Typo's itu hal lumrah, saudaraku.

Dunia ini seperti segitiga. Yang diatas —akan selalu diatas, dan dibawah akan semakin dibawah.

Kata siapa dunia ini berputar bagaikan roda? Itu dahulu, pepatah kuno itu harus dibantah sekarang.

Toh, itu terjadi padanya. Namanya Haechan, dengan nama aktenya Lee Donghyuck. Pemuda manis —katakan begitu— yang sekarang menginjak umur 20 tahun. Hidupnya? Jangan ditanya, tapi terlanjur tertanya. Kalau begitu jadinya, mari kita bahas sedikit.

Genggamannya pada gagang pintu rumahnya tidak lepas sedari tadi. Pikirannya berkecamuk antara membiarkannya terbuka, dan tidak.

Bukan, bukan apa-apa sebenarnya. Hanya, dirinya yang lain tidak membiarkannya terbuka. Entah apa, firasat dan badannya menolak.

Ah, masa peduli, ia harus keluar. Lalu, bekerja. Dan, kemudian pulang kembali. Toh, didaerahnya ini tidak ada yang aneh-aneh.

Kuatkan insting, siap kan mental. Dia tidak pernah tahu kalau membuka pintu saja bisa se mendebarkan ini.

Seperti ingin bertemu jodohnya saja. Tahu tingkat seksual saja belum, bagaimana bisa bertemu? Gila.

Nightmare, Mafia!

"Sudah mendapatkan hasilnya?" Pria itu mendecak, terlihat sekali ejekannya. Berlagak sok kaya, jam tangannya yang mahal itu ia benarkan.

Dingin, sebanding apa yang diberikan, "apa maksud mu?"

Langkanya maju, "Aku tidak pernah menyangka, benih alpha ku menghasilkan anak sepertimu." Pria paruh baya itu mengatakan membuat suasana semakin ruam.

Membalas, "Tapi, ini anakmu satu-satunya, aboeji."

"Aku tidak pernah berharap memiliki anak seperti mu. Carilah mate mu. Aboeji ingin segera memiliki anak." Dia berbicara santai, meninggalkan ruangan tanpa izin pemilik. Langkah pekerja kerasnya menyapa lantai kayu itu selagi suara sepatu pantofel nya menyapa gendang.

Dirinya membuka pintu, "Aboeji akan bangga padamu, sudah sebenarnya. Tapi, Mark Lee, umurmu sudah 27 tahun. Carilah mate mu. Aboeji tahu, tantangannya akan susah, tapi tolonglah.. lanjutkan keturunan Aboeji dan Eomma mu." Dengan begitu, suara pintu yang tertutup itu terdengar keras.

Mark, pria dewasa itu hanya menatap lirih ke arah pintu. Lalu, teralih pada jendela kamar besar tersebut. "Ya. Semoga saja."

Tantangan terberat seorang mafia kelas atas keluarga Lee itu satu. Bukan menghadapi musuh, ataupun membunuh seorang yang berkhianat di kalangannya.

Mate. Itu masalahnya.

Nightmare, Mafia!

"Kau sakit? Atau disakiti? Ingin ku kasihani, tapi aku tidak punya uang." Tangan yang mengelap meja kasir pria itu masih bisa saja berkata mengejek. Ditambah kekehan candaan menyelekit itu.

Mendudukan diri di atas kursi kasir, "Enak saja. Aku bukan pengemis. Kau yang menyakiti Jaemin karena tidak segera menikahi nya."

Lapannya berhenti, "Itu lebih baik dibandingkan kau yang bahkan tidak tahu kelaminmu." Senyuman itu, bukan bahagia, tapi senyuman mengejek. Dasar.

"Aku laki-laki, berbatang."

"Lalu?"

Dirinya menegakkan diri, "Pasti aku seorang Beta kalau tidak Alpha. Itu pasti." Sombongnya mulai, padahal tidak ada manfaat.

"Kau yakin sekali wahai fergeso."

"Lebih baik yakin meyakinkan dibandingkan digantung seperti Jaemin. Aku tidak mau." Tawa ejeknya keluar disini kala sang lawan main terlihat kesal.

"Sial kau Lee Donghyuck. Ku doakan kau akan bertemu matemu dalam keadaan omega." Katanya melantur, itu menurut Haechan. Mungkin, dia marah. Itu bagus, ia menjadi senang.

"Itu tidak mungkin Lee Jeno, dalam silsilah keluarga ku tidak ada yang omega. Mereka semua Beta."

"Aku lebih tua 2 tahun darimu, Hyuck. Dan sungguh, nanti malam aku akan membuat ritual untuk membuatmu termasuk populasi omega yang sekarang 5% itu." Dirasa Jeno sudah membersihkan tempat Donghyuck berkerja itu, ia beranjak diri. Telinganya pun sudah gatal mendengarnya.

"Dari pada membuat ritual membuatku menjadi Omega. Buatlah Jaemin menjadi istri sah mu, Jeno Hyung."

"Bangsat kamu. Lihat saja." Kakinya terhentak pergi. Pria dewasa yang telah menginjak umur 22 tahun itu pergi meninggalkan Donghyuck tanpa sekata-kata lagi maupun candaan ejek lainnya. Lap kainnya ia selempangnya ke atas bahu gagah khas seorang alpha.

