"Kita akan memasuki liburan musim dingin. Jadi kalian harus persiapkan diri untuk ujian." Jelas Yunho pada beberapa murid latihnya.

"Ujian?" Baekhyun terlihat bingung.

"Ya, ujian yang ku maksud adalah uji lapangan. Kalian harus mendapat point tinggi. Semakin tinggi point, kalian bisa langsung liburan."

Mendengar penjelasan itu membuat mereka semua terlihat antusias.

"Berapa point yang harus kami dapat?" Tanya Chanyeol.

"360 point. Dan tentu itu semua penilaian dariku."

"Jadi, bagaimana kami bisa mendapat point itu?" Tanya Sehun.

"Lama kalian melakukan putaran, kecepatan, kestabilan, dan teknik."

"Aku bukan pesimis, tapi aku tak yakin akan pergi berlibur lebih dulu." Pikir Kai.

"Kalian bisa berlatih mulai sekarang. Ujian akan di adakan 2 minggu ke depan."

Setelah beberapa hari lalu mereka telah mendapat peringatan oleh sang pelatih, mereka semua mulai rajin berlatih di lapangan.

Saat Baekhyun baru datang ke lapangan pelatihan, ia melihat Sehun dan Kai yang sedang bersiap.

"Eoh? Dimana Chanyeol?" Tanya Baekhyun merasa ganjil diantara dua namja tinggi itu.

"Lihatlah, dia sudah berlatih lebih dulu. Entah sudah berapa putaran yang dia lakukan." Kai menujuk ke arah motor Chanyeol yang melaju cepat.

Baekhyun pun mengikuti arah tunjuk Kai, dan memperhatikan Chanyeol yang terus melajukan motornya di lapangan itu.

"Sepertinya dia antusias untuk segera liburan." Pikir Sehun.

Tak ingin membuang waktu, mereka mulai bersiap untuk ikut berlatih. Ketiganya segera memasuki lapangan dengan motor masing-masing.

Brummm~

Baekhyun langsung menarik gas dan berniat untuk menyusul putaran Chanyeol.

Ketika berhasil mendekati motor Chanyeol, Baekhyun sengaja menjaga jarak beberapa meter di belakangnya.

Dan ya, dapat Chanyeol lihat sosok Baekhyun dari kaca spion motornya.

Brummm~

Chanyeol kembali menarik gas untuk menjauhi jarak Baekhyun. Walau ini bukan pertandingan, ia merasa tetap tidak ingin Baekhyun berada di depannya sebagai pemimpin.

Sehun dan Kai terus berada di belakang ChanBaek. Ya, mereka terlihat lebih sedikit santai untuk pemanasan.

Beberapa putaran berhasil mereka lalui. Baekhyun mencoba untuk menyeimbangi lajunya Chanyeol.

Kaca helm ia buka dan menoleh pada Chanyeol yang juga menolehya.

"Apakah kita terlihat sedang bertanding?" Goda Baekhyun.

"Menyingkirlah!" Gertak Chanyeol.

"Jika aku menang, kau harus menuruti permintaanku Yeol. Ayo bertanding!" Baekhyun kembali menarik gas motornya bahkan berhasil melalui Chanyeol.

"Sial!" Tak mau kalah, Chanyeol mulai menyusul Baekhyun yang berada di depannya.

Keduanya benar-benar melakukan pertandingan, bahkan Sehun dan Kai sudah di lewati beberapa putaran.

"Eoh? Apakah kita harus menonton mereka?" Kai dan Sehun menghentikan lajunya motornya.

"Kau mau taruhan?" Usul Sehun.

"Jika Baekhyun menang, aku harus meminta nomor adiknya." Pikir Kai.

"Untuk apa kau meminta nomornya?"

"Berkenalan lebih dekat."

"Yak Kamjong, aku hanya ingin memperingati saja. Sepertinya adiknya berdarah dingin."

"Kalau begitu akan ku hangatkan!"

"Aigoo..." Sehun meninju lengan Kai yang mulai terlihat mesum.

Kedua namja ini berakhir menepi di lapangan, lalu memperhatikan ChanBaek yang asik bertanding.

"Lihatlah, namja mungil itu sangat ahli dalam tikungan. Sepertinya tikungan adalah umpan untuk mengejar lawannya." Pikir Sehun memperhatikan teknik Baekhyun mengendarai motornya.

"Kau harus menang Byun Baekhyun!" Pekik Kai dengan antusias.

"Ya, agar kau bisa mendapatkan nomor adiknya." Sambung Sehun mulai jengah.

Hanya beberapa meter menuju garis finish, jarak Chanyeol dan Baekhyun pun tak begitu jauh. Entah kenapa Sehun dan Kai mulai gemas melihat jarak keduanya.

Dan...

