Disclaimer :
Naruto [Masashi Kishimoto] and Sword Art Online [Reki Kawahara]
Tapi cerita ini sepenuhnya milik author.
Author tidak mengambil keuntungan materi apapun dari fanfiksi yang di-publish.
.
Notice Me, Baby
Romance, Friendship, Family, Drama, and etc.
Rate : M
Type : Crossover
.
Warning! : OOC, OC, Typo(s), Miss-Type, AU, AR, AT and many more.
.
Chapter 3 Kejujuran Hati
.
.
Deru ombak berkejaran di malam yang cerah berbintang ini. Menemani sepasang insan yang tengah berdiri pada sebuah pagar pembatas pantai, sambil memandangi deru ombak yang berkejaran.
Mereka adalah Asuna dan juga Naruto yang masih saja terdiam sejak tiba di pantai beberapa menit yang lalu. Angin yang berhembus cukup kencang seakan memaksa salah seorang dari mereka untuk segera membuka percakapan. Namun hal itu terasa berat untuk dilakukan, terlebih kejadian itu baru saja mereka lewati.
.
.
.
"Em …."
Aku mencoba membuka percakapanku kali ini. Namun mengapa terasa berat untuk kulakukan. Kupaksakan diriku, tapi tak kunjung berhasil. Hingga aku tiba-tiba berteriak di hadapannya.
"Naruto …."
Akhirnya … Asuna, membuka pintu peluang agar aku dapat memulai percakapan ini. Sungguh aku sangat malu jika harus memulainya terlebih dahulu.
"Asuna, maafkan sikapku yang tadi.. Aku … aku …."
Astaga, aku tidak dapat melanjutkan ucapanku kala melihat tatapan kedua bola matanya yang menatapku dengan penuh rasa khawatir. Betapa bening kedua bola mata yang indah itu. Yang selama ini selalu memperhatikanku.
"Naruto, kau tidak salah. Mungkin hanya akunya saja yang bodoh. Tidak seharusnya aku begini. Harusnya aku yang—"
"Tidak, Asuna."
Aku menyela ucapannya, aku tahu dia merasa takut akan kejadian yang baru saja kami alami. Aku tahu jika dia begitu mengkhawatirkanku. Namun ada satu pertanyaan yang ingin kutanyakan kepadanya saat ini. Siapa sebenarnya Kirito hingga dirinya seakan sulit untuk menolak ajakkan pemuda brengsek itu.
Ya, kukatakan demikian karena jujur saja aku tidak suka terhadap sikapnya yang memaksa Asuna untuk menuruti semua keinginannya. Memangnya siapa dia?
"Asuna …."
Aku kemudian membalikkan sedikit badanku agar berhadapan dengannya. Memegang kedua lengannya sambil menatapnya dalam-dalam.
"Asuna … jujur saja. Saat ini aku tidak rela melihat dirimu diperlakukan seenaknya oleh orang lain. Karena aku …."
Ah, sial! Mengapa aku berhenti. Lanjutkan Naruto!
Batinku memberontak, menertawakan diriku sendiri. Menghinaku karena tak mampu melanjutkan perkataanku kepada Asuna.
"Asuna, aku … aku … aku sekarang …."
Aku tahu jika Asuna masih menunggu kelanjutan dari kata-kataku ini. Tersirat dari wajahnya yang tampak memperhatikan dan menanti ucapanku. Namun, aku merasa masih terlalu cepat untuk mengungkapkannya.
"Naruto …?"
Asuna benar-benar menunggu ucapanku berlanjut. Ia memanggil namaku sambil terus memperhatikan diriku yang bodoh ini.
"Asuna, sepertinya aku haus. Kau mau minum?"
Aku menutupi rasa grogi yang melanda hatiku dengan menawarkannya minum. Akupun segera masuk ke dalam mobil lalu mengambil minuman yang telah kubeli tadi dan menawarkannya kepada Asuna.
Maaf, Asuna. Aku belum mampu untuk menyatakannya sekarang.
Ada perasaan kesal terhadap diriku sendiri yang tidak mampu melanjutkan kata-kata itu. Dan untuk yang kesekian kalinya, aku membiarkan Asuna untuk menungguku lebih lama.
"Ini minumlah," tawarku kepada Asuna.
.
.
.
Keesokan harinya...
Sepertinya aku baru saja mengalami mimpi buruk semalam. Tapi tidak! Semalam adalah sebuah kenyataan yang baru saja aku alami. Masih teringat jelas raut wajah penuh kekecewaan akan sikapku ini. Aku menggantungkan perasaannya, menunda pernyataan cintaku setelah sekian lama kami bersama.
