Disclaimer :
Naruto [Masashi Kishimoto] and Sword Art Online [Reki Kawahara]
Tapi cerita ini sepenuhnya milik author.
Author tidak mengambil keuntungan materi apapun dari fanfiksi yang di-publish.
.
Notice Me, Baby
Romance, Friendship, Family, Drama, and etc.
Rate : M
Type : Crossover
.
Warning! : OOC, OC, Typo(s), Miss-Type, AU, AR, AT and many more.
.
Chapter 2 My Heart
.
.
Dia datang di malam yang cerah berbintang. Mengenakan baju terusan yang berwarna merah muda setinggi lutut, dibalut sweater birunya. Dan juga sandal biasa yang berwarna cokelat.
"Lama tak jumpa, Asuna."
Aku mencoba menyapa dan berbasa-basi sebentar sebelum mengutarakan rasa rindu yang telah lama terpendam ini.
"Iya. Tapi sayangnya aku mempunyai sebuah kabar buruk, Naruto-kun."
Entah mengapa aku menjadi sedikit khawatir dengan ucapannya itu. Ya, sekarang aku mulai mengkhawatirkannya.
Dia kemudian duduk di sebelah kiriku, di kursi yang sama. Setangkai bunga mawar merah itupun kuberikan kepadanya.
"Ini untukmu, Asuna."
Tak ada kata-kata tambahan kala aku memberikannya bunga. Hanya berupa kata sederhana, karena aku tidak tahu apa yang harus kuucapkan saat ini.
Dia pun tersenyum sambil memandangi bunga pemberian dariku kemudian menciumnya. Sejenak kami pun terdiam bagai waktu yang terhenti karena perbedaan dimensi. Ah, tidak seperti itu juga. Mungkin akunya saja yang kebingungan untuk membuka percakapan dengannya.
"Arigatou, Naruto-kun."
Sibuk dengan pikiranku sendiri, Asuna kembali mengagetkanku dengan ucapannya itu. Sebuah ucapan terima kasih yang terdengar berbeda dari biasanya.
Aku begitu canggung, bagaimana cara mengatakan jika aku rindu kepadanya. Astaga! Mengapa aku seperti ini. Aku hanya dapat tersenyum tak jelas di hadapannya dan berharap dia akan membuka percakapan.
"Besok malam apakah kau sibuk, Naruto-kun?"
Dan benar saja akhirnya Asuna membuka percakapan kami. Akupun tersenyum kecil lalu menjawabnya.
"Sepertinya aku tidak ada kegiatan di kantor," jawabku sambil menoleh ke arahnya.
"Em, bagaimana jika kita pergi bersama?" tanyanya dengan sedikit ragu.
"Ke mana?"
"Ke acara kampusku."
Sebuah tawaran bagus terdengar di kedua telingaku. Jujur saja aku agak malu untuk mengiyakan ajakan Asuna.
"Sebentar saja, mau ya?"
Oh, sial! Dia memohon kepadaku agar aku menerima tawarannya. Mengapa aku selalu seperti ini. Begitu kaku dan membiarkan Asuna memulainya terlebih dahulu.
"Baiklah, jam tujuh malam aku akan menjemputmu," jawabku malu-malu.
Asuna terlihat begitu senang saat aku mengiyakan tawarannya. Tiba-tiba akupun merasakan kehangatan di malam yang dingin ini. Asuna memelukku.
Aku dapat merasakan hangat tubuhnya, harum rambutnya dan deru napasnya yang melaju sedikit kencang. Mungkin karena senang tawarannya diterima olehku. Namun, untuk ke sekian kalinya aku hanya diam dan tak membalas pelukan itu. Sehingga Asuna kemudian melepaskannya.
Bodohnya aku.
.
.
.
Kamipun berjalan menyusuri taman kota dengan berjalan kaki. Tanpa berpegangan tangan. Sesekali kami mampir membeli cemilan untuk dimakan sepanjang perjalanan. Malam ini kami habiskan waktu bersama sambil menikmati cuaca yang cerah berbintang. Hingga kami lelah dan akhirnya duduk di depan sebuh toko yang sudah tutup.
Aku masih ingat jika toko itu adalah sebuah toko bunga hias. Yang mana bunga matahari sedang mendominasi toko tersebut.
"Asuna ..."
Di depan toko itu dan disaksikan oleh bunga-bunga matahari yang mengarah ke arah kami, aku berusaha menyatakan perasaanku. Aku menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Aku mencoba mengatur pernapasanku. Walaupun sesungguhnya detak jantungku tidak karuan di dalam sana. Maklum saja ini pertama kalinya bagiku.
"Asuna, aku—"
"Naruto, lihat!"
Asuna berteriak dan menunjuk ke arah langit. Aku yang baru saja ingin menyatakan perasaanku terhenti sejenak dari rasa di hati kala mendengar teriakannya.
