Byun Baekhyun.

Seorang mantan aktris yang menghentikan karirnya secara tiba-tiba. Berita menyebutkan dirinya melakukan percobaan bunuh diri. Itu benar. Berita juga menyebutkan bahwa dirinya selama ini memiliki suami. Itu juga benar. Dan percobaan bunuh dirinya karena masalah berakar dari suaminya. Itu juga benar. Meskipun berita tidak pernah menyebutkan siapa suaminya sebenarnya.

Banyak orang yang kecewa padanya. Para fansnya berbalik mengatainya tanpa memandang kasihan pada dirinya yang baru selamat dari maut. Namun Baekhyun tidak memusingkan hal tersebut. Karena sifat sang suami yang telah kembali seperti sedia kala. Mencintainya, bersikap lembut padanya. Karena bagi Baekhyun hal tersebut lebih membahagiakan daripada pujian-pujian yang didapatkannya selama ini dari para fansnya.

Bahkan ketika dirinya berada dirumah sakit untuk penyembuhan, Chanyeol sang suami tidak pernah beranjak untuk meninggalkannya. Dan Baekhyun kembali percaya. Percaya dengan ucapan Chanyeol. Percaya dengan janji sang suami yang akan mengubah sikapnya. Karena Chanyeol memperlihatkan kepadanya perubahan tersebut.

Setelah selesai dengan mandi sorenya, Baekhyun langsung mengenakan piyamanya. Ia menoleh saat mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Senyumannya mereka melihat sosok suaminya yang baru pulang dari kerjanya.

"Chanyeol! Kau sudah pulang!"

Senyuman yang telah lama tidak di dapatkan Baekhyun kini kembali di dapatkannya. Hati Baekhyun berbunga-bunga melihat senyuman Chanyeol yang sangat disukainya.

"Ya," sambil menjawab ucapan Baekhyun, Chanyeol mengecup kening sang istri dengan tangan yang menepuk pelan pucuk kepala Baekhyun.

"Aku akan menyiapkan air hangat untukmu mandi."

Baekhyun tersenyum manis lalu memberikan kecupan di pipi Chanyeol sebelum meninggalkan suaminya untuk menyiapkan air hangat. Dengan perasaan yang riang, Baekhyun meninggalkan Chanyeol yang berdiri sambil menatap punggungnya dengan senyuman kecilnya.

.

Scattered

ChanBaek

Sequel Part 1/2

.

Karena sudah berhenti dari pekerjaannya menjadi aktris, Baekhyun menghabiskan wakunya untuk berdiam diri di rumah besarnya. Sesekali ia akan berbalas pesan dengan rekan-rekannya sewaktu dirinya masih menekuni dunia peran tersebut. Atau dengan teman-teman selain artisnya, yaitu teman-teman sekolahnya.

Seperti hari ini, Baekhyun telah mengundang temannya sejak duduk dibangku sekolah menengah atas. Temannya yang telah sukses menjadi seorang designer dan mempunyai merk pakaian yang sudah terkenal. Bahkan butik-butiknya sudah tersebar di beberapa negara. Baekhyun yang juga memiliki hobi dalam dunia fashion, berniat untuk belajar dari temannya itu.

"Hei, Jess."

Sapa Baekhyun riang saat membukakan pintu untuk temannya, Jessica. Seorang wanita berdarah Korea-America yang berwajah cantik dan anggun. Baekhyun memeluk tubuh sahabatnya itu untuk menyalurkan kerinduannya sebelum mengajak Jessica masuk kedalam rumahnya. Setelahnya ia mengajak Jessica masuk kedalam rumahnya dan membawanya ke ruang tengah. Menyuruh Jessica untuk duduk terlebih dahulu sementara dirinya menyiapkan minum untuk sang tamu.

"Kau tidak memiliki maid untuk rumah sebesar ini?" Jessica melontarkan pertanyaan kepada Baekhyun setelah wanita itu meletakkan minum untuknya dan duduk di seberangnya.

"Chanyeol tidak menyukai orang asing. Para maid hanya datang pagi hari untuk bekerja. Itu juga jika ku suruh."

Jessica mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Baekhyun. Ia memandang keseluruhan rumah Baekhyun dengan decakan kagum. Kepopuleran Baekhyun sewaktu ia menjadi seorang aktris memang menjadi masa-masa emas untuk temannya itu. Belum lagi ditambah sang suami, Chanyeol yang memiliki sebuah agensi besar. Di mana di dalam agensi tersebut berisikan para bintang papan atas yang sudah tak asing bagi masyarakat. Tidak heran lagi mengapa rumah Baekhyun bisa semegah ini.

Namun saat dirinya melihat luka yang membekas di tangan Baekhyun membuatnya tersenyum miris. Kebahagiaan tidak dapat di beli dengan kemewahan.

Tapi melihat Baekhyun yang dapat tersenyum seperti saat ini membuat hatinya lega.

Baekhyun adalah wanita yang ceria. Sewaktu jaman keduanya masih bersekolah, Baekhyun yang selalu membuat dirinya tertawa. Bukan hanya dirinya, bahkan teman-temannya yang lain selalu senang berada di sekitar Baekhyun. Karena wanita itu selalu membawa kebahagiaan bagi orang-orang di sekitarnya.