Aku mencoba menjalani hari-hariku seperti biasanya setelah pertemuan itu. Bekerja hingga sore hari lalu segera kembali ke apartemenku. Namun seperti ada yang terlupa. Ya, terlupakan olehku. Hari ini aku tidak mengantarkan Asuna ke kampusnya dan juga tidak menjemputnya.
Aku mencoba menghubungi dirinya, namun sayang handphone-nya ternyata tidak aktif. Aku masih berusaha bersikap biasa saja, namun hatiku terlalu gelisah untuk membiarkan semua ini terjadi.
Aku memutuskan untuk menemuinya di asrama wanita, melajukan mobilku hingga tiba di depan gerbang asrama wanita tempatnya tinggal. Namun Asuna sepertinya tidak sedang berada di sana. Aku kemudian mencoba bertanya kepada penghuni asrama yang kutemui, namun mereka juga tidak tahu akan keberadaan Asuna.
Astaga!
Apa sebenarnya yang telah terjadi? Hatiku bertambah gundah-gulana. Sehari saja tidak mendapat kabar dari dirinya, bukan main aku hampir merasa gila.
Di mana gerangan dirimu, Asuna ...?
Aku kemudian berusaha menyusuri sudut kota, mencarinya di tempat biasa kami menghabiskan waktu bersama. Tetapi tidak juga kutemui dirinya. Aku kesal, sangat kesal dan juga merasa bersalah. Jangan-jangan semua ini karena salahku. Jangan-jangan kesabarannya telah habis karena telah menungguku dalam waktu yang lama.
Pikiranku benar-benar kalut. Hingga tak kusadari jika ada dua buah mobil yang sedari tadi mengikutiku dari belakang.
.
.
.
Mobil itu kemudian menghadangku saat melintasi jalan yang sepi. Dan terlihat beberapa orang yang keluar dari dalam mobil sambil memegang tongkat baseball.
Siapa mereka?
Aku masih belum menyadari akan bahaya yang akan menimpaku ini. Orang-orang itu kemudian berjalan mendekat ke arahku. Melihat jumlah mereka yang cukup banyak, aku berusaha menghindar. Namun ternyata aku malah telah terkepung. Datang lagi dua buah mobil yang berjaga di belakangku.
"Keluar kau!"
Teringat jelas salah seorang dari mereka memintaku untuk segera keluar dari dalam mobil. Bahasanya terdengar kasar bagiku. Sehingga aku berusaha pergi menghindarinya. Bak seorang stunman, aku kemudian melajukan mobilku untuk menghindari mereka semua.
Dan akhirnya adegan kejar-kejaran itu berlangsung.
Aku masih berusaha menghindarinya. Dan ternyata keberuntungan itu tidak berpihak kepadaku. Mobilku dipepet oleh mereka. Yang memaksaku untuk segera berhenti. Dua dari empat mobil itu berhasil membuatku menyerah. Dan akupun dipaksa keluar dari dalam mobil.
Mereka berjumlah sekitar enam orang. Mengeroyokku hingga aku terjatuh. Tanpa sebab dan alasan yang jelas. Akupun merasa bingung mengapa hal ini dapat terjadi padaku. Namun sepertinya tak perlu kusesali, karena tiga dari enam orang itu berhasil kubuat babak belur. Walau diriku sendiri kini mulai tak sadarkan diri.
BRUGGHHH
Akupun terjatuh di atas jalan dengan darah yang mengucur dari dalam hidung dan juga mulutku. Dan kemudian aku tidak mengingat kejadian apapun setelahnya.
.
.
.
Cairan infus itu masih mengalir dalam urat nadiku. Entah selang berapa jam aku dapat menyadari jika diriku ini sedang berada di rumah sakit. Kulihat di samping kananku seorang teman yang sedang membaca surat kabar sambil menyandarkan diri pada kursi sudut. Dan kutahu jika dia dengan setia menemaniku hingga aku pun tersadar.
"Shi-shikamaru ..."
Temanku ini bukan sembarang teman. Dia hampir ada di saat aku tengah merasa kesulitan. Kami berteman sejak kecil dan selalu berada dalam akademik yang sama. Hingga bekerja di tempat yang sama. Walaupun berbeda divisi.
"Naruto, kau sudah sadar?"
Aku tahu jika dia mengkhawatirkanku. Dengan segera dia menaruh surat kabar itu di atas kursi, lalu ia berjalan mendekatiku.
"Shikamaru, apakah Asuna menjengukku?"
Yang kuingat hanyalah Asuna saat ini. Ya, hanya Asuna seorang. Tak ada yang lain.
Pertanyaan yang terlontar itu benar-benar dari dalam lubuk hatiku yang terdalam. Namun temanku seakan tidak ingin menggubrisnya. Dia malah menanyakan keadaanku sekarang ini.
"Shikamaru,"
"Naruto. Sebaiknya kau beristirahat saja dahulu. Pulihkan keadaanmu, baru kita pikirkan rencana ke depannya."