Donghyuck terkekeh, sungguh. Ini candaan seru di malam hari sebelum cafe tempatnya berkerja tutup. Menggoda Jeno Hyung dengan perihal menikahi Jaemin itu topik yang tiada habisnya.

Jaemin itu teman Donghyuck. Sewaktu SMA, mereka berdua sangat dekat kala itu. Ya, sama saja sampai sekarang, Donghyuck masih dekat dan bersahabat dengan Beta manis tersebut. Walaupun, sekarang Jaemin sudah berkuliah di universitas terkemuka Seoul. Berbeda dengannya yang hanya berkuliah sampai D3 di universitas terdekat dan termurah daerah sini. Sesuai jurusannya —akutansi, dia menjadi kasir disini.

Ekonomi memang yang mempengaruhi dunia sekarang. Terkadang, Donghyuck berfikir bagaimana ya rasanya menjadi orang kaya? Apakah seenak Jaemin? Anak itu, sudah dikaruniai wajah yang tampan dan manis dikala bersamaan, badan yang proposional, orang tua yang sayang padanya —dan lengkap tentunya. Ditambah, diumurnya yang seumuran dengannya, Jaemin sudah bertemu dengan sang pujaan hati.

Sewaktu mereka berumur 18 tahun saja, Jaemin sudah mengetahui status seksual dia. Donghyuck awalnya berfikir, mungkin dirinya agak telat —tapi, Jaemin ingin menikah saja dirinya belum mengetahuinya.

Apa ada yang aneh dengan dirinya?

Nightmare, Mafia!

"Mark sajangnim. Klien kali ini meminta untuk bertemu di daerah pedesaan." Ia melakukan tugasnya, menyerahkan beberapa dokumen merah di atas meja panjang itu. Menambah beberapa pekerjaan untuk sang atasan.

"Siapa?" Tangannya terulur, membuka dokumen.

"Tuang Hong. Beliau memang sering sekali meminta untuk bertemu di daerah pedesaan pada kliennya yang lain."

"Atur saja." Pinta Mark. Matanya masih meneliti profil seseorang yang di sebut tuan Hong ini.

"Baiklah, saya permisi." Perempuan itu mundur diri. Dirinya langsung saja keluar tanpa ingin menggangu sang atasan yang terkenal arogan tersebut. Mark tak menjawab, ia masih saja menelisik profil.

"Ghongjang?" Nama desa yang asing tapi familiar di telinganya. Bahkan, sang otak merespon dengan mencari-cari informasi tentang desa ini.

Desa apa ini?

Nightmare, Mafia!

Sebuah tangan besar itu mengeriya perutnya. Berputar-putar dengan abstrak seakan memberikan euforia tersendiri. Ukurannya besar dan dingin berbanding balik dengan tubuhnya yang panas dan gatal akan sentuhan.

"Anhhh—"Sial. Satu suara keluar dari mulut sang pria yang lebih kecil. Suara itu terdengar kecil dan merintih, tapi dapat membuat sang gairah pemain bertambah. Tangan itu tidak diam, ia melanjutkan aksi bejatnya pada tubuh pria yang lebih muda.

"You're beautiful, little bear." Suara itu terdengar berat. Gaya khas seorang lelaki dewasa. Pujiannya dan sentuhannya tak dapat tertolak oleh yang dibawah.

Tubuhnya serasa ingin disentuh, di orak-arik, apapun itu yang penting dia menyentuh dirinya dan ia bisa terbang menuju kenikmatan surga.

Tulang belakangnya ia lengkungkan, agar sang pria diatasnya dapat mendengar dan merasakan apa yang ia maksud.

Dia tidak kenal pria didepannya ini, bayang-bayang hitam menutupi hanya ada badan akan haus sentuhan, seks, dan penis.

"Donghyuck.. we're mate. Don't go back. Stay." Dan setelahnya, lehernya terasa sangat sakit.

"aAHH—!" suara melengking nya menyapa hari ini. Napasnya memburu cepat. Terengah-engah dan segera mengambil oksigen pagi sebanyak apapun. Dirinya terbangun karena kaget akan mimpinya. Dirinya langsung menyentuh lehernya yang terasa nyeri.

Seperti bukan mimpi, tapi itu tidak nyata.

Tak mau menunggu lama, ia langsung menyebak selimut yang menutupi tubuhnya, dan lihatlah. Dia mimpi basah.

Dia sedikit senang —dan takut.

Menenangkan diri dahulu, berusaha menghalau sampingkan mimpinya. Donghyuck melepaskan celananya dan beranjak turun dari ranjang.

Dirinya yang hanya memakai seulas kain pun, membuka sprei putih dengan bau sperma itu. Dan, berjalan santai keluar ruangan masih dengan perasaan cemas.

Ini mimpi pertamanya seperti itu. Tapi, ini aneh, kenapa ia serasa di pihak bawah?

[ To be continued ]

Halo

Hihi, ini debut pertama ku untuk menulis. Semoga kalian sukak! Aku butuh bimbingan —tentu. Pun lagi, ini pertama kalinya aku menulis dengan tema seperti ini.

Aku membuat cerita ini dengan age gap! karena kekurangan asupan, akhirnya aku yang memberi asupan. Ah, maafkan aku karena banyak bicara.

Terimakasih telah membaca cerita ini :) RnR sangat di butuhkan

Mari berspekulasi bersama!