Chanyeol tertegun ketika mendengar suara kakaknya dari dalam ruangan sana. Alisnya bertautan, wajahnya bingung dan berpikir apa yang terjadi di dalam ruangan itu.

Tak lama kemudian, Yoora keluar bersama Baekhyun. Wanita cantik itu melangkah cepat mendekati Chanyeol.

Bugh! Bugh!

Yoora terus memukul Chanyeol dengan tasnya.

"Wae? Kenapa nuna memukulku? Hentikan nuna!" Chanyeol mencoba melindungi kepalanya dari tas itu.

"Kau pantas mendapatkan ini Park Chanyeol!"

Bugh! Bugh!

"Apa yang terjadi hingga nuna seperti ini?"

Yoora menghentikan aksi pukulannya pada Chanyeol. Wanita ini menghela nafas kesabarannya.

"Kau telah menghamili Baekhyun bukan?"

"MWO?" Chanyeol benar-benar tak percaya dengan pertanyaan Yoora. Pandangannya mengarah pada Baekhyun yang juga menatapnya.

"Kenapa kau melakukannya eoh? Dasar adik nakal!"

Bugh! Bugh!

Lagi dan lagi tas itu menghantam tubuh Chanyeol.

"Bagaimana bisa? Dan kenapa nuna tau kalau aku pelakunya?"

"Jadi benar kau melakukannya?! Lancang sekali anak ini!"

"Seharusnya kau menikahinya lebih dulu! Kenapa kau merusaknya?!"

Tiba di asrama, Yoora menarik daun telinga milik Chanyeol hingga masuk ke dalam kamar.

"Sejak pertama kali berkunjung kesini, aku sudah curiga dengan keadaan Baekhyun. Maka dari itu aku selalu berkunjung kesini untuk memastikan."

"Dan pintarlah sedikit! Kamarmu masih bau orang bercinta!"

"Arrghh lepaskan nuna! Ini sakit..." Terlihat telinga Chanyeol yang sudah memerah.

"Baek, jika kau ingin memukul atau menendang Chanyeol, lakukanlah sepuasmu. Aku tidak perduli anak ini lebam!"

"Ini sudah terjadi. Mau marah seperti apapun semuanya sudah terjadi begitu saja. Dan aku masih tak percaya jika aku hamil."

Yoora melepaskan Chanyeol, lalu mendekati Baekhyun.

"Baekhyun-ah, jeongmal mianhae. Aku sebagai kakaknya sangat minta maaf atas perlakuan nakal Chanyeol. Tenang saja, aku akan membuat adikku bertanggung jawab untuk ini."

Baekhyun tidak tau harus berkata apa. Otaknya masih tidak fokus untuk mencerna segala pembicaraan.

"Chanyeol akan menikahimu segera."

"Ye?"

"Mwo?"

Baekhyun dan Chanyeol terkejut di waktu bersamaan.

Yoora meraih tangan Baekhyun, lalu mendekapnya lembut.

"Aku tau kau masih tak menerima kenyataan ini, tapi tolong biarkan dia tumbuh di dalam sana. Biarkan dia terlahir." Pinta Yoora menatap Baekhyun.

"Tapi...bagaimana dengan pelatihan ini?"

"Aku akan bicarakan ini pada Yunho seonsaengnim. Setelah ini, kau harus tinggal di rumahku selama Chanyeo dalam masa pelatihan."

"..." Baekhyun tidak tau harus membalas apa. Karena pikirannya benar-benar kacau.

"Kalau begitu aku pergi sekarang. Aku akan kembali lagi untuk menjemputmu." Yoora mengusap puncak rambut Baekhyun pelan, lalu segera keluar dari kamar.

Sekarang di kamar hanya tinggal Chanyeol dan Baekhyun yang masih saling terdiam menatap satu sama lain.

"Baek..."

"Jangan bicara padaku sekarang. Kepalaku masih pusing." Baekhyun melangkah ke tempat tidurnya, lalu berbaring membelakangi Chanyeol.

Namja tinggi itu tidak berani untuk menggangu Baekhyun yang terlihat dalam mood tidak baik. Ia pun memutuskan untuk mandi, karena ia belum sempat bersihkan tubuhnya.

