Typos itu lumrah semua
.
.
.
.
.
Suasana sungguh canggung. Dia tidak berbohong, bahkan radio pun enggak menemani.
Kedua mimik itu saling mengalihkan. Merasa menyesali dan tidak faham runtukan bodoh yang mereka lakukan.
Itu tidak bodoh, hanya ceroboh.
Mark sendiri tak pernah sekalipun merasa responsif layaknya sekarang. Mengantarkan? Kata menyapa saja jarang ia praktekan.
Ia hanya merasa ada seorang dewi yang memanah busur hatinya. Itu terlalu mendadak, dan efeknya pun ikut terdesak.
Arah pandangnya memang mengarah serius pada hitamnya aspal, tetapi seluruh atensinya berada pada detaknya nafas.
Ini jarang terjadi, bahkan saat tangannya membunuh musuh tanpa ampun si tua jantung tidak berkerja secepat ini. Ketika seseorang menembak peluru, otaknya tidak mabuk kepayang seperti ini.
Donghyuck sama.
Pria manis itu sedari tadi hanya memainkan ujung bajunya. Melipat-lipat berharap ini hanya mimpi. Jantung berdetak, kepalanya pun pusing seketika. Serius, ini terlalu aneh. Oh ayolah, dia awam terhadap hal seperti ini.
Nafasnya juga terengah-engah. Mobil ini mahal, tapi udara di luar lebih dingin banding suasana di dalam. Dibilang sangkar pun tidak, tubuhnya menuntut dan menyamankan diri selayak —mobil ini tempatnya.
Tegukan air liur Donghyuck peralihkan. Walaupun, tidak ada yang bisa diteguk, produksi liurnya berkurang drastis. Sesuatu membuncah di ujung pita suaranya, ingin mengeluarkan sepatah kata (seperti, halo, hai atau semacamnya) untuk mengurangi rasa canggung.
Otaknya ikut bekerja 2 kali lebih keras hanya untuk memikirkan kata-kata yang pantas diucapkan. Pupilnya pun sedari tadi tidak bisa berhenti —seakan mengalihkan dari tubuh yang ingin menengok ke arah kanan.
Kepribadiannya memang pendiam, tapi dirinya tidak nyaman akan suasana ini. Selangnya, mentalnya siap —pandangannya menoleh.
Demi Esmeralda yang viral.
Mentalnya hancur, Ia tidak peduli lagi. Sempat tadi bertemu pandang, tapi tidak se jelas ini.
Rahang tegas dan putih itu, rambut hitam legamnya. Mata tajam yang terlihat fokus. Dia normal —dalam artian menyukai perempuan, tapi sekarang? Apa yang terjadi? Pun lagi dirinya seorang alpha kan? Kalian harus mengiyakan.
Saraf belah bibir tidak bisa diajak kompromi, ia terbuka. Penghasilan liur pun meningkat, membuatnya seperti burung camar yang menampung air. Tapi, bukan itu —tubuhnya juga bereaksi.
Serasa ingin jatuh, ia meneguk. Lalu kembali ke posisi semula. Tidak, tidak. Ia tidak kuat untuk mencoba sekedar hanya menyapa.
"Kau.. ingin kemana?" Mark mengajukan diri untuk bertanya. Dirinya pun baru menyadari sedari tadi ia hanya berputar-putar tanpa tahu letak alamat.
Lajuan mobilnya ia lambatkan, menoleh ke arah samping —menatap sang lawan bicara yang malah menunduk. Itu tidak sopan, hanya saja terlihat lucu dalam benaknya.
Pipinya putih, semburat merah tidak bisa sembunyi lagi. Bukan hanya berpengaruh pada sang asing, Mark juga merasa memerah di arah kuping —kukatakan, dirinya tidak mudah merona di pipi hanya saja mereka lebih suka menghidap di telinga.
Setelah ini, Mark sungguh ingin pergi ke dokter mata. Seseorang ini memiliki daya ikat yang tinggi, dia tidak bisa berpaling. Pun lagi ia mesti berkunjung dahulu pada dokter jantung. Dia memang sudah dewasa, tapi jantungnya berdegup tak seirama.
"T-tuan antarkan saja aku hingga perumahan di depan sana." Suara di ujung tenggorokannya keluar, setelah sekian lama tertahan. Mark mendengarkannya, dan langsung menuju ke arah tempat yang ditunjuk dengan jantung yang di pompa layaknya sang mesin.
Suasana malam hari, tidak ada kendaraan yang berlalu lalang menambah kesan sepi diantara keduanya. Suara mobil terbuka, Donghyuck keluar.
Dua kantong itu menemaninya mendunduk, "Terimakasih tuan, maaf merepotkanmu. Sekali lagi terimakasih." Jika dihitung kembali, hanya hitungan jari saja bibir itu terbuka —tetapi, efek nya bisa membuat sang kepala mabuk.