Namun untuk saat ini, melihat senyuman tulus Baekhyun saja dapat membuat dirinya senang. Karena bagi Jessica, Baekhyun dilahirkan untuk bahagia.

"Jadi kau ingin masuk kedalam dunia fashion?"

"Yup. Mungkin aku harus mulai berbisnis~ dan aku ingin belajar dari temanku yang sudah sukses ini."

Kekehan malu keluar dari bibir Jessica. "Yah... selera fashionmu juga tidak buruk," wanita berwajah dingin itu mengambil cangkirnya lalu menyesap minumannya. "Mungkin kau bisa mulai dengan mengunjungi acara fashion show."

"Hm... aku sudah pernah mengikutinya beberapa kali sewaktu masih menjadi aktris."

"Aku akan mengajakmu jika akan ada fashion show nanti. Aku akan mengenalkanmu pada teman-teman bisnisku."

Baekhyun tersenyum senang. Ia berlari kecil menuju samping Jessica kemudian memeluk tubuh sahabatnya itu. "Terima kasih, Jess."

"Of course."

Keduanya saling melempar senyuman. Baekhyun yakin, dirinya harus terus berjalan maju. Hanya berdiam diri di dalam rumah hanya akan membuat dirinya tertinggal. Jadi dia yakin ini adalah pilihan yang tepat baginya.

.

.

Langit telah gelap, Baekhyun berjalan bolak-balik di ruang tengah dengan gelisah. Menunggu kepulangan sang suami dari kerjanya. Ia ingin segera bertemu Chanyeol lalu menceritakan pertemuannya dengan Jessica hari ini. Dan setelah hampir satu jam menunggu Chanyeol dengan gelisah, akhirnya telinganya mendengar suara deru mobil Chanyeol. Baekhyun melirik jam dinding, pukul setengah 9 malam.

Baekhyun membuka pintu utama dan menyambut Chanyeol di depan pintu. Dirinya dapat melihat wajah terkejut Chanyeol saat melihat dirinya.

"Baekhyun? Kau belum tidur?"

Kepala Baekhyun mengangguk kecil. Ia mendekat kearah Chanyeol lalu memeluk tubuh sang suami. "Aku menunggumu," senyuman senang terlukis di wajahnya saat Chanyeol mengelus kepalanya dengan acak. "Ayo masuk, aku akan menyiapkan air hangat untukmu."

"Tidak perlu, Baek. Aku ingin mandi dengan air dingin."

Baekhyun mengangguk dengan bibir yang dikerucutkan kecil. "Kalau begitu aku akan menyiapkan makan malam untukmu."

"Tidak perlu, sayang. Aku sudah makan saat meeting tadi."

Mulut Baekhyun terbuka, bingung harus mengucapkan apa. Jadi yang keluar dari mulutnya hanya "Ah!" lalu terdiam karena Chanyeol mengecup keningnya lalu berlalu meninggalkannya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Setelah kepergian Chanyeol, Baekhyun hanya menghela nafasnya pelan dengan bahu yang turun. "Padahal aku belum makan malam agar dapat makan malam bersamamu..."

.

Hari semakin malam. Baekhyun telah berada diatas ranjang bersama dengan Chanyeol. Berada di dalam dekapan Chanyeol yang sedari tadi mengelus dan memainkan rambutnya. Membuat dirinya merasa sangat nyaman. Baekhyun mendongakkan kepalanya menatap wajah Chanyeol dengan senyuman lucunya.

"Chan-" cicitnya pelan. "Aku ingin..." ucapan Baekhyun mengambang, namun wanita itu menggerakkan tangannya menuju selangkangan Chanyeol. Mata sipitnya menatap penuh mohon kearah Chanyeol.

Namun sikap Chanyeol membuat Baekhyun menahan nafasnya.

Chanyeol menyingkirkan tangan Baekhyun lalu menjauhkan tubuhnya dan memunggungi Baekhyun. "Aku lelah, Baek."

Sedangkan Baekhyun menatap sendu kearah punggung Chanyeol yang tidur membelakanginya. Ia menghela nafas pelan kemudian memeluk tubuh Chanyeol dari belakang. "Baiklah. Tidur nyenyak, Chanyeol."

Baekhyun tidak bodoh. Chanyeol memang sedang menghindarinya beberapa hari ini. Tapi... dirinya sudah memilih untuk mempercayai suaminya itu.

.

.

Walaupun Baekhyun telah berhenti dari kegiatannya di dunia peran, hubungannya dengan Seulgi sang mantan manager tidak terputus. Mereka masih sering menghabiskan waktu bersama untuk sekedar makan siang atau minum kopi bersama. Bahkan saat ini Seulgi telah memarkirkan mobilnya di halaman rumah Baekhyun untuk mengantarkan Baekhyun ke gedung kantor Chanyeol. Dan tentu saja Baekhyun tidak akan menolak ajakan Seulgi tersebut.

Sepanjang perjalanan keduanya banyak bercerita. Bercerita tentang kesibukan mereka saat ini. Dan juga bbercerita tentang film-film yang baru-baru ini keluar di bioskop.

