas-kipas ria membuat Jeonghan menanggapi candaan tersebut dengan teriakan dan mengejar Chaeni untuk dipeluk kembali. "Yya!"
Candaan kakak-adik Yoon berhenti ketika mereka melihat sebuah mobil mahal terparkir tepat di depan rumah mereka. Keduanya memandangi mobil itu lama. Chaeni takut, was-was jika ternyata pemilik mobil tersebut adalah penagih hutang yang baru. Perlu sekitar 5 detik hingga Jeonghan sadar bahwa mobil tersebut sama dengan mobil yang dibawa Minho kemarin malam.
Napas Jeonghan tertarik panjang, siap mengumpat jika seorang Choi Minho benar-benar keluar dari mobil tersebut dengan menumpah-ruahkan segala pesonanya. Belum sempat satu katapun keluar, sebuah mobil lebih mahal terlihat masuk ke jalan gang rumah dan berhenti tepat dibelakang mobil Minho. Mulut Jeonghan mengatup rapat saat Minho keluar dari mobil bersamaan dengan penumpang mobil di belakangnya layaknya drama-drama terkenal.
SHIM KYEONG! DIA ADALAH DIREKTUR SHIM KYEONG!
Oh Tuhan, apa yang akan terjadi? Semua skenario menari-nari di kepala Jeonghan dan percayalah, tak satupun yang bagus.