Mark mengangguk saja, memang seharusnya begitu. Tetapi, netra matanya tak luput dari sang asing hingga pundak kecil itu pergi masuk ke dalam perumahan.
Kaca mobil hitam itu tertutup kembali. "Sial apa yang terjadi padaku?"
Nightmare, mafia!
"Don't brother me Jaemin!" Donghyuck melarang untuk Jaemin mendekat ke area kekuasaannya yang baru saja ia klaim dirumah Jaemin ini.
"Oh ayolah Hyuck, kami salah. Tapi sudah, mari makan jangan bergelung diri pada selimut tebal itu. Kalau kau kehabisan nafas didalam bagaimana?"
"Biarkan! Aku malu!" Dengan begitu, Donghyuck semakin memasukan dirinya pada tumpukan benda-benda lembut tersebut. Tubuh berisinya itu tertutup oleh tumpukan selimut, bantal dan boneka-boneka yang mengelilingi. Tubuhnya merasa nyaman akan benda-benda halus itu menyentuh tubuhnya.
Larangan itu dianggap angin oleh Jaemin, "Apa yang sebenarnya membuatmu malu?" Pria itu mendekat ke arah pojok kamar —tempat dimana Donghyuck dengan boneka-boneka plushie-nya sebagai rekan. Ia jarang sekali melihat seseorang bersikap seperti ini —dalam maksud, melihat Donghyuck berpeluk dan membaur diri dengan benda-benda dengan bulu lembut tersebut.
"Nyaman.." suaranya mendekap didalam bantal. Membuat diri yang mendekat dan sudah berjongkok di antara boneka miliknya itu tidak mendengarnya —hanya gumaman yang tidak jelas.
"Hn? Apa Hyuck?" pintanya meminta siaran ulang.
Tak ada jawaban yang diterima, Donghyuck mengambaikannya. "Hei. Ayo makan, aku sudah lapar." Jeno datang dan mengadu di ambang pintu. Durasi yang mereka lakukan sudah lama, dirinya lapar.
Jaemin menyaut, "Donghyuck bagaimana?"
Pandangan Jeno mengarah pada tubuh yang terkait, tumpukan bantal, selimut, hingga plushie mengelilingi dan menumpuk di tubuh itu —pun lagi pelakunya menunjukan sikap nyaman. "Apa yang terjadi padanya?"
"Entah hyung. Ini terasa aneh juga bagiku, jarang melihatnya seperti ini."
Tertarik akan apa yang terjadi, Jeno mendekat ke arah Jaemin. Efek yang terjadi, Donghyuck semakin memundurkan diri dan memojokan badannya ke arah tembok. Jaemin melihat perubahan posisi Donghyuck, "Kenapa Hyuck?"
Tidak ada sautan kembali, Jaemin khawatir sekarang. Teman dekatnya itu ketika sampai rumah langsung menuju kamar Jaemin dan wala! Membangun istana bonekanya. Sikap itu aneh, mungkin tidak bagi yang telah terbiasa bersikap layaknya itu —tapi, ini Donghyuck bung.
Jeno ikut duduk di samping Jaemin, dirinya menyilakan kaki menikmati tampilan di depannya seakan ini tontonan yang jarang. Oh ayolah, Donghyuck yang katanya seorang jantan itu menggulung diri di kamar Jaemin yang penuh boneka? Pun lagi, si katanya alpha itu menutup diri dengan boneka beserta teman-temannya.
Mereka cukup lama dalam posisi itu, hingga Jaemin berinisiatif membuka semua selimut yang menutupi wajah Donghyuck tersebut, "Donghyuck kenapa ha?" Tanya Jaemin. Pandang mata Donghyuck layu menatap sang lawan bicara. Anak itu seakan sakit ditambah pipinya yang memerah. Dengan inisiatif lebih, Jaemin menyentuh dahi Donghyuck yang tertutup poni lepeknya, "Panas?" Jeno bertanya.
Tangan itu terlepas dari dahi, "Tidak. Donghyuck kenapa ya Hyung?" Jaemin balik bertanya menatap pria disampingnya lalu kembali menatap Donghyuck yang sekarang menutup mata.
Alih-alih Donghyuck akan tertidur karena menandakan tanda-tanda terlelap, anak itu malah melepas diri dari daerah kepemilikannya dan menundukkan diri di pangkuan Jaemin. Jelas Jaemin kaget, "Hyuck?" Tambah, Donghyuck bukan hanya menundukkan diri, dirinya juga memeluk dan menyandarkan kepalanya pada dada sang sahabatnya ini.
Jeno jangan ditanya. Pria itu langsung menghadap ke arah samping dan melihat rekan kerja serta sahabat pacarnya ini bisa me-nyamankan diri di dada sang mate.
Jaemin apalagi, pria itu kaget se-kaget-kagetnya. Bagaimana bisa seorang Lee Donghyuck berubah semanja ini?