"Naruto, ada bintang jatuh. Kau lihat tadi?"
Dia bertanya kepadaku, memecahkan konsenterasiku.
"Em, aku tak lama melihatnya. Hanya sebentar," jawabku datar.
"Katanya jika kita berdoa saat melihat bintang jatuh, permohonan kita akan dikabulkan. Bagaimana jika kita berdoa?"ajaknya dengan tutur kata yang lembut.
Hati pria mana yang tak akan luluh kala mendengar tutur kata yang lembut apalagi dari seseorang yang dicintainya. Begitupun dengan aku. Aku tahu benar jika berdoa kala melihat bintang jatuh itu hanyalah mitos belaka. Namun aku berusaha menghargai ajakan Asuna dengan ikut berdoa bersamanya.
"Baiklah."
Kamipun berdoa. Aku melirik ke arahnya yang sedang menggabungkan kedua tangan dengan bibir manis yang berucap namun tak terdengar. Rasanya aku ingin sekali mendekapnya. Namun, aku malu.
"Sudah,"
Ia menyelesaikan doanya.
"Hari sudah larut, Naruto-kun. Bagaimana jika kita kembali. Em, maksudku sudah jam bagiku untuk kembali ke asrama."
Ya, benar. Kala ini waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam lewat lima puluh menit. Dan tiba saatnya bagiku untuk mengantarkannya pulang.
"Baiklah."
Dengan segera aku mengantarkannya hingga sampai di depan gerbang asrama wanita. Dan lambaian tangan darinya seakan memaksaku untuk segera pergi.
"Sampai jumpa, Naruto-kun!"
Dia tersenyum lalu membalikkan badannya. Membuka gerbang asrama wanita itu lalu dengan segera menutupnya.
Aku hanya terdiam hingga kehilangan dirinya. Seorang gadis yang mulai merasuk di jiwaku ini. Senyumnya, tutur katanya seakan menyadarkan diriku dari tidur yang panjang. Dan akhirnya, aku belum bisa mengucapkan kata rindu itu.
"Hah, Asuna ..."
Akupun kemudian ikut membalikkan badan, berjalan menuju mobilku. Namun tiba-tiba handphone ku berbunyi.
/Terima kasih, Naruto-kun. Aku tunggu besok malam. Selamat beristirahat./
Pesan pendek itu aku terima dan ternyata dari seseorang yang baru saja menemani malamku. Aku pun kembali membalikkan badan dan melihat ke arah asrama wanita itu.
Asuna ... arigatou.
Aku tersenyum kala mengingat dirinya yang tertawa sambil melambaikan tangan ke arahku.
.
.
.
Waktu terus bergulir, malam yang ditunggu pun telah datang. Aku menjemput Asuna di depan asrama wanita tepat pukul tujuh malam. Dengan tuxedo berwarna hitam lengkap dan parfum beraroma maskulin—menyertaiku untuk menjemput seorang gadis yang teristimewa di hati.
Astaga!
Aku terkejut kala melihat dirinya keluar dari asrama. Begitu cantik. Ya, malam ini dia terlihat begitu cantik. Mengenakan gaun berwarna hitam setinggi lutut dengan rambut yang disanggul. Cantik sekali. Belum lagi ditambah high heels silver yang dikenakannya. Membuat dirinya terlihat begitu anggun, bagai dewi yang turun dari khayangan. Benar-benar membuatku speechless.
"Ayo kita berangkat."
Hampir saja aku tidak menyadari ajakkannya kala ini. Aroma parfum yang dikenakannya begitu menusuk hingga ke rongga hidungku yang terdalam. Seperti aroma cokelat yang sangat manis. Membuat gelora di jiwaku bersemangat.
"Baik," jawabku sambil tersenyum lalu membukakan pintu mobil untuknya.
Jujur saja baru kali ini aku memperlakukannya bak seorang putri. Sebelumnya aku tampak datar dan bersikap sewajarnya saja. Dan aku hanya tersenyum miris kala Asuna menertawai sikapku ini. Aku sungguh malu dengan perubahan sikap yang kulakukan padanya.
Kamipun lalu segera masuk ke dalam mobil. Dan sebagai seorang supir tentunya aku segera menghidupkan mesin mobilku—melajukannya dengan baik hingga sampai di tempat acara yang dituju.
Kalian tahu, di sepanjang perjalanan aku tak henti-hentinya mencuri pandang Asuna dari ujung ekor mataku. Dia benar-benar terlihat cantik malam ini. Rasanya aku tidak ingin melepasnya. Dan sampai kapanpun akan aku pertahankan meski nyawa taruhannya.
Ah, apa yang sedang aku bicarakan ini. Akupun tak mengerti. Namun rasa itu terus saja mengalir dengan derasnya. Anggap saja jika aku ... sedang jatuh cinta.
