Typo's itu lumrah, saudara-saudara.
.
.
.
.
.
.
.
Tangan itu mengikat beringas sang musuh. "T —tolong tuan Lee." suara sang tikus mencicit. Tikus botak itu lemah, bertindak tanpa tahu resiko. Gilir sudah ditangkap, bahasanya berubah sopan. Pencitraan.
Tak ada jawaban, maupun belas kasihan. Ruangan gelap, menambah kesan kejam. Terambilah sesuatu didalam sakunya. Ceruti kecil —tapi tajam, terlihat dari ujung mata pisau kecil tersebut. "Ephh." Mulut berisik itu di tutup. Di paksa berdiri lalu ditarik kasar ke sebuah ruangan. Suara debaman pintu pun terdengar nyaring karenanya.
"Dia tidak bisa dibiarkan lolos. Bunuh. Dasar, bocah botak." Mulutnya tak terkontrol, mengeluarkan sumpah serapah pun lagi ejekan tak tahu tanggung. Tidak bisa berdiam lama disana. Menurut Mark, membunuh seseorang semacam bapak tua itu bukan urusannya. Tangannya terlalu disayangkan untuk membunuh manusia tua, ia masih menghormati. Lebih baik ia membunuh manusia yang tidak layak hidup.
Uapan nikotin itu keluar dari belah bibir tipisnya. Mengamati dari lantai atas, bagaimana pemandangan dari desa ini. Tidak salah para anak buahnya memilih rumah diujung tebing begini.
Menghirup nitrogen basah bercampur nikotin untuk masuk keparu-parunya. Ia menikmati hidup lajangnya untuk saat ini. Para teman lainnya terkadang merasa iri pada dirinya karena masih melajang di umur 27 tahun.
Umur bebas untuk melakukan sesuatu. Ya siapa suruh mereka menikah.
Batang rokok itu ia hisap lagi bersama pikirannya yang berkecamuk.
Udara yang seberapa itu —walaupun belum menghabiskan, terganggu, dering telfon berbunyi. Bangsat, siapa yang menelepon malam-malam begini.
Layar radiasi memunculkan nama 'Hwang eomma'
Tumben, fikir Mark. Serius, ibunya itu —sepenting apapun itu, jarang sekali menelepon. Beliau lebih suka bertemu langsung dan membalas rindu pada si anak.
"Yeoboseyo" sebagai anak yang baik dan menjujung nilai tinggi ke citraan –Mark menyapa.
"Mark-ah! Kamu sedang di desa Ghongjang ya?" suara ibunya menyapa gendang. Suara itu cempreng sekali, kadang ia berfikir bagaimana sang ayah bisa mendapatkan mate seberisik ibunya.
Putung rokok itu ia serbukan di gagang besi balkon. Melihat dengan jelas kandungan beracun itu jatuh ke bawah tebing. "Kenapa memangnya Bu?" mungkin kandungan itu sudah sampai tanah dan merusak kandungan humus. Itu bagus.
"Ayolah nak.. jangan polos."
Malah sekarang, ia merasa ini bukan ibunya —seperti teman sepantaran saja, "Sudah tidak dari dulu, Bu."
"Kalau kau tidak faham maksud ibu. Ibu akan ke mansion mu sekarang. Jemput Ibu di terminal desa." Nekat. Mungkin kata itu yang hanya dapat di deskripsikan watak sang ibu sekarang.
"Ibu.. jangan nekat begitu, ingat umur. Aku disini hanya melakukan tugas." Sang anak menolak halus. Ibunya itu terkadang suka beralibi. Alibi yang harus di penuhi, dan terjadi —keras kepala.
"Nak. Kamu tidak usah menghawatirkan umur Ibu. Khawatir kan mate mu nak!"
Bahasan ini lagi.
Menghela nafas, "tenang saja Bu. Aku akan menemuinya." Mark kali ini berusaha menekan nekat sang Ibu.
Suara gesekan dan resleting terdengar di sambungan, apa yang terjadi berikutnya? "Ibu kenal dirimu nak. Sudah, jemput ibu sekarang." Setelahnya, sambungan dimatikan sepihak.
