Baekhyun keluar dari kamar mandi dengan hati-hati. Ia memperhatikan Chanyeol yang sedang membuka garis pembatas itu. Lampu pun sudah kembali menyala.

Masih ada keraguan untuk keluar dari kamar mandi, namun ia mencoba untuk bersikap biasa saja di hadapan Chanyeol.

"Kenapa kau membuka garis pembatasnya?" Tanya Baekhyun menghentikan langkahnya. Sejujurnya ia masih menahan perih akibat perbuatan namja tinggi itu.

"Ini percuma! Karena kau selalu saja melewati garis batas." Chanyeol membuang gulungan lakban tersebut.

Baekhyun kembali melangkah mendekati tempat tidurnya. Melihat namja mungil ini melangkah seperti pinguin, Chanyeol hanya menahan tawanya.

"Ada apa dengan jalanmu?" Goda Chanyeol membuat Baekhyun menoleh dan menatapnya tajam.

"Diam kau! Atau aku akan menendang bokongmu!"

"Tendanglah jika kau bisa."

Baekhyun benar-benar muak melihat wajah Chanyeol yang mengejek.

"Ketahuilah, aku ahli dalam hapkido!"

"Kakimu terlalu pendek. Itu tidak akan bisa."

Sudah habis kesabaran Baekhyun, namja mungil ini menahan rasa perihnya dan segera melangkah menuju Chanyeol.

Bugh!

"Arrghh!"

Ya, satu tendangan berhasil Baekhyun lakukan tepat di bokong Chanyeol dengan cukup kuat.

"Masih meragukanku hmm?" Tantang Baekhyun.

"Yak! Berani sekali kau."

"Itu hukumanmu yang menyebalkan."

Baru saja Baekhyun ingin kembali pada tempat tidurnya, namun Chanyeol menahannya kuat hingga keduanya kembali berhadapan.

"Aku akan terus mengganggumu, hingga kau pergi dari asrama ini." Ucap Chanyeol sedikit penekanan.

"Kenapa aku harus pergi dari sini?"

"Karena aku tidak mau berada di tempat yang sama denganmu Byun Baekhyun!"

"Apakah kau seorang pengecut?"

"Mwo?"

"Kau benar-benar takut keahlian balapmu tersaingi olehku bukan?"

Kali ini Baekhyun menatapnya dengan menantang, bahkan ia mendekati wajah tegas milik Chanyeol.

Sungguh, Chanyeol merasa gemas dengan namja mungil di hadapannya ini yang tak pernah takut berhadapan dengannya.

"Kau tau? Tidak selamanya kau terus mengalahkanku Byun Baek. Akan ada dimana waktunya aku yang mengalahkanmu."

"Lakukanlah jika kau bisa."

"Bagaimana jika aku berhasil melakukannya?"

"Aku akan melakukan apapun yang kau mau."

Merasa tertarik dengan tantangan ini, Chanyeol menyeringai menatap Baekhyun yang masih terlihat santai.

"Tantangan yang menarik. Ok, bersiaplah melakukan apa yang ku inginkan namja manis." Bisik Chanyeol tepat di telinga Baekhyun, bahkan meniupnya membuat namja mungil itu menahan gelinya.

Knock...knock...

Terdengar suara ketukan pintu. Keduanya pun teralihkan oleh suata tersebut.

Baekhyun melangkah mencoba untuk membuka pintu itu, namun Chanyeol lebih dulu melangkah karena merasa gemas dengan langkah lambat namja mungil itu.

Klek~

Chanyeol mengerjapkan kedua mata besarnya untuk beberapa kali ketika mendapati tamu yang tak lain adalah sang kakak.

Ya, Yoora berkunjung ke asrama adiknya ini.

"Nuna?"

Mendengar panggilan tersebut, Baekhyun mencoba melihat orang yang di panggil nuna oleh Chanyeol.

Tanpa izin, Yoora masuk begitu saja ke dalam.