Selama Chanyeol mandi, Baekhyun mencoba untuk menghubungi Kyungsoo.

"Kyungie..." Baekhyun terdengar lirih.

"Ada apa hyung?"

"Sepertinya aku tidak bisa membuat adikku ini bangga pada diriku."

"Mwo?"

"Kyung--sepertinya aku tidak bisa melanjutkan pelatihan ini."

"Wae?"

"Sekarang aku harus menelan semua impianku untuk menjadi juara dan mendapatkan piala emas itu."

"Apa yang terjadi?"

"Sungguh aku kecewa dengan ini Kyung. Tapi aku harus mengorbankan salah satunya. Dan itu arena balap." Baekhyun sedikit terisak. Ia mencoba untuk menahan rasa sedihnya.

Tanpa di ketahui Baekhyun, dari balik pintu kamar mandi, Chanyeol dapat mendengar suara Baekhyun yang sedang menelpon adiknya itu.

Mendengar curahan hati Baekhyun dan suaranta yang lirih, membuat Chanyeol merasa sangat bersalah.

Namja tinggi ini belum berani keluar kamar sebelum Baekhyun selesai dengan pembicaraannya di telepon.

Klek~

Mendengar suara kamar mandi terbuka, Baekhyun segera mengakhiri panggilannya dengan Kyungsoo, lalu mengusap kasar air mata yang mengalir begitu saja.

Namja mungil ini menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.

Chanyeol memandang selimut yang menyembunyikan Baekhyun di dalamnya. Ia mematikan seluruh lampu kamar, hingga ruangan cukup gelap.

Dengan keberaniannya, Chanyeol mendekati Baekhyun dan berbaring di sampingnya.

Tangan Chanyeol membuka selimut itu hingga memperlihatkan wajah Baekhyun.

"Kamar sudah gelap. Kau tidak perlu malu untuk menangis. Air matamu tidak akan terlihat olehku." Ucap Chanyeol dengan kebohongannya. Karena dapat ia lihat kedua mata Baekhyun yang sembab.

"Kenapa kau disini? Kembalilah ke tempat tidurmu."

"Marahlah padaku dan pukul aku sesuka mu Baek. Aku pantas mendapatkan itu darimu."

Baekhyun masih terdiam menatap Chanyeol.

"Aku adalah orang yang sulit meminta maaf pada orang lain. Tapi untuk kali ini, aku akui kalau aku sangat bersalah."

"Mianhae..."

Masih belum ada respon apapun dari Baekhyun yang hanya mendengarkan ucapan Chanyeol.

"Maafkan aku karena merusak impian terbesarmu. Kau pasti sangat marah dan kecewa."

"Akan ku terima apapun hukuman darimu. Katakanlah..."

"Peluk aku."

"Ye?" Chanyeol cukup terkejut dengan balasan Baekhyun padanya.

"Banyak yang mengatakan jika sebuah pelukan dapat menenangkan seseorang. Peluk aku, itu adalah hukumanmu."

Chanyeol masih tak percaya dengan permintaan Baekhyun. Ia terdiam sejenak menatap Baekhyun yang terlihat berharap.

Namja bertubuh besar ini mulai mendekati Baekhyun hingga tidak ada jarak diantara mereka. Tubuh Chanyeol menyamping untuk meraih tubuh mungil itu.

Grep!

Ya, sebuah pelukan berhasil di berikan untuk Baekhyun yang juga mengubah posisi tidurnya menjadi menyamping agar keduanya saling berhadapan.

Chanyeol terus mengusap punggung Baekhyun untuk memberikan kenyamanan.

Dapat Baekhyun hirup aroma parfum Chanyeol yang melekat di tubuh kekarnya.

"Apakah ini balasan darimu karena aku terus saja mengalahkanmu balapan? Kau merusak impianku Yeol. Tapi entah kenapa aku tidak bisa benar-benar marah padamu."

"Karena aku pun tidak bisa menyalahkan segalanya padamu. Bagaimanapun kita melakukannya bersama."

"Mau tak mau aku harus menerima nasib ku ini."

"Mianhae, jeongmal." Bisik Chanyeol sesekali mengecup puncak rambut Baekhyun.

*TBC~