Dugh! Dugh! Dugh!

Terdengar suara gebrakan pintu kamar dari luar sana, Chanyeol dan Baekhyun pun terbangun dari tidur mereka. Namja tinggi itu beranjak dari tempat tidur Baekhyun, lalu segera melangkah menuju pintu.

"Siapa yang datang seperti ini?" Umpat Chanyeol merasa terganggu.

Klek~

Sebuah tatapan tajam dan mematikan telah Chanyeol dapati dari seseorang yang datang.

"K-Kyung?" Chanyeol merasa ada yang aneh dengan tatapan adik Baekhyun itu.

"Lancang sekali kau ini!"

Bugh! Bugh!

Kyungsoo meraih sapu yang terletak di depan pintu kamar, lalu memukul Chanyeol dengan sapu itu tanpa perduli namja tinggi itu kesakitan.

"Arrghh hentikan!"

"Kau pantas mendapatkan ini Park Chanyeol brengsek!"

Bugh! Bugh!

Mendengar keributan ini, Baekhyun langsung menghampiri keduanya. Dan betapa terkejutnya ia mendapati Kyungsoo terus memukul Chanyeol dengan sapu.

Tak hanya Baekhyun, Sehun dan Kai pun keluar dari kamar mereka karena mendengar gertakan Kyungsoo yang cukup keras.

"Kyung!" Baekhyun mencoba menjadi penengah.

"Minggirlah hyung! Biarkan aku menghukum namja yang sudah menghancurkan impian mu." Kyungsoo mendorong Baekhyun untuk menjauh.

Bugh! Bugh!

"Kyungie!" Kai dan Sehun mencoba untuk memisahkan Kyungsoo.

Kai menahan tubuh Kyungsoo dari belakang dengan dekapannya.

"Yak lepaskan! Sialan!" Kyungsoo memberontak, namun Kai tetap berusaha menahannya kuat.

Sehun pun merampas sapu itu dari tangan Kyungsoo.

Terlihat sedikit luka pada wajah Chanyeol dan beberapa lebam pada tangan. Mungkin tubuh yang lainnya pun lebam, karena namja itu benar-benar merasakan sakit pada seluruh tubuhnya.

"Kenapa kau memukul Chanyeol?" Tanya Kai.

"Karena dia pantas mendapatkannya! Dia merusak impian Baek hyung!"

"Apa maksudmu?" Sehun terlihat tak mengerti.

"Jadi kalian tidak mengetahuinya? Teman kalian itu telah membuat Baek hyung hamil!"

"MWO?" Kai dan Sehun terkejut secara bersamaan.

Merasa dekapan Kai tak lagi erat, Kyungsoo segera melepaskan diri. Dan baru saja dirinya ingin menyerang Chanyeol kembali Baekhyun menghadangnya.

"Sudahlah Kyung! Hentikan aksi brutalmu."

"Bagaimana bisa hyung membelanya? Dia sudah menghancurkan impian untuk menjadi juara di arena balap nanti!"

"Semua sudah terjadi Kyung. Mungkin memang belum waktunya impian itu terwujud. Karena tidak semua impian akan terwujud bukan?"

Kyungsoo terdiam menatap Baekhyun yang masih bisa tersenyum.

"Hyung..." Kyungsoo terdengar lirih. Dirinya benar-benar tak kuat menatap Baekhyun.

"Kembalilah pulang. Aku tidak apa-apa Kyung."

"Aisshh jjinja! Musnahlah kau Park Chanyeol."

Kai segera menahan Kyungsoo saat namja itu kembali murka.

"Tolong antarkan dia pulang Kai-ya." Pinta Baekhyun.

Kai hanya mengangguk dan mencoba menarik Kyungsoo yang terus memberontak.

Kini Sehun menatap Chanyeol dan Baekhyun secara bergantian.

"Kenapa kau lakukan itu Yeol? Bahkan kita semua akan melakukan pertandingan penting." Sehun mulai terlihat dingin.

"Kyungsoo benar, kau sudah merusak impian Baekhyun! Dan kau tau?"

Chanyeol masih terdiam mendengarkan ucapan Sehun yang terlihat geram.

"Aku mengalah padamu untuk membiarkan kau bersama Baekhyun. Jika seperti ini, aku menyesal mengalah padamu!" Sehun segera kembali ke kamarnya dengan rasa kecewanya pada temannya itu.

Baekhyun memandang wajah Chanyeol yang sedikit terluka.

"Maafkan--"

"Kau tidak pantas mengatakan itu Baek. Aku terima perlakuan Kyungsoo ini, karena mungkin aku pun akan marah besar jika ini pada saudaraku."

"Ayo masuk, aku akan obati." Baekhyun menuntun Chanyeol masuk ke dalam kamar.

Chanyeol duduk terdiam di atas tempat tidurnya. Sedangkan Baekhyun mencoba membuat kompresan untuk Chanyeol.

