typo's itu kelumrahan yang harus di benahi
.
.
.
.
.
.
Sebuah perbedaan muncul, tidak terlalu menonjol tapi itu terlihat. Semua baik-baik saja, ya rasakan seperti itu saja.
Ini sudah seminggu berlalu. Suasana sama saja layak biasa, sepertinya aura magis milik seseorang itu mulai hilang. Berarti pria asing itu seorang penyihir? Atau katakanlah seorang tarot pria? Iya? Hahaha, suatu pikiran kekanakan yang terlewat di benak Donghyuck.
Benak itu sedang berjalan pagi —ah, tidak terlalu pagi, hanya saja, udara sekitar sedang mendung, membuatnya menjadi Subuh.
Hari ini Minggu, terlalu sayang untuk dilewatkan. Kerja libur, kumpulan kecebong yang tidak menggangu, uang bulanan cair. Rasanya rencananya kali ini akan berhasil.
Awalnya, ia tidak terlalu memperdulikan sesuatu yang berubah maupun perkataan Jeno dan Jaemin yang mengatakan sesuatu hal tidak mungkin. Tapi, mereka menghantui. Salahkan dirinya yang memiliki sifat penasaran berlebih, pun lagi ketidak pekaan yang terlalu. Memutuskan ia akan pergi menuju rumah sakit dan melakukannya diam-diam, ini terlalu sensitif baginya yang mengakui diri dengan tinggi.
Ya, dia melakukan tes itu —dia pernah melakukannya hanya sekedar saja(tes sekolah) belum mencoba secara legal dan terincinya. Jangan tertawa, dia hanya penasaran. Toh, hasilnya mungkin masih sama kan, dia alpha bung.
"Pasien Lee Donghyuck?" setelah lama menanti —cih, seakan menanti jodoh saja— cukup lama, hasil laboratorium jadi.
Mengambil folder coklat itu, dengan nafas yang memberat. Oh ayolah, bagaimanapun dia tetap berdebar.
"Setelah ini silakan ambil obatnya." Donghyuck berpindah lokasi. Ini sedikit aneh, serius kah? Jaemin pernah bercerita jika ketika dirinya check, dia hanya menerima folder lalu pulang. Tanpa obat, ataupun yang lain. Bukankah berarti itu cepat? Anak sapi melahirkan pun Donghyuck belum selesai.
Disini dia menunggu, dengan nomer antrean dan folder coklat yang ia pegang erat. Dia penasaran untuk membuka, tapi perasaan apa, dia sedikit tidak berani.
Bibir ranumnya pun ia basahi sesekali, terlalu kering, dan terlalu tegang. Puncaknya ketika namanya terpanggil.
Suster itu menyerahkan sebuah obat, lebih berbentuk pil dan pil, "Dik Donghyuck, ini saya beri suplemen untuk menahan. Dan, obat jika datang."
Donghyuck awam, "Untuk.. menahan apa ya?"
"Rumah sakit memberi ini dengan racikan lebih spesial, karena ini pertama kalinya daerah ini ada seseorang yang seperti anda. Wah, anda beruntung Dik Donghyuck." Suster itu tersenyum, tanpa rasa apa-apa yang menghantui. Tidakkah dirinya tahu bahwa perasaan Donghyuck semakin tidak enak?
"me—memangnya saya kenapa sus?"
Suster itu menunjuk petunjuk suplemen, "Gunakan ini dengan rajin untuk Minggu pertama ini ya, dik. Jangan keluar rumah terlalu sering di 2 Minggu ini, dokter memprediksi anda akan heat dalam jangka waktu dekat."
Donghyuck peka, ditambah kata heat itu, "S—saya?"
Suster perempuan itu tersenyum dan mengganguk, "Hn! Selamat ya Donghyuck-ssi bisa menjadi salah satu populasi omega lelaki yang tinggal 5% di dunia."
Dunia runtuh, sungguh, dirinya ingin kabur saat itu pula —terserah, dia ingin ke dunia dewa untuk mengubah takdir.
Nightmare, mafia!
Mark sekarang semakin menjadi-jadi.
Anak itu, semakin dingin dan mengeluarkan aura tidak enak saja, tidak betah sang ibu disini. Bagaimana bisa sang anak menuruni sifat bapaknya yang dingin itu?
Jika saja, sungguh —jika saja, sang anak bertemu matenya secepatnya, anak itu akan berubah bahagia dan dia juga akan tentram, dari sisi lubuk, dan mental.
"Mark." sang ibu memanggil nama anak satu-satunya tersebut. Perempuan berparas itu menatap lembut anaknya yang sedari tadi menatap langit malam di kamarnya.
Tak ada jawaban, punggung itu tidak bergerak, "Sayang."
Lagi-lagi sama, anaknya itu masih membelakanginya, tanpa ada niat menengok, apa lagi menghampiri. "Nak, semuanya baik-baik saja?"
Lugas, "Buruk, Bu."
Berusaha membagi ketenangan, "Kenapa hm?"
Anaknya itu memang kejam, dingin, dan misterius, tapi, ingat —dia lahir dari keluarga yang baik-baik. Pekerjaannya saja yang mengubah, tapi takdir yang memainkan.
"Aku ingin berbagi."
"Ayo sini, jarang-jarang kan ibu bersama mu?"
"Tapi, aku ingin bertanya saja."
Nyonya Lee itu tersenyum, "Baiklah. Apa?"
"Saat ibu bertemu Aboeji. Apa yang ibu rasakan?" anaknya itu berbalik. Menghadap kearahnya walaupun sang tubuh anak masih menutupi cahaya yang masuk. Terlihat sedikit bahwa sang anak menatap lantai, ini jarang seorang Mark Lee tidak menatap lawan bicara —termasuk sang Ibu.
