typo's itu lumrah, wahai saudaraku.

.

.

.

.

.

.

.

.

Srek.

Dirinya berganti baju. Diruangan belakang tempat dia bekerja. Mengganti bajunya, menjadi seorang waitress. Cafe tempatnya bekerja memang unik. Dia kasir. Tapi, di beri seragam. Tidak ada seseorang di ruangan itu. Dia sendiri, dengan lampu menemani sih.

Tangannya mungkin berkonsentrasi pada kerapihan bajunya, tapi pikirannya tidak bisa menolak untuk beratensi pada mimpinya semalam.

Bagaimana bisa?

Bukan —bukan, bukan begitu. Dia hanya merasa aneh, dia.. bukan seorang yang berada di pihak bawah kan? Bahasa kasarnya sebagai penggoda.

Atau, yang kalian kenal sebagai omega.

Kepalanya refleks menggeleng. Sungguh, ia lebih baik menjadi Beta di bandingkan menjadi pihak bawah dalam status seksualitas.

Ia akan bersyukur dan berharap menjadi omega —jikalau dirinya seorang perempuan. Bukan berbatang seperti kelaminnya sekarang.

Sebuah kaca terpampang didepannya, memantulkan bayangan dirinya. Tubuhnya terbilang kecil. Oke, ia akui itu. Mamanya pun bertubuh kecil —dengan status sang mama sebagai Beta.

Jadi, itu bentuk tubuh turunan. Ya, mungkin.

Tangannya bergerak, mengelus pelan cerucuk lehernya yang terasa berbeda. Seperti ada sesuatu yang timbul. Serius, ini terasa berbeda seperti biasa. Oke, dia telah mengulanginya 2 kali.

Dahinya berkerut, wajahnya menimpikan mimik heran sembari sang tangan yang masih menepuk-nepuk pelan cerucuk leher didalam kerah baju kemejanya.

Badannya terbalik, terpampang jelas punggung belakanganya yang terlihat kecil, "Astaga." Matanya sedikit terbelak. Sebuah timbulan berbentuk seperti goresan yang pernah ia lihat di rumus matematika itu tertimbul di atas tubuhnya.

Jantungnya tiba-tiba berdetak. Tangannya pun tak berhenti menepuk-nepuk si timbulan. Terkadang, menggaruknya.

Timbulan yang ada memang masih setengah gambar saja. Tapi, ia tidak bodoh untuk menyadari bentuk apa itu.

"Ini —ini, tidak nyata." Donghyuck menggeleng kendati ujung matanya tak berhenti menatap sang pantulan —lebih tepatnya pada timbulan yang ada.

"Tidak mun—tidak Hyuck. Berfikir positif. Itu hanya gigitan nyamuk. Ya, jangan berfikiran yang macam-macam." Matanya terpejam. Tangannya pun telah terlepas, lebih memilih untuk melakukan meditasi dadakan. Udara siang pun ia ambil sebanyak mungkin. Sedikit pengap, ruangan ini minim fentilasi.

"Baiklah. Kita bekerja, jangan berfikir macam-macam, jelek."

Nightmare, mafia!

"Wah—tuan Lee sajangnim. Sudah lama ya kita tidak bertemu." Auranya cerah. Aneh, tidak sesuai dengan apa yang dia lakukan sekarang. Seperti tidak tahu dosa saja.

Sang lawan main maju beberapa langkah, tangannya masih didalam saku. Hanya bibir kirinya lah yang menyambut, "Ini pesananmu tuan Hong." Seseorang berada di belakangnya. Tampilannya tidak jauh beda, serba hitam. Menyerahkan sebuah koper besar.

Tersenyum puas kearah koper, "Memang, kinerja seorang mafia kelas atas tidak teragukan. Sesuai pesanan?"

"Sesuai." Frekuensi berat itu ditemani oleh terbukanya kunci koper. Berbagai macam alat senjata terlarang dan ilegal tertampil secara bebas di dalam koper.

Sang pria tua itu menggosok kedua tangannya —tergiur apa yang dia lihat, "Memang. Kau membanggakan Mark."

Perjanjian setelahnya adalah transaksi uang. Sang pembeli harus memberi uang dengan nilai yang setara —tidak mudah mendapatkan alat-alat itu dalam jangka waktu dekat, mereka harus setara.

