Chanyeol masih terdiam untuk beberapa detik.
"Penjelasan apa yang ingin kau dengar? Aku adalah namja yang selalu menggunakan logika."
"Aku tidak tau bagaimana menggunakan perasaanku dengan baik."
Entah kenapa ada sedikit perasaan kecewa yang Baekhyun rasakan ketika mendapati balasan dari Chanyeol.
"Hidup tidak bisa hanya menggunakan logika. Karena logika akan kalah dengan perasaan." Baekhyun kembali angkat bicara.
Chanyeol baru saja ingin beranjak menjauh dari Baekhyun, namun namja mungil itu menahannya. Kedua tangannya menggantung pada leher jenjang Chanyeol, hingga keduanya kembali mengunci pandangan.
"Kenapa kau menghindar dariku?" Baekhyun menarik tekuk itu hingga jarak wajah Chanyeol sangat dekat dengan wajahnya.
"A-ada apa denganmu?" Chanyeol terlihat gugup.
"Mari bermain dengan perasaan masing-masing." Bisik Baekhyun dengan senyumannya.
Chup~
Baekhyun kembali menarik tengkuk Chanyeol hingga ia berhasil mempertemukan kedua bibir itu.
Chanyeol masih terdiam memperhatikan Baekhyun yang terpejam dan melumat bibirnya dengan lembut.
Namja bertubuh besar ini selalu merasakan jantungnya berdebar saat Baekhyun lebih dulu menciumnya. Ini adalah kedua kalinya Baekhyun menciumnya lebih dulu. Dan ciumannya sekarang ini, masih terasa sama seperti sebelumnya.
Menit berikutnya, kedua mata sipit itu terbuka dan mencoba menatap Chanyeol saat ciumannya terhenti.
Namun tak sampai disini, tautan itu kembali berlanjut ketika Chanyeol mulai meraup bibir Baekhyun.
"Eummphh~"
Bibir tipis itu sedikit terbuka dan membiarkan Chanyeol menelusuri ke dalam sana. Bahkan terlihat saliva yang membasahi dagu mereka.
Terlihat beberapa pakaian terbuang begitu saja di lantai. Suara decakan manis terus mengisi atmosfir kamar ini.
Ya, keduanya kembali melakukan aktifitas bercinta mereka. Ciuman itu masih belum juga terlepas. Seakan keduanya tak rela untuk melepaskan tautan mereka.
"Eummphh~" Lenguhan Baekhyun tertahan saat Chanyeol masih menggoyangkan pinggulnya dengan gerakan perlahan.
Hingga akhirnya ciuman itu terlepas, keduanya saling mengambil oksigen.
"Aaahhh Yeolhh nghhh~" Untuk kali ini Baekhyun dapat melenguh dan mendesah bebas.
"Arrghh kau menjepitku Baek mphh ini nikmat aku bersumpah." Chanyeol menekan pinggulnya, lalu menghentakkan miliknya di dalam sana.
"Lebihh cepat Yeol aaahh~"
Dan ya, Chanyeol mulai bergerak cepat membuat pergerakan secara random.
"Nghhh yahh disanah ouhhh~"
Baekhyun semakin melebarkan pahanya, dan ini semakin mempermudah permainan Chanyeol.
"Aaahh~aaahh~" Tubuh Baekhyun sedikit terhentak mengikuti pergerakan namja yang berada di atasnya.
"Mpphhh aahhh..." Chanyeol melenguh nikmat saat Baekhyun mulai menggerakan pinggulnya, dan ini sangat membantu untuk mencapai titik klimaks.
"Yeolhh akuhh mau nghhh~"
"Bersama Baek arrghh..."
Cum~
Baekhyun merasa dirinya penuh saat Chanyeol berhasil menyemburkan cairannya di dalam bawah sana.
"Hhhh~" Tubuh besar itu menjatuhkan dirinya di atas tubuh mungil Baekhyun yang menahan berat.
Wajah Chanyeol terbenam di leher Baekhyun.
Untuk beberapa menit Baekhyun membiarkan Chanyeol pada posisinya. Hingga akhirnya Chanyeol berbaring di samping Baekhyun.
Dapat Baekhyun lihat wajah Chanyeol yang tertidur begitu saja. Ia melihat jam yang masih menunjukan pukul 4 sore. Merasa lelah juga, Baekhyun menarik selimut untuk menutup tubuh mereka berdua.
Dengan keberaniannya, ia mendekap tubuh Chanyeol dan tertidur begitu saja.
Ketika Chanyeol membuka kedua matanya, ia mendapati Baekhyun yang masih tertidur dengan tangan yang mendekap tubuhnya.
Tangan Chanyeol mencoba meraih tangan mungil yang melingkar di pinggangnya. Punggung tangan itu di dekapnya dan di usap lembut.