.
.
.
Sesampainya di pesta...
Kami telah tiba di tempat acara berlangsung. Begitu ramai para undangan yang hadir. Dan aku merasa jika usiaku paling tua di antara yang lain.
Tak lama, acara malam ini pun dimulai. Satu persatu susunan acara dibacakan. Namun aku tidak memperdulikan hal itu, karena aku masih saja asik sendiri memandangi Asuna dari sisi kanannya.
"Asuna!"
Seorang gadis mengenakan gaun berwarna biru dan high heels hitam mendatangi kami. Rambutnya hitam pendek sebahu. Dia tampak tergesa-gesa saat berjalan mendekati kami.
"Suguha ..."
Dan ternyata Asuna mengenalnya. Mereka pun bersalaman. Dan tak lupa Asuna mengenalkan aku kepada temannya itu.
"Suguha, kenalkan. Ini Naruto-kun. Naruto-kun, ini Suguha. Teman kampusku."
Asuna memperkenalkan kami dan kamipun saling berjabatan tangan. Aku melihat teman Asuna itu seperti membisikkan sesuatu kepada Asuna yang entah apa itu. Namun aku tidak terlalu menghiraukannya.
Oh, ya. Tinggi tubuh Asuna hanya sebahuku. Dia begitu mungil bagiku. Rasanya aku ingin menjitak kepalanya saja saat dia berulang kali mengagetkan diriku ini. Bukan sebagai pelampiasan rasa kesal, namun karena rasa sayangku kepadanya.
"Asuna, bagaimana jika kita ke tengah pesta?"
Teman kampus Asuna itu mengajak Asuna untuk berjalan ke tengah pesta. Namun Asuna menolaknya dengan halus. Dan kata-kata penolakkan dari Asuna itu membuat batinku teriris.
"Maaf, Suguha. Aku datang bersama Naruto-kun kemari. Aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri. Aku akan bersamanya sampai aku pulang dari pesta ini. Bagaimanapun itu."
JLEB
Dadaku terasa sesak saat mendengar penuturan Asuna. Gadis ini benar-benar membuat rasa itu kian mengalir deras tanpa hambatan. Sungguh rasanya aku ingin memeluk Asuna kala ini. Menepiskan rasa malu di hatiku. Aku akan membuang jauh-jauh ego itu. Dan tanpa malu aku akan berlutut di hadapannya.
"Em, baiklah. Nanti aku akan kemari lagi. Jika Kirito-nii datang, tolong beritahu aku ya, Asuna. Kalau begitu aku tinggal dulu. Sampai nanti."
Teman Asuna itu lalu berpamitan kepada kami. Asuna pun menganggukkan kepalanya, mengiyakan pesan dari teman kampusnya itu. Sedang aku dan Asuna masih berdiri berdampingan di dekat meja tamu.
Asuna ... ai shite iru ...
Aku harus mengakuinya. Benar-benar mengakuinya. Jika gadis yang berdiri di sisiku ini adalah seseorang yang mulai aku cintai.
Dalam rasa malu yang bercampur ego, aku berharap akan melalui masa-masa senja bersamanya. Sampai waktu memanggilku untuk pulang.
.
.
.
Tiga puluh menit kemudian...
Acara terus berlangsung dan kini tiba waktunya untuk mencicipi hidangan yang telah disediakan. Aku bersama Asuna kala ini sedang mencicipi kue pie kecil sebelum masuk ke menu utama. Namun tiba-tiba saja ada seseorang yang mendatangi kami.
"Hai, Asuna."
Sosok yang mendatangi kami merupakan seorang pemuda dengan tinggi badan yang hampir sama denganku. Dan wajahnya lumayan tampan. Tapi aku yakin jika usianya lebih muda dibanding diriku.
"Kirito-nii."
Ternyata Asuna mengenal sosok pemuda itu. Aku masih bersikap biasa saja. Karena belum ada tanda-tanda yang mencurigakan. Namun batinku tersentak kala Asuna menjawab pertanyaan dari pemuda yang bernama Kirito itu.
"Kau datang bersama ..."
"Ah, iya. Kenalkan Kirito-nii. Ini adalah Naruto-kun."
Asuna memperkenalkan diriku kepada Kirito.
"Hai. Kirito."
Pemuda itu memperkenalkan dirinya dan mengajak berjabatan tangan denganku. Akupun membalasnya sambil tersenyum kecil.
"Naruto," balasku singkat.
"Em, aku lihat kalian datang bersama tadi. Apakah dia pacarmu, Asuna?"
Tiba-tiba saja Kirito bertanya tentang statusku dengan Asuna. Jujur, aku merasa risih. Asunapun tampak terdiam kala pertanyaan itu terdengar olehnya. Mungkin dia kebingungan harus menjawab apa.
