Disclaimer :

Naruto [Masashi Kishimoto] and Sword Art Online [Reki Kawahara]

Tapi cerita ini sepenuhnya milik author.

Author tidak mengambil keuntungan materi apapun dari fanfiksi yang di-publish.

.

Notice Me, Baby

Romance, Friendship, Family, Drama, and etc.

Rate : M

Type : Crossover

.

Warning! : OOC, OC, Typo(s), Miss-Type, AU, AR, AT and many more.

.

Chapter 4 Luka

.

.

Pemandangan pantai timur Jepang begitu indah. Sayup-sayup terdengar kicauan burung yang berkejaran di atas pantai. Tepat pukul lima sore waktu setempat, empat sekawan ini telah tiba di tempat tujuan. Tentunya setelah melewati perjalanan yang panjang dan juga melelahkan.

"Hei, kita istirahat dulu."

Kiba segera keluar dari dalam mobil lalu bergegas menuju sebuah pondok untuk memesan vila, karena mereka akan menginap dua hari dua malam. Sedang Shikamaru dan yang lain ikut turun dari dalam mobil dan melepas lelah sejenak dengan memandangi pantai yang begitu asri.

"Sayang sekali, tempat seindah ini jarang ada orang yang mengunjungi."

Gaara begitu takjub akan pemandangan di pantai timur Jepang yang sangat menenangkan hati. Begitupun dengan Shikamaru yang terlihat berjongkok sambil memegang butiran pasir yang ada di tepi pantai. Ia tiba-tiba saja teringat dengan sesuatu.

"Hei, Naruto! Kisah yang kudengar tentang pantai ini, jika kau menyukai seseorang maka tulislah nama orang tersebut di atas pasir. Jika namanya segera tersapu ombak, itu berarti jika dia hanya sekedar lewat dalam kehidupanmu."

Entah ada angin apa, Shikamaru berkata demikian kepada Naruto yang sedang melihat burung-burung berterbangan di langit pantai. Sontak saja, Naruto menoleh ke arah Shikamaru dan mencoba apa yang dikatakan oleh temannya itu.

"Benarkah?"

Ia kemudian menuliskan nama Asuna dengan huruf kanji di pasir pantai. Tetapi setelah ditunggu, ombak tak kunjung menghapusnya.

"Bagaimana, Shikamaru?" tanya Naruto dengan sedikit tersenyum.

"Hei, Kalian!"

Kiba tiba-tiba saja berteriak dari teras pondok, tempat penyewaan vila penginapan.

"Cepat kemari! Aku bingung memilih paket," kata sang Inuzuka yang terlihat kebingungan.

"Hah, dia selalu labil dalam membuat keputusan."

Gaara tampak sweatdrop melihat sikap Kiba yang selalu saja seperti ini. Ia pun bergegas mendekati Kiba.

Shikamaru masih tampak terdiam dengan mitos yang ia dengar. Tak lama, Naruto pun mengajak Shikamaru untuk segera mendekat kepada Kiba dan Gaara.

"Ayo, Shikamaru. Perjalanan sangat melelahkan, kita lihat matahari tenggelam dari atas vila saja."

Naruto terlihat sangat letih karena perjalanan yang ia tempuh memerlukan waktu yang sangat lama. Namun, Shikamaru masih tetap berdiam sambil memandangi ombak pantai yang berkejaran. Hingga Naruto pun meninggalkannya

Semoga saja, ini hanya mitos.

Akhirnya, Shikamaru berbalik lalu berjalan mendekati Naruto. Tanpa ia sadari, tiba-tiba ombak mulai pasang dan kemudian menghapus nama Asuna.

"Rasanya aku ingin berendam di air panas saja. Kau mau ikut, Shikamaru?" tanya Naruto kepada Shikamaru.

"Hm, boleh," jawabnya singkat sambil melirik ke pasir yang bertuliskan nama Asuna.

Astaga ... itu benar.

Shikamaru terkejut melihat nama Asuna sudah tidak ada lagi. Hari yang semakin malam membuat Shikamaru tidak sempat menyampaikan apa yang telah ia lihat. Terlebih Naruto segera merangkulnya. Dan akhirnya tanda itu harus diabaikan.