"Hm... Seulgi-ah. Boleh aku bertanya?"

"Bertanya apa, eonnie?"

Baekhyun meremas jemarinya. "Apa Chanyeol melakukan hal aneh selama di kantor?"

Seulgi melirik kearah Baekhyun terlebih dahulu sebelum dirinya menjawab pertanyaan sang mantan aktris disampingnya. "Aku kurang tau, karena aku akhir-akhir ini selalu menemani Sehun bekerja di luar. Jadi aku jarang mengunjungi gedung agensi," ujar Seulgi lancar. Karena memang akhir-akhir ini aktornya yang baru tengah banyak jadwal yang tidak mengharuskan mengunjungi kantor agensi. Dan berhubung hari ini Sehun sedang tidak memiliki jadwal, Seulgi dapat mengunjungi Baekhyun.

"Memang ada apa, eonnie?"

"Entah... aku merasa Chanyeol menjauhiku."

"Mungkin sajangnim sedang lelah."

Baekhyun menganggukkan kepalanya mengamini ucapan Seulgi. Karena hatinya seakan berbisik bahwa ucapan Seulgi tidak benar. Dia percaya kepada Chanyeol. Namun... dirinya juga tidak mempercayai Chanyeol. Dan karena dirinya telah lama bberada dalam pikirannya, Baekhyun tidak menyadari bahwa mobil yang dikendarai Seulgi telah masuk kedalam kawasan parkir gedung agensi milik Chanyeol.

.

Chanyeol mendesah lega saat dirinya telah mengeluarkan sperma kenikmatannya di atas perut seorang wanita yang telah tergelletak lesu diatas sofa. Ia mencium bibir wanita tersebut, mengulumnya dan menyesap bibirnya dengan gerakan kasar. Rematan di rambutnya membuat dirinya semakin bergairah. Pagutan mereka terlepas karena Chanyeol yang menyatukan kening mereka lalu menatap wajah cantik wanita di bawahnya. Tangannya meremas dada bulat si wanita dengan lembut.

"Kau selalu hebat, sajangnim."

"Dan kau selalu membuatku puas, Irene."

"Tidak seperti istrimu itu?"

Chanyeol menjawab pertanyaan Irene dengan kekehan lalu kembali melumat bibir si wanita dengan kasar.

PRANG

Hingga sebuah suara berisik membuat dirinya melepaskan pagutan mereka kemudian menoleh kesal. Niatnya ingin memarahi orang yang telah mengganggu kegiatannya tertunda akibat matanya menangkap sosok istrinya yang menatap kearahnya dengan lelehan air mata.

"B-baekhyun?" Chanyeol bergerak cepat menjauhi Irene lalu mendekat kearah Baekhyun sambil merapikan penampilannya. Ia memegang kedua pundak Baekhyun daan meremasnya kuat. "Ini-" ucapannya terhenti saat kedua tangannya dihempaskan oleh Baekhyun.

"Aku berharap, suamiku akan senang dan memujiku karena aku telah membawakan makan siang untuknya," manik sipit Baekhyun yang masih mengeluarkan airmata menatap sendu kearah Chanyeol. "Tapi kenyataannya aku mendapati suamiku bercinta dengan wanita lain. Padahal tadi malam dia baru saja menolak diriku."

Chanyeol menggigit bibir bawahnya. Ia kembali mencoba menggapai tubuh Baekhyun, namun istrinya itu menghindar dengan cepat.

"B-baek-"

"Tentu sana dia menolak," seorang wanita lainnya datang dari belakang Chanyeol dengan kondisi yang masih berantakan. "Dia bilang kau sudah terlalu tua."

"Irene!"

"Kenapa sajangnim? Bukankah kau bilang seperti itu padaku?"

Chanyeol menggeram kesal. Ia kembali menoleh kearah Baekhyun, kembali mencoba menjalaskan sebisa dirinya. Namun dirinya terlambat karena Baekhyun telah berlari meninggalkan ruangannya. Tidak ingin diam saja, Chanyeol berlari untuk mengejar Baekhyun. Namun langkahnya terhenti karena tarikan dari Irene.

"Kau ingin meninggalkanku?" Irene meremas tangan Chanyeol dengan menunjukkan matanya yang berkaca-kaca.

Chanyeol yang terlalu bodoh kembali terjerat dalam Irene dan melupakan Baekhyun yang telah semakin jauh dari genggamannya.

.

.

Waktu berjalan dengan cepat. Langit cerah berganti dengan langit hitam kelam. Baekhyun menghela nafasnya, setelah susah payah meyakinkan Seulgi agar pulang dan membiarkannya sendiri akhirnya Baekhyun dapat menenangkan dirinya di dalam rumahnya yang besar. Dia tidak akan melakukan hal bodoh lagi, sesuai dengan janjinya kepada Seulgi dan juga dirinya sendiri. Jadi Baekhyun hanya menarik dan menghembuskan nafasnya secara teratur di ruang tengah rumahnya.

Derap langkah kaki membuatnya menoleh dan mendapati sosok tubuh Chanyeol, suaminya.