Sedikit menyamankan, "Pusing.. Donghyuck, pusing.." Setelah sekian lama, Donghyuck mengeluarkan kata. Kepalanya pun semakin menyusup ke dada yang terbilang bidang tersebut. Menghirup sesuatu udara yang selama ini tidak pernah ia cium. Entah kenapa, setelah ia bertemu orang awam tadi, Indra penciumannya lebih tajam.
"Pusing? Pusing kenapa?" Tanya Jaemin. Tangannya pun juga mengelus-elus rambut belakang Donghyuck yang basah karena keringat.
"Udara terasa berbeda Jaemin. Wangi badanmu enak, Jeno Hyung tidak. Baunya membuatku —takut," Donghyuck berbicara didalam dada Jaemin, membuat udara-udara tak kasat mata menyapa kaus oblong Jaemin. Dirinya pun tak luput untuk menggenggam kaus Jaemin lebih erat.
Bukan itu topiknya, Jaemin dengan Jeno kaget akan hal itu. Jika sebelumnya saja wangi tubuh (feromon) perempuan yang sedang heat saja tidak membuat pria dalam rangkulannya sekarang ini bergejolak, mencium wangi Jeno sudah takut duluan —padahal pria itu dalam masa normalnya.
"J—jeno Hyung tadi pesan mobil warna apa?" Pertanyaan diajukan pada Jeno, Donghyuck menoleh—tumpuan kepalanya masih pada sang dada.
Bahasan ini. Tengkuk tak gatal dia garuk, "Eh—itu, kau tahu 4 bulan setelah bulan ini apa?"
Donghyuck menatap sengit, lalu berusaha menghitung, "April." Jaemin keburu menjawabnya sebagai ganti. Dia jadi penasaran akan hal dan gelagat yang ditunjukan.
"Kau tahu, ya —aku hanya berlatih untuk acara di tanggal 1 bulan itu." Alasan yang bagus. Tapi, tidak bisa menghentikan bahwa dia berbohong. Jaemin sekarang yang menatap sengit sang mate. Berbeda Donghyuck yang malas, dan kembali semula. Wangi tubuh Jaemin cukup membuatnya tenang.
"Tadi —Donghyuck diantar,"
"Dengan seseorang yang tidak dikenal,
Nana, Hyung. Bukankah aneh jika seseorang yang kaya, awam menolong kalian tanpa balas kasih?" Jelas Donghyuck, kembali pada masa tadi.
Jaemin semakin penasaran akan hal ini, hanyut didalam cerita. Jeno berfikir keras, keadaan ini bukan hal aneh, tetapi jarang.
"Dia memiliki wajah yang sempurna, wanginya juga. Aku penasaran dengan parfum apa yang dia gunakan, baunya sungguh memabukkan. Aku jarang mabuk, tapi otakku seakan kepayang." Donghyuck menarik nafas dalam-dalam, perkataannya itu cukup panjang.
"Kalian tahu? Aku jarang memuji. Tapi, dia terlalu sempurna."
"Perempuan—" Jaemin bertanya sebelum ucapannya terelak.
"—sayangnya dia seorang pria." Dan setelahnya, Donghyuck menenggelamkan kepalanya ke Jaemin lebih erat. Dia malu. Akhirnya ia mengungkapkannya.
"Uh? Hei, kamu malu karena hal begitu?" Donghyuck menggangguk pelan, "Ah—lucu sekali," Jaemin mengimprovnya dengan mencubit pipi Donghyuck, "A—aku tidak lucu! Aku tampan, aku seroang alph—"
"—sepertinya kamu tidak bisa menyebut dirimu alpha lagi Hyuck." Jeno menyahut setelah sekian lama yakin atas pemikirannya.
"Kenapa? Aku memang alpha kok!"
Pandangan Jeno dan Jaemin bertemu, kembali menatap wajah Jaehwan yang mencebik, "Tidakkah kamu menyadari perubahannya?"
"Apa?"
"Aku tahu kamu bukan anak sepolos yang bahkan tidak tahu bau wangi alami badan,
Jika dirimu merasa aku menakutkan, padahal sebelumnya tidak —mari periksa besok ke dokter. Kita check ulang." Jeno terdengar meyakinkan akan ucapannya.
"T—tapi."
"Coba dulu ya?"
Mungkin benar kata Jeno dan Jaemin, perubahan ini terasa aneh. Terlalu signifikan dan mendadak. Dan, mungkin benar ia harus mencoba.
Tapi, apakah harus seorang omega?
Takdir tidak ada yang mengira, bak nyawa yang jalan, tidak akan tersadar jika jurang berada di bawah. Tapi sungguh, ia berharap tidak akan terjun di jurang itu. ]
[ To be Continue ]
ujian sekolah membunuh tulisan ku :'
hehe, untuk mengingat —Jaemin itu seorang Beta. aAa? beta, aku disini berusaha membuat kejarangan omega yang terjadi.
Jangan lupa RnR ya!
baibai~