.

.

.

Malam harinya...

Tiba saatnya untuk empat sekawan ini makan malam bersama sambil menikmati deburan ombak pantai. Mereka tengah asik bercengkrama sambil menunggu hidangan tiba di sebuah restoran kecil yang ada di pantai tersebut. Namun, sesuatu hal terjadi pada salah satu di antara mereka. Naruto secara tidak sengaja melihat Asuna bersama seorang pria yang ia kenal.

Asuna?

Terkejut, kecewa juga rasa cemburu mulai mengusik diri Naruto.

"Naruto, itu kan ..."

Kiba menunjuk sosok gadis bergaun putih setinggi lutut yang duduk tak jauh dari tempat mereka berada.

"Astaga, Naruto!"

Seketika Gaara pun melihat ke arah Naruto. Ia tidak menyangka jika Asuna sedang bersama pria lain.

Naruto memperhatikan lebih dalam gadis itu. Dan benar saja, ternyata memang Asuna bersama seorang pemuda yang pernah ia temui. Ia pun segera bangkit dari duduknya, berniat untuk menemui Asuna.

"Tunggu, Naruto!"

Tiba-tiba saja Shikamaru menahan tangan Naruto agar tidak menghampiri Asuna.

"Shikamaru, tapi dia—"

"Naruto, jangan gegabah. Kita tidak tahu siapa yang bersama Asuna. Kau tenanglah sebentar. Dan tunggu di sini."

Pemuda yang bersama Asuna itu memang duduk membelakangi Shikamaru. Sehingga Shikamaru tidak dapat melihat siapa sebenarnya yang bersama dengan Asuna. Ia kemudian memikirkan sebuah cara agar dapat menemui Asuna tanpa berbuat kerusuhan. Tak lama ia pun mendapatkan sebuah ide.

"Kalian tunggu di sini," pinta Shikamaru kepada teman-temannya.

Alhasil, baik Naruto, Gaara maupun Kiba menuruti instruksi yang diberikan oleh Shikamaru. Mereka kemudian menunggu di meja makan sedang Shikamaru mulai berjalan mendekat ke arah meja Asuna bersama seseorang.

Dan kemudian...

"Permisi. Maaf bisa pinjam korek api?" tanya Shikamaru kepada pemuda yang bersama Asuna.

Asuna yang membelakangi Shikamaru tentu tidak mengetahui jika Shikamaru sedang berada di belakangnya.

"Maaf, aku tidak merokok," sahut pemuda yang bersama Asuna.

Dia ...

Saat pemuda itu menoleh ke arah Shikamaru, sontak membuat Shikamaru terkejut.

"Baiklah, terima kasih."

Shikamaru kemudian mengakhiri pembicaraannya. Ia kemudian berjalan melewati seorang pemuda yang tengah duduk bersama Asuna. Dan seolah tanpa sengaja...

PRANK

Shikamaru menyenggol lilin kecil yang berada di meja Asuna hingga jatuh. Seketika itu juga Asuna melihat Shikamaru.

"Shi-shika-maru ...?"

Asuna terkejut kala melihat teman baik Naruto itu.

"Maafkan aku, maaf aku tidak sengaja."

Shikamaru membungkukkan badannya kepada sang pemuda yang bersama Asuna. Ia bersikap seolah tidak sengaja menyenggol lilin yang berada di atas meja.

"Shikamaru—"

"Kau kenal dengan dia, Asuna?' tanya pemuda yang bersama Asuna itu.

Shikamaru kemudian menegakkan badannya dan melihat Asuna.

"Asuna, ya? Apakah itu dirimu?"

Shikamaru pura-pura tidak mengenal Asuna. Malam ini ia melakukan drama demi Naruto, teman baiknya.

"Shikamaru, bagaimana bisa kau ada di sini?"

Asuna terkejut, ia sangat kaget karena tidak menyangka jika akan bertemu dengan Shikamaru. Shikamaru kemudian menunjuk sebuah meja yang tak jauh dari tempatnya berada dan seketika itu pula Asuna melihat Naruto.

Naruto ...