Bayangan-bayangan tadi siang kembali berputar di dalam kepalanya. Baekhyun menghela nafasnya kemudian menuju kamarnya tanpa mempedulikan Chanyeol.

"Baekhyun!"

Bahkan panggilan Chanyeol sama sekali tidak diindahkan olehnya.

Dirinya tidak mengerti lagi, siapa lelaki yang selama ini hidup bersamanya? Lelaki itu buka Chanyeol. Bukan Park Chanyeolnya. Maka dari itu ia tidak akan mempedulikan lelaki yang memanggil-manggil namanya sejak tadi.

Baekhyun memilih untuk merebahkan dirinya diatas ranjang sambil memeluk guling dan menyelimuti dirinya tinggi-tinggi. Menghindari Chanyeol membuat dirinya lebih tenang. Jadi dirinya tidak akan berhubungan lagi dengan lelaki itu. Dirinya tidak akan peduli lagi.

"Baekhyun. Semua tidak seperti yang kau pikirkan."

Bibir tipisnya Baekhyun gigit. Akhirnya ia menoleh kearah Chanyeol. "Aku berpikir bahwa semua itu bohong. Tapi setelah mendengar ucapanmu, kau meyakinkanku bahwa apa yang ku lihat tadi siang adalah benar."

"Baekhyun, kumohon."

"Aku lelah. Aku mau tidur."

Baekhyun menyelimuti seluruh tubuh mungilnya dengan selimutnya. Ia memejamkan matanya, menantikan Chanyeol yang membuka paksa selimutnya dan kembali berbicara kepadanya. Namun derap kaki yang menjauh menjadi jawaban Chanyeol. Dan Baekhyun tidak dapat menahan lagi airmata yang keluar derah hingga membasahi bantal dan selimutnya. Chanyeol tidak lagi sama. Bagaimanapun, walaupun Chanyeol berjanji pun, Chanyeolnya sudah lagi tidak sama.

.

Pagi harinya Baekhyun masih menghindari Chanyeol. Hingga lelaki itu dibuat marah oleh sikap seenaknya Baekhyun. Chanyeol menarik tangan Baekhyun lalu memojokkan tubuhnya pada dinding. Dengan memenjarakan tubuh mungil Baekhyun, Chanyeol menatap tajam kearah wanita yang menjadi istrinya.

"Tsh. Kau menghindariku."

Baekhyun terdiam. Matanya menatap Chanyeol dengan datar. Wajahnya datar tanpa menunjukkan satu ekspresi satupun. Sedangkan Chanyeol telah menunjukkan ekspresi wajahnya yang marah dan memandang tidak suka kearah Baekhyun. Chanyeol menjauhi tubuhnya kemudian melangkah meninggalkan Baekhyun.

"Paling tidak beberapa hari lagi kau akan mengemis perhatian kepadaku, Baekhyun. Jangan sok mengabaikanku," usai mengucapkan itu, Chanyeol meninggalkan rumah dengan mobil yang melaju kencang.

Meninggalkan Baekhyun yang menghela nafas kuat-kuat. Ia mengambil ponselnya yang berdering, menandakan telpon masuk. Ia membaca nama penelpon. Jessica. Dengan cepat dirinya mengangkat panggilan tersebut.

"Ada apa, Jess?"

Senyuman Baekhyun merekah mendengar ucapan Jessica di seberang sana.

"Fashion show? Kapan?"

Dan untuk pertama kalinya, Baekhyun mengabaikan sikap Chanyeol kepadanya dan memilih untuk bertelpon ria dengan Jessica.

.

.

Tepat satu minggu keadaan Chanyeol dan Baekhyun masih tidak membaik. Baekhyun yang masih menghindar dari Chanyeol dan Chanyeol yang masa bodo dengan sikap Baekhyun. Keadaan rumah besar mereka yang sepi menjadi tambah sepi karena tidak adanya percakapan di antara keduanya. Terdengar suara hanya jika apabila salah satu dari mereka menerima panggilan.

Dan Baekhyun selalu sibuk menerima panggilan dari teman-temannya. Termasuk Jessica untuk membicarakan tentang bisnis yang akan di gelutinya.

Chanyeol memang awalnya masa bodo. Namun lama-kelamaan dirinya semakin jengah dengan sikap Baekhyun yang seenaknya. Hal tersebut berdampak dengan pekerjaannya di agensi. Luapan emosinya sering kali ia salurkan oleh bawahannya. Satu kesalahan kecil akan menjadi besar jika itu berhubungan dengannya.

Sore ini, Chanyeol tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya saat melihat Baekhyun yang berpakaian rapi dengan riasan diwajahnya. Degupan jantungnya tiba-tiba menjadi cepat seiiring dengan Baekhyun yang menoleh kearahnya. Well, Chanyeol tidak tau kalau sang istri dapat berpakaian penuh dengan gaya. Memakai kemeja yang sedikit besar dari tubuhnya, di padukan dengan celana kulot panjang. Bagian sebelah kemejanya ia masuka kedala celana kulotnya. Di bagian kakinya, Baekhyun memakai sepatu heels tinggi membuat kakinya terlihat jenjang. Rambutnya yang di mengembang dengan ikal kecil di bawahnya membuat wajahnya terlihat fresh. Baekhyun juga mengenakan topi ala pelukis untuk melengkapi kecantikkannya.