"Kirito-nii, tadi Suguha mencarimu."
Asunapun beralasan. Namun yang membuatku kesal, Kirito seolah-olah memaksa Asuna untuk menjawab pertanyaannya.
"Kau mengalihkan pertanyaanku. Apakah sangat berat bagimu untuk menjawabnya, Asuna?"
Arrrghhh!
Aku kesal, rasanya aku ingin mengajak pemuda yang bernama Kirito ini berkelahi. Tak habis pikir. Apa urusannya menanyakan hal privasi seperti ini. Siapa dia? Ada hubungan apa dirinya dengan Asuna? Mengapa dia sampai memaksa agar Asuna menjawab pertanyaannya? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang tiba-tiba muncul di benakku. Membuat emosiku tidak stabil dan segera ingin menghajarnya.
"Em, maaf. Aku dan Naruto-kun ... hanya teman."
JLEB
Batinku terasa sakit sekali saat Asuna mengucapkan hal itu. Dan semakin sakit kala melihat Kirito tersenyum saat mendengar kepastian dari Asuna.
Aku mengepalkan tangan kananku. Rasanya aku ingin segera menghajarnya. Ya, aku kesal—sangat kesal. Akupun melihat Asuna yang menunduk sedih. Sepertinya dia juga bingung harus menjawab apa. Namun aku menyadari jika ini bukan kesalahan dari dirinya. Tetapi akulah yang salah. Kenapa? Karena aku yang tidak pernah memberikannya kepastian, karena aku yang mengabaikannya. Terlebih aku yang merasa nyaman dengan status pertemanan ini, bertahun-tahun lamanya.
"Begitu, ya? Baiklah Naruto, aku ingin mengajak Asuna berdansa. Aku harap kau mengerti. Mari, Asuna."
Apa?!
Aku terkejut mendengar ucapan Kirito. Dan lebih terkejut lagi kala ia memegang tangan kiri Asuna lalu menariknya agar ikut dengannya untuk berdansa bersama.
"Tap-tapi ... Kirito-nii."
Aku tahu Asuna berusaha menolaknya. Namun Kirito seakan tidak memperdulikannya. Akupun geram melihat hal itu terjadi. Dan segera saja aku menarik badan Kirito kemudian ...
BUGGH
Aku meninjunya dengan satu tinjuan yang kuat. Hingga darah itu keluar dari hidung Kirito.
"Naruto-kun!"
Asuna berteriak saat melihat Kirito jatuh tak berdaya di atas lantai pesta dengan darah yang keluar dari hidungnya. Dan tiba-tiba saja kekacauan terjadi di pesta malam ini. Banyak pemuda berdatangan lalu berusaha membangunkan Kirito dari jatuhnya.
"Jangan kau memaksa Asuna. Karena Asuna kekasihku!"
Aku tidak dapat mengontrol emosiku lagi. Aku menunjuk Kirito sambil mengancamnya. Lalu segera saja aku menarik tangan Asuna untuk meninggalkan pesta.
"Ayo, Asuna. Cepat pergi dari sini!" ucapku sambil membawanya pergi—keluar dari ruangan pesta.
"Naruto-kun ..."
Aku hanya mendengar Asuna mengucapkan kata itu dan tak ada kata-kata lain yang dia ucapkan. Aku tidak memperdulikan pandangan orang lain terhadapku. Niatku hanya untuk melindungi Asuna semata. Ya, hanya itu.
Namun semua ini membuka masalah baru bagiku. Karena ketidakterimaan Kirito atas sikapku yang kasar kepadanya. Terlihat dari dirinya yang seperti memendam kebencian kepadaku, sebelum aku benar-benar pergi meninggalkan pesta.
.
.
.
Aku melajukan mobilku dengan perasaan yang bercampur aduk. Sesekali aku melihat ke arah Asuna yang masih terdiam semenjak kejadian itu. Aku ingin menegurnya, namun aku belum mempunyai keberanian yang cukup. Aku tahu jika aku telah melakukan kesalahan untuknya. Terlebih ini adalah acara internal kampusnya.
Pikiran dan batinku beradu, akupun memutuskan untuk berhenti sejenak untuk mendinginkan kepalaku. Memarkirkan mobilku di depan sebuah mini market, lalu membeli beberapa minuman dan makanan ringan. Setelahnya akupun kembali—masuk ke dalam mobil dan mengajaknya ke suatu tempat yang menenangkan.
Tempat itu adalah sebuah pantai dengan pasir yang sangat putih. Tempat di mana aku selalu menuangkan rasa kesal yang melanda hatiku. Namun kali ini, aku datang bersama Asuna ke pantai ini. Kamipun mulai mengutarakan perasaan masing-masing. Ditemani deru ombak yang berkejaran dengan riangnya.
.
.
.
TBC