Selama Baekhyun mengopres, Chanyeol hanya terdiam memandang wajah mungil itu.

Ketika Baekhyun mencoba membuka baju Chanyeol, namja ini hanya mematung.

Dan ya, dapat Baekhyun lihat tubuh Chanyeol lebam karena pukulan Kyungsoo yang kuat.

"Aisshh anak itu brutal sekali." Gerutu Baekhyun merasa bersalah atas perlakuan Kyungsoo.

"Ini tidak seberapa Baek."

"Hari ini kau akan berlatih, bagaimana bisa kau berlatih dengan tubuhmu seperti ini?"

"Jangan khawatirkan aku."

Baekhyun hanya terdiam menatap Chanyeol. Ia merasa kasihan dengan Chanyeol yang terus saja tersudutkan karena masalah ini.

Selesai mandi, Baekhyun tak mendapati Chanyeol di kamar. Namja mungil ini pun mencoba menuju tempat pelatihan.

Tiba di tempat, ia melihat Kai dan Sehun yang memperhatikan Chanyeol sudah melaju di lapangan.

"Kai-ya, bagaimana keadaan Kyung saat kau mengantarnya pulang?"

Kai dan Sehun menoleh pada Baekhyun yang menghampiri mereka.

"Adikmu itu sangat sedih. Aku pertama kali melihatnya sedih seperti itu. Sepertinya dia sangat menyayangimu Baek." Jelas Kai mengingat bagaimana Kyungsoo menangis di hadapannya selama perjalanan pulang.

"Jangan marah pada teman kalian itu. Bukankah kalian temannya? Tidak seharusnya kalian menyudutkan Chanyeol."

"Apakah kau akan mengakhiri pelatihan ini?" Sehun mulai bertanya.

Sejenak Baekhyun terdiam, sejujurnya ia masih berat untuk mengakhiri pelatihannya.

"Yoora nuna akan menjemputku dan dia memintaku untuk tinggal bersamanya selama masa pelatihan Chanyeol."

"Apakah itu artinya kau dan Chanyeol akan menikah?" Tanya Kai.

Baekhyun tidak tau harus menjawab apa untuk pertanyaan tersebut.

"Ayo ke lapangan! Aku masih bisa mengendarai motor." Baekhyun terlihat masih bersemangat.

Dan ya, mereka bertiga menyusul Chanyeol yang terus saja melajukan motornya di lapangan.

Brummm~

Baekhyun membuka kaca helmnya ketika mendekati Chanyeol yang menolehnya.

"Kenapa lama sekali eoh? Kau tidak bisa menjadi juara jika seperti ini! Ayo bertanding..." Seru Baekhyun sedikit berteriak.

Motor yang di kendarai Baekhyun telah mendahului laju Chanyeol. Namun tak tinggal diam, Chanyeol segera menyusulnya.

Baru saja Baekhyun dan Chanyeol beristirahat di kamar, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.

Untuk berjaga-jaga, Baekhyun membuka pintu kamar. Ia hanya takut jika Kyungsok kembali datang dan brutal seperti pagi tadi.

"Nuna?"

Ya, Yoora yang datang dan tersenyum manis pada Baekhyun.

"Seperti janjiku, aku kesini akan menjemputmu." Yoora masuk begitu saja membuat Chanyeol beranjak dari tidurnya.

"Apakah hari ini juga nuna menjemput Baekhyun?" Tanya Chanyeol.

"Ya, karena aku sudah izin dengan pelatih kalian."

Chanyeol dan Baekhyun saling menatap dalam diam.

"Kau bisa menyiapkan semua barangmu Baek." Ujar Yoora.

Baekhyun hanya mengangguk dan segera mengemas semua barangnya.

"Tapi bukankah nuna sibuk bekerja? Itu sama saja Baekhyun akan sendiri di rumah." Pikir Chanyeol.

"Nuna sudah mengatur jadwal kerja. Dan tidak ada lagi lembur. Tenang saja."

Entah kenapa ada perasaan tidak rela jika Baekhyun pergi dari kamar ini. Sejujurnya Chanyeol ingin menghalangi kakaknya untuk menjemput Baekhyun, tapi sepertinya itu tidak akan bisa.

"Kau sudah siap Baek?" Tanya Yoora melihat tas Baekhyun sudah penuh dengan barangnya.

"Apakah Yunho seonsaengnim tau tentang ini semua?" Tanya Baekhyun.

"Ya, mau tak mau aku harus jujur padanya. Awalnya dia kecewa dengan kalian, tapi dia mencoba memahaminya."

Yoora membantu membawakan tas Baekhyun.

"Ayo kita pulang Baek." Seru Yoora yang hanya di balas anggukan oleh Baekhyun.

"Berlatihlah yang serius Yeol!" Ujar Yoora pada Chanyeol yang masih tak lepas pandangannya dari Baekhyun.

*TBC~