"Kau mau kemana?"

Satu percakapan akhirnya terdengar di dalam rumah besar tersebut setelah beberapa lama. Chanyeol mendekat kearah Baekhyun, dan diringa meremas tangannya merasakan jantungnya yang berdetak saangat cepat.

"Pergi dengan Jessica."

Ah.

Jessica, sahabat Baekhyun sejak mereka duduk di bangku sekolah. Chanyeol kurang mengenal Jessica, karena dirinya tidak begitu ikut campur dengan pergaulan Baekhyun. Lagipula si Jessica itu selalu sibuk berganti-ganti negara mengurusi bisnisnya, itu yang Chanyeol tau. Tapi akhir-akhir ini Baekhyun memang sering menyinggung nama sahabatnya itu. Dan selalu berkata dirinya akan membuka bisnis dengan bantuan Jessica.

Manik bulat Chanyeol menatap Baekhyun yang berjalan keluar kamarnya. Tangan Chanyeol kembali menggepal kuat. "Baekhyun," panggilnya setelah memantapkan dirinya. Namun saat Baekhyun menoleh kearahnya, Chanyeol tiba-tiba bingung apa yang harus dikatakannya. Bahkan dirinya tidak mengerti kenapa ia harus memanggil Baekhyun. "Hati-hati," dan akhirnya hanya kata tersebut yang terucap dari bibirnya.

Chanyeol dapat melihat sedikit keterkejutan dari wajah Baekhyun. Namun dengan cepat wanita itu menghela nafas lalu tersenyum kecil sambil meengangguk. Setelahnya Chanyeol hanya dapat berdiri tegak di tempatnya seiiring dengan kepergian Baekhyun. Chanyeol memegang dadanya yang masih menimbulkan suara detakan yang menggila. Ia menarik nafasnya kemudian memghembuskannya. Kepalamya menoleh, menatap cermin yang terpasang di meja rias milik Baekhyun. "Hei Chanyeol, kau kenapa?" ujarnya pelan untuk bayangan dirinya di dalam cermin.

.

.

Baekhyun tau, bahwa bertemu orang baru akan membuat suasana hatinya menjadi lebih baik. Teman-teman Jessica sangat ramah kepadanya, menerimanya dengan tangan terbuka. Saling bertukar cerita, tertawa bersama seakan mereka telah kenal lama. Pada saat itu Baekhyun mulai melupakan kesakitan di hatinya yang diberikan oleh Chanyeol. Dirinya telah melupakan hal tersebut.

Dari sekian banyak orang yang datang, hal yang paling mengejutkan untuk Baekhyun adalah ketika dirinya bertemu dengan Jongin di acara fashion show tersebut. Ia tau kalau Jongin memiliki banyak channel dengan orang-orang penting. Ia adalah seorang pengusaha muda yang sukses. Tapi dirinya tetap tidak menyangka bahwa tuan muda itu datang keacara fashion seperti ini.

"Eoh, noona."

Baekhyun tersenyum kecil mendapatkan sapaan dari Jongin. Ia membungkukkan tubuhnya, memberikan sapaan formal pada lelaki di depannya. "Halo tuan Kim."

"Tidak tidak, panggil namaku saja."

Kekehan keluar dari bibir Baekhyun. Wanita itu menyelipkan rambutnya di belakang telinganya lalu mengangguk. "Baiklah, Jongin-ssi. Aku tidak menyangka kita bertemu disini."

Jongin menggaruk belakang kepalanya dengan canggung. Ia menatap Baekhyun disertai dengan semburat merah samar di pipinya. Sambil menunjukkan senyumannya, Jongin mengangguk. "Aku juga. Sudah lama kita tidak bertemu, noona."

Dari sikap yang ditunjukkan oleh Jongin, Baekhyun tau kalau lelaki itu tengah canggung kepadanya. Ia tidak akan pernah lupa dengan ajakan menikah Jongin beberapa waktu silam. Entah kenapa jantungnya berdetak cepat saat ini. Baekhyun menarik napas pelan kemudian menghembuskannya.

"Ayo minum di sana, noona."

Baekhyun menoleh mengikuti arah tunjuk jari Jongin. Ia menatap sofa yang berada di pojok ruangan, matanya menyipit sambil menyebarkan tatapannya keseluruh ruangan. Dan sofa tersebut memang hanya satu-satunya yang kosong. Karena tidak mau lagi mengecewakan Jongin, akhirnya Baekhyun menganggukkan kepalanya menyetujui ajakan Jongin.

Raut senang terlihat jelas pada garis wajah Jongin. Lelaki itu menuntun Baekhyun dengan memegang punggungnya. Sedangkan Baekhyun meminta izin terlebih dahulu kepada Jessica sebelum dirinya mengikuti langkah Jongin.

