PUISI UNTUK CINDERELLA
Chapter 19
Jeonghan berkeringat dingin ketika Chaeni menyuguhkan teh murah yang tersedia di rak makanan mereka dengan gelas kemarik warisan kedua orang tua nenek dulunya. Chaeni duduk di samping Ayah, tepat di salah satu ujung meja persegi panjang tua berukuran 80 x 40 cm. Jeonghan duduk di samping Chaeni, mengambil sisi panjang seorang diri karena nenek harus duduk di kursi meja makan. Minho duduk bersampingan dengan Paman Kyeong berhadapan dengan Jeonghan. Sedangkan Tuan Kang duduk menunggu di teras rumah.
Ayah membuka percakapan sebagai tuan rumah terbaik. "A-em.. silahkan di minum.."
Paman Kyeong mengangkat gelas namun tak mencoba sedikitpun teh tersebut disaat satu keluarga Yoon was-was dan telah menghabiskan setengah gelas mereka.
"Ada apa dengan kedatangan sunbaenim kemari?" Chaeni angkat bicara akhirnya. Ayah terlalu merasa terintimidasi dengan kehadiran dua orang kaya tersebut di gubuk mereka hingga beliau kehilangan kata-kata.
Paman Kyeong tersenyum. Tanpa diketahui oleh siapa-siapa, sikutnya menyenggol Minho, bangga namun Minho tak mengerti akan sinyal tersebut. Ia puas dengan suara lembut Chaeni. "Aku akan langsung berbicara keintinya. Namaku adalah Shim Kyeong dan ini adalah salah satu keponakanku. Kedatangan kami kemari untuk melamar anak anda."
"HAAA?! APAA?!" satu keluarga Yoon berteriak keras bahkan Ayah tanpa sadar mengebrak meja hingga ada sedikit cipratan teh yang tumpah.
Jeonghan mengerutkan keras dahinya dengan pandangan mematikan pada Minho. Yang dipandangi hanya mengangguk-angguk seolah dapat mengendalikan suasana gila ini. Disela-sela telepati keduanya, Ayah dan Chaeni bersitegang.
"Kenapa kau ikutan kaget?!" Ayah bertanya pada Chaeni.
"Bagaimana mungkin aku tidak kaget!" Chaeni membela diri.
"Jika kau memiliki kekasih tentu saja suatu saat dia akan melamarmu!"
"Siapa bilang aku memiliki kekasih?!"
Keduanya terdiam, bingung. Paman Kyeong yang melihat reaksi Chaeni untuk tidak mengakui Minho sebagai kekasihnya ikut terkejut. Seluruh pengisi meja kini mendaratkan pandangan hanya pada Minho. Sebagai pemeran utama yang baik, Minho memulai laganya. Ia meraih satu tangan Jeonghan dan menggenggamnya begitu erat. Detik itu juga Jeonghan merasakan nyawanya melayang dibawa kematian.
"Aku datang kesini untuk melamarmu, Yoon Jeonghan."
"HAAA?! APAAA?!" déjà vu terjadi. Kini diikuti dengan Paman Kyeong. Kaget bukan main.
Rahang Jeonghan jatuh. Tanpa sadar ia mengeluarkan suara aneh dari satu huruf vocal; panjang dan melengking yang meredup ketika ia berhasil menyatukan lagi rahangnya. Jeonghan berusaha lepas dari genggaman Minho namun dari dasar fisik sudah memperlihatkan kekuatan Jeonghan yang tak seberapa dengan Minho.
"Yya! Apa kau gila?!" desis Jeonghan.
"Aku gila hanya untukmu, sayang."
Oh, oh, oh. Satu ruangan merinding mendengar ucapan manis Minho barusan. Jeonghan merasakan bulu kuduknya berdiri dengan sekejap karena kalimat murahan barusan. Jemarinya keram, membuatnya geli dan ingin menghantam wajah Minho dengan meja ini.
"Minho-yah, apa kau yakin?" Paman Kyeong masih tidak percaya.
Minho tersenyum penuh khitmat.
"Tapi dia sangat bau." Chaeni tanpa aba-aba menyerukan fakta, tak tau berbicara apa lagi. Tangan Jeonghan yang bebas menghantam ringan kepala adiknya.
Jawaban Minho masih sama; tersenyum penuh khitmat.
"T-tapi.. Jeonghan adalah anak laki-lakiku."
