PUISI UNTUK CINDERELLA
CHAPTER 20
Jeonghan mondar-mandir di dalam kamarnya sendiri. Sudah lewat dari 15 menit keluarga Minho pergi hanya dengan Direktur Shim yang sepertinya tak bisa berkata apa-apa dan seorang Choi Minho tentu saja terus melancarkan laganya layak pria jatuh cinta. Jaraknya antara Jeonghan tak jauh-jauh dari sejengkal yang membuat Jeonghan risih.
Chaeni masuk, Jeonghan berhenti bergerak seketika sembari bertanya. "Ada apa?"
Chaeni menyulurkan ponsel Jeonghan yang masih bersamanya sedari tadi. "Ponselmu. Kau memerlukannya, bukan?"
"Oh, eum.." ia mengambil ponselnya dan hanya menemukan layar utama bersih dari notifikasi. Si gembul Jung tidak bertanya keberadaannya saat ini?
"Kau memiliki rahasia lain?"
"Ha? Apa?" Jeonghan terkejut.
"Entahlah.. sejak ibu pergi meninggalkan rumah semua orang menyembunyikan rahasia padaku."
Jeonghan merasa bersalah. Ia mengelus rambut Chaeni pelan. "Maaf, tapi ini untuk hal yang terbaik agar kau tidak memiliki pikiran terlalu berat. Kau masih memiliki beberapa kredit akademik sebelum lulus bukan?"
Chaeni mengangguk. "Benar, tapi aku tidak selemah itu, oppa. Kau menyimpan rahasia padaku dan itu terasa begitu membesarkan jarak diantara kita. Aku mau dalam keluarga ini tak ada rahasia lagi."
"Aku mengerti.."
"Lalu?"
"Lalu…?"
"Ey, kau masih akan tetap merahasiakan hubunganmu dengan Minho sunbaenim?"
Jeonghan mendadak kikuk. Ia ingin tertawa namun tawa tak semudah itu keluar jika sudah mendengar sebuah nama the Choi Minho. Tawanya tersendat karena ampas-ampas kesal masih menyangkut ditenggorokan.
"Sudah berapa lama kalian berhubungan? Apa sejak reunian lalu? Berarti itu tidak begitu lama bukan! Kalian nekat sekali mau menikah secepat ini!" Chaeni semangat, ia sampai menyenggol-nyenggol lengan Jeonghan yang lesu untuk membalas tiap pertanyaan dan tiap penyataan. "Ey, kau bahkan memanggilnya dengan sebutan kesayangan?"
"HA?! Aku?! Kapan?!"
"Pangeran dungu~" Chaeni memberi fly kiss yang membuat roma kuduk Jeonghan merinding. "Kau harus menggantinya menjadi pangeran dungu-ku," konotasi irama Chaeni makin menggoda Jeonghan. Bahkan ditambah dengan gerakan ekstra berupa goyangan pinggul.
"YYA!" Jeonghan melempar bantal.
Chaeni berhasil mengelak di balik bibir pintu kamar Jeonghan. "Oh, apa ayah perlu tau bahwa Minho sunbaenim yang membayar hutang keluarga kita?"
Jeonghan tersentak. Dengan cepat ia menarik tubuh Chaeni kembali masuk ke dalam kamarnya. "D-darimana kau tau?"
Chaeni memandangi Jeonghan dengan bingung. "I-itu hanya tebakanku saja. Minho sunbaenim kekasihmu, jadi aku merasa tidak heran jika dia membantu keluarga kita. Jika kau tidak mau ayah tau aku tidak akan mengatakannya, tenang saja." ucapan polos Chaeni membuat Jeonghan lega sesaat. Ia hanya tidak ingin adiknya tau seberapa gagalnya ia menjadi seorang manusia dan seorang kakak.
"Lebih baik jangan diberitau pada ayah. Lagi pula aku berniat untuk mengembalikan uang yang terpinjam agar p-per-pernikahan kami tidak terasa aneh.. haha," kalimat akhir Jeonghan begitu berat di pilihan satu kata hingga ia perlu membubuhi tawa garing di akhir kalimatnya.
"Aku tau kau akan mengembalikannya. Aku akan membantumu."
Jeonghan melihatnya dengan cukup skeptik namun Chaeni menepis pandangan menyebalkan itu dalam bentuk sebuah pelukan hangat. Jeonghan membalas pelukan sang adik lebih erat dan begitu lekat.
"Kau tau?"
"Hm?"
"Kau masih bau,"
"Yyaish!"