Setelah acara malam ini selesai, para undangan memang di sediakan tempat untuk saling berkumpul. Dengan bertempat di bar yang berada di hotel tempat acara berlangsung, para undangan dapat memesan minuman sesukanya. Jadi Jongin maupun Baekhyun memanfaatkan hal tersebut saat seorang pelayan menghampiri meja mereka. Sambil menunggu minuman mereka datang, keduanya yang duduk berdampingan mengobrol santai.

"Aku telah melihat music video dan album terakhirmu. Itu sangat menakjubkan."

Baekhyun tidak dapat menyembunyikan senyumannya. Sebelum dirinya memutuskan berenti dari kegiatannya sebagai seorang public figur, Baekhyun emang sempat mengeluarkan album dan music video terakhirnya. Walaupun tidak melakukan promosi, keseluruhan single dalam albumnya mendapatkan hati para masyarakat. Walaupun memang banyak pula yang menyumpahinya karena terbukti telah memiliki suami. Namun Baekhyun tetap senang dengan itu.

"Ah, terima kasih."

"Aku bahkan membeli albummu. Kau sangat cantik disana."

Kekehan kecil terdengar dari Baekhyun. Mata sipitnya dapat melihat semburat merah di wajah Jongin walaupun keadaan di tempat mereka sedikit remang-remang.

"Ah... itu juga karena tangan-tangan para makeup artist."

"Tidak juga. Bahkan hari ini kau sangat cantik tanpa bantuan mereka."

Kali ini, semburat merah samar terlihat dari pipi Baekhyun. Wanita itu tidak dapat menahan tawanya, bahkan ia tertawa sambil menepuk lengan Jongin dan menepuk tangannya. "Hei, kau menggoda wanita yang telah memiliki suami."

"Tapi suamimu bukan lelaki yang baik," Jongin menggapai tangan Baekhyun kemudian menyingkap kain kemeja di tangan Baekhyun. Matanya menatap garis-garis samar akibat goresan di tangan Baekhyun. Dan mirisnya hampir keseluruhan tangan Baekhyun berhiaskan goresan yang membuat Jongin mengerutkan kening marah. "Dia membiarkan wanita secantikmu melakukan ini," Jongin mengangkat pandangannya dan menatap Baekhyun. "Aku sangat marah saat mendengar berita tentangmu saat itu. Aku berpikir siapa lelaki bodoh yang membuatmu melakukan ini. Aku benar-benar ingin membawamu pergi agar kau tidak perlu melakukan hal itu. Aku berharap dapat mengenalmu lebih dulu dibandingkan lelaki brengsek itu."

Baekhyun tidak dapat berbohong. Hatinya menghangat mendengar ucapan Jongin. Bagai pecahan di hatinya yang lebih dihancurkan Chanyeol mulai perlahan menutup karena ucapan Jongin. Dan Baekhyun sangat naif karena masih berharap bahwa lelaki di depannya adalah Chanyeol. Namun elusan di pipinya membuatnya kembali sadar. Tangan itu bukan tangan Chanyeol.

"Kau menangis."

Bahkan Baekhyun tidak menyadari bahwa dirinya mengeluarkan airmata. Dirinya masih menatap Jongin dalam diam dengan airmata yang masih mengalir membasahi wajahnya. Tangisannya menjadi semakin keras saaat Jongin membawa dirinya kedalam pelukan yang hangat.

"Noona, aku benar-benar ingin membawamu ke sisiku."

Baekhyun mengigit bibir bawahnya. Apa yang harus dilakukannya saat ini. Otaknya menyuruhnya untuk segera melepaskan pelukan Jongin dan pergi dari lelaki itu dengan segera. Namun hatinya yang telah rapuh mengatakan bahwa inilah yang ia cari saat ini. Inilah yang dibutuhkannya saat ini. Bukan Chanyeol yang benar-benar membuat hatinya sekarat.

Apa tak apa jika dirinya memilih perkataan hatinya? Bukankah dirinya pantas untuk hidup bahagia? Bukankah dirinya sudah memberikan yang terbaik untuk Chanyeol? Menjadi mesin pencetak uang untuk lelaki itu dan membiarkan lelaki itu memiliki hubungan dengan wanita lain. Bukankah itu sudah cukup?

Setelah memantapkan hatinya, Baekhyun memeluk leher Jongin lalu mengeratkan pelukan mereka.

"Bawa aku pergi, Jongin..."

Jongin menjauhkan dirinya untuk menatap wajah Baekhyun. Ia menangkup wajah Baekhyun. "Benarkah?"

"Ya... aku... ingin bahagia."

Usai itu, Jongin menempelkan bibirnya dengan bibir Baekhyun. Menekannya pelan dan memberikan pagutan yang lembut namun basah.

'Chanyeol, jika kau dapat melakukannya aku juga dapat melakukannya.'

.

Hari telah pagi, matahari telah mengintip dari celah gorden hotel dimana sepasang anak adam-hawa tengah tertidur lelap dalam satu selimut yang sama. Saling mendekap untuk menghangatkan tubuh mereka yang tidak mengenakan satu helai benang. Si wanita terlebih dahulu mencapai kesadarannya. Ia mengeliat pelan kemudian menatap lelaki yang masih tertidur dengan mata sayunya. Sipitnya terpejam lama, menyadari situasi dimana dirinya berada.