"Aku tidak pernah merasa kacau seperti ini Baek. Kau adalah yang pertama. Dan aku tidak tau dengan diriku sendiri."
"Otakku hanya terus mengatakan jika kau adalah milikku."
Namja bertubuh besar ini terus bergumam pelan, sesekali melirik wajah tenang Baekhyun yang tertidur.
Baru saja tangan kekar itu ingin menyentuh wajah cantik Baekhyun, namun kedua mata sipit itu terbuka begitu saja, membuat tangan tersebut menggantung di udara.
Tidak ada pembicaraan apapun dari Baekhyun yang hanya terdiam menatap Chanyeol. Entahlah, apakah namja mungil itu mendengarkan semua ucapan Chanyeol atau tidak.
Baekhyun melepaskan dekapannya pada tubuh Chanyeol. Keduanya beranjak dari tempat tidur dan kembali mengenakan pakaian mereka. Terlihat jam sudah menunjukan pukul 7 malam.
Knock...knock...
Seseorang telah mengetuk pintu kamar mereka di luar sana. Dengan segera Chanyeol membuka pintu tersebut.
"Nuna?"
Ya, lagi dan lagi Yoora mengunjungi asrama adiknya ini.
"Ada apa nuna kesini?" Chanyeol bernafas lega karena dirinya sudah rapih dengan pakaiannya.
"Kau hanya membawa 1 mantel bukan? Ini musim dingin, kau harus membawa mantel lebih." Yoora masuk begitu saja dengan barang bawaannya.
"Eoh? Yoora nuna?" Baekhyun sedikit terkejut dengan kedatangan wanita cantik itu. Beruntung dirinya sudah selesai memakai baju.
"Hai Baek, bagaimana kabarmu?" Yoora meletakan barang bawaannya itu di tempat tidur Chanyeol.
"Aku--" Jawaban Baekhyun menggantung saat namja mungil ini membungkam mulutnya dengan telapak tangannya.
"Baek, gwaenchana?" Yoora memperhatikan Baekhyun yang menahan rasa mualnya.
"Ah gwaen--" Lagi dan lagi namja mungil ini menahan mualnya.
Chanyeol terlihat bingung dengan Baekhyun yang tiba-tiba mual seperti itu. Bahkan sebelumnya baik-baik saja.
"Apakah kau sakit?" Yoora mulai mendekati Baekhyun.
"A-ani! Aku tidak tau kenapa tiba-tiba mual seperti ini." Merasa tak tahan, Baekhyun segera berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Terdengar suara Baekhyun yang memuntahkan rasa mualnya.
"Ada apa dengannya Yeol? Dia sakit?" Yoora mulai bertanya pada Chanyeol.
"Aku tidak tau. Bahkan sebelumnya dia baik-baik saja."
"Ckck roomate macam apa kau ini eoh? Tidak ada perhatiannya sama sekali!" Timpal Yoora.
Tak lama kemudian, Baekhyun keluar dari kamar mandi membuat kakak dan adik itu menolehnya.
"Sebaiknya kau ke dokter Baek. Mungkin kau sakit. Atau kau salah makan hingga terus mual seperti itu." Ujar Yoora.
"Tidak perlu. Mungkin ini akan segera--" Untuk kesekian kalinya Baekhyun kembali mual.
Bugh!
Chanyeol melempar mantel Baekhyun pada namja mungil itu.
"Pakai mantelmu, ayo ke dokter!" Chanyeol segera memakai mantelnya, lalu melangkah keluar.
"Aisshh anak itu! Maafkan adik ku itu Baek. Sekarang pakai mantelmu. Kita ke dokter dengan mobil yang ku bawa." Yoora membantu Baekhyun memakaikan mantel tersebut.
Dan ya, mereka pun pergi ke klinik terdekat dengan mobil yang di kemudi Yoora.
Saat tiba di klinik, Baekhyun segera di periksa oleh dokter dan di temani Yoora yang ikut masuk ke ruangan. Sedangkan Chanyeol menunggu di luar.
"Bagaimana dok?" Tanya Yoora selesai dokter memeriksa Baekhyun.
"Dia bukan keracunan makanan atau salah makan."
"Lalu?"
"Dia sedang mengalami masa ngidam atau hamil muda."
"MWO?"
"Mwo?"
Seketika Yoora dan Baekhyun terkejut secara bersamaan setelah mendapat pernyataan dari dokter.
"Itu sudah 2 minggu. Masih sangat muda. Jadi, jaga masa ke hamilanmu." Lanjut dokter pada Baekhyun yang masih tak percaya dengan ini semua.
"YAK PARK CHANYEOL!! ADIK MACAM APA KAU INI?!"
*TBC~
