PUISI UNTUK CINDERELLA
CHAPTER 23
Minho memarkirkan mobilnya. Ia mengambil ponselnya yang tergeletak manis di kursi penumpang samping. Ia menghubungi Jeonghan. Perlu tiga ttu-ttu sebelum Jeonghan menerima telponnya dengan satu kata.
"Apa?"
"Aku tau kau tidak berada di rumah walau dokter menyuruhmu untuk beristihat selama kurang lebih dua hari."
"Kenapa kau terdengar khawatir dengan kondisiku?"
"Karena kau calon suamiku!"
"Ugh," Jeonghan memutar bola mata walau Minho tak melihat namun ia tau berdasarkan nada suara Jeonghan. "Jika kau tidak memiliki sesuatu yang penting untuk kau bicarakan, akan aku matikan!" ancamnya.
"Ada. Pertama, kau harus keluar dari kantormu, aku berada di depan—"
"Bye!" –TUT. Panggilan terputus. Beberapa detik kemudian Minho kembali menelpon, kali ini Jeonghan reject. Ia ingin fokus bekerja. Beristirahat untuk saat ini bukan pilihan. Toh, kepalanya terasa masih baik-baik saja hingga saat ini.
Minho sepertinya menyerah setelah mencoba menelpon dua kali. Jeonghan menyimpan ponselnya dan mulai fokus pada pekerjaan. Mengingat sebentar lagi musim semi datang, koleksi terbaru mulai berhamburan dan konsep-konsep baru juga mulai bermunculan. Jeonghan perlu memperhatikan tiap-tiap detail karena pekerjaan si gembul Jung juga akan menjadi pekerjaannya. Bahkan Nona Jung sudah mulai merancang beberapa koleksi terbaru untuk di pamerkan dalam beberapa bulan ke depannya. Jeonghan ingin membantu Nona Jung di studionya namun dalam koleksi tahun ini entah mengapa Jeonghan ikut ditunjuk sebagai asisten editor sementara menggantikan asisten editor yang sedang mengambil cuti hamil. Kepala Jeonghan serasa ingin meledak jika ia harus mengurutkan satu per satu tugasnya setelah pemotretan ini. Jeonghan perlu ikut rapat mingguan untuk merangkum ide terbitan terbaru. Jeonghan juga perlu pergi ke supplier kain untuk menemukan beberapa bahan yang diperlukan Nona Jung. Ditambah ia harus memeriksa narasumber terbaru untuk artikel bebas di majalah. Semua terasa menjadi beban jika mengingat Minho— ah, Choi Minho. Menyebutkan namanya saja sudah beban bagi seorang Yoon Jeonghan.
Satu studio berhenti bergerak ketika speaker dari ruangan informasi berdering pelan seolah seseorang mengetuk microfon. Satu studio terpaku pada pengeras suara secara bersamaan atau sekedar memasang telinga baik-baik.
"Selamat siang semuanya. Panggilan untuk Cinderella diharapkan untuk menemui calon suami di lobi kantor untuk melakukan fitting baju pernikahan. Sekali lagi panggilan untuk Cinderella diharapkan untuk menemui calon suami di lobi kantor untuk melakukan fitting baju pernikahan."
Sahut menyahut tawa terdengar dengan kalimat informan yang tak kalah bingung saat nama Cinderella harus disebut. Tak ada yang tahu siapa itu Cinderella tentunya.
Jeonghan menjatuhkan segala yang terpegang olehnya di panggilan pertama. Kuduknya meremang. Itu bukan namanya namun ia tahu dirinyalah yang tengah dipanggil. Ia berlari, kencang layaknya ninja dan menemukan Minho melambai manis, menyangkut di meja infomasi.
BAGUS CHOI MINHO, BAGUS! Wajah Jeonghan seolah berkata demikian. Jika bisa, Jeonghan mungkin sudah mengeluarkan tanduk dengan asap menggebu keluar dari lubang hidungnya. Segera tangan Jeonghan meraih kerah Minho dan menyeretnya keluar dari lobi meninggalkan para saksi mata dan telinga hanya mencoba mengolah adegan yang baru saja melintas.
Jeonghan ingin marah. Kedua tangannya telah terkepal dan mengudara ingin menghantam seorang Choi Minho. Entah malu entah kesal yang ia rasakan kini, ia pun tak tahu. Jeonghan ingin berteriak namun situasi tak akan memungkinkan. Jeonghan bahkan ingin menghancurkan wajah Minho jika bisa namun entah mengapa tiap inci dari tubuh Minho seperti berteriak jutaan won hingga Jeonghan tak berani menyentuhnya sedikitpun. Kepalan tangan Jeonghan akhirnya turun tanpa landasan. Merasa itu adalah isyarat berakhirnya emosi Jeonghan, Minho memamerkan kunci mobilnya dan mengajak Jeonghan untuk segera menuju mobilnya yang masih terparkir di depan kantor.
Jeonghan merebut kunci mobil tanpa perintah dan melangkah keras menuju mobil. Nyaris ia membanting pintu mobil namun segera sadar bahwa tanggalnya pintu mobil akan mengakibatkan salah satu ginjalnya ikut tanggal sebagai biaya perbaikan.
Jeonghan menjadi pengemudi dan Minho duduk di bangku samping supir. Minho memasukkan alamat toko yang akan menjadi pilihan baju pengantin mereka ke navigator.
"Ini adalah toko favorit keluarga kami." Minho hendak bercerita namun ketika Jeonghan memasukkan persneling dan menginjak keras pedal, tubuh Minho terbawa arus hingga punggungnya mencium sempurna jok mobil. "Haha, kau marah?" sindir Minho.
"HA! AKU MARAH?! HAA!" balas Jeonghan tak kalah sarkasme dengan suara setengah berteriak. "Untuk apa aku marah?! Aku baru saja meninggalkan pekerjaanku di tengah pemotretan! Aku juga harus kembali ke kantor untuk melakukan rapat karena aku harus menggantikan asisten editor yang tengah cuti hamil! Aku bahkan perlu menemukan narasumber baru agar tim reporter dapat memberikanku bahan baru untuk artikel bebas! Kau juga pasti tidak percaya bahwa aku harus pergi memilih kain yang diperlukan si gembul Jung yang sepertinya tidak bisa aku lakukan hari ini! Dan terimakasih padamu aku sepertinya tidak akan bisa ke studio si gembul Jung untuk belajar koleksi terbarunya karena pernikahan gila ini akan dilaksanakan dalam seminggu lagi!" Jeonghan menginjak rem mendadak untuk berhenti di lampu lalu lintas setelah puas memacu kecepatan diatas 100 km/jam. Beruntung Minho menahan tubuhnya untuk tetap seimbang hingga kepalanya selamat dari benturan.
"Untuk apa aku marah?!" Jeonghan melotot pada Minho yang berpegang teguh pada safety beltnya.
Kepala Minho mengangguk dengan mata mengatup takut. "Ya, kau tak mungkin marah. Maafkan aku."
"Belok kiri."
"Belok kiri."
"Belok kiri."
"Haish—!" tangan Jeonghan mengudara, siap menghantam sebelum PIP— Minho berhasil mematikan navigator terlebih dahulu sebelum benda itu menjadi jenazah di tangan Jeonghan.