Di dalam satu kamar hotel setelah menghabiskan malam dengan lelaki yang berjanji akan membawanya pergi menuju kehidupan yang lebih bahagia.

Memang semalem setelah dirinya dan Jongin menghabiskan minum mereka, keduanya memesan satu kamar di hotel dan menghabiskan malam bersama. Malam penuh dengan peluh dan perasaan. Sebagian hati Baekhyun senang dengan itu, karena dirinya tidak pernah lagi menikmati percintaan di atas ranjang dengan penuh perasaan seperti semalam. Namun sebagian hatinya yang lain tetap merasakan rasa bersalah pada suaminya.

Bodoh. Namun Baekhyun tidak dapat berbohong bahwa dirinya tetap mencintai Chanyeol.

Sebuah suara memecahkan keheningan di dalam kamar tersebut. Baekhyun bangun dari duduknya untuk mengambil tas kecil miliknya dari atas meja di samping kasur. Ia mengambil ponselnya yang berbunyi dan mendapati nama Chanyeol di layar ponselnya. Sekilas dirinya senang mendapati sang suami menelponnya. Namun setelahnya ia menggeser tanda merah di layar ponselnya. Tidaak lama, ponselnya kembali berbunyi dengan pemanggil yang sama.

Baekhyun menggigit bibir bawahnya. Ia mmemutuskan untuk mengabaikan panggilan Chanyeol dengan memasukkan kembali ponselnya kedalam tas. "Buat apa kau menelpon wanita tua sepertiku, Chanyeol," kepalanya menoleh, menatap Jongin yang masih terlelap sambil memeluk pinggangnya. Baekhyun tersenyum kecil dengan tangan yang mengusap surai Jongin dengan lembut.

Benar. Dia harus menuju orang yang tidak masalah dengan wanita tua sepertinya.

Dia berhak untuk mencapai kebahagiaannya.

.

.

Chanyeol tidak dapat menahan kemarahannya kali ini. Bagaimana tidak, sudah Baekhyun tiga hari Baekhyun tidak pulang kerumah mereka bahkan wanita itu menolak panggilannya kemudian mengabaikannya. Dirinya tidak habis pikir kenapa Baekhyun dapat bersikap berani seperti itu. Wanita itu mulai bersikap seenaknya.

Belum lagi saat dirinya berniat untuk mencari angin di rooftop gedung agensi miliknya. Ia harus mendapati Irene dan Sehun yang tengah bermesraan dengan bibir yang menyatu. Well, dirinya memang tidak masalah dengan hal tersebut, karena baginya Irene hanya wanita yang menjadi partner sexnya. Namun ucapan wanita itu benar-benar membuat darahnya mendidih.

"Aku beruntung bukan? Si lelaki bodoh itu sepertinya benar-benar sudah frustrasi dengan istrinya hingga selalu mencari-cari tubuhku. Tapi setidaknya promosiku nanti setelah debut benar-benar akan lancar dan aku akan sukses setelahnya."

Ucapan Irene benar-benar masih terngiang di telinganya. Ingatkan Chanyeol untuk segera mendepak wanita itu dari agensinya.

Saat sampai di dalam ruangannya, Chanyeol langsung menyandarkan dirinya di atas kursi kerjanya. Sambil memejamkan mataya sambil memejit keningnya perlahan. Pikirannya langsung tersambung dengan Baekhyun. Dimana istrinya itu sekarang. Entah karena apa, jantung Chanyeol berdetak cepat seiiring dirinya memikirkan Baekhyun.

Terakhir kali dirinya bertemu dengan Baekhyun, wanita itu mengatakan kalau dirinya pergi dengan Jessica. Apa Chanyeol harus menanyakan kabar Baekhyun kepada Jessica? Setelah pemikiran tersebut terlintas di kepalanya, Chanyeol langsung membuka laci meja kerjanya dan mencari sebuah buku telpon yang sudah lama tidak di buka olehnya. Namun apakah sudah terlambat untuk dirinya bertanya perihal Baekhyun dengan Jessica?

'Tidak ada kata terlambat, Chanyeol.'

Chanyeol membersihkan debu di atas cover buku telpon yang baru saja di keluarkan olehnya. Dia tidak mempunyai nomor telpon Jessica di ponselnya, namun seingatnya ia menyimpannya di buku ini. Walaupun hal tersebut sudah sangat lama, Chanyeol hanya berharap semoga Jessica tidak mengganti nomor telponnya. Saat Chanyeol membuka buku tersebut, sebuah amplop putih jatuh dari selipan buku. Ia mengerutkan keningnya lalu mengambil amplop putih yang mulai menguning.

Dengan tatapan yang masih bingung, Chanyeol mengeluarkan secarik kertas dari dalam amplop tersebut. Ia membulatkan mulutnya ketika menyadari bahwa itu adalah sebuah surat. Dirinya kembali berpikir, kapan dia mendapatkan surat tersebut dan siapa pengirimnya. Karena seingatnya ia tidak pernah mendapatkan surat ini ataupun menyimpan sebuah surat di dalam buku lamanya itu. Tidak mau berpikir lagi, Chanyeol membaca setiap kata yang tertulis di surat tersebut.

