Tiba di rumah Chanyeol, Sehun dan Kai segera menurunkan namja tinggi itu dari motor.
Keduanya merangkul Chanyeol untuk masuk ke dalam rumah, di ikuti Baekhyun.
Knock~knock~
Baekhyun mengetuk pintu rumah hingga berhasil di buka oleh Yoora.
"Omo! Apa yang terjadi?" Kejut Yoora mendapati Chanyeol yang terluka.
"Dia terjatuh saat balapan tadi." Hanya Baekhyun yang berani menjawab.
"Itulah akibatnya melawan padaku! Dasar anak nakal!"
"Argh sakit nuna!" Chanyeol mengerang saat Yoora sedikit menendang kakinya.
"Bawa saja dia ke kamar." Ujar Yoora.
Sehun dan Kai pun segera melangkah menuju kamar Chanyeol. Sedangkan Baekhyun di tahan oleh Yoora.
"Baek, bisakah kau obati Chanyeol? Aku benar-benar muak dengan anak itu." Pinta Yoora segera mengambil kotak obat.
"Semuanya lengkap disini. Aku butuh pertolonganmu. Karena aku tidak bisa bergadang, besok pagi-pagi sekali aku harus pergi bekerja."
Baekhyun hanya mengangguk kepala tanda menyetujui permintaan wanita cantik itu.
Namja mungil ini melangkah menuju kamar Chanyeol dengan membawa kotak obat tersebut.
"Dimana Yoora nuna?" Tanya Kai.
"Dia sudah kembali ke kamar. Dan dia memintaku untuk mengobati Chanyeol."
"Mwo? Nuna macam apa itu?" Gerutu Chanyeol.
"Aku pun kesal jika punya adik sepertimu Yeol." Sindir Sehun menahan tawanya.
"Sekarang diam, aku akan mengobati lukamu." Baekhyun duduk di tepi tempat tidur.
Chanyeol terdiam saat Baekhyun mulai mengobati luka di wajahnya. Sesekali ia merintih kesakitan saat merasakan perih.
Tanpa di sadari, Sehun dan Kai tertidur di sofa karena rasa kantuk mereka yang sudah tak tertahan. Ya, jam sudah menunjukan pukul 2 malam.
"Yak pelan-pelan!"
"Ckck ini bahkan sudah sangat hati-hati Park Chanyeol!"
Sebuah plester sudah merekat pada kening dan tulang pipi Chanyeol.
Selama Baekhyun sibuk mengobati wajah tampan itu, entah kenapa Chanyeol menikmati pemandangan wajah cantik Baekhyun yang sangat dekat dengannya. Bahkan nafas hangat Baekhyun terus menerpa wajah Chanyeol.
"Sudah selesai! Lihatlah wajahmu tak lagi tampan. Sekarang aku yang tampan." Celoteh Baekhyun memasukan beberapa obat itu ke dalam kotak.
"Kau merasa dirimu tampan? Ckck jangan berkhayal tinggi Byun Baekhyun." Balas Chanyeol, dan dalam hatinya ia tertawa geli saat di katakan tampan oleh Baekhyun tanpa disadari namja mungil itu.
Baru saja Baekhyun beranjak dari tempat, Chanyeol menahannya.
"Kau ingin kemana?"
"Tentu saja tidur. Ini sudah menjelang pagi."
"Kau tidak bisa tidur di sofa, karena mereka sudah menempatinya." Chanyeol mengarah pada Sehun dan Kai yang tertidur lelap.
"Kalau begitu berikan bantal untukku." Baekhyun mengulurkan tangannya berharap menerima bantal dari Chanyeol.
Grep!
Chanyeol menarik tangan itu hingga Baekhyun duduk kembali. Namja tinggi ini memberi ruang pada tempat tidurnya.
"Kau bisa tidur disini."
"Tapi--"
Bugh!
Tubuh itu terbaring begitu saja saat Chanyeol mendorongnya.