"Wanita di larang masuk." Chanyeol mencoba menghalangi jalan Yoora.

"Menyingkirlah!" Yoora mendorong kening Chanyeol dengan jarinya, hingga adiknya ini berhasil terdorong.

Langkah Yoora terhenti ketika mendapati Baekhyun yang masih berdiri dengan wajah datarnya.

"Aigooo...kau bilang wanita tidak boleh masuk eoh? Lalu kenapa kekasihmu ada disini?"

Chanyeol dan Baekhyun tertegun mendengar sindirian wanita cantik itu.

"Mwo? Kekasihku? Dia adalah rommate ku." Jelas Chanyeol.

"Aku namja bukan wanita." Baekhyun mencoba meralat ucapan Yoora.

"Eoh? Jjinja? Bahkan kau sangat mungil dan tak kalah cantik dariku." Yoora mendekati Baekhyun yang mematung dengan wajah bingungnya.

"Mau apa nuna kesini?" Tanya Chanyeol.

"Apakah tidak boleh? Aku sudah meminta izin dengan guru pelatihmu."

Baekhyun terus memperhatikan kakak dan adik ini yang tak hentinya berdebat.

"Siapa namamu adik manis?" Yoora kembali beralih pada Baekhyun.

"Byun Baekhyun."

"Mwo? Adik manis? Ckck..." Chanyeol terlihat jengkel mendengarnya. Namun Yoora mengabaikannya.

"Kau sudah makan? Aku tak sengaja lewat kesini, dan aku membelikan makanan."

"Yak! Kenapa nuna hanya bertanya padanya? Jangan berikan itu padanya! Itu milikku..." Chanyeol langsung merampas bungkusan makanan itu dari tangan Yoora.

"Yak! Aku tidak mengajarkanmu pelit seperti ini." Yoora menampar tangan adiknya itu, lalu kembali merampas makanan yang ia beli.

"Ayo Baek, kita makan bersama."

Chanyeol terlihat kesal melihat sang kakak lebih perhatian dengan Baekhyun. Bahkan kakaknya itu membukakan makanannya.

"Kau tidak mau makan?" Yoora mulai bertanya pada Chanyeol yang masih berdiri.

"Apakah nuna mulai perduli?"

"Ya sudah jika tidak mau. Aku dan Baekhyun yang akan menghabiskannya."

"Mwo? Ah nuna kejam sekali!" Rengek Chanyeol langsung bergabung untuk makan bersama.

Dalam hati Baekhyun, ia sangat geli menahan tawanya melihat tingkah Chanyeol yang kekanakan jika berhadapan dengan kakaknya.

"Kau baru disini?" Tanya Yoora pada Baekhyun.

"Nde! Baru beberapa hari lalu."

"Baek, kau harus bersabar menghadapi namja besar ini. Aku tau, kau pasti merasa sial harus satu roomate dengannya."

"Mwo? Yak, nuna! Kenapa kau menjelekanku di hadapannya?" Protes Chanyeol.

"Itu memang fakta Yeol! Aku pun sangat sabar sebagai kakak yang mempunyai adik sepertimu."

"Nuna benar. Chanyeol sangat menyebalkan." Baekhyun mulai angkat bicara.

"Tendang saja bokongnya."

"Maaf, aku sudah melakukannya tadi."

Mendengar itu, Yoora membulatkan matanya lalu melirik pada Chanyeol yang terlihat mulai jengah.

Seketika Yoora tertawa lepas begitu saja di hadapan Chanyeol dan Baekhyun.

"Aigooo...bagaimana rasanya Yeol?"

"Sangat nikmat! Sepertinya aku kecanduan dengannya." Balas Chanyeol melirik Baekhyun dengan seringainya.

"Aku tidak akan merasa kasihan denganmu. Aku bahkan sangat senang jika ada yang berani melawanmu."

Baekhyun hanya menahan tawanya ketika Yoora lebih membela dirinya dari pada Chanyeol.

TBC~