"Tapi, tetap saja. Kau mudah di bohongi." Atmosfer berganti. Suara tembakan memenuhi gendang penghuni ruangan disana.

Cih, pria botak itu melanggar perjanjian.

Pria botak —mr. Hong— mengambil salah satu revolver ilegal di dalam koper itu. Revolver termahal dan terbahaya. Tidak perlu membahas harga, itu tidak berguna.

Pria itu menggelikan. Sudah berkhianat, membawa kawanan. Menjijikan.

Dalam hitungan detik, tempat itu menampikkan percikan api. Fuck, "Rencana B."

Seketika saja, Mark berserta bawahannya pergi keluar. Api pun membakar tempat transaksi gelap tersebut.

Kakek botak itu. Bermain dengannya ternyata.

Nightmare, Mafia!

"Hyuckie. Auramu berbeda."

Donghyuck mendongak kearah depan, selagi dirinya menghitung penghasilan hari ini. "Apa?"

Pria di depannya mengulang dengan tatapan yang lebih mantap, "Aura dirimu berbeda Lee Donghyuck."

Donghyuck berdecih mendengarnya —menganggap pernyataan itu hanya lelucon malam, "Jangan bercanda Na Jaemin." Matanya kembali ke arah uang yang sedang di hitungnya.

"Ih —serius, berbeda saja." Jaemin lebih memajukan dirinya, menumpu diri pada bagian lengan. "Aku juga serius. Apa yang berbeda?" Pandangannya tak teralih. Ya jangan sampai, pusing dia nanti menghitung dari ulang.

"Aku bilang, auramu. Tidak ada pengulangan."

Donghyuck menghentikan hitungannya, mendongak kembali —selagi, menghafal akhir jumlah yang ia hitung, "Aku juga bilang, jangan bercanda macam-macam. Kamu terlalu banyak berteman dengan Jeno Hyung, virus tidak jelasnya menyebar ke dirimu." Dan, Donghyuck menghitung kembali.

"Aku bukan berteman dengan Jeno Hyung. Aku mate nya. Walaupun kita tidak berteman, kita satu takdir." Jaemin mencerocos dan berkekeh diri. Dia akui, Jaemin lebih berisik darinya —dalam beberapa aspek.

Matanya berotasi, "Ya, ya. Jangan ganggu aku kumohon. Hitunganku masih banyak." Donghyuck menyerah, dah mengalah. Dirinya menulis bilangan di atas buku catatannya. Mengisi salah satu kolom, lalu melanjutkan kegiatan selanjutnya —menghitung yang lain.

Jaemjn menyeruput minuman didepannya, ditatapnya gelas kaca berisi minuman kesukaannya itu, lalu bergantian menatap ke arah sahabatnya yang sedang berkonsentrasi pada sang alat kasir —atau setumpuk uang yang banyak.

"Hyuck." Panggilnya.

"Hn," sang lawan hanya berdeham kecil. Sungguh, dirinya tidak bisa di ganggu kali ini.

"Kau tidak mengalami hal sesuatu apa?" Jaemin bertanya kendati mengaduk-aduk minuman dengan sedotan pink yang tersedia.

"Hyuck.."

"Kurasa tidak." Donghyuck menjawab setelah terdiam beberapa saat. Terdengar menyakinkan, tapi dirinya tidak membutuhkan jawaban itu.

Jaemin kembali bertanya, "kau yakin?"

"Kurasa." Itu terdengar kecil. "Kenapa memang?"

"Tidak apa —ya, tidak apa." Jaemin mengalihkan. Mungkin belum waktunya Donghyuck bercerita. Dia akan menunggu, sabar saja.

"Ck. Buang-buang waktu." Donghyuck kembali memberikan segala pikirannya ke pada pekerjaannya yang sebelumnya terbagi untuk bercakap dengan Daniel.

"Maafkan lah. Aku kan hanya—"

"Sayang! Ayo pulang." Ucapan Jaemin terselak oleh seseorang yang dicintainya. Pria bersurai hitam legam itu menarik dirinya untuk berdiri kemudian menghampiri Donghyuck yang sedang menulis di buku keuangan.

Menoleh, "Kalian sudah ingin pulang?" Donghyuck bertanya. Tangannya masih saja memegang pensil dan uang.

"Iya. Tidak apa kan Hyuck kau pulang sendiri nanti?" Seongwoo berbasa-basi. Alasan, tidak usah sok khawatir begitu.