"Yes! Byun Baekhyun..." Seru Kai dengan senyuman lebarnya.

"Omo...mereka hanya beda tipis. Sepertinya Chanyeol mulai pintar." Gumam Sehun.

Kai dan Sehun segera menghampiri ChanBaek dengan motor mereka.

"Bersiaplah untuk permintaanku Park Chanyeol." Baekhyun menyeringai puas untuk kemenangannya.

Baru saja Chanyeol ingin protes, namun kedua temannya lebih dulu mendekati mereka.

"Woah...aku benar! Kau pasti yang menang Baek. Aku dan Sehun sudah bertaruhan. Dan..."

Baekhyun menunggu kelanjutan Kai yang terlihat antusias.

"Berikan nomor adikmu."

"Mwo? Apa hubungannya dengan Kyungsoo?"

"Karena itu taruhannya. Jika kau menang, kau harus memberikanku nomor adikmu itu."

"Dia akan marah jika memberikan nomornya sembarang orang."

"Aigooo...apakah aku sembarang orang? Bukankah kita saling kenal dan berteman?" Kai tak mau menyerah.

"Aisshh gurae, akan ku berikan jika aku kalah tanding oleh Chanyeol di hari selanjutnya."

"Mwo?" Kai merasa kecewa.

Saat di asrama dan kembali ke kamar, Baekhyun masih terlihat bahagia dengan kemenangannya.

Chanyeol masih terdiam dan terus melangkah masuk mendahului namja mungil ini.

"Taruhan tetap taruhan Park Chanyeol..."

"Aisshh...berisik sekali kau ini! Ya, aku terima taruhannya. Aku mau mandi." Chanyeol langsung menuju kamar mandi.

Selama Chanyeol mandi, Baekhyun masih berpikir untuk taruhannya. Dan tepat setelah Chanyeol selesai, Baekhyun mendapat idenya sendiri.

"Jangan tidur! Tunggu aku selesai mandi." Ancam Baekhyun yang bergantian masuk ke kamar mandi.

Mood Chanyeol kembali buruk setelah kalah tanding. Ia pun memutuskan untuk bermain game di ponselnya selama menunggu namja mungil itu selesai mandi.

"Apa yang akan dia lakukan?" Pikir Chanyeol.

Klek~

Ya, Baekhyun keluar dari kamar mandi. Namja mungil ini mengambil 2 karet, lalu mendekati Chanyeol yang masih pada posisinya di atas tempat tidur.

"Apa yang ingin kau lakukan?" Chanyeol beranjak dari tidurnya.

"Sesungguhnya aku bingung hukuman apa untuk kekalahanmu. Tapi aku hanya ingin menghibur diriku saja. Jadi diamlah!"

Tubuh besar itu mematung saat Baekhyun mendekatinya, lalu meraih rambutnya. Entah apa yang ia lakukan.

Dapat Chanyeol cium aroma segar dan manis dari tubuh Baekhyun yang berada di hadapannya.

"Yak! Apa yang kau lakukan?"

"Ok, selesai!" Baekhyun kembali menghadap Chanyeol, namun pandangannya tertuju pada dua ikatan rambut yang sangat lucu.

Namja mungil ini memberikan cermin di hadapan Chanyeol untuk menunjukannya.

"Omo...lihatlah kau sangat menggemaskan." Baekhyun mulai menggoda Chanyeol.

"Kenapa kau mengikat rambutku seperti ini?!" Baru saja Chanyeol ingin membukanya, namun di tahan oleh Baekhyun.

"Ini adalah hukumannya. Mudah bukan? Dan sekarang lakukan aegyo di hadapanku."

"Mwo? Itu lebih dari 1 permintaan!"

"Pemenang bebas melakukan permintaan apapun. Ayo lakukan!"

Chanyeol mulai menghirup udara dalam-dalam untuk menahan kesabarannya.

"Baekhyunie, saranghae buing buing~" Chanyeol langsung melakukan aegyo dengan tingkahnya yang benar-benar dibuat manis.

"Aigooo...uri Chanyeolie kiyowo eoh?" Baekhyun tertawa puas setelah menerima aegyo itu.

Chanyeol mulai terlihat jengkel dengan tawanya Baekhyun. Namun melihat namja mungil di hadapannya ini tertawa lepas, entah kenapa itu membuatnya gemas. Mungkin siapapun yang melihatnya akan merasakan hal yang sama seperti Chanyeol.

"Kau sudah puas?!" Timpal Chanyeol.

"Omo...perutku sakit karena aegyo mu." Baekhyun mencoba menghentikan tawanya.

Grep!

Chanyeol menarik pinggang Baekhyun hingga tubuh mungil itu mendekat padanya.

"Lihat saja hukuman untukmu nanti!" Bisik Chanyeol dengan seringainya.

TBC~