Asuna sangat terkejut kala melihat sang Uzumaki bersama kedua temannya tengah melihat ke arah dirinya. Ia juga tak habis pikir mengapa bisa berada di tempat yang sama dengan Naruto dan kawan-kawannya.

"Asuna! Kau dengar aku bicara?!"

Pemuda itu tampak kesal karena Asuna tidak menggubris pertanyaannya.

"Em, maaf. Sepertinya aku mengganggu acara kalian. Sekali lagi aku minta maaf."

Untuk yang kedua kalinya Shikamaru membungkukkan badannya kepada Asuna dan pemuda yang bersama gadis itu. Kemudian dengan segera Shikamaru kembali ke meja asalnya, tempat di mana Naruto, Gaara dan Kiba berada.

Sontak saja Asuna merasa khawatir. Ia terlihat memalingkan pandangannya dari Naruto.

Asuna ... kau ...

Batin Naruto tiba-tiba merasa sakit atas apa yang telah dia lihat. Ia tidak menyangka jika ketidakhadiran Asuna selama ini disebabkan karena sesuatu hal yang dia lihat sekarang.

Mereka saling mencuri pandang satu sama lain. Yang mana hal itu disadari oleh pemuda yang bersama dengan Asuna, Kirigaya Kirito.

.

.

.

Satu jam kemudian...

"Asuna!"

Saat ini Kirito tengah berada di dalam kamar Asuna. Ia tampak kesal dan juga marah terhadap sang gadis bersurai kuning kecokelatan yang tengah duduk di hadapannya.

Ya, Kirito marah besar kepada Asuna. Ia merasa jika Asuna telah melanggar janjinya.

"Aku tekankan sekali lagi padamu! Aku tidak menyukai Naruto. Dan kau hanya milikku semata. Apa kau dengar itu?!"

Kirito benar-benar marah kepada Asuna hingga Asuna menangis tersedu-sedu. Asuna terlihat begitu takut menghadapi situasi kali ini.

"Kau sudah menandatangi kontrak denganku. Kau tidak bisa lari lagi. Jika kau tetap nekat maka jangan salahkan jika apa yang akan aku perbuat kepada dirimu dan juga dirinya akan berakhir dengan tragis!"

Kirito mengancam, sepertinya Kirito tidak main-main dengan ucapannya.

"Kau harus sadar diri, Asuna. Selama ini akulah yang membiayai hidupmu, kuliahmu bahkan keperluan sehari-harimu. Apa kau tidak sadar diri?!"

"Kirito-nii—"

Asuna berusaha menyela. Namun, diabaikan oleh Kirito.

"Aku tidak ingin melihatmu dekat dengannya lagi. Jika hal itu masih kau lakukan. Aku tak segan-segan akan mengahabisimu!"

"Camkan itu, Asuna."

Kirito lalu bergegas keluar dari dalam kamar Asuna. Meninggalkan Asuna yang sedang menangis pilu karena situasi yang tengah ia alami. Ancaman Kirito membuat Asuna ketakutan dan juga tidak dapat berbuat apa-apa selain menuruti apa yang dipinta oleh sang Kirigaya.

Sementara di lain tempat, Naruto tampak termenung sambil memandangi ombak pantai dari teras atas vilanya. Malam ini terasa begitu sunyi. Keheningan itu mulai Naruto rasakan.

"Sebenarnya kau harus mengetahui satu hal, Naruto."

Tiba-tiba saja Shikamaru mendatangi Naruto lalu berdiri di samping kiri sang Uzumaki yang tengah menyandarkan kedua tangan pada pagar teras.

"Tentang apa?" Naruto balik bertanya saat menoleh ke arah temannya.

"Tentang sesuatu yang menurutku tidak bisa kau tunda lebih lama lagi," jawab Shikamaru.

"Maksudmu—"

"Aku kenal dengan pemuda itu."

"Kirito?"

"Iya. Dia bukan pemuda normal pada umumnya. Kau harus menyelamatkan Asuna. Karena dia ... mengalami gangguan kejiwaan," cetus Shikamaru.

"Ap-apa?! Darimana kau tahu? Kau jangan main-main dengan perkataanmu, Shikamaru!"

Naruto terkejut dengan kabar yang ia dengar.