"Tenanglah aku tidak akan menerkammu dalam keadaanku seperti ini." Chanyeol berbalik arah membelakangi Baekhyun.
Namja mungil ini hanya terdiam memandangi pungung lebar di hadapannya. Hingga tak lama kemudian, ia mendengar suara dengkuran halus dari Chanyeol yang sudah tertidur.
Ketika pagi tiba...
"Kau yakin tidak terjadi apa-apa dengan mereka?"
"Aku tidak tau, karena aku pun tertidur."
Sehun dan Kai terus memandangi Baekhyun dan Chanyeol yang masih tertidur dengan posisi saling berhadapan. Bahkan wajah Baekhyun berada di leher Chanyeol.
Ya, kedua namja ini sudah terbangun dari tidurnya. Dan mereka cukup terkejut saat mendapati pemandangan tersebut.
Keduanya masih berdiri memperhatikan betapa nyamannya Chanyeol dan Baekhyun berada dalam posisi seperti itu.
"Lalu apa yang harus kita lakukan?" Pikir Sehun.
Knock...knock...
Terdengar suara ketukan dari luar sana. Dengan segera Kai membukanya.
"Aku akan pergi bekerja sekarang, apakah kalian semua sudah bangun?" Tanya Yoora sudah terlihat rapih.
"Aku dan Sehun sudah bangun. Chanyeol dan Baekhyun masih tertidur." Jawab Kai, kemudian Sehun pun menghampiri.
"Apakah kalian ingin pulang?"
"Sejujurnya ya, dan motor Chanyeol masih di arena." Jawab Sehun.
"Pulanglah, mungkin Baekhyun bisa disini sementara." Ujar Yoora.
"Gurae, kami akan kesini lagi."
Sehun dan Kai pun meninggalkan kamar, lalu segera pulang.
Sejenak Yoora melihat adiknya masih tertidur bersama Baekhyun, hingga akhirnya ia menutup pintu kamar kembali dan segera berangkat bekerja.
Jam sudah menunjukan pukul 8 pagi, namun belum ada yang bangun diantara keduanya.
Sesekali wajah Baekhyun mengusak-ngusak di leher Chanyeol. Hingga keduanya sama-sama sadar dan terbangun secara bersamaan.
Kedua mata sipit itu mendapati leher jenjang di hadapannya, perlahan ia mengangkat kepalanya untuk melihat pemilik leher ini.
Deg!
Tepat saat itu juga, dua pasang mata saling bertatapan lekat.
Baekhyun masih tak percaya dengan posisi mereka seperti ini. Bahkan sejak awal Chanyeol tidur membelakanginya.
Baru saja Baekhyun ingin menjauhkan diri, namun tubuhnya tertahan oleh lengan kekar Chanyeol yang mendekap pinggangnya.
"Aku masih mengantuk. Biarkan seperti ini untuk beberapa menit." Bisik Chanyeol terdengar serak.
Baekhyun hanya bisa terdiam pada posisinya ini. Ia tidak tau harus berbuat apa, tapi ini tidak membuatnya risih, melainkan mulai merasakan kenyamanan.
Entah sudah berapa menit Chanyeol kembali tertidur, hingga mau tak mau Baekhyun mencoba melepaskan diri dari dekapan ini.
"Mau kemana?"
Baekhyun cukup terkejut mendapati Chanyeol yang ternyata sudah terbangun.
"Ini mulai menjelang siang, bangunlah. Kau tidak lapar?" Tanya Baekhyun membuat Chanyeol melepaskan dekapannya.
"Aku tidak tau apakah nuna menyisakan makanan untuk kita." Chanyeol mulai beranjak dari tidurnya, lalu melangkah perlahan dengan sedikit terpincang.
"Kau yakin kakimu baik-baik saja?" Tanya Baekhyun.
"Ini lumayan membaik dari sebelumnya."
Hingga akhirnya Baekhyun membantu Chanyeol melangkah menuju dapur.