"Tapi, Shikamaru. Aku sangat—"
"Kau sangat merindukannya, bukan? Aku tahu hal itu. Tapi lihatlah dirimu saat ini. Kau babak belur, Naruto. Alangkah baiknya jika kau memulihkan keadaanmu terlebih dahulu."
Shikamaru memberikan sarannya kepadaku.
Benar apa kata dirinya. Aku merindukannya. Dan juga tidak salah jika Shikamaru berkata demikian kepadaku. Ya, aku harus memulihkan keadaan diriku terlebih dahulu sebelum kembali untuk mencari Asuna. Jujur saja, aku ingin jika dia berada di sampingku saat ini.
Asuna ... aku merindukanmu ...
.
.
.
Hari kedua aku berada di rumah sakit terasa begitu berat. Aku sendirian di sini. Hanya ditemani dentingan jam di dinding.
Ya Tuhan, baru kali ini aku merasa begitu kesepian. Biasanya Asuna selalu ada di sisiku. Menemaniku, mewarnai hariku. Tapi di saat seperti ini, dia tak ada. Aku seperti kehilangan jiwaku.
Tak lama, teman baikku datang bersama teman-teman kantor yang lain. Shikamaru, Gaara dan juga Kiba datang menjenguk diriku hari ini. Mereka membawa banyak buah tangan. Dari buah-buahan, roti, selai, mesis dan lain sebagainya. Andai saja ada Asuna, pastinya aku dapat memberikan semua ini sebagai bekalnya selama berada di asrama wanita. Tapi sayang, hari ini dia tak kunjung datang untuk menjengukku.
"Bagaimana kabarmu, Naruto?"
Gaara bertanya tentang keadaanku. Aku hanya dapat tersenyum sambil menahan rasa perih di hati ini. Perih karena yang kuinginkan saat ini tidak dapat terpenuhi.
"Tenang saja, Gaara. Naruto pasti baik-baik saja. Lagipula diakan bertubuh besi."
Kiba meledekku dengan seenaknya, yang aku tahu jika dia berusaha membuatku melupakan tentang keberadaan Asuna saat ini.
Mereka bertiga adalah kawan di kantorku. Tetapi aku lebih dekat dengan Shikamaru. Dia kawan terbaik yang pernah aku punya. Karena hanya dengannyalah aku mampu berbagi hingga ke hal yang sekecil apapun. Seperti sudah tidak ada jarak di antara kami.
Sedangkan Gaara dan Kiba baru berteman denganku sejak aku mulai bekerja tiga tahun lalu di kantor pemerintahan ini. Namun kami pun sudah sangat dekat. Sehingga jika kami ingin berpergian, selalu saja bersama.
"Aku mendapat kabar jika kau sudah diperbolehkan untuk pulang, Naruto."
Shikamaru memberikan kabar akan masa inapku di rumah sakit ini. Tentunya aku sangat gembira menanggapinya.
Kiba lalu duduk di pinggir kasurku, sedang Gaara bersama Shikamaru duduk di kursi sudut yang berada di depan pembaringanku. Mereka terlihat memakan roti dan juga meminum capucino dingin.
"Hei semua! Bagaimana jika kesembuhan Naruto ini kita rayakan dengan menyeberangi pulau. Apa kalian setuju?" tanya Kiba kepada yang lain.
"Dia masih belum pulih, Kiba," jawab Gaara.
"Tak apa. Lelaki tidak boleh cengeng. Bukan begitu, Naruto?"
JLEB
Pertanyaan dari Kiba ini seolah menyudutkanku. Ya, aku merasa tersindir akan kata cengeng yang dia ucapkan. Benar-benar menyebalkan mempunyai seorang teman yang blak-blakan.
"Em, aku ikut saja. Selama itu bersama kalian."
Hanya kata-kata singkat yang mampu kujawab sambil terus berusaha menutupi kerinduan ini. Aku hampir saja kehilangan kendali dan ingin menitikkan air mata kala teringat dengan tawa dan senyum manis Asuna.
Astaga ... sepertinya dia semakin mencengkram jiwaku.
Semakin aku berusaha melupakannya, maka semakin aku teringat akan kenangan bersamanya. Rasanya ... aku ingin meminta bantuan teman-temanku ini untuk mencari di mana keberadaan Asuna. Namun aku malu. Karena mereka tahu jika akulah yang salah, selalu menunda pernyataan cintaku.
"Baiklah. Sudah diputuskan, ya?"
Kiba tampak bersemangat ber-travelling kali ini. Dia memang penggemar petualangan ke berbagai tempat yang ada di Jepang. Ya itu dikarenakan dia malas jika harus berlama-lama di rumah menyambut liburan akhir tahun ini. Karena ibu dan kakak perempuannya selalu memekakkan gendang telinga. Dan aku sudah membuktikannya sendiri.