"Sungguh. Ibuku bekerja di Rumah Sakit Jiwa. Tidak mungkin aku berbohong. Jelas-jelas pemuda itu yang dirawat oleh ibuku."

Shikamaru menceritakan apa yang dia ketahui.

Naruto tidak habis pikir bagaimana bisa Kirito bersama Asuna. Dan apakah Asuna tidak mengetahui siapa sebenarnya Kirito? Atau jangan-jangan Asuna menderita penyakit yang sama seperti Kirito?

Seribu tanda tanya itu mulai berkecamuk di dalam hatinya. Ada rasa khawatir dan cemas yang menjadi-jadi akan nasib Asuna di waktu yang akan datang. Rasanya Naruto ingin segera menemui Asuna lalu mencari pemecahan atas masalah ini.

"Lalu, apa yang harus kulakukan?" tanya Naruto yang mulai diliputi kekhawatiran.

"Em ..."

"Shikamaru?"

Naruto tampak menunggu jawaban dari Shikamaru.

"Sepertinya agak sulit. Ayahnya bukan orang biasa."

"Darimana kau tahu?" tanya Naruto lagi.

"Ayahnya telah membuang Kirito. Dia seorang pengusaha yang sukses. Namun karena keadaan Kirito yang kurang normal, membuat dia membuang anaknya sendiri."

Astaga ...

Kini Naruto benar-benar mengkhawatirkan keadaan Asuna yang sedang bersama dengan Kirito. Ia takut jika terjadi sesuatu pada orang yang ia sayangi itu.

.

.

.

Keesokkan harinya...

Semalaman Naruto tidak dapat tertidur dengan lelap. Karena memikirkan Asuna, gadis yang ia cintai. Ya, setelah rasa kehilangan dan kerinduan yang silih berganti datang, membuat Naruto menyadari jika ia memang mencintai Asuna.

Kini ia sedang memancing bersama ketiga temannya di tengah laut dengan menyewa sebuah kapal kecil. Raganya memang terlihat tengah berada bersama ketiga temannya. Tetapi tidak untuk jiwanya yang sedang melayang ke mana-mana. Naruto masih memikirkan Asuna. Ia berusaha keras agar dapat menemui Asuna dan juga berbicara empat mata dengan sang gadis.

"Strike!"

Kiba berteriak senang karena berhasil mendapatkan ikan untuk yang pertama kalinya. Ikan yang cukup besar menjadi awal acara memancing mereka.

"Kau hebat, Kiba!"

Gaara menepuk bahu Kiba dan mengucapkan selamat atas keberuntungan temannya hari ini.

"Aku juga! Wow!"

Shikamaru terlihat memutar roll alat pancingnya. Ia bertempur dengan ikan yang terperangkap di mata pancingnya saat ini.

Gaara pun ikut membantu perjuangan Shikamaru untuk mendapatkan ikan tersebut. Setelah bercucuran keringat, akhirnya ikan itu berhasil didapatkan oleh Shikamaru. Yang mana dua kali lipat lebih besar dari yang Kiba dapatkan.

"Haha. Kau kalah, Kiba."

Shikamaru mengejek temannya kala berhasil mendapatkan ikan yang lebih besar. Namun Kiba terlihat tidak marah, melainkan dia malah tertawa.

"Tenang, Shikamaru. Ini baru permulaan. Lihat saja nanti, Kawan."

Kiba bersemangat untuk mendapatkan ikan yang lebih besar dari yang Shikamaru dapatkan. Sementara Gaara terlihat sedih karena mata pancingnya belum mendapat seekor ikan pun.

"Dan lagi keberuntungan itu sangat menentukan, ya?"

Gaara kemudian berucap yang mana menyadarkan Naruto dari lamunannya.

Asuna ...

Rasa kehilangan akan sosok yang ia sayangi begitu membelenggu hati dan pikiran Naruto. Ia sangat berharap dapat segera menyelesaikan masalah ini dengan baik. Dan membuat Asuna berada di pelukkannya dalam rasa nyaman dan juga kasih sayang yang murni.

.

.

.

Pukul 4 sore waktu sekitarnya...

