Baekhyun terlihat sedang memasukan barang perlengkapannya pada tas. Kyungsoo terus memperhatikan kakaknya itu.

"Jadi kau akan kembali ke asrama hyung?"

"Ya, aku akan berlatih untuk pertandingan awal musim semi nanti."

"Aku turut senang dengan kabar baik untukmu ini. Akhirnya kau dapat terjun ke arena yang sesungguhnya. Dan bertanding dari berbagai negara."

"Impian aku adalah mendapatkan piala emas itu. Jika benar aku berhasil, aku benar-benar menjadi orang paling bahagia di dunia ini."

"Impianmu tinggi hyung. Aku selalu mendoakan mu, buatlah adikmu ini bangga padamu!"

"Gurae, sekarang antarkan aku ke asrama."

Kyungsoo tak bisa menolak karena bagaimana pun ia sangat mendukung impian kakaknya ini.

Untuk pertama kali Baekhyun membawa Kyungsoo ke asrama. Adiknya ini membawakan tasnya karena banyak barang yang ia bawa.

"Kyungie~"

Mendengar seruan itu, Baekhyun menoleh ke belakang. Sedangkan Kyungsoo hanya berhenti melangkah dan ia sangat tau siapa yang memanggilnya itu.

"Kalian baru datang?" Tanya Baekhyun saat Kai, dan Sehun telah tiba.

"Ya, kami datang bersama. Sepertinya Chanyeol belum datang." Jawab Sehun.

"Omo...apakah kau akan ikut menginap disini? Kau bisa menginap di kamarku Kyung." Kai berdiri di hadapan Kyungsoo.

"Buang jauh-jauh pikiranmu itu! Hyung, dimana kamarmu? Tasmu berat!" Kyungsoo mulai mengeluh.

"Gurae, kita ke kamar sekarang. Kami masuk dulu..." Baekhyun dan Kyungsoo melangkah meninggalkan Kai dan Sehun.

Tiba di kamar, Kyungsoo melempar tas itu di tempat tidur Chanyeol yang tidak ia ketahui.

"Yak itu tempat tidur Chanyeol." Baekhyun segera mengambil tasnya dari wilayah Chanyeol.

"Kenapa aku baru tau jika kau satu kamar dengannya?" Pikir Kyungsoo.

"Untuk apa kau tau?" Baekhyun mulai merapihkan barangnya.

"Apakah kalian tidak terus bertengkar dengan keadaan satu kamar seperti ini?"

"Terkadang."

"Baiklah, kalau begitu aku pulang. Jaga dirimu hyung. Kabari aku jika kau butuh apapun."

"Nde! Gomawoyo Kyungie~"

Kyungsoo keluar dari kamar meninggalkan Baekhyun yang masih sibuk merapihkan semua barangnya.

Klek~

Terdengar pintu kamar yang kembali terbuka.

"Ada apa Kyung--Yeol?" Baekhyun cukup terkejut saat mengetahui jika yang masuk bukanlah Kyungsoo, melainkan Park Chanyeol.

Tidak ada balasan apapun dari Chanyeol yang hanya menatapnya sekilas lalu segera menempati tempat tidurnya. Namja tinggi itu mulai merapihkan beberapa barangnya.

"Kita akan lebih lama di asrama hingga musim semi tiba. Jika kau merasa tidak nyaman dengan keberadaanku di kamar ini, aku akan pindah kamar."

"Karena aku tidak mau menganggu pikiranmu selama pelatihan serius ini." Baekhyun mulai angkat bicara.

"Kau mau pindah kamar? Semua kamar sudah penuh."

"Aku bisa tukar kamar dengan Kai. Kau bisa satu kamar dengan temanmu itu."

"Dan kau akan satu kamar dengan Sehun?"

"Ada apa dengannya?"

"Kenapa harus dia?!" Gertak Chanyeol membuat Baekhyun cukup terkejut.

"W-wae?"

Chanyeol mendekati Baekhyun dengan tatapan tajamnya. Entah kenapa tatapan itu seperti akan membunuh Baekhyun.

"Kenapa harus Sehun? Kenapa kau harus dekat dengannya? Apakah kau lebih nyaman dengannya dari pada denganku?"

Baekhyun tidak tau harus menjawab apa. Ia benar-benar takut melihat Chanyeol seperti ini.

"Jangan coba pindah dari kamar ini Byun Baekhyun!"

"Ada apa denganmu sekarang ini? Bukankah dulu kau sangat berharap aku pergi dari kamar ini? Bukankah dulu kau berharap tidak satu roomate denganku? Tapi kenapa--"

"Harus berapa kali aku katakan?" Chanyeol memotong ucapan Baekhyun.

"Selama kau disini, kau mengacaukan segalanya Baek! Kau mengacaukan perasaanku."