Nyonya Lee tersentak. Hei ini jarang-jarang sang anak itu bertanya soal mate. Alih-alih akan bertanya, tersinggung saja dirinya sudah tidak suka.
Senyum teduh ibunya menyapa iris Mark. Dia sangka sang ibu akan tertawa. Dia cukup sadar diri bahwa dirinya tidak nyaman ketika membangun percakapan tentang mate.
"Saat bertemu dengan Appa-mu ya?" Nyonya Lee berlagak berfikir.
"Rasanya? Seperti bertemu seseorang yang dirindukan. Ibu jadi ingat, dulu —ibu sama sekali tidak pernah ingin ikut ke jamuan kolega kakek. Tetapi, hati Ibu saat itu ingin bertemu, rasanya membuncah, aneh dan awam. Lalu—Ibu bertemu dengan Appa-mu lalu saling pandang, dan kami sadar bahwa kami seorang mate. Tapi Mark, ini dari sudut pandang Ibu. Dirimu bisa jadi tidak cocok ataupun merasakan hal sama seperti itu. Tanya Appa-mu. Dia yang berada di posisimu."
"Ibu.."
"Aku—aku bertemu dengannya."
Biarkan seorang mafia ternama itu jujur pada ibunya kali ini. Pikirannya memang tidak tertebak bagi sebagian orang, tapi orang tua tidak bisa menipu.
Nightmare, mafia!
Ini hari yang sama, dengan langit yang berbeda. Langkah kaki kecilnya itu bersenandung senang. Aih, kapan terakhir kali ia sesenang ini?
Donghyuck, bocah nakal itu tutup telinga akan peringatan apoteker tadi. Ia malah sedang di perjalanan pulang setelah mengunjungi pasar malam.
Hoodie hitamnya menghangatkan tubuh, pun hingga seluruh tubuhnya terlihat tenggelam. Lagi pun, ia tidak peduli. Ini baju yang nyaman digunakan di musim pancaroba seperti ini.
Perasaan hatinya hari ini sungguh membuncah. Bayangkan saja, ia menghabiskan hari ini dengan me time. Berleyeh-leyeh di kamar setelah pulang dari rumah sakit. Masa peduli dengan botol kaca berisi kapsul dan folder coklat yang menyeramkan. Lagipula, perut nya sudah kembung karena melakukan street food dadakan.
Posisi bulan menandakan kalau ini sudah larut malam. Sebenarnya, dia sedikit takut. Umur tidak membohongi pikiran dewasanya.
Sesenang-senangnya dirinya, mental diri harus melewati bahu jalan yang sangat panjang ini. Dengan gang kecil yang menghiasi di setiap gang.
Burung hantu menemani, tiba-tiba terdengar suara alas kaki dibelakang. Ini terlalu jelas, dan sedikit menyeramkan. Sepatu Converse yang ia pakai tidak mengahasilkan suara —otomatis, seseorang di belakangnya ini menggunakan sepatu berbahan keras, pantofel atau hak tinggi mungkin? Tidak, tidak, suaranya terlalu tegas untuk sepatu hak tinggi.
Aura negatif mengelilingi. Nafas Donghyuck memberat. Keringat dingin tidak izin untuk keluar begitu saja. Salivanya ia telan habis. Langkah yang tadi bersandung seketika di tekan oleh benda berat membuatnya susah bergerak cepat.
Intimidasi tidak langsung dirasa Donghyuck. Ia memang keras kepala, tapi mohon otak —buatlah ia berfikir jernih sekarang.
Sebut saja Donghyuck bodoh, "Hoi! J—jangan mengikutiku!" egonya terlalu besar disaat tidak tepat. Jiwa kekanak-kanakannya nya muncul di tengah-tengah keseraman, Donghyuck lari setelah mengatakan itu.
Kebodohannya itu membuah petaka, sesosok di belakangnya ikut mengejar. Urgensinya sekarang hanya berlari.
Tidak melupakan bahwa dirinya lulus 2 bulan yang lalu, becus dalam hal olahraga masih terlatih. Tapi, tidak mematahkan kiat sesosok di belakangnya ini lemah.
Terbukti. Sesosok dibelakangnya itu menangkapnya. Bukan hal lumrah, dirinya di peluk dari belakang dan di angkat bagaikan karung goni. Walaupun begitu, Donghyuck melakukan perlawanan.
Perlawanannya sia-sia. Suatu benda cari merasuk pada kulit tubuhnya, lemas seketika menancap, "S—siapa ha?! Mau ap—"
Jalanan trotoar lebur digantikan hitam yang menyapa mata. Seakan seluruh sel tubuhnya di paksa tidur malam secepat mungkin.
Suara itu berat, "I don't want anything Haechan-ah. It's your fault, say me cruel. But, you make me crazy." ucapan itu seperti geraman tersendiri di sepi malam.
Donghyuck dibawa ke mobil. Dan, arah jalan yang dituju berlainan dari jalan raya besar.]
[ To be continue ]
aku merindu, ini telah 1 bulan ku menggantung cerita ini . Dan, tidak menyangka bahwa kalian bisa memberikan tanggapan positif, kritik apapun itu terhadap story ini. wah, senang rasanya :
mari akhiri ini dengan plot twist yang menggantung :DD dan cerita yang tidak bertambah perkatanya.
aku juga mulai karir ku di wattpad, mungkin berniat mampir?
cek; nak_selimut.
saran, kritik dan pendapat kalian terbuka bebas disini~
jangan lupa RnR ya~!
hati-hati dengan rawan bencana alam, segeralah berdoa!
babai~
