Kedua mata Baekhyun terbuka perlahan, ia mendapati dirinya tidur dengan posisi memeluk tubuh besar milik Chanyeol yang belum terbangun.
Sebuah selimut telah membungkus tubuh keduanya yang masih dalam keadaan naked.
Namja mungil ini merasakan seluruh tubuhnya ngilu dan pegal. Bagaimana tidak? Chanyeol benar-benar mencumbunya dan baru terhenti saat menjelang pagi. Mungkin lebih dari 5 jam mereka menghabiskan waktu yang panas.
"Ashh..." Baekhyun mencoba beranjak dari tempat, namun ia masih merasakan perih pada area tubuh bawahnya.
Mendengar desisan sakit, Chanyeol pun terbangun dan melihat Baekhyun yang berusaha berdiri.
"Mau kemana?" Tanya Chanyeol masih dengan suara serak.
Baekhyun tidak menjawab, ia sibuk mengambil semua pakaiannya yang bertebaran di lantai.
Melihat namja mungil itu kesulitan, Chanyeol pun beranjak dari tempatnya, lalu membantu untuk mengambil semua pakaian.
"Diamlah." Chanyeol mulai memakaikan pakaian itu pada Baekhyun yang mematung.
Setelah Baekhyun sudah rapih dengan pakaiannya, Chanyeol langsung mengenakan pakaiannya sendiri.
"Kau bawa kendaraan? Karena semalam aku hanya numpang dengan Kai." Tanya Chanyeol.
"Ya, aku bawa motor."
"Berikan kuncinya. Aku akan mengendarainya."
Setelah Baekhyun memberi kunci motor, Chanyeol menggendong tubuh mungil itu di punggungnya untuk kembali pulang.
Chanyeol mengambil alih motor milik Baekhyun yang sudah naik ke atas motor.
"Kau masih lemas bukan? Jadi berpeganglah, jika kau tidak mau terjatuh." Chanyeol segera menarik gas membuat Baekhyun refleks berpegangan pada pinggang namja tinggi itu.
Sesungguhnya Baekhyun masih sangat mengantuk, karena ia hanya tidur 3 jam saja.
Walau ragu, namja mungil ini melingkarkan tangannya pada pinggang Chanyeol, lalu bersandar pada punggung lebar itu. Kedua mata sipit itu mulai terpejam.
"Kau tidak tidur bukan?" Tanya Chanyeol melirik Baekhyun dari spion.
"..." Tidak ada balasan dari Baekhyun yang entah benar tertidur atau tidak.
"Aisshh...anak ini." Chanyeol melepaskan satu tangannya pada motor, lalu menahan tangan Baekhyun yang berada di pinggangnya. Ya, ia lakukan ini agar Baekhyun tidak terjungkal.
Tiba di rumah Chanyeol, Baekhyun masih dalam posisi bersandar. Ya, sepertinya namja mungil ini benar-benar tertidur.
Perlahan Chanyeol kembali menggendong Baekhyun pada punggungnya, lalu masuk ke dalam rumah.
Beruntung ia tidak menemukan tanda-tanda sosok kakaknya. Dengan segera ia membawa Baekhyun ke kamarnya, lalu membaringkan tubuh mungil itu di tempat tidur.
"Ckck dia tidur atau pingsan?" Chanyeol menarik selimut untuk membungkus tubuh Baekhyun yang masih tertidur lelap.
Ketika tepat dirinya keluar dari kamar, ia mendapati Yoora sudah berada di belakangnya. Dengan segera Chanyeol menutup pintu kamar.
"Darimana saja kau tidak pulang semalem?" Yoora mulai mengintrogasi.
"A-aku menginap di rumah Kai."
"Jjinja? Dan bisa kau jelaskan bau alkohol ini? Juga motor siapa yang kau bawa?"
"Sudahlah nuna, aku ingin mandi." Chanyeol berlalu begitu saja menuju dapur sebelum dirinya mandi.
Namja tinggi ini meneguk air minum cukup banyak. Sang kakak hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Aku ingin pergi bekerja. Dan sepertinya akan pulang telat. Tidak ada makanan di kulkas. Kau bisa beli sendiri." Celoteh Yoora yang hanya di balas anggukan oleh Chanyeol.
Tak mau ambil pusing, Yoora segera keluar dari rumah. Chanyeol pun menuju kamar mandi.
Drrttt~
Terdengar suara getar dari ponsel Baekhyun. Dan itu cukup membuatnya terbangun dari tidur.
Dengan setengah sadar, Baekhyun menjawab panggilan itu sebelum melihat siapa yang menelponnya.
"Hmm?"
"Yak Baek hyung!"
Mendengar gertakan itu, seketika rasa kantuknya hilang.
"Omo! Kyungie?"
"Kau dimana?"
"Aku..." Sejenak Baekhyun memperhatikan tempat keberadaanya yang sudah berbeda.
"Aku akan pulang segera. Wae? Kau merindukan hyung mu ini hmm?" Baekhyun mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ckck mengalihkan pembicaraan."