Sial, sekarang ia tahu dari mana ia mendapatkan sifat keras. Bukan hanya Aboeji-nya, tapi Ibunya pun ikut andil.
Nightmare, mafia!
Ini hari yang berbeda. Tapi, sama saja dirasa. Ia kerja lembur sendiri.
Setelah kemarin malam Minggu dirinya di biarkan sendiri —dan sekarang pasangan yang entah kapan resminya itu meninggalkan cafe ini lagi.
Kalau mereka berbuat seperti ini lagi, biar ia sumpah kan saja mereka tidak resmi-resminya.
"Sabar, Hyuck." Donghyuck keluar dari minimarket. Kau tahu yang membuatnya kesal itu bukan hanya sekedar kata meninggalkan, mereka juga menitipkan.
Dua kantong besar ini sebagai sanksinya —ah, jangan lupakan dompetnya yang terperas.
Tangan kanannya sakit, otot-otot tersebut dipaksa menahan semua snack-snack penuh dosa, "Uh, untung saja Jeno Hyung telah memesankan supir online untukku. Bisa mati aku membawa semua barang ini ke halte depan." Sembari sang tangan kiri memegang handphone, ia melangkahkan kaki menuju parkiran.
Kosong.
Parkiran kosong, lalu di mana mobilnya? Serius, tangannya tidak kuat lagi. Entah faktor dari mana, dirinya yang biasanya kuat mengangkat galon —mengangkat kembar plastik sekarang tidak kuat.
Uh, dia kembali iri pada otot-otot di lengan artis gym yang biasa ia datangi bersama Jaemin.
Pasti ini soalan mudah.
Kita pikirkan kembali, lirikan matanya melihat sebuah mobil hitam legam di sebrang jalan. Jeno bilang, mobilnya berwarna hitam, ia tidak bilang merek.
Perselisihan terjadi, antara itu mobilnya, dan tidak. Bodo amat lah, tangannya sakit. Serius. Ia tidak berbohong. Ditambah hawa tubuhnya yang sepertinya akan sakit.
Dan sekarang ia menjadi cerewet. Ada apa sebenarnya yang terjadi padanya itu?
Nightmare, mafia!
Mark menunggu di jok mobil, kendati tangannya tak berhenti-henti membuka handphone. Atensinya mengarah ke benda pipih itu, entah di mana ia sekarang.
Ibu
Mark! Jemput ibu!
Mark mendecak, bagaimana mau menjumpai jikalau ia bahkan tidak tahu perihal di mana, dan kapannya.
Beritahu aku alamatnya Bu.
Dan, sang Ibu hanya membaca. Sesakit ini kah? Oh ayolah, ia tahu dirinya mafia tapi ia khawatir pada ibunya. Bukankah sudah dia katakan kalau ia menghormati orang yang lebih tua.
Dia tidak tahan. Emosinya sedang tidak stabil seketika. Ia menyadari, tapi tanpa tahu apa alasannya.
"Ibu—"
Ceklek
Suara pintu mobilnya terbuka. Itu bukanlah sekedar suara saja, realitanya ada seseorang pria yang masuk kedalam —kedalam mobil.
Mark menatap ke arah jok sampingnya pun masih dengan handphone yang masih terhubung pada sang Ibu.
Entah berapa kali ia berkata kasar kali ini, bangsat. Siapa orang ini?
"Mark! Kamu anak nakal ya!—halo!"
Dengan seenaknya, Pria itu membenarkan duduknya agar terlihat nyaman. Ia tidak menyangka akan mendapatkan mobil online semahal ini. Tidak pernah terfikir jika ada supir online yang memakai mobil semahal ini —mereka biasanya hanya menggunakan barang rongsokan, maafkan dia.
Bahkan tadi saat ia ingin masuk, sedikit ragu. Pintu mobil ini saja sudah terlihat epic dimatanya.
Saat dirasa nyaman, "Ayo jalankan mobilnya." Kata-katanya terlampau pede, tanpa memikirkan seorang yang di sampingnya sudah menatapnya dingin. Pandangannya tertengok ke arah samping. Mereka bertatapan mata —katakan begitu.
Belah mata keduanya bertemu, sang pupil melebar dikala menatap.