Dan ya, dapat mereka lihat beberapa makanan sudah berada di atas meja makan.
"Sepertinya nuna sedang berbaik hati." Pikir Chanyeol tersenyum melihat sajian makanan tersebut.
"Nuna mu memang baik! Kau saja yang terus membantahnya." Timpal Baekhyun.
Keduanya pun duduk dan mulai menikmati sarapan mereka.
"Kalian hanya tinggal berdua?" Tanya Baekhyun di sela makannya.
"Kedua orang tua kami tinggal di luar kota karena pekerjaa appa."
Baekhyun hanya mengangguk tanda mengerti.
"Berikan piringnya, aku akan bersihkan." Baekhyun mulai merapihkan meja makan.
Namja mungil ini langsung mencuci piring dan gelas kotor itu. Sedangkan Chanyeol hanya diam memperhatikan.
'Apakah ini terlihat seperti pengantin baru?' Batin Chanyeol merasa geli dengan pemikirannya.
Selesai mencuci piring, Baekhyun kembali menghampiri Chanyeol. Namun ia cukup terkejut jika namja tinggi itu sudah berada di belakangnya entah sejak kapan.
"Ah beruntung aku tidak membawa piring. Yak, kenapa kau mengejutkan eoh?" Timpal Baekhyun.
Perlahan Chanyeol semakin mendekati Baekhyun yang melangkah mundur. Bahkan tubuh mungil itu membentur kitchen set saat Chanyeol benar-benar menguncinya.
"M-mau apa kau?" Baekhyun mulai terlihat gugup.
"Aku masih menganggapmu sebagai musuh tandingku. Tapi..."
Chanyeol menjeda ucapannya dan terus mengikuti arah pandang manik indah milik Baekhyun.
"Kau mengacaukanku Byun Baekhyun."
"Apa maksudmu?"
"Kau mengacaukan segalanya."
"Aku masih tak mengerti. Bicaralah yang jelas."
Wajah tegas itu semakin mendekati wajah mungil di hadapannya.
"Pikiran dan perasaanku kacau karenamu." Bisik Chanyeol bahkan hidung mereka sudah saling bersentuhan.
Dan hanya tinggal satu langkah lagi untuk mempertemukan bibir mereka.
Saat keadaan seperti ini Baekhyun merasa dirinya gelisah. Bukan karena dirinya tak nyaman, melainkan karena jantungnya akan berdebar cepat jika sudah berada di posisi ini dengan Chanyeol.
Kedua mata sipit itu mulai terpejam, ketika merasakan deru nafas hangat Chanyeol menerpa wajahnya.
"Chanyeol..."
Baru saja keduanya merasakan bibir mereka sudah saling bertemu, namun Chanyeol tak bisa melanjutkannya lebih. Ya, suara Kai dan Sehun yang datang terdengar jelas oleh mereka.
Baekhyun pun segera membukakan pintu, lalu kedua namja itu masuk begitu saja.
"Yeol, aku sudah membawa motormu ke bengkel." Ucap Sehun.
"Baiklah, akan ku ambil setelah sudah baik." Balas Chanyeol.
"Baek, kau tidak pulang? Aku akan mengantarkanmu." Tanya Kai.
"Jangan pulang dengannya Baek." Balaa Sehun.
"Wae? Yak! Aku tidak akan nakal dengan calon iparku ini." Kai merangkul Baekhyun yang tertegun.
"Aku bisa pulang sendiri."
"Tidak, tidak! Kau harus ku antar Baek. Jebal..." Pinta Kai memohon.
Baekhyun melirik ke arah Chanyeol dan Sehun yang terlihat muak melihat tingkah temannya ini.
"Gurae, tapi aku tidak bertanggung jawab jika terjadi apa-apa denganmu. Kau tau? Kyungsoo berdarah dingin."
"Tenanglah, akan ku hangatkan nanti."
TBC~