.
.
.
Di lain tempat.
Di sebuah resort yang berada di pesisir kota Jepang. Terlihat Asuna tengah berdiam diri di pinggir tempat tidurnya. Mengenakan baju terusan berwarna merah jambu setinggi lutut dan tanpa alas kaki. Ia terlihat menundukkan wajahnya di hadapan seorang pemuda.
"Aku tidak mengerti, mengapa kau melakukan hal ini kepada Naruto?"
Asuna tampak menahan kesalnya setelah mendengar kabar yang ia terima. Terlebih ia dijemput paksa oleh beberapa orang suruhan pemuda tersebut.
"Ck! Aku tidak menyukai dirinya yang sok menjadi pahlawan bagimu, Asuna. Dia sangat asing bagiku."
Pemuda itu terlihat mengenakan kaus pas badan berwarna putih dengan celana dasar hitam panjang. Dia membelakangi Asuna yang tengah duduk di pinggir tempat tidur yang hanya berjarak beberapa langkah dari dirinya. Sedangkan ia sendiri berdiri sambil melihat pemandangan teluk pantai dari balik jendela kamar resort.
"Tapi yang kau lakukan itu kejam, Kirito-nii," ucap Asuna sambil menahan tangisnya.
Sosok pemuda yang disebut oleh Asuna itu memang benar adalah Kirito. Alumnus kampus Asuna dan juga menjadi seseorang yang berperan dalam hidup Asuna sekarang ini.
"Apa kau bilang?!"
Pemuda itu lalu membalikkan badannya untuk menghadap ke arah Asuna.
"Kau selalu saja memikirkan dia, Asuna. Tapi kau tidak pernah memikirkan diriku. Untuk hal ini saja sudah banyak uang yang harus kukeluarkan. Terlebih tiga orang suruhanku babak belur di tangannya. Dan kau sama sekali tidak memikirkan akan hal itu?!"
"Kirito-nii, bukan maksudku untuk—"
"Katakan saja jika kau mencintainya. Iya kan? Jawab saja, Asuna."
Kirito tampak tidak senang saat Asuna terus-menerus membela Naruto di depannya.
"Ma-maaf. Tidak sepantasnya aku bersikap seperti ini. Namun, aku hanya ingin semuanya berjalan dengan baik-baik saja. Lagipula ..."
Sejenak Asuna menghentikan ucapannya. Ia kemudian beranjak dari duduknya.
"Lagipula kau lebih berhak atas diriku."
Asuna membuat pernyataan yang berlawanan dengan hatinya. Sebuah pernyataan akan sesuatu yang tersembunyi.
"Hm, aku harap kau tidak mendustaiku, Asuna."
Pemuda yang bernama Kirito itu lalu berjalan mendekati Asuna. Membelai wajah Asuna dengan lembut lalu memeluk tubuh sang gadis.
Asuna terpaksa mengakui sesuatu yang sama sekali tidak ia inginkan. Hubungannya bersama Naruto terlalu manis untuk dilupakan begitu saja. Tetapi Asuna pun tidak dapat melakukan banyak hal untuk melindungi Naruto dari kekejaman sifat Kirito. Hanya dengan cara inilah Asuna berharap jika Naruto dapat menjalani kehidupannya dengan tenang.
Ia menghela napasnya, merasakan denyut nadi yang berdetak tak beraturan karena telah membohongi hatinya sendiri.
.
.
.
Lusa kemudian...
Naruto tengah bersiap melakukan perjalanan menuju pesisir timur pantai Jepang. Mereka mengendarai sebuah mobil milik ayah Gaara yang tahan terhadap berbagai rintangan.
Sepanjang perjalanan mereka mengobrol tentang hal-hal yang akan dilakukan nanti saat tiba di pesisir pantai timur tersebut. Namun berbeda dengan Naruto yang menjawab seadanya setiap pertanyaan yang terlontar dari ketiga temannya itu.
Tidak seperti biasanya, Naruto bersikap demikian. Dan ketiga temannya itu tampak memaklumi apa yang sedang Naruto rasakan. Sebuah kerinduan akan seseorang yang dicintai. Tentang hati yang telah terikat, namun keadaan yang menjadi jurang pemisah antara keduanya.
Asuna ... aku harap dapat bertemu kembali denganmu. Jangan biarkan aku terlarut dalam kesendirian ini.
Cinta itu begitu menyakitkan kala tidak dapat tersalurkan. Terlalu lama memendam perasaan mengakibatkan salah satu pihak menyerah lalu pergi begitu saja. Sampai kapan kau akan terus bertahan karena egomu?
Katakanlah jika kau memang mencintainya. Sebelum penyesalan datang membelenggu jiwamu.
.
.
.
TBC