"Kau adalah milikku. Tidak ada yang bisa mengambilmu dariku, termasuk temanku sekalipun!"

"Kau tidak bisa mengatakan jika aku milikmu Yeol. Apakah kita memiliki suatu hubungan? Bahkan aku tidak tau kau menganggapku apa. Musuh? Teman?"

"Aku bisa mengatakan itu. Karena aku sudah mengambil semua yang kau miliki bukan? Apa kau tidak ingat?" Chanyeol mendekati wajah Baekhyun dengan menyeringai.

"Bahkan kau memberikan milikmu yang paling berharga." Bisik Chanyeol membuat Baekhyun merinding.

"Apakah hanya karena itu kau dapat mengatakan jika aku milikmu?"

"Aku tidak perduli kau protes untuk ini. Kau tetaplah milikku Byun Baekhyun."

'Apakah dia tidak mengerti arah pembicaraanku?' Batin Baekhyun.

"Tetaplah disini bersamaku!" Chanyeol mengusap lembut pipi Baekhyun membuat namja mungil itu sejenak terpejam merasakan sentuhan lembut ini.

Flashback On#

Setelah selesai dengan pelatih mereka, Sehun kembali mengantarkan Baekhyun pulang.

"Baek..." Panggil Sehun masih fokus dengan kemudinya.

"Ya?"

"Menurutmu kenapa Chanyeol bersikap aneh akhir-akhir ini?"

"Entahlah. Aku tidak bisa membaca jalan pikirannya yang selalu berubah."

"Kau tidak ingat dengan ucapan Chanyeol padaku? Saat dia memintamu pulang dari rumahku."

"Kenapa dengan itu?"

"Aisshh...ternyata kau terlalu lugu Baek."

"Ye?"

"Kau benar-benar tidak mengerti dengan sikapnya sedikit pun?"

"Sepertinya kau lebih mengerti dengannya. Karena kau temannya bukan?"

"Dia yang memiliki gengsi tinggi. Dan kau yang tidak mengerti keadaan. Lengkap sudah." Pikir Sehun menahan tawanya.

"Terkadang aku tidak perduli dengan keadaan. Kenapa kau bertanya tentang ini?"

Mobil terhenti tepat di depan rumah Baekhyun. Sehun pun menoleh pada namja mungil itu. Dapat Baekhyun lihat sebuah senyumannya yang entah ada makna apa di balik senyuman itu.

"Dia cemburu denganku."

"Mwo? Cemburu kenapa?"

"Karena kau dekat denganku dan terlihat kita nyaman satu sama lain."

Baekhyun masih mencerna ucapan Sehun padanya.

"Dia menyukaimu Baek. Maka dari itulah dia tidak mau kau dekat dengan siapapun."

"Ye?"

"Sebenarnya aku sudah curiga dengannya, dan aku sengaja bertingkah manis denganmu jika berhadapan dengannya."

"Anak itu terlalu keras, dia sulit jujur dengan perasaannya sendiri."

"A-pakah kau yakin dengan itu?" Baekhyun memastikan.

"Buatlah dia jujur padamu Baek."

Flashback Off#

Bugh!

Tubuh mungil itu terjatuh begitu saja di atas tempat tidurnya. Ya, Chanyeol mendorong Baekhyun secara perlahan. Tubuh besar itu sedikit menindih, dan terus memandangi wajah cantik milik Baekhyun.

"Bibir manis ini adalah milikku. Tidak ada yang boleh menyentuhnya sedikit pun." Bisik Chanyeol mengusap bibir itu dengan jemarinya.

Chup~

Satu kecupan dan sedikit lumatan berhasil Chanyeol berikan pada bibir tipis milik Baekhyun.

Hanya beberapa detik, ciuman singkat itu berlangsung. Hingga Chanyeol menatap Baekhyun kembali.

"Dan hanya aku yang boleh menciptakan jejak manis untukmu."

Kali ini Chanyeol mengecup leher mulus itu dan sesekali menyesapnya. Baekhyun mengigit bibir bawah untuk menahan rasa gelinya. Bahkan satu tanda merah sudah terjejak disana.

"Semua yang ada pada dirimu adalah milikku."

"Berikan satu alasan kuat kenapa aku milikmu?" Baekhyun memberanikan diri untuk bertanya.

"Apakah penjelasanku tidak cukup?"

"Tidak! Itu bukan sebuah alasan kuat."

Chanyeol terdiam saat Baekhyun mengunci pandangannya.

"Penjelasanmu hanya mengarah pada sebuah pikiran atau logika."

"Lalu bagaimana dengan perasaanmu? Adakah penjelasan dari hatimu?"

Deg!

Seketika Chanyeol benar-benar terbungkam dan mematung di hadapan Baekhyun.

'Buatlah dia jujur padamu Baek.'

Ya, ucapan Sehun terus terbayang di pikiran Baekhyun.

*TBC~