Lagi, Minho tersenyum penuh khitmat dan semua orang merasa kalah tanpa sebab.
"Sesungguhnya kami sudah merencakan pernikahan kami. Kami akan menikah minggu depan."
"MINGGU DEPAN?!" semua berteriak.
"Kenapa kau kaget?!" Chaeni heran.
"Bagaimana aku tidak kaget!" bela Jeonghan. "Kau mengatakan padaku tiga minggu lagi!" semprotnya pada Minho.
"Kau sendiri yang merungut ketika aku bilang tiga minggu lagi. Karena itu aku majukan menjadi minggu depan.."
Semua kini memandangi Jeonghan. "Aku— tung— argh!" Jeonghan frustasi sendiri. Ia berdiri, menarik Minho menjauh dari kerumunan untuk memulai diskusi berdua. "Apa kau gila?!"
Masih dengan senyum khitmatnya, Minho berkata, "Yya, kau benar-benar bau.. apa kau tidak mandi sebelum pulang kemari? Bagaimana? Bagaimana dengan kemampuan aktingku?"
Tangan Jeonghan dengan ringan menghantam kepala Minho. Jeonghan mundur beberapa langkah. "Ada apa denganmu? Kau mengatakan padaku tiga minggu lagi!"
"Kita harus memanfaatkan kesempataan. Aku takut Paman Kyeong mulai curiga selang waktu tiga minggu tersebut. Semakin cepat semakin baik. Dan, sungguh, kau benar-benar perlu mandi.."
Tangan Jeonghan naik, hendak menghantam pelan kepala Minho namun pria itu berhasil menangkap tangannya dan menggenggamnya. Setengah tubuhnya condong hingga wajah kedua di antaranya berjarak 5 inci. "Dimana terima kasihmu?" Minho bertanya menunggu kalimat itu keluar. Jeonghan menarik tangannya bebas namun cengkraman Minho menguat. "Kau tenang saja, aku sudah menyiapkan segalanya. Aku bahkan sudah menyiapkan cincin pertunangan kita," tanpa aba-aba pria itu mengeluarkan sebuah cincin emas putih tanpa hiasan apapun kecuali ukiran kecil sebelah sayap. "Seluruh barang yang aku berikan padamu ketika kita menikah akan menjadi milikmu, kau bisa menjualnya dan— yah, mengganti rumah baru,"
Jeonghan menarik tangannya hingga lepas dari Minho. Raut wajahnya berubah seketika. "Tuan Choi, aku mungkin memang miskin tapi cara itu bukanlah caraku untuk mendapatkan uang dan kebahagiaan. Aku akan mengganti uangmu sesegera mungkin dan aku tidak akan pernah mengambil barang apapun darimu selama kita menikah."
"Aku suka itu."
"Apa? Bau badanku?"
Minho tersenyum paksa dengan gelengan kecil, Jeonghan memutar bola matanya dan melangkah menuju kamar mandi. Minho menahan. Sebelum suara protes keluar, lengan kekar Minho mencengkram tubuh Jeonghan dan tubuh mereka bertemu. Keseimbangan Jeonghan diuji hingga punggunya berciuman dengan tembok terdekat. Belum puas dengan kejutan tindakannya, Minho memberikan bibir Jeonghan dengan sentuhan.
Sentuhan bibirnya.
Mereka berciuman. Erat. Dalam. Dan cukup lama. Pertahan Jeonghan melemah ketika lidah Minho mulai bertindak dan Jeonghan mulai pasrah. Suara ciuman mereka semakin memanas hingga—
Tuk.
Sesuatu terjatuh. Bibir keduanya berpisah 2 detik kemudian dengan benang saliva halus. Kepala mereka berpaling pada asal suara dan menemukan nenek dengan tangan gemetaran. Gigi palsunya jatuh entah bagaimana. Minho yang kikuk berusaha tersenyum.
"HA-HA-HA." Minho tertawa kikuk layaknya tokoh kartun dengan pundak naik-turun. Ia berjalan seperti kepiting merayapi dinding untuk melewati nenek dan kembali ke ruangan tadi. Kepala nenek mengiringi kepergian Minho dan kemudian kembali ke Jeonghan.
"Aku.. harus mandi.." alasan Jeonghan, masuk kamar mandi meninggalkan nenek dengan gigi palsunya begitu saja.