Pria yang berada di jok supir itu —Mark— masih menatap tajam.
Dan, pria manis bersurai merah tersebut —Donghyuck— bersiap dengan jari-jari merekat di pembuka pintu mobil.
Sial, firasatnya benar. Bukan mobil ini, hanya saja sang hati dan otak seperti kompromi membawanya berjalan kesini.
Suasana akward seketika. Gila, ini bukan akward. Rasanya mendebarkan. Iya. Jantungnya serasa di pompa dadakan, dan otaknya pun terasa mabuk kepayang di kala menatap sang lawan mata. Ia berkata begitu, tapi masih saja berlanjut.
Hening cukup lama dirasa, tanpa ada pergerakan dari kedua pihak. Kedua pihak masih saja kaget —terutama debaran jantung dan panas yang menjalar seketika.
"Mark! Kamu dimana nak! Ibu sudah hampir sampai. Ayo jemput ibu!." Suara cempreng menusuk gendang. Membuat salah seorang oknum sadar.
Tersadar, Donghyuck segera mengalihkan pandang. Memaksakan diri untuk terlepas dari posisi nyaman agar keluar dari mobil itu.
Bisa gila ia lama-lama berada di sini.
Mark masih dalam posisi yang sama. Didalam hidupnya —kejam, maupun tidak. Ia tidak pernah merasakan rasa seperti ini didalam hidupnya.
Suara pintu mobil terbuka itu lebih bisa membuat Hwang Mark tersadar, di banding suara sang Ibu yang sangat cempreng.
"Maafkan saya. Sekali lagi maafkan saya." Dia pun segera pergi dari tempat kejadian, dengan bawaannya yang terasa berat.
Mark melihat dari kaca mobil yang tertutup itu. Tangan yang tertutup oleh sweater kebesaran itu menggaet dua kantong plastik yang cukup besar. Pundaknya terantih-antih karena berat.
Refleks, pintu mobilnya ia buka —dirinya keluar dari mobil. Meninggalkan telfon sang Ibu dan mobil menyala untuk menghampiri pria yang tidak dikenalnya tersebut. Ya, seingatnya.
Mengambil dua kantong besar tersebut, "Tidak perlu minta maaf. Mari saya antar kan." Dan, Mark membawa dua kantong itu kedalam bagasi. Ini enteng, tidak seberat dibandingkan apa yang ia lihat tadi.
Bawaan dari mana, seorang Mark Lee, mau merendahkan kasta hanya untuk memberi tumpangan pada orang awam.
Donghyuck kaget. Responan itu ia sampaikan melalui tubuhnya yang hanya diam ditempat dan melihati pria gagah itu mengambil kedua kantong plastiknya. Ia banyak bersyukur, dan sedikit menyesal.
Bersyukur karena kedua beban menimpanya itu tidak ada lagi. Dan, entah dari mana, ia yakin bahwasannya urusannya dengan pria itu tidak akan selesai dengan hubungan antar-mengantar. Pun hatinya berdebar dan merasa senang.
Ha tunggu, apa? Tidak mungkin kan dia mengalami love at first sight.
Tidak—tidak. Jangan berharap.]]
[ To Be Continue ]
Halo
Aku punya pertanyaan, sekiranya aku membuat setiap chapter hanya 1K kata boleh? Ya, seperti ini. Kalau lebih baik langsung panjang agar tidak lupa dengan alur, itu boleh, tapi lebih lama jangka upnya. Begini saja sudah lama up nya :')
Wah, aku membaca review kalian semua, sungguh aku terharu. Senang rasanya ada yang membaca alur aneh begini pun lagi tulisanku yang seperti kaki ayam, tidak benar penataannya.
mereka bertemu, ingin saja ku masukan soundtrack BBF sebagai selingan (ngaco). Ku pilih online gini, biar mainstream aja. Ketebak ya dari awal? :') semoga di chap ini ga ada yang taipo lagi, aamiin. Pun lagi, sepertinya masih kurang greget. Nanti saja ya gregetnya? PAS senin menghantuiku. Huhuhu.
ini terlalu banyak curhat, kita akhiri saja.
Terimakasih telah membaca, jangan lupa RnR~
mari berspekulasi bersama!