Kini Naruto bersama teman-temannya telah sampai di bibir pantai. Mereka membawa banyak ikan hasil dari memancing hari ini.

Tiba-tiba saja Naruto melihat Asuna yang mengantarkan Kirito masuk ke dalam mobil. Sepertinya Kirito berniat pergi sebentar dan meninggalkan Asuna sendiri. Sontak saja, Naruto segera bergegas untuk menemui Asuna dan membicarakan hal penting kepadanya. Tentang sebuah kesalahpahaman yang telah terjadi. Dan mungkin Naruto juga akan menyatakan perasaannya.

Tanpa lama menunggu, Naruto segera membersihkan dirinya sebelum menemui Asuna. Sedang ketiga temannya hanya dapat mendukung segala tindakkan yang dilakukan oleh Naruto.

Setengah jam kemudian, Naruto segera keluar dari vilanya dan mencari keberadaan Asuna. Lokasi penginapan yang berada di pantai ini tidak terlalu banyak, sehingga membuat Naruto lebih mudah untuk menemui Asuna.

"Asuna ..."

Naruto menyapa sang gadis yang tengah berjalan menuju kamarnya, di sebuah penginapan khusus yang tak jauh dari vila tempatnya menginap. Asuna tampak baru saja mengerjakan sesuatu sebelum kembali ke kamarnya sehabis mengantarkan Kirito.

"Naruto ..."

Karena merasa terpanggil, Asuna segera membalikkan badannya. Ia ingin mengetahui lebih jelas suara yang memanggilnya itu, apakah benar Naruto atau bukan.

"Asuna ... apakah?"

Dan benar saja, saat Asuna berbalik Narutolah yang ia lihat di hadapannya.

"Naruto!"

Asuna segera berlari mendekat ke arah Naruto. Ia melupakan ancaman yang telah Kirito berikan kepadanya. Asuna memeluk Naruto dan tak lama ia pun menangis.

"Asuna,"

"Naruto-kun ... maafkan aku," ucapnya dalam tangis.

"Asuna, jangan menangis. Aku berada di sini."

Naruto begitu menghayati pelukkan kali ini. Ia hampir saja menitikkan air matanya. Rasa haru menyelimuti hatinya yang merasa kesepian, karena sudah lama tak berjumpa dengan sosok yang ia cintai. Tetapi saat ini, ia dapat merasakan kehangatan yang telah hilang karena dapat memeluk gadis yang ia cintai. Ya, hanya Asuna seorang.

"Asuna ..."

Naruto kemudian melepaskan pelukkannya lalu ia pun memegang kedua lengan Asuna.

"Asuna, kita perlu bicara sebentar. Bisakah kau meluangkan waktumu, Asuna?"

Sambil sedikit membungkuk, Naruto berbicara kepada Asuna untuk meminta waktu sang gadis agar dapat berbicara dengannya.

"Tap-tapi ..."

Asuna tiba-tiba terlihat begitu takut. Ia teringat akan ancaman Kirito.

"Asuna, sebentar saja. Mau kan?" tanya Naruto lagi.

Dalam rasa takut dan juga bimbang, Asuna berpikir ulang tentang permintaan Naruto yang ingin berbicara dengannya.

Ia pun kemudian memberanikan diri untuk mengambil sebuah keputusan yang beresiko.

"Aku mau, Naruto," ucapnya sambil sedikit tersenyum. Senyuman yang diliputi rasa kekhawatiran.

Naruto begitu senang kala permintaannya ditanggapi oleh Asuna. Senyum itu terlihat dari wajahnya yang bergurat tiga. Dan tak perlu menunggu waktu lama, Naruto segera mengajak Asuna ke tepi pantai. Ia ingin segera mengungkapkan apa yang sedang ia rasakan sekarang.

.

.

.

TBC

.

.

.

Yo, halo.

Dark Ryuuki sepertinya harus memberi tahu jika kisah ini merupakan short chapter. Jadi untuk chapter depan adalah chapter terakhir dari Notice Me, Baby. Gak kerasa ya, akhirnya sudah mau tamat.

Jangan lupa berikan kritik dan saran kalian agar aku dapat menulis dengan lebih baik lagi.

Terima kasih.

Salam,

Dark Ryuuki