"Apakah kau pulang dengan Kai semalam?"
"Y-ya."
"Manusia itu tidak berbuat macam-macam padamu bukan?"
"Tentu saja tidak."
"Baguslah kalau begitu. Ok bye!" Baekhyun memutuskan panggilan saat mendengar suara pintu terbuka.
Dirinya langsung kembali dengan posisi tidurnya, dan ia berpura-pura tidur.
Klek~
Chanyeol masuk ke dalam kamar dengan handuk yang menggantung di pinggangnya. Dapat di lihat tubuh kekar dan bisep pada tangannya yang terlihat cukup sempurna.
Namja tinggi ini melirik Baekhyun yang masih tertidur.
"Apakah aku benar-benar membuatnya lelah?" Pikir Chanyeol acuh tak acuh, lalu segera memakai bajunya.
Wajah Baekhyun terlihat memerah saat tak sengaja melihat pemandangan di hadapannya.
Ya, tanpa di ketahui Chanyeol, kedua mata sipit itu memperhatikan tubuh kekarnya yang membelakangi Baekhyun.
Selesai Chanyeol memakai baju, ia kembali menoleh pada Baekhyun yang segera memejamkan matanya.
"Eoh? Kenapa wajahnya memerah? Apakah dia demam?" Chanyeol mendekati Baekhyun, ia menempelkan tangannya pada wajah Baekhyun untuk memeriksa suhu tubuh namja mungil ini.
"Baek, apa kau sakit? Kau sedikit panas." Chanyeol mencoba membangunkan Baekhyun.
Baekhyun menarik selimut untuk menutupi wajahnya.
"Yak, bangunlah!" Chanyeol mencoba menarik selimut yang di tahan kuat.
"Aku tidak sakit tenanglah!" Balas Baekhyun dari balik selimut.
"Ye? Lalu kenapa..." Chanyeol menggantungkan kalimatnya, seketika otaknya membaca pikiran Baekhyun.
"Sejak kapan kau bangun?" Tanya Chanyeol.
"B-baru saja."
Merasa gemas, Chanyeol menarik selimut itu hingga berhasil mendapati wajah Baekhyun yang masih memerah.
Chanyeol menyeringai menatap wajah itu, entah apa yang ia pikirkan.
"Kau mengintipku hmm?"
"M-mwo? A-ani!" Baekhyun terlihat gugup dan tak berani menatap Chanyeol.
"Jangan berbohong Byun Baekhyun!" Chanyeol mendekati wajah Baekhyun hingga berhasil mengunci pandangannya.
"Menyingkirlah! Aku ingin mandi. Dan kenapa kau membawaku ke rumahmu?"
"Kau tidur. Dan aku tidak tau rumahmu."
"Gurae, sekarang aku ingin mandi." Baekhyun mencoba menjauhkan Chanyeol darinya.
"Kau yakin bisa sendiri? Bukankah masih sakit?" Bisik Chanyeol dengan tatapan nakal.
"Sepertinya sudah tidak terlalu. Yak, menyingkirlah!"
"Beri aku morning kiss."
"Mwo? Bahkan ini sudah siang!"
"Ya anggap saja seperti itu. Jika tidak, aku tidak akan menjauh darimu."
Baekhyun benar-benar jengah dengan tingkah Chanyeol yang seenaknya.
"Apakah kau masih belum puas eoh? Jika aku tidak kuat, mungkin aku akan pingsan!"
Chanyeol menahan tawanya mendengar gerutuan Baekhyun. Ya, faktanya memang ia seperti tak terkendali malam tadi.
"Aku hanya penasaran bagaimana jika kau yang lebih dulu menciumku."
Baekhyun menghembuskan nafas kesabarannya.
"G-gurae, tutup matamu!"
Chanyeol merasa dirinya menang saat Baekhyun selalu menuruti permintaannya.
"Ani! Aku harus memperhatikannya."
"Aissh jjinja!"
Detik kemudian, keduanya saling terdiam. Kedua mata Baekhyun mulai mengarah pada bibir plum milik Chanyeol yang akhir-akhir ini selalu menyentuhnya.
Jantung Baekhyun kembali berdegup cepat, wajahnya pun terasa panas saat dirinya semakin mendekati wajah Chanyeol yang terus menatapnya.
Kedua mata sipit itu meneduh ketika beberapa senti lagi akan menyentuh bibir plum Chanyeol.
Chup~
Baekhyun berhasil mendaratkan bibirnya pada bibir Chanyeol. Sekilas ia menatap Chanyeol, lalu memejamkan matanya saat dirinya perlahan melumat bibir plum itu.
Chanyeol terus memperhatikan bagaimana Baekhyun memagutkan bibirnya dengan penuh hati-hati. Ia sedikit membuka bibirnya untuk mempermudah Baekhyun menyapu belahan bibirnya.
Ingin sekali ia membalas ciuman Baekhyun, namun ia menahan hasratnya karena ia hanya ingin merasakan ciuman manis yang di berikan Baekhyun untuknya.
TBC~