Jaemin pun ikut, "Tidak apa Hyuck?" Nah, kalau ini dia percaya kalau bukan sebuah karangan sejenak.

"Bagaimana ya?" Donghyuck iseng menggoda. Melepas kan segala uang itu dan pensil, lalu merenggangkan tubuh, "Ugh —tubuhku lelah."

Jaemin melihat, dia merasa iba. Mereka berteman dari dulu, jadi dia tahu —ya sekiranya, "Tuh Hyung! Donghyuck kita, baby bear kita lelah. Jangan pergi ya? Kita tunggu dan pulang bersama saja." Jaemin meminta pun lagi dengan tatapan itu. Jeno jadi lemah, mama.

"Tapi sayang, pasar malam itu hanya ada sebulan sekali. Babe katanya ingin kesana? Nanti keburu semakin malam, kau malah tertidur di jalan. Itu lebih tidak lucu."

"Memang kata siapa lucu?"

"Sudah—sudah. Pergilah dasar pasangan tergantungkan." Putus Donghyuck. Ia menghempas-hempaskan tangannya seraya agar obrolan itu tidak berlanjut.

Jaemin menatap Donghyuck, "Lalu kau?"

"Aku sudah dewasa. Bisa pulang sendiri. Pun lagi, siapa yang ingin menculik ku? Aku kan tampan." Pede sekali.

Jeno melipat lengan, "Dewasa dari mana? Tahu jenis kelamin saja belum. Pun lagi Hyuck, dirimu itu seperti ciri-ciri omega dibandingkan sejajar dengan seorang Beta, apalagi Alpha. Tidak, tidak—"

Donghyuck menatap tajam ke arah Jeno, dia sakit hati, "Apa maksudmu?" Ucapnya dingin.

Sekarang malah yang tadi ter-goda menggoda yang menggoda, "Ku bilang, auramu berbeda."

"Kapan kau bilang? Hanya Jaemin yang baru mengatakannya."

Jeno malah tersenyum mendengarnya —orang gila, "Berarti, aku dan Jaemin memang sehati."

"Pasanganmu gila, Nana." Donghyuck memang sudah merasa, Jaemin sepertinya mendapat mate yang kurang beruntung. "Jeno Hyung. Jangan menggoda Donghyuckie!"

"Aku tidak menggoda, Na. Hanya melampirkan. Berarti Hyuck, kalau Jaemin-ku saja yang seorang Beta bisa mencium auramu. Jangan-jangan, kau tahu?"

Donghyuck mendelik, Jeno menatapnya dengan aneh, "A—apa?!" Gertaknya.

Ancang-ancang, Jeno memegang tangan Jaemin, "Berarti kau seorang omega!" Dan benar, dirinya berlari keluar. Dengan membawa seosok tubuh Jaemin yang di tarik kerasnya. Tidak sadarkah bahwa dirinya itu seorang alpha?

Jaemin kaget, dan hanya bisa menyeimbangi langkah sang alpha, "Jeno Hyung!! Hyuckie —kami pergi dulu!" Setelahnya, terdengar suara lonceng tertutup.

Dirinya memerah —membelak kaget sebenarnya, "Me—mereka aneh."

Suasana hening kembali, huft. Lebih baik ia cepat-cepat kan pekerjaan nya agar ia lekas pergi pulang.

Malam yang panjang. Dan, tentu, ia berharap itu hanya suata hal candaan saja. Hahaha, iya. Sepertinya ya?

[ To be Continued ]

Halo!

Aku tidak tahu harus menulis apa, Oh ya —maafkan aku kalau ada nama-nama yang tertukar, semisalnya Jaehwan, dan Daniel

awal mulanya, aku membuat ini untuk pairing Minhwan tapi, serasa cocok juga di Markhyuck. So, why not?

Genre A/B/O yang ku pakai disini untuk tingkat seksualitas ya, jadi bukan untuk werewolf ataupun serigala. Mereka manusia, hanya ada tingkatan. Karena, aku menambahkan genre mafia ke dalam sini.

Maafkan atas penulisanku yang masih kurang ini, apalagi ini tantangan tersendiri bagi ku menulis semacam ini. Fighting semua!

Saran dan tanggapan sangat diterima

Terimakasih telah mampir jangan lupa RnR nya ya!

Jaga tubuh, musim penghujan datang!

Mari berspekulasi bersama