Dan dirinya tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.

Chanyeollie, selamat untuk agensi barumu yang resmi dibuka, yey~ kau juga sudah memiliki para trainee yang akan menjadi idol mu ke depannya nanti. Aku sangat senang karena semua perjuanganmu selama ini telah berhasil kau wujudkan. Aku selalu berharap dan berdoa agar agensimu akan menjadi agensi yang besar suatu saat nanti.

Aku juga akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi seorang aktris di agensi hebatmu ini. Tenang saja aku tidak akan mengecewakanmu~ seperti kau yang tidak pernah mengecewakanku. Aku akan membawa nama agensimu dengan benar suatu saat nanti, karena jika nama agensimu menjadi buruk itu akan membuatmu sedih dan juga membuatku merasa bersalah. Aku tidak ingin kau merasa sedih, Chanyeollie~ karena jika kau sedih aku akan merasaka kesedihan itu lebih darimu.

Aku percaya padamu, selalu percaya padamu. Kau akan membuat agensi ini menjadi besaaaar seperti tubuhmu kkk. Jadi kita harus berjuang bersama-sama untuk mencapai puncaknya yang tidak pernah terlihat itu. Kenapa puncaknya tidak terlihat? Karena jika kita mencapai puncak yang terlihat, maka itu adalah batas kesuksesan kita. Aku yakin kesuksesan kita tidak ada batasnya.

Begitu juga dengan pperasaan cinta kita. Aku selalu selalu selalu mencintaimu. Bahkan tiap harinya aku selalu jatuh cinta padamu. Yah... walaupun kadang aku merasa kesal kepadamu, tapi itu tidak menyurutkan rasa cintaku kepadamu. Apa kau juga sepertiku, Chanyeollie? Aku harap kau juga sepertiku hehe.

Tetap pertahankan mimpi dan semangatku, Chanyeollie. Aku mencintaimu~

Istrimu, wanita tercantik di dunia

20xx

Chanyeol menundukkan kepalanya dengan bahu yang turun lesu. Dirinya baru mendapatkan surat ini. Padahal surat itu telah ditulis sejak agensinya berdiri. Bukankah itu sudah hampir sepuluh tahun? Apakah kekuatan cinta Baekhyun membuat kertas itu menjadi kuat? Diam-diam Chanyeol tersenyum dengan pemikirannya. Tidak mau memperlambat waktu, Chanyeol bergerak cepat mencari nomor telpon Jessica. Namun pergerakannya terhenti ketika pintu ruangannya terbuka dari luar. Dirinya tidak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat melihat sosok yang memenuhi kepalanya berdiri di depan pintu ruangannya.

"Baekhyun?" Chanyeol dengan cepat mendekat kearah Baekhyun lalu memegang kedua pundaknya. "Kau kemana saja?"

"Aku mengurus ini."

Chanyeol tersentak saat Baekhyun menepis kedua tangannya. Wanita itu menjulurkan sebuah amplop kepada dirinya dengan wajah datarnya. Chanyeol membuka amplop tersebut lalu membaca surat yang berada di dalamnya dengan terburu-buru. Jika tadi hatinya menghangat mendapatkan surat dari Baekhyun sepuluh tahun yang lalu, kali ini hatinya seakan hancur membaca deretan kata yang berada di surat yang baru saja diberikan Baekhyun.

Surat perceraian.

"I-ini."

"Aku ingin kau menandatnganinya, Park Chanyeol. Aku akan mengakhiri ini. Aku tidak akan menjadi beban untukmu, kau akan bebas."

Decihan keluar dari bibir Chanyeol. Lelaki itu menatap Baekhyun dengan mata yang menyipit. "Kenapa kau bicara seperti itu?"

"Memang begitu keadaan ya sekarang. Bukan begitu, Chanyeol?"

Keduanya terhanyut dalam keheningan. Mata mereka bertemu dengan tatapan yang sulit diartikan. Chanyeol yang terlihat kecewa, dan Baekhyun yang bergetar mencoba menguatkan dirinya.

"Baiklah. Jika itu maumu. Aku akan menandatangani ini."

Begitulah cara pertemuan terakhir mereka. Pertemuan singkat yang terlihat tenang, namun pemberontakan terjadi dalam diri mereka. Setelah melemparkan pandangan terakhir, Baekhyun menghilang dari tatapan Chanyeol dan dirinya tidak pernah lagi melihat wanita tersebut.

.

oOo

.

Okay jadi banyak yang minta sequel di chapter kemarin. Seharusnya itu Cuma oneshoot sih Cuma gapapa aku bikin cerita lanjutannya aja kkk. Jadi aku juga maunya dibikin oneshoot aja buat sequelnya tapi ternyata aku udah ngetik sepanjang ini. Karena gamau kalian malah jadi bosen ditengah cerita, aku potong jadi dua part aja~ tapi kemungkinan part selanjutnya ga sepanjang ini sih kkk.

So jangan lupa buat review ya^^ dan makasih banyak buat yang udah review di chaper sebelumnya. See you~