PUISI UNTUK CINDERELLA

CHAPTER 22

Awalnya, menjadi pengamat hanyalah salah satu bentuk pekerjaan untuk Tuan Kang. Perlahan kegiatan itu berubah menjadi sebuah runitas. Tuan Kang suka mengamati apa yang berada di kisaran matanya. Benda, binatang hingga orang.

Sejak menginjakkan kaki di Korea, Tuan Kang mendapati figuran Minho adalah pria yang senang akan hidupnya, kompetitif dan tak ingin memiliki begitu banyak pikiran. Tentu hanya sebatas bayangan kasar awal, perlu banyak pengamatan untuk mendapatkan hasil akhir pastinya. Lambat laun ia sadar akan beberapa koreksi yang di dapat. Minho tidak senang akan hidupnya seperti yang Tuan Kang bayangkan, Minho adalah pria yang senang dan ingin lebih akan sesuatu di hidupnya. Minho kompetitif, hal ini terlalu terbuka jelas oleh Tuan Kang, seperti halaman pembuka dari sebuah buku. Dan Minho memiliki begitu banyak pikiran.

Kenapa?

Tuan Kang sekali – dua kali sering menemukan Minho duduk tenang dan mencoret-coret secarik kertas dengan pena. Hal itu terlalu sering hingga Tuan Kang menemukan dirinya tertarik untuk tahu apa yang dicoret oleh seorang Choi Minho. Sebuah agenda keuangankah? Sebuah fiksikah? Atau bahkan sebuah curahan hati?

Tebakan terakhir nyaris benar. Minho tengah menulis curahan hati dalam sebuah puisi. Tuan Kang tak sengaja menemukan tumpukan helaian kertas yang sudah cukup rapuh tertumpuk dalam sebuah sampul kulit tanpa pengikat. Helaian itu terlalu banyak hingga mampu disebut sebagai sebuah buku –jika helaian itu terjilid rapi. Rapuhnya kertas menandakan seberapa lama mereka tersimpan –bersatu dengan debu, untung tidak terurai.

"Apa Tuan Muda Minho pernah memiliki hubungan dengan beberapa wanita dulunya?" sempat Tuan Kang bertanya, setelah menemukan coretan hati Minho. Bertanya pada Uhm Yuna.

Yuna berpikir cukup lama saat itu, entah bingung harus memilih heels merah atau marun tua. "Aku rasa tidak. Dia hanya senang memainkan perasaan wanita yang mencoba mendekatinya." Yuna alih-alih membawa kedua heels tersebut. "Aku akan beli dua-duanya."

Memainkan katanya. Helaian kertas Minho bercerita lain. Helaian kertas Minho menggambarkan kisah, kisah yang –sepertinya- Minho rasakan. Minho seperti pria yang percaya akan cinta sejati. Mungkin Minho tengah mencari karena setiap helaiannya ada dimana hatinya bertanya, ada dimana hatinya bimbang dan ada dimana hatinya terluka. Tiap helai memiliki tanggal, tanpa nama dan judul. Helai yang tak memiliki tanggal mendapati tinta lain. Beberapa dari tinta lain itu terbaca familiar di ujung lidah Tuan Kang. Oh, ini adalah kalimat dari F. Scott Fitzgerald.

I used to build dreams about you—

Cukup dari sepenggal kalimat itu, Tuan Kang tau akan koreksi pengamatannya.

Seorang Choi Minho adalah pria puitis.

Terasa begitu nano. Terlahir megah bermakan sendok emas dan berlian, sosok Minho tentu gambaran dari arogan, penentang dan ingin bebas. Seolah Minho tahu fiksi dan omongan manusia dapat ia rusak dengan membentuk kepribadiaan yang lain. Ia bahagia dengan hidupnya dan ingin lebih. Ia kompetitif. Ia bahkan puitis walau tak ada yang mengubris. Kombinasi yang aneh, namun terlihat sempurna di seorang Choi Minho. Mungkin ini akan menjadi rahasia kecil diantara mereka.

Sejak saat itu, Tuan Kang selalu menyembunyikan helaian kertas di tempat yang mudah di dapat oleh Minho. Bahkan Tuan Kang juga menyediakan dua pena tak jauh dari helaian kertas itu disembunyikan. Ia puas tiap kali melihat helaian kertas semakin menipis, tertanda bahwa Minho memakainya dan ia rancu ingin bertanya telah berapa puisi tercipta olehnya?

"Aku memerlukan mata-mata handal."

Kalimat Paman Kyeong terdengar begitu kasar entah dasar apa di telinga Tuan Kang. Namun bukan Tuan Kang namanya jika ia tidak tau bagaimana sifat Paman Kyeong. Terlalu familiar akan sifat Paman Kyeong, Tuan Kang mencoba untuk menghadang susunan rencana apapun itu.

"Tuan, Anda terlalu keterlaluan jika harus tidak percaya dengan perasaan yang dimiliki oleh Tuan Muda."

"Aku benar-benar memerlukan mata-mata handal."

"Tuan—" Tuan Kang akhirnya mengalah, menghela panjang. "Baiklah, saya akan mencarikan mata-mata handal walau saya yakin Anda tak memerlukannya."

Segenap rasa ingin Tuan Kang katakan bahwa Minho bukanlah pria yang akan main-main masalah cinta. Jika Minho mengatakan ia ingin menikahi Jeonghan itu artinya pria itu menemukan cinta yang selama ini ia cari dan ia percaya, benar bukan? Gelombang romansa yang selama ini ia rasakan akhirnya menenang membentuk sebuah aliran manis, benar bukan?

Benar, bukan?